
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Alesha terdiam beberapa saat, Nitami masih menunggu perkataan selanjutnya dari Alesha. Tetapi Alesha tidak kunjung berbicara, sehingga Nitami yang kembali bertanya pada Alesha.
"Alesha, apa kamu masih di sana?" Tanya khawatir Nitami karena Alesha seketika diam cukup lama.
Alesha menghela nafasnya perlahan.
"Aku masih di sini." Balas Alesha.
"Ada apa? kenapa kamu diam? apa ada yang mengganggumu?" Tanya Nitami beruntun.
"Tentu saja kata katamu menggangguku."
"Kata-kataku yang mana?"
"Ritual persembahan tumbal itu !! apa kamu akan melakukannya lagi? Masih lekat di ingatanku, Nitami. Bagaimana kondisi mu pada saat itu?" Kenang Alesha sekaligus mengingatkan Nitami.
"Aku tahu itu, ritual persembahan tumbal itu akan menjadi ritual terakhir ku. Sebelum itu terlaksana, aku harus memecahkan semua rahasia yang membuatku bertahan di keluarga Fardhan." Balasnya dengan suara yang lemah.
Nitami cukup ngeri jika mengingat bagaimana rasa sakit yang ia dapatkan? bukan karena rasa sakit pada sekujur tubuhnya saja. Hatinya juga ikut sakit akan perlakukan kejam keluarga Fardhan.
Sebuah rahasia yang ingin di pecahkan oleh Nitami, membuat dia rela bertahan pada keluarga Fardhan. Ini dia lakukan untuk membebaskan semua wanita yang akan menjadi korban seperti dirinya di masa depan.
Nitami tidak ingin ada yang menjadi korban selanjutnya, cukup hanya pada Nitami untuk terakhir kalinya. Nitami ingin menghentikan kebiasaan atau aturan keji dari keluarga Fardhan tersebut. Sudah tidak pada zamannya, adanya sebuah tumbal untuk para iblis atau makhluk yang bukan berasal dari dunia mereka.
"Apa kamu tidak bisa melupakan begitu saja masalah ini? Rahasia itu akan sulit untuk di bongkar, Nitami." Bujuk Alesha, dia tidak rela Nitami mengalami rasa sakitnya kembali.
Nitami menghela nafasnya berat.
"Aku tahu itu. Cukup aku saja Alesha. Jangan ada wanita wanita lainnya, yang tidak bersalah sepertiku terjebak pada aturan tumbal itu lagi di masa depan. Aku harus berusaha mencoba terlebih dahulu."
"Nitami, bisakah kamu memikirkan dirimu sendiri. Mengapa kamu harus repot-repot memikirkan orang lain?"
"Alesha aku mohon, jangan seperti ini. Aku mengalaminya sendiri, 4 tahun sudah aku merasakan rasa sakit itu. Aku tidak ingin ada wanita lain yang akan terjebak seperti diriku. Setidaknya biarkan aku berusaha untuk 4 bulan ini." Bujuk Nitami meminta dukungan dari sahabatnya Alesha.
Alesha diam dan menghembuskan nafasnya perlahan. Tidak ada gunanya membujuk Nitami yang sudah teguh pada pendirian dan kemauannya.
"Baiklah, aku hanya bisa terus mendukungmu. Aku hanya ingin kamu bahagia, Nitami. Jangan sia-siakan hidupmu seperti ini, kamu berhak bahagia dan mendapatkan cinta dari seseorang yang tulus mencintaimu."
"Aku tahu, Alesha. Terima kasih atas semua dukungan dan bantuanmu selama ini. Kamu adalah sahabat dan saudara ku yang selalu mengerti diriku." Nitami terharu akan kasih sayang dan perhatian serta pengertian yang Alesha berikan kepadanya.
"Kapan ritual persembahan tumbal itu akan di laksanakan?" Tanya Alesha ingin tahu.
"Dua minggu lagi, tepat di bulan purnama ini. Ada apa?" Tanya Nitami curiga.
"Apa kamu berpikir akan menggagalkan ritual persembahan itu?" Tanya Nitami masih kental akan kecurigaannya. Dia tahu siapa Alesha?
"Jika saja itu bisa terjadi, akan aku lakukan."
"Alesha."
__ADS_1
"Ayolah sayangku, setidaknya lakukan sesuatu dan jangan terlalu pasrah seperti ini." Ucap Alesha masih ingin membujuk Nitami.
