
***Markas Alesha***
Levi masih melihat tanda pengenal yang terkalung di lehernya, jaminan nyata yang Nitami berikan untuknya membuat Levi tersenyum puas. Itu artinya Nitami sudah setuju ikut bergabung ke dalam tim dokternya seperti yang selama ini ia harapkan dan inginkan.
"Apa ini membuatmu puas." TIba-tiba Nitami mendekati telinga Levi dan berbisik kepada pria blesteran itu.
Benar-benar sikap intim yang membakar dua hati pria yang ada di tempat itu. Sikap yang tidak pernah di perlihatkan oleh Nitami kepada siapa pun, termasuk kepada Davin yang menjadi suaminya selama ini.
Saat Levi ingin menjawab, tanpa di ketahui oleh pria itu. Nitami meraih sebuah sped kecil yang sudah terisi cairan racun, dan dengan gerakkan tangannya yang cepat menusukkan jarum kecil itu ke leher kiri Levi dengan senyum devilnya terlihat puas. Nitami puas telah memberikan sedikit pelajaran terhadap Levi yang ingin bermain-main dengannya.
"Aaaahhhh...." Rintih Levi merasakan sakit pada lehernya.
Tangan Kanan Levi meremas kuat lengan kiri Nitami, sedangkan tangan kirinya memegangi lehernya yang terasa sakit akan suntikkan tidak terduga dari Nitami.
Semua mata terkejut melihat apa yang terjadi? Begitu cepat gerakkan Nitami hingga tidak dapat di hindari oleh Levi yang menjadi mangsanya saat ini.
Levi menjauhkan tubuh Nitami dari tubuhnya dengan tangan kanannya, Nitami melangkah mundur dengan senyum devil yang mengerikan. Tatapan tajamnya bukan membenci Levi, tetapi dia hanya tidak suka sikap Levi yang bermain-main di atas nyawa seorang pasien yang sedang membutuhkan pertolongan darinya.
"Apa yang kau lakukan padaku?" Tanya Levi yang masih merasakan sakit pada leher kirinya. Levi melihat ke arah telapak tangannya yang tadi mengusap lehernya, tidak ada bercak darah sama sekali dari suntikan itu.
Suntikan itu membuat lehernya merasakan rasa sakit sayatan benda panas yang menyayat lehernya. Dia berpikir lehernya mengeluarkan banyak darah segar. Pria itu dapat merasakan sebuah aliran darah pada sekitar rasa sakitnya, dan ia pikir aliran itu adalah darah yang mengalir keluar dari kulit lehernya.
Levi mengusap beberapa kali lehernya, dan merasa heran akan aliran darah yang keluar masih terus ia rasakan tetapi tidak ada sama sekali darah yang ia cari di telapak tangannya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi padanya?
"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" Tanya Levi yang juga membuat semua orang penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi terhadap Levi.
Nitami tersenyum licik, lalu berkata dengan santainya sembari menunjukkan suntikan yang tadi ia gunakan.
"Aku hanya menyuntikkan sedikit racun padamu, dokter Levi." Balas Nitami.
"Racun....!!!" Sambung Levi tidak percaya, sedangkan Nitami hanya menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.
"Racun apa...? Apa kau sudah gila..?" Sahut Levi sedikit meninggikan nada suaranya karena marah akan tindakan Nitami. Kata racun yang Nitami ucapkan membuat dirinya merinding takut dan merasa ngeri.
"Aku sedikit gila, karena akan bekerja sama dengan dokter seperti dirimu, dokter Levi Massimo." Balas Nitami tidak kalah tegas dengan nada yang ia tekankan.
"Racun apa yang sudah kau berikan padaku...?" Tanya Levi ingin melangkah maju dan meraih tubuh Nitami, namun kakinya lemas seolah tidak bertenaga karena rasa sakit yang sangat pada lehernya. Nafasnya mulai sesak.
Satu pun tidak ada yang datang mendekati Levi, pria itu masih bersujud di hadapan Nitami menahan rasa sakitnya. Nitami menatapnya dingin bukan karena benci, tetapi hanya marah dan kesal pada sikap Levi yang tidak melihat situasi di sekitarnya.
__ADS_1
"Racun yang bisa membuatmu berhalusinasi dan sedikit memacu aliran darah di dalam tubuhmu, dokter. Racun itu tidak berbahaya tetapi sangat sakit untuk beberapa jam saja. Tenang dokter, anda tidak akan mati karena racun itu." Sahut Nitami memberitahukannya.
Levi sungguh terkejut akan penjelasan Nitami mengenai racunnya, tentunya dia juga marah dan kesal pada Nitami. Levi tahu mengapa Nitami tega berbuat itu kepadanya, karena sikapnya yang tidak cepat dalam bertindak untuk menyelamatkan pasien yang sedang membutuhkan pertolongan darinya. Dia bersalah karena bermain-main dengan Nitami.
