
***Mansion Keluarga Fardhan***
Flashback on …
Malam ini adalah malam mencekam ke 4 kalinya bagi Nitami. Bagaimana tidak mencekam? Malam ini adalah malam ritual persembahan yang di adakan oleh keluarga Fardhan. Malam ritual persembahan darah untuk iblis wanita yang selalu menghantui dan membayangi keluarga Fardhan. Iblis wanita yang arwahnya tidak tenang pada zaman dahulu.
Iblis wanita yang di sebut sebut adalah istri pertama dari leluhur kakek buyut keluarga Fardhan. Arwah dari istri pertamanya itu meninggal setelah mengalami pendarahan hebat saat dia melahirkan putra pertamanya yang juga meninggal dunia. Tidak ada yang tahu jelas apa penyebab kematian dari keduanya?
Sampai saat ini masih menjadi sebuah rahasia yang tidak dapat di pecahkan. Hanya sang suami dari wanita itulah yang bisa menjawab semuanya, namun hingga kematian menjeput sang suami tidak pernah membuka mulutnya untuk menjawab tentang tragedi tersebut.
Malam ini kembali tubuh Nitami akan merasakan banyaknya luka cambuk dan sayatan pada punggung, lengan dan kakinya. Darah yang menetes dari hasil cambukan itulah yang akan di jadikan sebuah persembahan tumbal bagi iblis wanita, agar tidak memberikan malapetaka bagi keluarga Fardhan.
Tetesan darah istri pertama dari putra pertama Keluarga Fardhan, itulah tumbal persembahannya. Mimik wajah datar dan tatapan dinginnya mendominasi wajah Nitami saat ini. Jika bukan karena kontrak yang tidak dapat Nitami lawan, dan sebuah alasan rahasia yang membuatnya harus bertahan dengan semua siksaan itu, sudah lama Nitami akan pergi meninggalkan keluarga Fardhan.
Ritual persembahan tumbal darah di pimpin oleh seorang pendeta suci dan tuan Markus sendiri. Pelantunan beberapa doa terdengar dari mulut sang pendeta suci, di depan altar terdapat sebuah photo wanita cantik serta papan namanya. Beberapa sarana persembahan seperti bunga, aneka buah, kue, lilin dan dupa harum telah tersedia di atas meja altar.
Nitami berdiri tepat di belakang sang pendeta suci dan tuan Markus dengan menggunakan gaun panjang serba putih. Ruang tempat persembahan adalah sebuah rumah kecil yang ada jauh di belakang mansion. Rumah yang di dirikan khusus oleh keluarga Fardhan untuk tempat persembahan sang wanita iblis sekaligus tempat tinggal dari arwah iblis wanita.
Begitu selesai sang pendeta suci melantunkan doa doanya, seorang pria bertubuh kekar mendekati Nitami dengan membawa sebuah cambuk di tangannya. Perasaan takut karena akan merasakan sakit sudah mendominasi Nitami saat ini, Bagaimana tidak? syarat terakhir sebagai tumbal adalah darah segar yang memenuhi gaun putih Nitami. Itulah tumbal terakhir yang akan menjadi persembahan untuk sang iblis wanita.
Cambukan demi cambukan di layangkan pada kedua kaki Nitami, darah segar mulai keluar dari dalam kulit Nitami yang telah di cambuk. Mulut Nitami berusaha menahan suara rintihan sakit yang akan keluar dari dalam mulutnya. Hanya air mata yang sukses keluar dari pelupuk matanya, air mata karena rasa sakit pada tubuh dan hatinya.
Beberapa dari anggota keluarga Fardhan juga hadir di sana, seperti Oma, nyonya Sandra, Fransisca dan juga Diana, serta asisten pribadi Max. Sedangkan Davin tidak pernah sekalipun datang pada acara persembahan tersebut. Jadi satu kalipun Davin tidak tahu apa yang terjadi pada Nitami? entah karena apa dia tidak ingin hadir? Nitami pun tidak tahu.
Saat ini Nitami hanya bisa pasrah dan berusaha menahan rasa sakit akan setiap cambukan yang di berikan kepadanya, hanya nyonya Sandra yang menangis melihat Nitami di perlakukan seperti itu. Sedangkan yang lainnya, hanya tersenyum senang di atas penderita Nitami.
Begitu banyaknya cambukan yang mengeluarkan darah segar, sehingga gaun bawah putih Nitami kini penuh akan bercak berwarna merah akan darah segar Nitami. Kedua kakinya yang sakit tidak dapat berdiri lagi, namun masih Nitami tahan. Diapun di paksa untuk duduk bersujud memberikan rasa hormat dan penyesalan kepada iblis wanita.
