
***Perusahaan A. Larzo Group***
Alesha cukup mengikuti alur permainan yang ingin di mainkan oleh Fransisca. Namun dia akan tetap menekan Fransisca agar tunduk pada aturan yang dia buat.
"Kau benar, nyonya Fransisca. Jika citra mu jelek dan buruk di depan camera, itu juga akan mempengaruhi citra dan nama baik rumah produksi yang aku miliki saat ini." Balas Alesha dengan duduk santai dan bersandar pada sandaran kursi kebesarannya.
Fransisca tersenyum senang dan lega, dia merasa dirinya menang saat ini. Semua yang dia inginkan berjalan dengan lancar tanpa hambatan apapun?
'Ternyata kau wanita yang tidak berbahaya bagiku, kau cukup mudah untuk aku tangani. Fransisca Raiden sudah di takdirkan untuk terlahir sempurna dan mendapatkan apapun yang aku inginkan?' Gumam Fransisca tersenyum senang dan bangga pada dirinya sendiri.
'Kau cukup cerdik dan pandai memanfaatkan keahlian mu dalam berakting, namun sayang. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Kau tidak tahu apa yang sudah menanti mu di masa depan? Nikmati hidupmu yang damai dan bahagia selagi kau mampu, sebelum semuanya berubah menjadi kehancuran mutlak untukmu.' Gumam Alesha dengan sikap tenangnya menatap intens Fransisca.
"Tentu saja seperti itu. Anda tenang saja, nona Alesha. Setelah saya melahirkan, saya pasti langsung kembali melanjutkan sisa kontrak kerja selama 1 tahun 8 bulan yang saya miliki. Kita akan sama sama di untungkan." Balas Fransisca dengan senyum kemenangan di wajahnya.
'Tentu saja kau harus kembali bekerja padaku. Tetapi aku tidak yakin apa kau bisa kembali dengan mudah pada saat itu, mungkin saja ada sesuatu yang akan membuat kau tidak ingin kembali lagi bekerja padaku.' Gumam Alesha dengan wajahnya yang terlihat tenang, namun di dalam hatinya sangat muak dan ingin Fransisca cepat menyingkir dari hadapannya.
"Tentu saja, kau harus menyelesaikan sisa kontrak kerja itu. Kalau tidak tentu kau tahu sangsi yang harus kau bayarkan." Balas Alesha dengan nada yang menekan beberapa kata pada kalimatnya.
Sebuah ucapan yang tersirat ancaman di dalamnya. Sikap tenang Alesha sungguh membuat ngeri sang asisten pribadinya, dia sangat tahu bagaimana nonanya itu? Mungkin saja kini nonanya, telah merencanakan sesuatu yang membuat seseorang akan ada dalam masalah, yang mungkin saja tidak ada dalam bayangan dari mangsanya.
"Tentu saja, nona Alesha. Saya bekerja dengan sangat profesional, tentu tahu aturan dalam bekerja. Anda tenang saja, saya tidak akan mengecewakan anda ke depannya." Balas Fransisca berusaha bersikap tenang dengan senyum palsunya. Sungguh Fransisca tertekan dan geram akan sikap Alesha saat ini.
"Aku akan menyetujui cuti yang kau ajukan." Ucapnya. Fransisca tersenyum.
"Tapi dengan satu syarat." Ucapnya kembali dengan senyum liciknya.
Teo sangat mengenal senyum nonanya tersebut, senyum yang penuh akan bencana.
'Sudah saatnya, tamat riwayat mu wanita licik.' Gumam Teo di dalam hatinya melihat senyum licik Alesha.
"Syarat, maksud anda?" Tanya Fransisca pura pura tidak mengerti. Sebenarnya dia tahu jika Alesha benar benar memiliki jiwa pembisnis yang tidak ingin rugi sama sekali.
"Walaupun kau sedang cuti hamil. Jika rumah produksi ku ini memerlukan jasamu, tentu kau harus mengikuti aturan yang aku buat." Ucapnya dengan senyum liciknya sejenak, lalu menghilang dan berkata.
"Kau akan tetap bekerja mengikuti aturan di kontrak kerja itu. Apa kau mengerti?" Ucapnya dengan wajah yang kini terlihat datar serta tatapan dinginnya.
Fransisca tidak suka ucapan yang lontarkan oleh Alesha. "Tapi bagaimana dengan perut saya yang sudah membesar?" Tanyanya ingin tahu jelas maksud dari perkataan Alesha.
"Semua akan di atur. Kau tahu, aku adalah pembisnis dan bukan keluargamu yang seenaknya kau atur begitu saja. Aku ingin mendapatkan keuntungan dari pekerjaanmu, bukan kerugian." Jawabnya tegas dengan sikap dinginnya.
Tatapan mata Alesha tajam, terlihat jelas aura seorang mafia pada sikap tegas Alesha. Fransisca dan asisten pribadinya sama sama menelan salivanya, karena tertekan dan ngeri melihat aura gelap yang di perlihatkan oleh Alesha Larzo saat ini.