"Kau wanita gila, dokter Saila...!!" Sahut Levi sedikit tinggi.
"Bagaimana, apakah main-mainmu sudah selesai, dokter Levi?"
"Sial....seharusnya aku sudah tahu, jika akan seperti ini yang terjadi saat bermain-main denganmu."
"Tetapi anda tidak cukup cepat dan cerdas untuk bisa menebak yang akan aku lakukan pada anda, dokter." Kata Nitami sembari merendahkan tubuhnya di hadapan Levi hingga tinggi mereka sejajar.
Semua orang masih setia menyaksikan pertunjukan tersebut. Nicolas, Davin dan anak buah mereka cukup terkejut mengetahui bagaimana sikap kejam Nitami yang di lakukan secara halus dengan memakai sebuah racun untuk melumpuhkan mangsanya. Mereka cukup ngeri melihat sikap kejam Nitami saat ini, wanita yang terlihat lemah lembut serta selalu dingin. Ternyata bisa sekejam itu pada seseorang.
Tatapan keduanya masih saling memandang, Levi tahu jika sekarang Nitami marah dan kesal kepadanya.
"Seharusnya anda berpikir dua kali untuk bermain-main di saat situasi genting seperti sekarang ini. Apa kau tahu dokter, bagaimana caranya aku mengendalikan tubuhku yang gemetar akan rasa takut kehilangan orang yang sangat berharga dalam hidupku. Tapi kau menganggap nyawa ibuku remeh seperti ini. Apa kau pantas di sebut dengan sebutan seorang dokter?" Ungkap Nitami yang sukses membuat Levi terkejut hingga membulatkan matanya sempurna.
Levi tidak tahu jika pasien yang akan ia tangani adalah ibu dari Nitami, seseorang yang sangat berharga bagi Nitami. Levi tertampar akan ucapan yang di lontarkan oleh Nitami. Levi menyesal karena bermain tidak pada waktunya, ia bersalah pada Nitami dan ibunya.
"Maafkan aku...!" Hanya itu kata yang mampu terucap dari mulut Levi.
"Aku menyesal...!" Ucapnya lagi di sela-sela nafasnya yang terasa sesak dan menahan rasa sakitnya.
Sandi mendekati Levi dan bersimpuh di samping pria yang sedang menahan rasa sakitnya.
"Permisi tuan, saya akan menyuntikan penawar racun ini kepada anda." Ucap Sandi melihat ke arah Levi.
Bukannya menjawab, Levi melihat ke arah Nitami seolah mencari kebenaran akan ucapan Sandi. Nitami pun mengerti arti tatapan mata Levi.
"Penawar itu aman untuk pergerakan anda saat operasi nanti, karena aku tidak akan mau mengambil resiko terhadap nyawa orang yang berharga di dalam hidupku selama ini." Balas Nitami ingin Levi merasa aman.
Tanpa menunggu jawaban dari Levi, Sandi dengan segera menyuntikkan penawar racun itu pada pembuluh darah yang ada di punggung tangan Levi. Sandi juga memberikan satu butir vitamin dan sebotol air mineral untuk Levi. Setelah itu sandi dan juga Nitami membantu Levi untuk bangkit berdiri dari sujudnya.
Levi mulai merasakan ada perubahan pada aliran darah, dan rasa sakit yang ada di tubuhnya berangsur mereda, hanya dalam hitungan beberapa menit saja penawar dan sebutir vitamin bekerja dengan cepat untuk memulihkan kondisi tubuhnya saat ini.
Levi melihat ke arah Nitami yang berdiri di samping kanannya, dirinya masih kesal terhadap teman lamanya itu. Dia yang merasa hampir mati akan perbuatan Nitami, dengan begitu mudahnya di permainkan oleh wanita cantik itu.
"Dasar wanita gila, dokter jenius gila...." Ucapnya masih terlihat kesal, namun perkataan Levi tidak membuat Nitami sakit hati. Umpatan itu sebagai pembelaan dan curahan sakit hati Levi akan perlakuan Nitami terhadapnya.
__ADS_1
"Nico...kau harus berhati-hati pada wanita ini, dia cukup berbahaya di balik sikapnya yang lemah lembut." Ungkap Levi melihat ke arah Nicolas yang masih berdiri di tempatnya. Levi masih terlihat kesal dan ingin Nicolas tahu siapa wanita yang sangat di sukai oleh sepupunya itu.
NIcolas tentunya tahu maksud dari Levi berkata seperti itu, bukan karena Levi tidak suka atau tidak setuju jika dirinya menyukai dan menginginkan Nitami menjadi pasangan hidupnya. Levi hanya mencurahkan rasa menyesalnya sekaligus kekesalan di dalam hatinya. Levi adalah pria yang baik, bertanggung jawab, serta setia kawan, tetapi hanya saja dia terkadang suka usil tidak pada waktu dan tempatnya.