Tubuh Nitami hanya bisa bergetar dan pasrah menerima setiap sakit dari cambukan itu. Punggung dan lengannya kini tak luput dari darah yang mengalir dari setiap bekas cambukan. Gaun putih Nitami yang awalnya bersih, kini penuh akan noda merah darah. Sungguh mengerikan dan mengenaskan keadaan Nitami malam ini.
Begitu selesai cambukan yang di berikan pada Nitami, kini kedua lengan Nitami di sayat beberapa kali sayatan sebagai tindakan terakhir agar darah yang keluar semakin banyak. Setelah itu acara persembahan tumbal untuk iblis wanita selesai, hanya saja Nitami harus tinggal dan bermalam seorang diri di dalam rumah itu satu malam hingga dini hari.
Tubuh nyonya Sandra ikut bergetar karena tangis yang memilukan, dia sedih dan pilu melihat kondisi yang di alami oleh Nitami. Perlahan nyonya Sandra mendekati tubuh Nitami yang sedang duduk bersujud di depan altar persembahan.
"Sayang…!" Panggil nyonya Sandra pelan dengan suara yang gemetar karena tangisannya. Nyonya Sandra ikut duduk bersimpuh di samping Nitami.
"Nitami, nak…!" Panggil nyonya Sandra kembali karena Nitami tidak menjawab panggilannya.
Nyonya Sandra perlahan menyentuh dan membelai lembut pucuk kepala Nitami yang tertunduk, dia ingin sekedar menenangkan dan meredakan isak tangis Nitami.
__ADS_1
"Maafkan mama sayang. Semua penderita mu ini karena mama. Mama bersalah padamu." Ucap nyonya Sandra dengan tangisan yang terdengar sedih dan memilukan. Dia dapat merasakan bagaimana rasa sakit yang di dapatkan Nitami saat ini?
Nitami berusaha menelan isak tangisnya, lalu menjawab tanpa melihat nyonya Sandra. Dia tahu nyonya Sandra tulus bersedih untuknya.
"Semua telah berlalu, tidak ada gunanya untuk menyesal." Balas Nitami pelan namun ada sedikit tekanan tegas pada kata-katanya.
Nyonya Sandra tahu Nitami sangat kecewa dan marah padanya, karena bujukkan dialah Nitami setuju menikah dengan Davin. Namun nyonya Sandra tidak tahu jika Nitami akan bernasib seperti sekarang ini. Yang ia tahu, istri pertama hanya di jadikan istri kontrak saja. Sang suami tidak pernah mau memberitahukan yang sebenarnya.
Nyonya Sandra menyetujui pernikahan Nitami dan Davin, walaupun dia tahu keduanya tidak memiliki perasaan sama sekali. Nyonya Sandra hanya berharap seiring berjalannya waktu dan kebersamaan mereka berdua, perasaan cinta akan tumbuh di antara mereka berdua. Pernikahan kontrak yang di sepakati tidak akan pernah terjadi, itulah harapan nyonya Sandra pada Nitami dan Davin. Namun kenyataannya sangat berbeda jauh.
"Sayang, mama minta maaf. Walaupun kesalahan mama ini tidak dapat di maafkan. Mama sungguh menyesali semuanya. Mama tidak pernah tahu akan begini jadinya." Ungkap nyonya Sandra menangis pilu.
Kata maaf yang ia harapkan dari Nitami, seperti tidak akan pantas dia dapatkan. Nyonya Sandra sungguh menyesali semuanya.
Nitami menatap nanar dengan pandangan matanya dingin melihat ke arah nyonya Sandra yang melihatnya dengan berlinang air mata.
"Rasa sakit yang ada di tubuh ku ini, tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan rasa sakit yang ada di dalam sini." Balas Nitami sembari menunjuk ke arah depan dadanya.
Nyonya Sandra semakin bersedih dan tangisannya semakin hebat hingga tubuhnya gemetar.
"Sayang. Mama benar-benar menyesal." Ungkapnya di sela sela tangisannya, sembari dengan lembut memeluk tubuh Nitami yang penuh akan luka, sehingga gaun putih bersihnya ikut ternoda karena darah Nitami yang menempel pada gaunnya.
Kehangatan dan ketulusan kasih sayang serta pelukan lembut nyonya Sandra dapat Nitami rasakan. Memenuhi dan menghangatkan relung hatinya yang paling dalam. Nitami ikut terisak, dia tahu jika nyonya Sandra tulus menyayangi dan mengakui kesalahannya.
