
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Nitami marah akan keputusan Davin kepadanya yang seenaknya saja. Berhenti bekerja dari rumah sakit Golden Healthy adalah harapan Nitami selama ini, dirinya merasa terlepas dari sebuah belenggu.
'Brak…' Suara pintu di banting cukup keras, hingga beberapa perawat dan dokter yang kebetulan lewat di depan ruangan Nitami sontak terkejut. Nitami membanting keras pintu ruangannya, dia kesal dan marah kepada Davin.
"Ada apa denganmu, mengapa kau membanting keras pintu yang tidak bersalah?" Tanya Aldi tiba-tiba datang dan masuk ke dalam ruangan Nitami, kebetulan saja dia lewat di saat Nitami membanting pintu ruangannya.
Nitami yang tengah melanjutkan aktivitas merapikan semua barang yang ada di dalam ruangannya, melihat ke arah Aldi dengan tatapan tajam dan dingin. Seolah kemarahan Nitami masih terpatri jelas di wajahnya.
"Jangan memasang wajah dingin mu seperti itu kepada ku." Ucap Aldi sembari melangkah mendekati sebuah sofa yang ada di ruangan tersebut, lalu duduk dengan santai di sana.
Sedangkan Nitami kembali melanjutkan rutinitasnya, karena dia ingin cepat keluar dari rumah sakit itu. Seharipun ia tidak ingin tinggal lebih lama lagi di sana.
"Ada apa? Apakah Davin membuat ulah lagi atau kau marah karena gosip yang beredar?" Tanya Aldi ingin tahu, karena apa Nitami marah kali ini? Dia juga tahu mengenai gosip yang beredar luas di dalam rumah sakit Golden Healthy.
Nitami melihat kembali secara sekilas ke arah Aldi yang melihat dengan intens.
"Menurut mu apa?" Tanya balik Nitami sembari terus melanjutkan aktivitas mengepak semua barang-barangnya.
"Kedua-duanya." Balas Aldi santai.
Nitami diam tanpa suara sama sekali, hanya gerakkan tangannya yang masih sibuk mengepak semua barang-barangnya.
Diamnya Nitami sebuah jawaban bagi Aldi, jika tembakkannya kali ini adalah benar.
"Sejak kapan kau bisa terpengaruh akan adanya gosip?" Tanya Aldi karena Nitami seakan malas menjawab perkataan Aldi.
"Sejak hatiku bisa merasakan rasa sakit, walaupun tetap diam namun aku juga manusia biasa dan bukan patung." Balas Nitami tanpa melihat ke arah Aldi, karena dia masih sibuk akan aktivitasnya.
"Semua perkataan orang yang buruk tentang diriku, kau pikir tidak bisa membuat hatiku sakit di saat mulutku tetap diam." Ucapnya dengan senyum miring seakan meremehkan dirinya sendiri.
"Aku manusia dan wanita biasa yang juga bisa sakit akan ucapan seseorang yang menurutku sudah keterlaluan." Ucapnya kembali.
"Jika memang seperti itu, balas mereka. Jangan diam saja, kau bukan orang bodoh yang hanya diam dengan perkataan dan tuduhan mereka yang tidak benar."
"Apa yang aku dapatkan jika membalas mereka semua?" Ucap Nitami menghentikan aktivitasnya dan melihat sejenak ke arah Aldi.
"Tidak ada. Seandainya aku membalas mereka, apakah bisa menyembuhkan rasa sakit di dalam hatiku karena perkataan dan tuduhan mereka?" Tanya Nitami menatap intens Aldi.
Aldi terdiam akan ucapan Nitami. Nitami terlalu sakit akan segalanya yang terjadi selama ini, tidak dapat di pungkiri jika sudah terlalu banyak luka dan rasa sakit yang ia dapatkan dan dia pendam di dalam hatinya.
"Tidak kan…Jadi percuma aku membalas mereka. Tidak ada gunanya, lebih baik menghindar dan pergi ke tempat lainnya, di mana aku bisa merasakan rasa nyaman dan tidak membuat luka dan masalah bagi orang lain, yang tidak tahu dan mengerti apa yang sudah aku jalani selama ini?" Balas Nitami kembali melakukan aktivitasnya.