"Kalian berdua cocok menjadi pasangan, sama-sama si jenius gila." Gumamnya pelan, Levi melangkah menuju ruang operasi setelah menatap kesal Nitami dan Nicolas.
Perkataan Levi membuat beberapa orang yang mendengarkannya kesal, tetapi tidak di dalam hati Nicolas yang diam-diam bahagia akan doa restu dari sepupunya tersebut. Dalam hati Nicolas mengaminkan dan berharap perkataan Levi menjadi kenyataan. Pandangan matanya pun melihat ke arah Nitami yang juga tidak sengaja melihat ke arahnya. Walaupun terjadi beberapa detik saja, tatapan keduanya memiliki arti yang berbeda.
Nitami melangkah sembari melihat ke arah punggung Levi yang masuk ke dalam ruang operasi. Sebenarnya di dalam hati Nitami tidak ingin melakukan hal itu terhadap Levi, tetapi dia terpaksa melakukannya untuk memberikan sebuah pelajaran kepada Levi. Nitami berhasil melakukannya dengan sangat halus dan rapi.
Mereka segera melakukan persiapaan untuk tindakan operasi terhadap nyonya Sandra, operasi itu di pimpin langsung oleh Levi dan di dampingi oleh Nitami juga Alvira. Sebelum memulainya Levi melihat ketakutan dan ketegangan pada wajah Nitami, Levi mengerti perasaan Nitami saat ini. Dia akan melakukan semua yang terbaik untuk keselamatan dari ibu pengganti Nitami. Levi akan mengerahkan semua kemampuannya di bidang bedah jantung yang selama ini ia kuasai. Pria itu tidak ingin Nitami kecewa lagi kepadanya, dia berjanji akan menyelamatkan orang yang paling berharga di dalam hidup Nitami.
Operasi tengah berlangsung, beberapa kendala mereka hadapi, Levi melihat beberapa kali tangan Nitami gemetar karena rasa takut yang teramat sangat di dalam hatinya. Takut terjadi sesuatu pada nyonya Sandra dan takut jika harus kehilangan sosok ibu pengganti yang selama ini sayang padanya, yang sangat ia sayangi dan hormati juga.
Levi menggenggam erat dan lembut tangan Nitami yang tengah gemetar. Tatapan mata Nitami melihat ke arah genggaman tangannya, lalu beralih melihat ke arah pemilik tangan tersebut. Levi melihat serius kepadanya.
"Tenangkan dirimu, dokter Saila. Semua akan baik baik saja, dan aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelamatkan ibumu. Percayalah dokter Saila…!" Ucap Levi berusaha menenangkan Nitami.
Alvira dan Sandi yang ada di sana, ikut melihat keduanya. Mereka juga setuju akan perkataan Levi, Nitami harus menenangkan dirinya agar tidak berbuat kesalahan dalam operasi tersebut.
"Terima kasih." Hanya ucapan itu yang dapat terlontar dari mulutnya yang tertutup oleh masker.
Beberapa kali terjadi pendarahan, penurunan tensi dan gagal jantung membuat ketakutan dalam hati Nitami menjadi semakin besar. Sekuat tenaga Nitami mencoba bertahan untuk berdiri pada kakinya yang sudah gemetar dan mulai lemas. Namun beberapa tindakan dan kemampuan skil bedah Levi mampu terus mempertahankan operasi pada jantung nyonya Sandra berjalan normal kembali.
Kini hanya tinggal sentuhan terakhir untuk menutup dengan menjahit semuanya ke posisi semula. Itu di lakukan oleh Alvira, karena gadis manis itu tahu jika Nitami sudah cukup bertahan sampai di sana. Alvira tahu Nitami butuh menormalkan perasaannya saat ini. Sehingga ia mengambil alih tugas Nitami.
Tubuh Nitami yang sempat oleng dapat di tahan baik oleh Levi. Suasana operasi yang sangat menegangkan dan menguras emosi Nitami, Levi, Alvira dan juga Sandi.
"Semua sudah selesai. Berdoa agar ibu mu cepat siuman dan kuat menahan semuanya. Yakinlah semua akan baik baik saja." Bujuk Levi ingin menenangkan perasaan hati Nitami.
Nitami hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju, sembari melihat wajah pucat nyonya Sandra dan menggenggam erat telapak tangan dari sosok ibu penggantinya itu.
'Terima kasih sudah mau bertahan. Cepatlah siuman dan pulih kembali, mama Sandra. Nita sangat menyayangi mama.' Gumam Nitami di dalam benaknya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.