Walaupun luka di tubuh dan hatinya tidak dapat di obati begitu saja. Setidaknya di saat masa kritisnya seperti sekarang ini, masih ada yang peduli dan penuh perhatian padanya. Kasih sayang yang tulus dari nyonya Sandra dapat Nitami rasakan seperti kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri.
Ingin rasanya Nitami membalas pelukan nyonya Sandra, namun tangannya begitu berat untuk terangkat dan merangkul tubuh wanita yang menjadi pengganti ibu baginya. Nitami terdiam menangis tanpa suara dan isakan lagi, dengan air mata yang terus mengalir pada pipinya.
"Mama…bangun, tidak ada gunanya mama berbuat seperti ini." Sebuah suara berat dari tuan Markus menengahi mereka berdua.
Nyonya Sandra tidak bergeming dari tempatnya, dia masih memeluk tubuh Nitami yang terlihat mengenaskan dan rapuh.
"Mama, bangun. Ayo kembali dan biarkan dia menyelesaikan ritual persembahan ini." Ucap tuan Markus terlihat geram melihat perhatian dari istrinya untuk Nitami.
Tuan Markus mendekati istrinya dan meraih tangan nyonya Sandra. Namun dengan kuat nyonya Sandra menyentakkan tangan tuan Markus. Tatapan matanya tajam serta dingin memandang ke arah tuan Markus yang berdiri tepat di hadapannya.
"Jangan membantah ku, mama." Ucap tuan Markus menekan perkataannya. Tatapan matanya tajam membalas sang istri.
"Setidaknya mama menyesali apa yang mama lakukan pada Nitami? Mama menyesal telah mengikuti semua perkataan papa." Ucap tegas nyonya Sandra melawan suaminya.
__ADS_1
"Mama…!" Tegur tuan Markus tidak percaya akan perlawanan yang di lakukan oleh istrinya.
"Papa…!" Ucap nyonya Sandra melepaskan pelukannya dari Nitami, dan memegang kedua kaki suaminya.
"Mama mohon hentikan semua ini, lepaskan Nitami. Dia tidak bersalah apapun? Cukup sampai di sini memanfaatkan Nitami." Mohon nyonya Sandra bersimpuh dan memegang kedua kaki suaminya.
Nyonya Sandra merasa harus melakukan sesuatu untuk menolong Nitami. Dia memohon kepada sang suami dan berharap suaminya itu tersentuh dan melepaskan Nitami dari kontrak yang menjeratnya.
"Mama…kau rela memohon dan bersujud hanya karena dia." Balas tuan Markus marah sembari menunjuk ke arah Nitami yang tidak melihat mereka berdua.
Namun Nitami tahu dan dapat mendengar apa yang nyonya Sandra coba ucapkan dan lakukan?
"Iya pa…karena Nitami tidak berhak mendapatkan semua ini."
"Sudah cukup." Ucap tuan Markus memundurkan tubuhnya, agar menjauh dari istrinya yang sedang memohon.
"Ini semua sudah di putuskan dan sudah menjadi takdir baginya seperti itu."
"Ini bukan takdir Nitami, pa…!! Kita yang telah memaksanya seperti itu."
"Sudah cukup ma…Aku tidak ingin kau membahas ini semua. Apa yang sudah aku putuskan tidak akan berubah sedikitpun?"
Tuan Markus menatap tajam dan marah ke arah Nitami, hanya karena ingin membela Nitami istrinya rela bersujud dan memohon kepadanya. Tuan Markus tidak bisa dan tidak rela melihat air mata sang istri yang begitu memilukan, apalagi tatapan sedih istrinya menampar keras hatinya. Dia yang sangat mencintai sang istri tidak tega melihat air mata dan kesedihan sang istri, dia bagaikan suami yang tidak berguna.
Tuan Markus pergi begitu saja, setelah memerintahkan dua bodyguard untuk mengangkat paksa tubuh nyonya Sandra, dan membawa paksa nyonya Sandra pulang ke mansion. Dia tidak bisa berbuat kasar terhadap istri tercintanya.
Setelah kepergian dari semua anggota keluarga Fardhan, tinggallah Nitami seorang diri di dalam rumah kecil itu. Kesunyian malam yang terasa mencekam kini menyelimuti Nitami. Tidak ada air mata, hanya duduk dengan memeluk kedua kakinya yang menekuk dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Nitami berharap malam ini cepat berlalu dan berganti dengan pagi yang cerah untuknya.
Flashback off…
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1