Nitami diam sejenak, dia berpikir. Apa yang di katakan oleh Alesha? ada benarnya. Dia tidak boleh terlalu pasrah dan selalu mengikuti aturan keluarga Fardhan, dia harus melawan dan melakukan sesuatu.
"Baiklah Alesha. Tapi kita tidak bisa bicarakan ini melalui telepon, aku akan pulang ke mansionmu." Nitami mengalah, setidaknya dia harus mencoba segala hal.
"Benarkah." Balas Alesha bahagia.
"Akan aku tunggu, kamu pulang hari ini?"
"Iya. Aku rindu pada Angel. Apakah dia baik baik saja? sudah satu minggu ini aku tidak melihatnya."
Alesha tersenyum saat mengingat si kecil Angel yang meramaikan mansionnya.
"Angel baik, dia juga rindu padamu."
Nitami tersenyum juga saat mengingat wajah imut dan cantik si kecil Angel. Nitami terlanjur sayang pada anak kecil yang di asuhnya selama beberapa bulan ini. Anak yang manis dan tidak pernah menyusahkan orang lain, anak yang selalu membawa aura positif bagi orang di sekitarnya.
'Braaak…' Suara pintu yang tiba-tiba di buka dan terbanting paksa.
Nitami melihat ke arah pintu, di sana sudah ada Davin berdiri dengan angkuhnya menatap dingin Nitami. Ada apa lagi?
"Aku tutup dulu, nanti akan aku hubungi kembali." Ucap Nitami segera menutup sambungan telepon mereka. Tanpa mau mendengarkan perkataan Alesha selanjutnya.
Tatapan mata Davin semakin dingin, dia melangkah mendekati Nitami setelah menutup kembali pintunya. Sedangkan Nitami berusaha bersikap cuek dan membuka beberapa berkas di hadapannya.
"Siapa yang kau hubungi?" Tanya Davin berdiri menantang di depan meja kerja Nitami.
Nitami melihat kembali ke arah Davin. Alisnya mengerut. 'Ada apa lagi ini?' Gumam Nitami di dalam hatinya.
"Kenapa kau diam, jawab aku?" Desak Davin, di dalam hatinya mulai cemburu karena begitu dia datang Nitami segera menutup sambungan teleponnya. Dia curiga jika Nitami tengah menghubungi Nicolas seperti yang Nitami ucapkan tadi.
"Apa urusannya dengan mu? Siapapun yang aku hubungi? bukanlah urusanmu." Balas Nitami dengan sikap tenang.
"Bukan urusanku, ingat Nitami. Aku adalah suamimu, aku berhak tahu apa yang kau lakukan?" Balas Davin sembari menggebrak meja, Nitami cukup terkejut di buatnya.
Nitami menutup kembali berkas yang baru saja dia baca. Lalu menatap tajam ke arah Davin.
"Suami katamu? Sejak kapan kau menjadi suamiku yang sesungguhnya?" Balas Nitami dengan masih bersikap tenang.
"Jangan pernah membantahku." Tunjuk Davin geram ke arah Nitami, dia kini di bakar api cemburu.
Nitami tersenyum mengejek. Inilah Davin, tidak ingin kalah dari segi apapun?
"Dengar tuan Davin yang terhormat." Ucapnya sembari meraih sebuah map coklat yang ada di atas meja, dan melemparkannya ke hadapan Davin.
"Kontrak pernikahan kita sebentar lagi akan berakhir. Aku harap kau tahu dan sadari itu. Jadi kau tidak memiliki hak untuk mengatur jalan hidupku." Ucapnya.
"Itu surat gugatan cerai dariku. Sudah aku tanda tangani, hanya menunggu tanda tangan dari mu saja semua itu akan selesai." Ucapnya kembali.
Davin cukup terkejut sembari meraih cepat map yang di maksudkan. Dia buka dan baca apa yang tertera di sana? benar itu adalah surat gugatan cerai yang sudah Nitami tanda tangani.
__ADS_1
"Apa maksudmu ini?" Tanya Davin sembari mengangkat dan menunjukkan map coklat yang ada di tangannya.
"Surat gugatan cerai dariku. Silahkan di tanda tangani dan keluar dari ruangan ini." Senyum tipis Nitami seakan meremehkan Davin.
