
***Rumah Sakit Golden Healthy***
Nitami menatap intens ke arah Davin. Keputusan yang di berikan oleh Davin mengenai dirinya, Nitami juga tidak setuju. Bagaimana mungkin dia hanya akan menjadi dokter bedah umum di poli saja? Dia tidak boleh lagi melakukan tindak operasi pada para pasien. Itu sama halnya membatasi dirinya sebagai dokter bedah umum.
"Maaf tuan Davin, tapi saya tidak setuju keputusan anda." Ucapnya mengutarakan ketidak puasannya kepada Davin.
Semua melihat ke arah Nitami yang sedang menatap Davin. Davin hanya diam melihat serius ke arah Nitami.
"Maaf tuan sebelumnya, saya tidak bisa begitu saja berhenti melakukan tindakan operasi. Bagaimana mungkin saya dokter bedah umum? hanya menjadi dokter di poli saja." Ungkapnya.
"Itu benar tuan Davin." Celetuk Aldi ikut menimpali untuk membantu Nitami.
Davin masih diam, tatapan matanya melihat ke arah Nitami dan Aldi secara bergantian. Terlihat dia menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan sebelum akhirnya dia menjawab.
"Baiklah. Untuk itu akan saya pertimbangkan, setidaknya keputusan saya untuk dokter Nitami tidak lagi menjadi salah satu dokter VVIP, dan tetap menjadi dokter pribadi keluarga Fardhan, masih tetap sama tidak berubah sama sekali." Balas Davin ingin mencoba melunak kepada Nitami.
Dia tidak ingin membuat Nitami kecewa dan sedih lagi. Davin tahu jika Nitami sangat mencintai pekerjaannya, jadi tidak seharusnya Davin membatasinya.
Nitami diam, dia tahu apa yang di ucapkan oleh Davin? tidak akan bisa di rubah lagi. Setidaknya dia sudah berusaha untuk mempertahankan keinginannya, sampai kontrak kerjanya selesai 4 bulan lagi. Dia akan terbebas dari aturan rumah sakit Golden Healthy.
Nitami harus bersabar sampai 4 bulan ke depan, setidaknya para pasien yang menggunakan kartu kesehatan mereka masih di layani, walaupun pada rumah sakit Savior Healthy. Itu sudah cukup baginya. Lagi pula masih banyak rumah sakit lainnya, yang masih bisa mereka datangi untuk menggunakan kartu kesehatan yang mereka miliki.
Nitami tidak perlu khawatir akan hal itu, masih banyak masalah yang harus dia selesaikan. Sebelum dia akan meninggalkan semua yang telah menyakitinya, dapat melihat kehancuran dan penderitaan mereka semua yang menyakitinya adalah layak bagi Nitami.
"Keputusan akhirnya akan aku katakan pada direktur, bagi dokter yang masih merasa keberatan. Silahkan datang langsung kepadaku dan berbicara secara pribadi." Ucap Davin ingin mengakhiri rapat itu.
Davin sadar jika Nitami belum makan siang sama sekali, karena ini sudah lewat jam makan siang. Lagi pula dia sudah tidak tahan berada satu ruangan dengan Fransisca, yang terus menatapnya dengan senyum kemenangan di wajahnya. Davin muak melihat itu.
"Baiklah rapat aku tutup sampai di sini." Ungkapnya dengan segera berdiri dan merapikan kancing jas mahalnya.
Semua orang berdiri begitu juga tuan Markus dan Fransisca. Davin menatap Nitami sejenak sebelum akhirnya dia berbalik dan pergi keluar dari ruang rapat tersebut. Aldi hanya menepuk pundak kanan Nitami, memberikan semangat serta kekuatan untuk Nitami.
"Kau harus tetap kuat menghadapinya. Aku selalu mendukungmu." Ucap Aldi memberikan semangat pada Nitami.
Nitami melihat ke arah Aldi. "Terima kasih dokter Aldi." Balas Nitami dengan senyum. Setidaknya dia masih memiliki orang terdekat yang selalu mau membantu dan mendukungnya.
"Ayo kita makan siang. Sudah sangat terlambat sekali." Ajak Aldi dan Nitami hanya mengangguk setuju saja.
Mereka berdua melangkah keluar dari ruang rapat secara bersamaan. Tepat tidak jauh dari ruang rapat, Nitami melihat seorang pria yang semalam dia kenal. Pria itu melangkah mendekati Nitami dan Aldi.
"Selamat siang dokter Nitami." Sapa pria yang Nitami kenal sebagai asisten pribadi Nicolas.
"Selamat siang." Balas Nitami bersikap seperti biasanya.