"Cutimu akan aku setujui, jika kau memenuhi persyaratan dariku. Jika kau tidak suka akan persyaratan dariku, lakukan pekerjaan mu mengikuti kontrak kerja yang sudah kau tanda tangani." Ucap tegas Alesha.
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan perut besar saya, nona Alesha?" Tanya Fransisca dengan menahan amarahnya yang ingin memuncak.
Ternyata tidak mudah untuk melunakkan hati seorang Alesha Larzo, benar desas-desus yang ia dengar mengenai kekuasaan dan kekejaman Alesha Larzo. Dengan kepalan kuat tangannya, Fransisca menahan amarahnya agar tidak meledak saat ini juga.
"Itu urusanmu, bukan urusanku. Kau hanya bisa memilih ikuti aturanku, kau akan aman. Jika tidak setuju, lakukan semua perjanjian kontrak yang sudah kau tanda tangani."
Fransisca tahu dirinya tidak memiliki pilihan lainnya, dia hanya akan mengalah untuk saat ini. Selanjutnya dia harus mencari jalan lain agar bisa meluluhkan sedikit hati Alesha.
"Baiklah. Aku setuju." Ucap pasrah Fransisca.
"Itu yang aku harapkan darimu, nyonya muda Fardhan. Kau memang sangat profesional dalam bekerja, aku suka." Balas Alesha dengan senyum kemenangan di wajahnya.
'Kau wanita licik, tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?' Gumam Teo ikut tersenyum sejenak, lalu kembali datar setelah mendapatkan tatapan horor dari Alesha.
'Wanita licik seperti mu, sudah sering aku jumpai. Namun kau tidak tahu sedang melawan siapa?' Gumam Alesha menatap intens ke arah Fransisca yang tersenyum palsu, karena menahan amarahnya.
"Semua akan di atur oleh asisten pribadiku. Setelah surat cutimu selesai, akan ada panggilan untukmu. Semua urusan mu sudah selesai, silahkan keluar dari ruangan ini jika sudah tidak ada yang kau perlukan lagi." Usirnya secara halus.
Fransisca tersenyum getir dengan menahan gejolak amarah yang benar-benar akan meledak. Seumur hidupnya, untuk pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan seperti itu, di usir walaupun dengan sikap halus. Namun dia merasa terhina akan sikap tegas dan kejam Alesha yang terlihat menikmati wajahnya yang terlihat palsu tersebut.
"Saya mengerti, nona Alesha. Selamat siang." Ucapnya dengan sedikit penekanan pada setiap kata-katanya. Lalu bangkit dan berlalu dari ruangan tersebut dengan langkah yang tergesa-gesa.
Kepergian Fransisca membuat puas Alesha, sang asisten menatap intens ke arah nonanya tersebut.
"Iya nona, wanita yang cukup licin seperti seekor belut." Jawab Teo dengan sikap tenang.
Teo sangat tahu siapa Fransisca? Informasi yang dia dapatkan tentang Fransisca dari semua anak buah mafianya yang terampil dan berpengalaman, tentu dapat di percaya. Menerima Fransisca bekerja pada salah satu rumah produksi yang di miliki oleh perusahaan A. Larzo Group, adalah salah satu rencana dari Alesha sendiri.
"Tapi kau harus tahu, Teo. Belut belum tentu akan tetap licin, jika kita memberikan banyak garam pada tubuhnya. Sebesar apapun Belut itu? akan tetap kalah dengan seekor ular yang berbisa. Kau harus bisa membedakan mana tubuh ular dan mana tubuh belut. Walaupun sama sama terlihat memiliki tubuh yang mirip dan memanjang."
"Saya mengerti, nona."
"Aku ingin kau membuatkan berkas cuti untuknya, dengan syarat yang aku tentukan. Aku ingin dia tetap bekerja dan menghasilkan uang untuk ku, walaupun dia sedang hamil dan perutnya membesar. Aku tidak peduli." Ucap Alesha dengan tatapan tajam membunuh sembari melihat ke arah sebuah photo yang ada di atas mejanya.
"Saya mengerti harus berbuat apa."
Alesha dapat mengandalkan Teo sang asisten, diapun hanya mengangguk setuju akan sikap tegas Teo.
"Dia hamil. Apakah itu anak Davin Attala Fardhan atau pria lain?" Gumam Alesha pelan yang masih dapat terdengar oleh Teo.
Kepalan kuat tangan Alesha, membuktikan jika dirinya tidak suka akan kabar kehamilan Fransisca.
"Apa perlu saya selidiki ini, nona?" Tanya Teo ingin menenangkan sang nona.
__ADS_1
"Dia terlalu pandai memanfaatkan situasi yang ada, untuk memuaskan hasratnya. Hanya ada dua orang yang bisa menjawab semuanya, Davin dan Ghani. Teo, kau tahu harus berbuat apa?" Ucap Alesha dengan tatapan devil melihat ke arah Teo.
