
***Mansion Keluarga Fardhan***
Seluruh keluarga Fardhan pulang dengan raut wajah yang kesal dan kecewa, akan tindakan Davin yang meninggalkan pesta begitu saja. Tetapi tidak dengan nyonya Sandra, yang bersikap biasa saja. Nyonya Sandra justru berharap jika Davin akan pergi menyusul Nitami.
Mereka berpikir jika Davin pulang ke mansion, namun tidak seperti yang mereka pikirkan dan harapkan.
"apakah tuan Davin sudah pulang?" tanya tuan Markus kepada Baron kepala pelayan pada mansion tersebut.
"belum tuan." jawab Baron seraya membungkukkan tubuhnya memberikan rasa hormatnya kepada tuan Markus.
Tuan Markus dan Fransisca menggenggam erat tangannya menahan rasa kesal di hatinya. Davin yang di harapkan sudah berada di mansion ternyata belum pulang.
"apakah wanita itu sudah pulang?" tanya tuan Markus kembali melihat ke arah Baron.
Baron tahu maksud wanita itu, tuan Markus bertanya mengenai Nitami. Itulah panggilan Nitami oleh tuan Markus, menunjukkan rasa tidak sukanya pada Nitami.
"maaf tuan sepertinya belum." balas Baron yang memang mengetahui jika rumah tempat tinggal Nitami masih terlihat gelap, yang menandakan jika penghuninya tidak ada di rumah.
Tuan Markus dan Fransisca lagi-lagi menahan rasa kesalnya.
"Davin pasti mengejar wanita itu dan sekarang mereka berdua pasti sedang bersama." ucap Fransisca dengan raut wajah yang di buat sedih.
Diana yang ada di sampingnya mengusap lembut punggung Fransisca, memberikan ketabahan bagi Fransisca. Sedangkan tuan Markus menatap iba pada menantu kesayangannya tersebut. Namun tidak dengan nyonya Sandra yang melihat datar sikap Fransisca saat ini.
'wanita yang penuh akan sandiwara.' gumam nyonya Sandra di dalam hatinya memandang datar menantu keduanya tersebut.
Nyonya Sandra dari awal tidak pernah suka dan percaya penuh pada Fransisca, firasatnya sebagai seorang ibu dapat merasakan, tidak ada ketulusan yang ada di dalam diri Fransisca. Nyonya Sandra menerimanya karena sang putra yang sangat mencintainya, hingga tergila-gila.
"kau harus tetap kuat dan berpikir positif, jika Davin tidak akan pernah menganggap wanita itu ada di dalam hidup kalian." ucap tuan Markus menenangkan menantunya tersebut.
"papa benar kak Fransisca, kak Davin tidak mungkin akan menganggap wanita itu ada." kini Diana ikut memberikan semangat kepada Fransisca.
Fransisca menatap ke arah Diana dan tuan Markus secara bergantian, dia bersikap sedih hanyalah berpura-pura untuk mendapatkan simpati dari keluarga Davin. Jika bukan karena tujuannya, Fransisca tidak Sudi berada di dalam keluarga yang memuakkan baginya.
"iya pa…papa benar. Davin sangat mencintaiku, jadi mana mungkin Davin akan berpaling dariku." balas Fransisca masih dengan kepura-puraannya.
"istirahatlah nak…sebentar lagi Davin pasti pulang. Mungkin saja dia memiliki pekerjaan yang harus segera di selesaikan." ucap tuan Markus ingin menantunya tenang.
"baik pa…." balas Fransisca dengan cepat, sebenarnya dia sudah muak berlama-lama bersama keluarga Attala Fardhan.
Fransisca dengan cepat naik tangga menuju ke atas, dia segera masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan yang lainnya melihat Fransisca dengan tatapan mereka masing-masing.
Sesampainya di kamar, Fransisca membuang tas dompet yang ia bawa ke atas lantai karena rasa marah yang ia pendam dari tadi. Fransisca tahu jika Davin pasti mengejar Nitami, dan saat ini mereka pasti sedang bersama. Itulah yang ada di pikiran Fransisca saat ini.
