
***Mansion Keluarga Larzo***
Nitami kini memajukan posisi duduknya dengan tegak dengan tatapan matanya yang dingin. Ia tidak suka akan tuduhan asal Nicolas kepadanya.
"Silahkan anda lakukan apapun yang ingin anda lakukan kepada Davin dan keluarga Fardhan. Aku tidak peduli sama sekali tentang hal itu." Ucap tegas Nitami menekan kalimat terakhirnya.
Tatapan mata Nitami dingin menatap Nicolas. Dia merasa jika Nicolas terkadang hangat dan terkadang dingin juga ketus kepadanya. Nitami tidak mengerti akan sikap Nicolas yany terus berubah-ubah.
Alesha tersenyum melihat perdebatan sengit di antara dua sejoli yang tidak tahu perasaan mereka masing-masing.
"Sepertinya pembicaraan kerja sama di antara kalian berdua, tidak ada hubungannya denganku. Apapun yang kalian berdua ingin lakukan? Ingin menghancurkan ataupun membuat masalah terhadap beberapa perusahaan yang kalian inginkan dan incar, silahkan lakukan. Kehancuran mereka, aku tidak peduli sama sekali." Ungkap Nitami akan apa yang ia pikirkan.
Alesha terdiam, ia tahu sahabatnya itu cukup marah akan tuduhan Nicolas terhadap perasaannya yang tidak benar.
"Masih banyak masalah yang harus aku selesaikan, dan masih banyak pekerjaan yang harus aku lakukan hari ini. Jadi lebih baik aku pergi dari ruangan ini." Ucap Nitami sedikit melunak, terlalu letih baginya untuk marah sekarang.
'Apakah aku sudah salah paham padanya? Sebenarnya dia benar-benar tidak peduli lagi kepada Davin. Buktinya ia akan segera bercerai dari suaminya itu. Aku yang bodoh tidak dapat peka dan mengerti perasaannya, aku bodoh cemburu tanpa alasan yang jelas. Sial, dia marah padaku.' Gumam Nicolas di dalam hatinya, ia tahu Nitami marah padanya dan ingin pergi karena malas untuk berdebat.
Nicolas menyesali perkataan dan tuduhannya terhadap Nitami. Nicolas dan Alesha masih tetap diam, Nitami pun bangkit dari duduknya, karena baginya sudah tidak ada lagi yang akan di bicarakan.
"Maaf…jika aku sudah salah paham padamu." Ucap Nicolas tiba-tiba saat Nitami bangkit dan ingin meraih ponselnya dari atas meja kaca.
Nitami menghentikan pergerakannya, lirikkan matanya melihat ke arah Nicolas dengan posisi masih menunduk saat meraih ponselnya.
Nitami lalu bangkit dan berdiri tegak sembari memicingkan kedua matanya. Nicolas bersikap aneh lagi, itulah yang ada di dalam pikiran Nitami.
"Salah paham." Ulang Nitami.
"Iya. Maaf aku sudah salah paham padamu. Aku pikir kau senang mendengar kabar jika Davin adalah korban dalam kecelakaan itu, dan bukan tersangka yang akan aku tuntut." Jelas Nicolas sembari duduk tegak dengan pandangan mata yang sudah melunak.
'Ternyata tuan Nicolas telah mendapatkan pawangnya sekarang.' Gumam Alesha tersenyum tipis melihat perdebatan dua sejoli yang ada di hadapannya tersebut.
'Begitu cepat raut wajahnya berubah. Ada apa dengannya? Tidak mungkin dia marah dan sedang cemburu akan perasaan ku pada Davin.' Gumam curiga Nitami akan penjelasan dan perubahan raut wajah Nicolas yang secepat kilat.
Sebuah ingatan saat dirinya mencuri dengar pembicaraan Nicolas dan Levi beberapa hari yang lalu, kini terniang di kepalanya.
"Jangan katakan kau tertarik pada dokter Saila." Ucap Levi bertanya dan melihat ke arah Nicolas.
"Jika aku katakan iya, apa ada masalah denganmu?" Ucap tantang Nicolas tegas tidak mau kalah dari Levi.
"Apa yang lucu?"
"Kau…" Ucap Levi mempertegas jawabannya dengan menunjuk ke arah Nicolas.
"Apa ini pertanda kau sudah menentukan tambatan hatimu?" Ucap Levi.
"Apa Kau menyukai dokter Saila? Hanya suka atau cinta?" Tanya Levi lagi kepada Nicolas.