Perkataan Nitami sangat jelas, walaupun dia yang tersakiti namun dia masih bisa memaafkan dan tidak memberikan masalah baru terhadap orang lain yang telah melukainya. Namun lain halnya terhadap masalahnya kepada Davin dan keluarga Fardhan yang menjadi akar dari semua masalah yang Nitami hadapi.
Tanpa mereka ketahui, jika Davin mendengarkan semua perkataan mereka berdua sejak awal, Davin berdiri tepat di depan pintu ruangan Nitami. Dia mendengar semuanya dan dapat merasakan betapa terluka dan sakitnya Nitami selama ini. Dia menyesal, namun rasa penyesalan yang terlambat.
__ADS_1
Sedangkan di dalam ruangan, Aldi menghela nafasnya perlahan. Dia tahu bagaimana perasaan Nitami selama ini? Aldi bisa mengerti kondisi Nitami, diamnya tidak berarti Nitami tidak terluka dan sakit hati.
"Aku mengerti. Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Aldi ingin tahu.
"Mencari sebuah ketenangan dan kedamaian dalam menjalani hidup, walaupun aku sangsi akan hal itu." Balas Nitami terlihat mimik wajahnya sedikit melunak.
"Lalu bagaimana dengan perasaan Davin kepadamu? Kau tahu jelas jika ia kini memiliki sebuah perasaan khusus padamu, lebih jelasnya lagi dia sudah mulai sayang dan cinta padamu, dokter Nita."
"Terserah padanya, aku tidak pernah meminta dirinya mencintai ataupun sayang padaku." Balas Nitami dengan nada bicara yang terdengar santai.
Tentu saja melukai hati Davin yang mendengarkan perkataan Nitami saat ini.
"Apakah kau yakin tidak memiliki perasaan apapun terhadap Davin? Bukankah di awal pernikahan kalian, kau sudah membuka hatimu untuknya dan mulai menyukainya. Apakah semua perasaan itu sudah hilang?"
"Iya, perasaan itu sudah lama hilang dan hampa. Seiring berjalannya waktu pahit yang aku lalui beberapa tahun ini. Itu sudah cukup membuktikan jika perasaan hatiku tidak ada lagi untuknya. Aku ingin memulai hidup yang baru."
Patah hati Davin dan terasa sakit tertusuk sebilah pisau, terluka tapi tidak berdarah.
'Apakah ini yang selama ini kau rasakan Nita? Rasa sakit ini sangat menyakitkan.' Gumam Davin di dalam hatinya sembari memegangi dadanya yang terasa nyeri akan perkataan Nitami mengenai perasaannya yang tidak ada sama sekali untuknya.
Davin masih setia berdiri seperti patung di depan pintu, dan mencuri dengar pembicaraan antara Aldi dan Nitami. Sedangkan yang ada di dalam ruangan, pembicaraan antara Aldi dan Nitami masih tetap berlanjut.
"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Aldi ingin tahu.
"Entahlah, kemanapun aku pergi? Aku hanya ingin mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian dalam hidup." Balas Nitami tidak mau jujur ke mana tujuan selanjutnya dalam hidupnya.
"Lalu bagaimana dengan Angel yang menjadi tanggung jawab Davin, jika kau pergi siapa yang akan menjaganya?" Tanya Aldi mengingatkan nasib Angel yang masih menjadi tanggung jawab Davin.
"Apa kau yakin?"
"Tentu saja, apa kau lihat aku sedang bercanda, dokter Aldi?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aku percaya akan keyakinan dan perkataan mu."
"Baiklah. Jam kerjaku sudah berakhir, dan aku juga sudah selesai berkemas." Ungkap Nitami menyelesaikan aktivitas mengepak barang pribadinya.
"Aku akan membantumu." Balas Aldi merasa tidak ada lagi yang akan di bahas oleh mereka berdua.
"Terima kasih. Aku sudah meminta salah satu CS rumah sakit untuk membantu membawakan semua barangku ke parkiran mobil."
"Baiklah kalau begitu, setidaknya kalau kita masih menjadi teman dan bisa sering bertemu." Ungkap harapan Aldi pada sahabatnya tersebut.