"sialan…pel*cu* ja*l*ng, wanita penggoda. Kau sungguh berani melawanku. Akan aku balas penghinaan ini dengan dua kali lipat." gumam marah Fransisca dengan tatapan tajam dan wajah yang sudah merah padam.
Fransisca meraih dompetnya dan mengambil ponsel yang ada di dalamnya. Ponselnya dengan layar yang sudah retak akibat bantingan yang di lakukan olehnya tadi.
__ADS_1
Dia segera menghubungi seseorang yang akan melakukan pekerjaan apa saja untuknya?
"hallo…!" sapa dari seberang telepon.
"hallo…! lakukan segera apa yang sudah aku kirimkan melalui pesan tadi?!?" ungkap Fransisca tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi. Tujuannya sudah harus di selesaikan segera mungkin.
"baik nona, akan segera saya lakukan."
"wanita itu harus tahu siapa aku dan siapa dirinya? dia hanyalah di jadikan sebuah tumbal oleh keluarga Fardhan. Tidak lebih dari itu." ucap Fransisca masih berbicara pada orang yang ada di seberang telepon.
"tentu nona, hanya nona yang pantas berada pada posisi menantu satu satunya keluarga Fardhan."
"apa kau sudah mendapatkan informasi lebih dari yang aku inginkan?" tanya Fransisca, pasalnya diam diam dia juga ikut menyelidiki Nitami dan latar belakang keluarga Angel.
Ada yang ia curigai tentang masalah itu, dia melihat sosok Angel begitu tidak asing baginya. Fransisca sepertinya pernah melihat anak itu pada sebuah kota yang berada di luar negeri. Tepatnya saat dirinya berada di Inggris. Angel terlihat mirip dengan seorang sosok yang pernah dia temui beberapa tahun yang lalu, dan beberapa bulan sebelum kecelakaan Davin terjadi
"sebenarnya siapa anak ini nona?"
"aku juga tidak tahu, namun firasatku mengatakan ada sesuatu yang berkaitan dengan anak ini. Dan aku seperti pernah mengenal seseorang yang mirip dengan anak ini" jawab Fransisca apa yang ada pada hatinya?
"baiklah nona, akan saya selesai tugas yang anda berikan secepatnya."
"lakukan secara rapi dan secepat mungkin. Sepertinya Davin dan Max sudah lebih dulu bergerak. Aku tidak ingin mereka tahu lebih dulu dari pada aku." ucap kekhawatiran Fransisca.
"saya mengerti nona." ucapnya.
"kau akan tahu siapa aku wanita ja*l*ng." gumamnya dengan tatapan tajam melihat pada sebuah pigura photo besar yang ada di atas ranjang tidurnya bersama Davin.
"dan kau…" tunjuknya pada photo Davin yang bersanding dengannya.
"kau telah mengkhianatiku dan membuat aku kecewa. Cintaku yang tulus telah kau cemari dengan menikahi wanita murahan itu. Jika saja kau mau mengikuti ucapanku. Saat aku yang ingin memilihkan seorang wanita untukmu. Aku tidak akan berubah seperti ini." ucapnya dengan tatapan tajam melihat ke arah wajah Davin yang ada di dalam photo.
"kau dan papaku adalah dua pria yang tidak pernah mau mengerti perasaan hatiku, dan aku akan memberikan pelajaran kepada kalian berdua." ucapnya dengan amarah yang dia tahan, terlihat dari rahang yang mengeras dan genggaman erat pada gaunnya.
"hidupku hancur karena kalian." ucapnya lagi dengan bantingan keras pada ponselnya yang ia pegang untuk melampiaskan amarahnya.
...--------------------------------...
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Tindak operasi pada Nicolas telah selesai, Nitami kini dapat bernafas untuk beberapa menit kedepan sampai Nicolas siuman. Semua berjalan lancar, Nicolas hanya butuh istirahat beberapa hari saja untuk memulihkan kondisi tubuh dan lukanya.
Saat dirinya berjalan di lorong rumah sakit, dari kejauhan dapat Nitami lihat seorang sosok yang sangat dia kenal. Nitami tidak terlalu terkejut karena dia sudah tahu jika pria itu memang ada di rumah sakit malam ini. Hanya saja dia tidak pernah tahu jika Davin akan bertahan sampai selarut ini dan belum pulang ke mansion.