__ADS_1
"Keduanya." Jawab Nicolas.
Levi tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti jawaban Nicolas yang sangat tegas dan jelas.
"Dokter Saila memang memiliki aura yang sangat kuat, aku terkesan. Dia bisa menaklukkan hati seorang Nicolas Orlando, tuan muda Orlando yang terkenal dingin, angkuh dan kejam pada setiap orang. Kini tunduk dan bisa jatuh cinta pada seorang dokter cantik serta jenius seperti dokter Saila."
Itulah ingatan yang terlintas di pikiran Nitami.
'Apa benar dia menyukai ku?' Tanyanya pada dirinya sendiri.
'Tidak. Ini tidak mungkin, dia sudah memiliki calon seorang putri bangsawan Inggris.' Gumam Nitami kembali mengingat apa yang di bicarakan oleh Nicolas dan Levi.
"Lalu bagaimana dengan nona muda Edmee Ballard? Bukankah dia kandidat yang akan menjadi calon tunanganmu di masa depan." Ucap Levi mengingatkan akan kebenaran tersebut.
Pertunangan Nicolas bersama nona muda dari keluarga bangsawan Ballard adalah kesepakatan politik dan bisnis dari kedua tetua dari kedua keluarga bangsawan tersebut. Nicolas jelas menentang keras rencana pertunangan itu, sedangkan nona muda Edmee Ballard tidak memiliki jawaban yang pasti, dia hanya mengikuti apa yang sudah di atur untuknya? Ini yang tidak di ketahui oleh Nitami di sela-sela pembicaraan Nicolas dan Levi.
Sebenarnya Nicolas dan Edmee adalah teman masa kecil hingga mereka beranjak remaja, mereka bisa berteman karena hubungan baik dari kedua keluarga bangsawan tersebut. Pada saat kuliah mereka berpisah karena menempuh jurusan dan universitas yang berbeda. Mereka di pertemuan kembali pada acara tahunan keluarga para bangsawan Inggris.
"Kau tahu apa yang menjadi jawabanku? Aku menolak keras pertunangan itu. Aku tidak ingin berada di dalam wilayah para bangsawan, aku ingin menentukan sendiri wanita yang akan menjadi pendamping hidupku di masa depan." Balas Nicolas menjelaskan penolakannya.
"Bukankah kau dan nona muda Edmee adalah teman masa kecil hingga kalian beranjak remaja. Mengapa kau menolaknya?"
Itulah ingatan yang terlintas lagi di pikiran Nitami sekarang.
'Apakah bisa Nicolas menolak, apa yang sudah keluarganya tentukan?' Gumam Nitami mengingat penolakan Nicolas akan pertunangannya.
'Apa yang aku harapkan hingga berpikir dan mengingat itu semua?' Gumam Nitami masih asyik pada pikirannya saat ini.
"Nitami, Nitami…!!" Panggil Alesha, namun Nitami yang sedang serius pada pemikirannya saat ini tidak mendengar jelas panggilan Alesha.
Alesha dan Nicolas saling menatap heran, karena tidak ada respon apapun dari Nitami akan panggilan Alesha. Nitami masih diam dan tetap diam terpaku, ia sedang berpikir keras serta terlihat cemas.
Pada akhirnya Nicolas yang tidak tahan melihat diamnya Nitami beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Nitami, untuk membuat Nitami sadar dari lamunannya. Sedangkan Alesha hanya bisa berdiri pada tempatnya melihat apa yang akan di lakukan oleh Nicolas.
"Nitami…Saila…!!" Panggil Nicolas sembari mengguncangkan keras tubuh Nitami.
Kini Nitami sadar dari lamunannya, tatapan matanya seketika bertemu pandang dengan mata cemas Nicolas yang tepat ada di hadapannya saat ini.
"Apa kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanya cemas Nicolas memegang erat kedua lengan atas Nitami.
Nitami diam masih dengan tatapan matanya melihat ke dalam sorot mata Nicolas yang terlihat cemas melihatnya.
"Ada apa?" Tanya kembali Nicolas karena Nitami hanya diam saja melihatnya tanpa berkedip.
'Nicolas…Apa yang aku harapkan darinya? Apa yang sedang aku pikirkan. Ini tidak benar. Sadarlah Nitami…sadar kau dan dia berada di dunia yang berbeda, jangan sakiti lagi hati dan dirimu akan harapan yang tidak benar.' Gumam Nitami berusaha membuat dirinya sadar akan pemikiran konyolnya saat ini.