Tatapan yang Cukup ngeri bagi orang lain saat melihatnya. Namun itu tidak berlaku terhadap Teo, yang sudah terbiasa mendapatkan tatapan membunuh dari Alesha Larzo.
"Apa dia juga sudah tahu? Aku yakin rencana ini untuk menjebaknya agar tersiksa. Dasar wanita bodoh, sampai kapan kamu bertahan berada di sana. Keluarga yang tidak bermoral." Ucap Alesha menatap photo dirinya dan seorang sahabat wanita yang sangat dia hormati dan sayangi.
"Jika anda khawatir, mengapa tidak menghubunginya, nona." Saran Teo, agar nonanya tidak terlalu mengkhawatirkan sang sahabat.
Teo tahu, Alesha tidak akan bisa menahan dirinya. Jika itu sudah berurusan dengan sang sahabat. Seorang sahabat yang sudah di anggap saudara sendiri oleh Alesha. Seorang sahabat yang mampu menyentuh hangat hati seorang Alesha Larzo yang kejam, angkuh dan dingin. Seorang sahabat yang rela mempertaruhkan nyawa untuk menolong Alesha dari kematian.
"Wanita bodoh itu, membuat aku selalu marah dan kesal padanya, namun sekaligus membuat aku selalu khawatir kepadanya. Aku tidak mengerti, mengapa dia masih bertahan dengan kecurigaan dan harapan yang tidak pasti?" Balas Alesha menatap intens wajah sang sahabat yang tersenyum bahagia pada photo tersebut.
"Kau lebih tahu bagaimana sikap dan perasaan ku kepadanya? wanita bodoh itu benar-benar selalu membuat aku lebih waspada untuk mengawasinya setiap saat."
Alesha meraih photo tersebut. "Aku ingin dia selalu bahagia dan tersenyum seperti ini." Ucap Alesha memperlihatkan photo sang sahabat yang tengah tersenyum bahagia bersamanya.
"Teo. Jika melihatnya sedih dan terluka, aku ikut merasakan dan membuat penyesalan itu datang lagi ke dalam hatiku."
"Nona, ini bukanlah salah anda. Ini sudah takdir dan keputusan darinya." Ucap Teo ingin membesarkan hati sang nona, yang merasa bersalah terhadap sang sahabat.
"Aku hanya ingin dia selalu bahagia dan tersenyum, Teo. Namun dia mempersulit rencanaku ini. Ingin rasanya aku menculik dan menahannya sebagai tahanan di dalam mansion ku. Dasar wanita bodoh, coba kau lihat Teo. Wajahnya akan terlihat cantik jika tersenyum seperti ini." Ungkap Alesha berusaha menghibur dirinya agar penyesalan itu terobati, sembari menunjukkan kembali photo tersebut.
"Kau benar, nona. Nona Nitami akan terlihat cantik jika selalu tersenyum bahagia seperti itu." Balas Teo membenarkan perkataan nonanya tersebut.
Nitami Adreena Saila adalah sahabat rasa saudara yang selalu dia lindungi, sayangi dan di hormati oleh Alesha dan kedua adik kembarnya. Nitami dan Alesha menjalin persahabatan sebelum Nitami menikah dengan Davin.
Saat pernikahan itu terjadi, Alesha Larzo sedang berada di luar negeri dan tidak dapat di hubungi oleh Nitami. Saat dirinya ingin meminta bantuan darinya, namun Nitami kembali sadar jika tidak seharusnya melibatkan sahabatnya tersebut dengan masalah yang tengah dia hadapi.
Setelah 3 tahun pernikahannya yang bagaikan neraka. Nitami akhirnya berani menceritakan segalanya kepada Alesha, yang pada saat itu baru saja kembali ke kota A. Sejak saat itu Alesha ingin membantu Nitami lepas dari keluarga Fardhan. Namun Nitami menghalangi niatnya dengan alasan, ada sebuah rahasia yang harus dia pecahkan sendiri.
Alesha benar benar kecewa, marah dan sedih dengan nasib yang di alami oleh sang sahabat. Tetapi dia yang memiliki kekuasaan yang mutlak tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Nitami? Karena alasan yang di ucapkan oleh nitami. Sungguh Alesha sangat merasa menyesal tidak dapat berbuat apapun? Dia menyesal tidak membawa Nitami ikut bersamanya saat ingin pindah keluar negeri beberapa tahun yang lalu.
Benar kata Teo, mungkin semua ini sudah takdir dari Nitami yang harus dia jalani. Setidaknya sekarang Alesha akan selalu ada untuk Nitami, untuk tetap menyayangi, melindungi, mendukung dan membantu Nitami dari balik layar. Sudah banyak yang Alesha rencanakan untuk membalas keluarga Fardhan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1