Mau apa Davin sampai selarut ini di rumah sakit? walaupun ini adalah rumah sakit miliknya. Kini mereka saling berhadapan dan menatap. Nitami hanya bisa diam dengan raut wajah datarnya. Aldi dan Max yang ada di belakangnya hanya bisa diam saja.
"apa pekerjaanmu sudah selesai malam ini?" tanya Davin melihat datar Nitami.
__ADS_1
"iya tuan." hanya itu yang bisa terucap oleh Nitami, sungguh malam ini dirinya sangat lelah.
Nitami sudah tidak memiliki tenaga ekstra untuk berdebat dengan Davin. Nitami hanya akan menjawab seperlunya saja, mengingat di sini adalah tempat umum yang bisa saja terlihat jelas oleh orang lain.
"bisa kita bicara, ini mengenai tuan Nicolas yang baru saja kau tangani." ucap Davin yang membuat Nitami terdiam dengan alisnya yang sedikit merengut melihat intens Davin.
Bagaimana dia tahu pasien yang ia tangani adalah Nicolas Orlando? itulah kekuatan dan kekuasaan Davin yang menjadi salah satu seorang pengusaha di kota A dan pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.
"tentu tuan." balas Nitami singkat. Terlihat jelas ada raut serius dari wajah Davin saat ini.
"bisa ke ruanganmu?" ucapnya.
Tanpa menjawab, Nitami melangkah melewati mereka, karena ruangan Nitami ada tidak jauh di belakang mereka.
"itulah dokter Nita, selalu irit berbicara, datar dan dingin." celetuk bisik Aldi di samping telinga Davin.
Davin melihat ke arah Aldi yang tersenyum padanya, lalu berbalik badan tanpa ingin menjawab perkataan Aldi mengenai Nitami. Davin melangkah menyusul Nitami dari arah belakang, yang di ikuti oleh Aldi dan juga Max.
Kini mereka telah berada di dalam ruang kerja pribadi Nitami, Davin untuk pertama kalinya masuk ke dalam ruangan tersebut melihat ke sekeliling. Nitami yang sudah duduk di balik meja kerjanya, melihat tingkah laku Davin yang melihat seluruh sudut ruang kerjanya.
Aldi yang sudah terbiasa masuk ke dalam ruangan tersebut, terlihat akrab dan biasa langsung berbaring pada ranjang di mana Nitami biasa beristirahat. Davin tidak suka melihat tingkah laku Aldi yang terlihat akrab pada ruangan tersebut.
Baru saja Davin ingin melayangkan protesnya pada Aldi, ucapan Nitami menghentikannya.
"silahkan duduk tuan." ucap Nitami menatap datar ke arah Davin yang hanya berdiri melihat ke arah Aldi yang sudah nyaman pada posisi rebahannya.
Davin melihat ke arah kursi yang ada di hadapan meja kerja Nitami, lalu beralih melihat ke arah Nitami yang menatapnya datar. Dengan terpaksa Davin mengabaikan Aldi dan duduk di hadapan Nitami.
"apa yang ingin anda bicarakan tuan?" tanya Nitami langsung pada poinnya.
"apa benar luka yang ada pada tuan Nicolas Orlando adalah luka tembakan?" tanya Davin pada poin yang ingin ia tanyakan.
Nitami diam menatap Davin, dia menatap tajam dan dingin ke arah Aldi yang melihatnya juga. Nitami mencurigai Aldi lah yang memberitahukan hal ini pada Davin.
"aku hanya mengikuti perintah atasan dokter Nita." jawab Aldi yang tahu akan tatapan tajam serta dingin mata Nitami padanya.
"jadi jangan marah padaku, jika ingin marah padanya." ungkap dan tunjuk Aldi menggunakan ujung matanya ke arah Davin.
Nitami merebahkan punggungnya yang lelah pada sandaran kursi kerjanya. Dia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, percuma saja jika dia harus protes pada pemilik rumah sakit. Itu hanya akan sia-sia saja, lebih baik bicarakan baik-baik agar semua selesai dan cepat juga untuknya beristirahat.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.