"Tentu, jika Tuhan mengizinkan." Balas Nitami dengan senyum tulus. Dia tahu Aldi adalah satu-satunya teman di rumah sakit ini yang baik kepadanya, satu-satunya teman Davin yang tidak memandang Nitami dengan sebelah mata.
Aldi hanya tersenyum getir, namun senyumnya melebar tulus setelah beberapa detik. Dia tahu jika Nitami pasti akan pergi jauh, dan susah untuk bertemu dengannya lagi.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Davin lebih dulu berlalu dari tempat itu sebelum Aldi dan Nitami keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Sungguh sangat memalukan jika Davin ketahuan mencuri dengar perbincangan antara Aldi dan Nitami. Davin pergi membawa serta rasa kecewa, luka dan sakit hati akan perkataan Nitami yang seakan menolak dirinya.
Davin begitu kecewa dan malu untuk menemui Nitami. Dia ingin menenangkan hatinya saat ini, sakit dan kecewa yang Davin rasakan belum seberapa jika di bandingkan dengan yang di rasakan oleh Nitami.
Sedangkan Nitami pergi dengan langkah yang terasa ringan saat keluar dari rumah sakit Golden Healthy, rumah sakit yang menjadikannya seorang dokter handal dan sukses. Rumah sakit yang menjadi saksi bisu perjalanan karier Nitami menjadi seorang dokter. Penuh kenangan akan berbagai emosi yang ia lalui dan dapatkan selama ini.
...-----------------------------------------------...
***Di lain Tempat***
…Perusahaan A. Larzo Group…
Dua orang yang telah melakukan kerja sama, kini tengah menjalankan rencana mereka. Memberikan dan membuat masalah bagi beberapa perusahaan yang menjadi incaran mereka. Suasana di berbagai perusahaan sedang kritis, dan menjadi sebuah kesenangan tersendiri bagi dua orang tersebut.
Nicolas dan Alesha berada di dua tempat yang berbeda, mereka berdua hanya duduk manis dan menerima semua laporan baik dari anak buahnya yang menjalankan rencana mereka.
"Apakah Nitami sudah keluar dari rumah sakit Golden Healthy?" Tanya Alesha pada asisten pribadinya, Teo.
"Sudah nona, baru saja nona Nitami meninggalkan parkiran rumah sakit Golden Healthy." Jawab Teo mendapatkan informasi tersebut dari anak buah yang mengikuti sekaligus melindungi Nitami kemanapun Nitami pergi.
"Lalu bagaimana perkembangan untuk malam ini?"
"Semua sudah di siapkan sesuai rencana."
"Bagus. Pantau terus mereka, dan jangan sampai lengah."
"Siap nona." Balas Teo dengan sikap tegas dan hormatnya.
"Perbuatan mereka terhadap Nitami harus mendapatkan balasan yang setimpal. Jika Nitami tidak ingin bertindak, aku yang akan melakukan semuanya untuk membalaskan sakit yang di dapatkan oleh Nitami." Ungkap Alesha sembari memandang jauh ke luar jendela pemandangan lantai atas ruang kerjanya.
"Tentu saja nona, semua perbuatan mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal." Balas Teo.
"Kau benar. Malam ini mereka akan tahu siapa yang mereka coba singgung dan usik selama ini? Mereka hanya segelintir orang orang licik yang hanya berani mengusik orang lemah dan tidak berdaya."
Teo terdiam. Ia sangat tahu jika nonanya tersebut sangat marah dan dendam kepada keluarga Fardhan yang memberikan begitu banyak rasa sakit dan luka hati maupun fisik kepada Nitami.
Sahabat yang telah menyelamatkan hidupnya, sahabat yang menjadikannya orang seperti sekarang ini, tanpa bantuan dan dukungan besar dari Nitami. Alesha Larzo bukanlah siapa-siapa sekarang? Nitami adalah sahabat rasa saudara yang Alesha miliki sekarang dan untuk selamanya.
Apapun akan Alesha lakukan demi kebahagiaan hidup Nitami? Termasuk pembalasan dendam kepada keluarga Fardhan dan beberapa orang yang telah memandang remeh Nitami. Mereka hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, kapan sebuah bom atom akan meledak dan menghancurkan semuanya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.
...-----------------------------------------------...