Nitami masih diam, namun dia sudah sadar.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja." Ucap Nitami melepaskan tangan Nicolas dari lengannya.
Nitami memundurkan langkahnya, namun raut wajahnya masih pias dan cemas seperti tadi. Tidak ada yang tahu apa yang sedang di alami Nitami di dalam hati dan pikirannya yang sedang berperang pada dirinya sendiri.
"Apa kau baik Nitami?" Kini giliran Alesha yang bertanya, karena melihat ada yang tidak beres pada sahabatnya itu.
Nitami melihat ke arah Alesha.
"Iya, aku baik baik saja." Hanya jawaban itu yang Nitami berikan. Sedangkan Nicolas mencurigai sesuatu telah terjadi.
Nitami mendadak diam dengan raut wajah cemas dan Nicolas melihat sesuatu yang aneh akan sikap Nitami tersebut. Alesha diam, tidak baik baginya untuk mendesak Nitami untuk jujur.
"Baiklah. Apa bisa kita lanjutkan pembicaraan kita?" Tanya Alesha.
Nitami melihat ke arah Alesha dengan menganggukkan kepalanya, kemudian tatapan matanya melihat kembali ke arah Nicolas yang ada tepat di hadapannya.
'Ada apa denganku? Mengapa aku seperti ini melihat tatapan teduhnya kepadaku.' Gumam Nitami melihat tatapan mata Nicolas yang tidak lepas dari arahnya. Jantungnya berdebar tidak beraturan dan terasa aneh baginya.
"Tuan Nicolas, apa anda baik?" Kini giliran Nitami yang bertanya, karena tidak ada pergerakan dari Nicolas saat melihatnya.
Nicolas diam sejenak, dengan perlahan dia menghembuskan nafasnya yang sempat tersekat karena cemas melihat Nitami tiba-tiba diam. Dia begitu takut saat melihat Nitami tidak ada pergerakan ataupun respon saat mereka memanggilnya.
"Tentu. Aku baik." Balas Nicolas sembari duduk pada sofa yang tadi Nitami duduki.
Nitami dan Alesha yang kini giliran heran melihat tingkah laku Nicolas. Namun Nitami tidak ambil pusing, ia pun ingin melangkah untuk duduk pada sofa lainnya, karena Nicolas sudah duduk pada sofanya tadi.
Saat Nitami ingin melangkah, tangannya tiba-tiba di tarik dari arah belakang oleh Nicolas. Begitu cepat Nitami duduk tepat di samping Nicolas. Tatapan mereka berdua pun kembali bertemu, mereka duduk berdampingan pada satu sofa panjang.
"Duduk di sini. Bersamaku." Ucapnya terdengar tegas, namun bukan itu yang membuat Nitami terkejut dan heran. Tetapi genggaman tangan Nicolas masih erat menggenggam telapak tangan Nitami.
Pandangan mata Nitami dan Alesha melihat ke arah genggaman tangan Nicolas pada tangan Nitami. Nicolas pun mengikuti arah pandangan mata kedua wanita yang kini melihat ke arah tangannya. Tanpa sadar Nicolas begitu erat menggenggam tangan Nitami.
"Maaf." Ucap Nicolas dengan segera melepaskan genggaman tangannya.
"mmmm…!" Terdengar Alesha berdehem untuk mencairkan suasana di antara mereka.
Sedangkan Nitami memperbaiki posisi duduknya, sebenarnya ia cukup risih untuk duduk berdampingan bersama Nicolas. Namun apa boleh buat, untuk beranjak sudah di pastikan jika Nicolas akan menariknya kembali. Lebih baik diam dan tetap menjaga jarak di antara mereka berdua.
"Apa bisa kita lanjutkan pembicaraan kita?" Tanya Alesha yang sudah duduk kembali pada tempatnya sembari tersenyum ke arah dua sejoli yang sedang duduk berdampingan. Dua sejoli yang mulai mendekat.
Nitami menajamkan matanya melihat ke arah Alesha yang tersenyum, seakan mengejek dirinya yang sedang terjebak bersama Nicolas. Namun bukan Alesha jika harus takut pada mata tajam Nitami. Dirinya akan lebih senang lagi untuk menggoda mereka berdua, Alesha berharap ada jodoh cinta di antara Nitami dan Nicolas. Alesha berharap Nitami dapat bahagia berada di sisi pria yang tepat untuk sahabatnya itu.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.