"Kau…!!" Tunjuk kesal Davin.
Dia tahu surat itu, tetapi dia tidak pernah tahu jika Nitami bergerak dengan cepat untuk melayangkan gugatan cerai kepadanya.
Beberapa bulan ini Davin berusaha merubah dirinya terhadap Nitami, mendekatinya dan ingin mendapatkan cinta serta perhatian dari Nitami. Namun semua itu hanyalah sia-sia saja. Nitami ternyata tidak pernah sakalipun mempunyai perasaan kepadanya.
"Aku tidak setuju, kau akan tetap menjadi istriku sampai kapanpun." Balas Davin dengan merobek map coklat yang ada di tangannya menjadi beberapa bagian.
Davin melemparkan robekan map tersebut ke hadapan Nitami, lalu berkata. "Sampai kapanpun kau tidak akan aku lepaskan? apa yang sudah menjadi milikku? akan tetap menjadi milikku." Ucapnya dengan tekanan setiap kata-katanya.
Wajah Davin kini telah merah padam akan amarahnya, namun dia tidak ingin melampiaskan amarahnya kepada Nitami. Nitami tersenyum tipis akan sikap Davin yang merobek surat gugatan cerai darinya.
"Tidak ada gunanya kau merobek surat ini." Ucap Nitami meraih satu bagian dari robekan surat tersebut.
"Satu surat bisa kau robek begitu saja, aku masih bisa mencarinya lagi. Namun ingat satu hal tuan Davin. Jika hati yang sudah kau robek tidak akan bisa di cari dan kau dapatkan kembali utuh." Ucap Nitami dengan sikap tenangnya.
"Kau tidak berhak atas diriku." Balas Nitami bangkit dari duduknya dan berdiri menopang kedua tangannya di atas meja.
"Sadar tuan Davin, kita ini hanyalah dua orang asing yang tidak saling terikat. Selain terikat dengan kontrak pernikahan yang hanya di setujui oleh keluarga mu itu. Selebihnya kita tidak ada hubungan apapun?" Ucap Nitami menekan setiap kata-katanya.
"Begitu banyak luka dan rasa sakit yang kau dan keluarga mu berikan padaku. Apa kau pikir aku akan bertahan lebih lama lagi bersamamu? Jangan berharap lebih, tuan Davin."
"Aku bukan orang bodoh yang tidak bisa melakukan apapun?"
"Apapun yang ingin kau lakukan? silahkan lakukan. Tapi ingat satu hal, kau tidak akan pernah aku lepaskan." Tunjuk Davin dengan sikapnya yang angkuh.
Davin hanya ingin Nitami tetap menjadi miliknya. Nitami tahu tidak mudah merubah keinginan Davin sekarang. Sudah saatnya dia melawan dan menunjukkan siapa dirinya yang selalu di anggap lemah oleh Davin dan keluarga Fardhan.
Davin pergi begitu saja dengan langkah panjang dan cepatnya. Bantingan pintu ruangan Nitami sontak membuat beberapa orang yang ada di dekat ruangan tersebut terkejut. Namun tidak berani berkomentar apapun terhadap pemilik rumah sakit Golden Healthy?
Nitami terduduk di kursinya. Tatapan nanarnya melihat ke arah pintu, perlawanan yang sekarang dia lakukan tidak ada apa apanya? jika di bandingkan apa yang akan Nitami lakukan selanjutnya?
"Kau yang mulai, tetapi kau juga yang akan menghancurkannya. Aku hanya mengikuti alur dan memberikan sedikit percikan api di dalamnya." Gumam Nitami dengan senyum puasnya dapat melawan Davin.
"Kau tidak pernah tahu, Tuhan telah berbaik hati kepadaku, memberikan aku sebuah takdir yang bagus untuk menjadikannya sebuah api yang bisa membakar semua kajahatan kalian. Kita akan lihat siapa yang lebih dulu terbakar dan hancur, kau atau aku." Gumamnya kembali.
Nitami kembali membuka sebuah email yang membuatnya tersenyum dan bersemangat. Bukan dia yang jahat, tetapi keadaan yang mengharuskannya menjadi orang jahat untuk membalas kejahatan yang sudah dia alami selama ini. Nitami berhak melakukan pembalasan tersebut, dan memberikan sebuah keadilan bagi semua yang telah menderita sama seperti dirinya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1