Aldi yang tidak tahu siapa pria yang mendekati mereka, hanya melihat Nitami dan pria itu secara bergantian.
"Maaf dokter. Apakah anda masih ingat pada janji anda tadi pagi." Tanya Rey tanpa basa-basi lagi. Dia sudah tidak bisa menangani sang bos yang selalu menginginkan kedatangan dokter yang ada di hadapannya itu.
__ADS_1
Nitami terdiam, tentu saja dia masih mengingatnya. Nitami melihat ke arah jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang lebih. Itu artinya sudah sangat terlambat untuk makan siang.
"Tentu saya masih ingat. Tapi ini sudah sangat terlambat sekali, tuan." Balas Nitami menatap intens Rey yang menampilkan raut wajah datarnya.
"Saya tahu dokter. Anda masih di tunggu oleh tuan Nicolas di kamarnya." Balas Rey, membuat Aldi melihat ke arah Nitami begitu nama Nicolas di sebutkan.
'Apa dia sudah gila, jam segini belum makan siang. Apa dia tidak meminum obatnya?' Gumam Nitami di dalam hatinya, heran akan tingkah Nicolas.
"Apa tuan itu yang membuat Davin cemburu semalam?" Bisik Aldi di samping telinga Nitami.
Nitami menganggukkan kepalanya untuk menjawab Aldi. Aldi tersenyum dan mengerti, pria mana yang bisa menolak pesona dari dokter cantik Nitami Adreena Saila? Hanya Davin yang bodoh saja yang tidak tahu akan pesona kuat yang di miliki oleh Nitami.
Sepertinya Davin sudah sangat terlambat untuk menyadari, sudah banyak pria lain yang lebih dulu menganggap Nitami wanita special di mata mereka. Aldi yang mengerti akan penderitaan Nitami selama ini, hanya ingin yang terbaik untuk sahabatnya itu. Dia akan mendukung siapapun yang bisa membuat bahagia Nitami?
"Sepertinya ada yang akan cemburu lagi." Bisik Aldi lagi, namun matanya melihat jauh ke arah Davin yang masih berdiri di depan pintu ruang kerjanya. Setelah selesai berbicara dengan sang papa dan Fransisca yang baru saja pergi.
Nitami diam, dia tahu maksud Aldi. Nitami juga melihat ke arah Davin sekilas, dia sudah tidak memperdulikan Davin mau bersikap seperti apa? Walaupun dia tahu bagaimana perasaan Davin kini kepadanya? Nitami hanya menganggap jika Davin hanya menjadikan dirinya pelarian saja setelah mengetahui apa yang di lakukan oleh Fransisca? istri tercintanya.
"Lakukan semua yang menurutmu baik, aku akan selalu mendukung kebahagiaan mu Nitami." Bisik Aldi sekali lagi.
Nitami kini melihat ke arah Aldi, dia tersenyum. Aldi adalah sahabatnya yang tulus dari dulu, kakak kelas dan rekan kerja yang selalu mendukung serta mengerti dirinya selama ini.
"Terima kasih." Balas Nitami dengan senyum.
"Mari tuan !!" Ajak Nitami kepada Nicolas. Tidak ada alasan Nitami untuk menolak undangan makan siang dari Nicolas, lagi pula ada urusan yang harus Nitami selesai bersama Nicolas saat ini. Nitami hanya ingin cepat menyelesaikannya.
'Akhirnya aku selamat dari amukan, tuan.' Gumam Rey di dalam hatinya merasa lega.
Nitami dan Rey melangkah meninggalkan Aldi yang masih berdiri di tempatnya melihat kepergian Nitami dan Rey. Nitami hanya tersenyum sekilas saat melewati Davin yang melihatnya datar dan ada sorot tidak suka melihat Nitami pergi bersama pria lain. Aldi mendekati Davin yang masih berdiri melihat ke arah punggung Nitami yang jauh melangkah.
"Siapa pria itu?" Tanya Davin tanpa basa-basi setelah tahu Aldi berada di sampingnya.
"Dia asisten pribadi tuan Nicolas." Jawab Aldi apa yang dia tahu.
Davin melihat cepat ke arah Aldi yang juga menatapnya. Davin merasakan rasa cemburu itu lagi di dalam hatinya, melihat Nitami pergi bersama pria lain.
'Benar, dia mulai cemburu. Sepertinya kau harus berjuang keras Davin, jika kau benar-benar mulai menyukai dan mencintai Nitami.' Gumam Aldi di dalam hatinya, melihat reaksi Davin yang terlihat tidak suka akan pemberitahuan darinya.
"Untuk apa dia datang menjemput Nitami?" Tanya Davin ke arah Aldi.
Aldi menaikkan sebelah alisnya menatap heran kepada Davin.
"Mana aku tahu."
"Tidak mungkin kau tidak tahu." Davin tidak percaya, dia melihat jelas jika Aldi berbisik beberapa kali kepada Nitami.
"Jika kau tidak tahu, lalu apa yang kau bisikkan kepada Nitami?"
__ADS_1
"Tidak ada yang penting, ayolah Davin. Jangan bilang kau cemburu kepada ku seperti tadi pagi." Balas Aldi dengan tatapan tidak suka melihat sahabatnya, kembali ingin berulah karena rasa cemburu yang tidak jelas dan tidak pada tempatnya.
"Siapa yang tidak cemburu? jika melihat wanitanya berbisik-bisik dan dekat dengan pria lain." Balas Davin menatap tajam Aldi.
Aldi tercengang mendengar perkataan Davin. Sahabatnya itu benar-benar cemburu juga padanya. Gila, memang gila jika orang yang sedang jatuh cinta. Tapi Davin gila karena tidak bisa memilah mana yang benar dan tidak.
"Terserah padamu sajalah Davin. Kau mau cemburu pada siapa saja, bukan urusanku." Ucap Aldi sudah tidak bisa berbicara secara baik pada Davin. Aldi lalu pergi begitu saja meninggalkan Davin.
"Kau mau kemana? kita belum selesai, Aldi." Panggil Davin sedikit berteriak. Dia belum puas akan jawaban dari Aldi.
Aldi menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan melihat ke arah Davin.
"Ini sudah siang dan aku belum makan siang, lagi pula aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucapnya menjawab.
"Jangan sampai nanti kau menuduhku makan gaji buta." Sindirnya, membuat Davin menatap tajam sabahatnya tersebut.
"Jawab dulu pertanyaan ku !! kemana mereka pergi?" Ucap Davin masih ingin tahu kemana Nitami pergi.
Aldi menghela nafasnya, dia tahu Davin tidak akan berhenti bertanya. Jika pertanyaannya tidak terjawab semua.
"Kau tahukan, tuan Nicolas sekarang pasien VVIP di rumah sakit ini, dan dia adalah salah satu pasien yang di tangani oleh dokter Nita. Tentu saja sekarang dokter Nita pergi ke kamar perawatan pasien untuk melakukan pemeriksaan. Apa lagi yang bisa di lakukan oleh seorang dokter kepada pasiennya?" Jawab Aldi berharap Davin puas akan jawabannya.
"Apa kau yakin?" Tanya Davin masih tidak percaya.
Aldi mengerutkan keningnya melihat ke arah Davin, diapun menggeleng-gelengkan kepalanya. Melihat sahabatnya itu tidak percaya akan ucapannya, itulah jika orang yang sedang jatuh cinta dan cemburu. Sikap tidak percayanya lebih besar di dalam pikiran dan hatinya.
"Jika kau tidak percaya pada ucapanku, kenapa tidak kau saja yang buktikan sendiri." Ucap Aldi sembari berkacak pinggang, lama kelamaan dia kesal juga akan sikap cemburu Davin yang kelewatan.
Davin diam akan ucapan Aldi, dia tahu jika dirinya sudah keterlaluan dalam bertanya pada Aldi, yang mungkin saja benar tidak tahu apapun? Tapi dia juga tidak tahu harus berbuat apa sekarang? Rasa penasarannya terlalu tinggi saat ini.
"Setidaknya, tunjukkan rasa simpatimu pada setiap pasien yang datang berobat ke rumah sakit mu ini. Tidak ada salahnya kau melakukan itu, berkunjung dan memberikan semangat kepada setiap pasien yang sedang berjuang untuk kesembuhan mereka." Ucap Aldi memberikan sebuah ide kepada Davin. Di saat dirinya tidak lagi bisa berpikir harus melakukan apa, untuk mencari tahu Nitami sedang apa sekarang?
Davin tiba-tiba tersenyum ke arah Aldi sembari melangkah mendekati sahabatnya itu. Aldi heran melihat senyum Davin yang tiba-tiba. Davin menepuk pundak kanan Aldi dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
"Kau memang sahabat ku yang paling bisa mengerti diriku." Ucap Davin tersenyum.
Aldi diam dengan keheranan melihat tingkah laku Davin.
'ada apa lagi ini? apa karena hatinya yang sedang cemburu? Jadi otaknya yang tidak beres.' Gumam Aldi di dalam hatinya melihat heran pada Davin yang tiba-tiba saja tersenyum padanya. Setelan tadi Davin marah marah dan kesal kepadanya karena Nitami.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
__ADS_1
Jangan lupa vote dan like nya.