
***Mansion Keluarga Fardhan***
…Ruang Kerja Davin…
Davin pulang bekerja lebih awal hari ini, karena dia harus menghadiri pesta Akbar yang di selenggarakan oleh sebuah perusahaan raksasa dari Amerika. Davin pulang berharap bisa berjumpa dengan Nitami, wanita yang beberapa bulan ini membuat hatinya selalu merasa penasaran.
Davin yang mulai nyaman dengan kedekatan dan ketergantungan akan kehadiran Nitami di dekatnya, tidak bosan bosannya mencari cara untuk mengetahui perasaan Nitami seperti apa kepadanya? apakah Nitami juga merasakan rasa penasaran yang sama seperti dirinya atau tidak? Apakah hanya Davin yang merasakan rasa penasaran tentang perasaan hatinya kepada Nitami? sedangkan Nitami tidak merasakan perasaan apapun terhadapnya?
Kekecewaan Davin bertambah saat dirinya pulang tidak menemukan Nitami berada di mansion, Davin segera menghubungi Nitami yang ternyata masih bertugas di rumah sakit Golden Healthy dan sedang mengoperasi seorang pasien gawat darurat. Davin tidak bisa mengatakan apapun? dirinya hanya bisa diam dan mengurung diri di ruang kerja sembari menunggu Fransisca selesai untuk bersiap-siap.
Davin berkali-kali menghela nafasnya yang berat, dia merasa benar benar kecewa karena selama tiga hari ini tidak bisa bertemu dengan Nitami. Ada perasaan rindu yang ia rasakan pada sosok wanita yang memiliki status istri pertamanya itu. Entah mengapa Davin seperti memiliki beban yang sangat berat? jika tidak melihat sosok Nitami untuk satu hari saja.
"Max…kenapa sejak dia masuk kerja kembali, dia malah tidak punya waktu untukku lagi seperti biasanya?" tanya Davin yang sedang duduk pada kursi kebesarannya, dia memandang kecewa ke arah asisten Max yang sedang berdiri tepat di depan meja kerja Davin.
"maaf tuan…nyonya benar-benar sibuk karena liburnya yang hampir sebulan lebih, banyak pekerjaannya terbengkalai dan banyak pasien VVIP yang mengajukan protes mereka karena tidak bisa di tangani oleh nyonya, tuan." balas asisten Max memberitahukan kebenarannya.
"apa dia sehebat dan seterkenal itu di rumah sakit?" tanya Davin dengan tatapan yang menuntut akan jawaban dari asisten Max.
"iya tuan…nyonya adalah dokter bedah umum yang sangat populer dan terbaik di rumah sakit Golden Healthy." jawaban asisten Max membuat senyum Davin terbit setelah raut kekecewaan yang tadi hadir di wajahnya.
Davin merasa senang mendengar, jika Nitami adalah dokter bedah umum yang hebat dan terkenal. Ada perasaan bangga di dalam hatinya terhadap sosok Nitami, istri pertamanya tersebut.
"dia memang wanitaku, di adalah istri pertamaku, dokter cantikku." gumam Davin pelan tetapi masih bisa di dengar oleh asisten Max yang ada tepat di hadapannya.
'tuan… anda sudah mulai jatuh cinta pada nyonya Nitami, tetapi anda belum menyadarinya. Semoga perasaan anda ini tidak terlambat.' gumam asisten Max di dalam hatinya.
Asisten Max lebih peka terhadap perubahan dan perasaan dari sang majikannya. Majikan yang terlalu egois untuk mengakui jika dirinya telah jatuh cinta pada istri pertamanya yang tidak pernah di anggapnya ada.
"Max…apa kau tidak bisa membuat nyonya mu itu berada di rumah jika aku sudah pulang dari bekerja?" tanya Davin tidak masuk akal bagi asisten Max.
Bagaimana bisa dia akan mengatur Nitami seperti yang di inginkan oleh Davin? sedangkan waktu Nitami menjadi seorang dokter itu tidak bisa di tentukan, Nitami memiliki waktu yang tidak tentu bahkan Nitami bisa tidak akan pulang ke rumah, karena kesibukannya di rumah sakit menangani semua pasiennya.
'sepertinya kali ini, aku akan mendapatkan masalah baru dan susah untuk di tangani. Inilah awal mula jika seseorang sudah mulai jatuh cinta tetapi orang itu tidak sadar akan perasaan hatinya sendiri.' gumam asisten Max di dalam hatinya, dia merasakan sesuatu yang tidak baik akan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Davin.
"mengapa kau diam saja Max?" tanya Davin heran melihat asistennya itu hanya diam saja.
__ADS_1
"maaf tuan, waktu yang di miliki nyonya Nitami tidak bisa di tentukan." jawab asisten Max pada akhirnya.
"apa maksudmu, waktu Nitami tidak dapat di tentukan?" tanya Davin dengan merengutkan pangkal alisnya melihat heran asisten Max.
"maaf tuan, nyonya adalah seorang dokter bedah umum yang sewaktu waktu memiliki pasien gawat darurat, seperti sekarang ini. Jadi waktu yang nyonya miliki tidak bisa kita tentukan dan tebak sama sekali."
"lalu dokter lainnya kemana? apa pekerjaan mereka kalau semua pasien gawat darurat, semuanya harus di tangani oleh Nitami?" geram Davin mendengar Nitami tidak akan memiliki banyak waktu untuknya.
"bukan seperti itu tuan. Nyonya yang memang mendapatkan predikat sebagai dokter bedah umum terbaik di rumah sakit, memiliki tanggung jawab yang besar, jika pasien tersebut tidak dapat di tangani oleh dokter bedah lainnya. Anda tahu sendiri tuan…menjadi yang terbaik itu tidaklah mudah, ada tanggung jawab yang menanti dan perlu keseriusan untuk menanganinya." jawab asisten Max ingin memberikan pengertian pada tuannya tersebut.
Terlihat Davin diam mencerna apa yang di katakan oleh asisten Max? ada benarnya juga. Sedangkan asisten Max, hatinya kini sedang ketar ketir. Berharap semoga tuannya dapat mengerti dan tidak memberikan tugas yang rumit dan susah. Mana bisa dirinya mengatur waktu dari seorang dokter yang super sibuk.
"pecat dia dari rumah sakit, Max…" ucap Davin mendapatkan ide cemerlang dari otaknya yang sudah terkontaminasi akan sosok Nitami yang tidak bisa jauh darinya.
'ini yang aku takutkan, tuan anda seenaknya memutuskan sesuatu yang mungkin tidak di sukai oleh nyonya.' gumam asisten Max dalam hatinya lagi, dia sudah sulit untuk berpikir.
"maaf tuan…itu tidak mungkin, nyonya masih terikat kontrak kerja."
"Max aku pemilik rumah sakit, jadi aku berhak memutuskan apapun."
"tidak ada tapi tapi Max, aku ingin Nitami di pecat. Aku ingin dia hanya melayaniku saja, dan tidak boleh melayani orang lain." ungkap Davin dengan gampangnya.
"maaf tuan…bukannya saya tidak ingin mengikuti perintah anda, tetapi apa tidak sebaiknya anda pikirkan terlebih dahulu untuk memecat nyonya dari rumah sakit? Tuan anda tahu sendiri nyonya seperti apa? nyonya pasti tidak setuju akan ide tuan ini." ungkap asisten Max mencoba memberikan saran dan memakai nama Nitami untuk membuat Davin mengurungkan niatnya tadi.
Davin diam untuk berpikir sejenak, dia memandang lekat wajah asisten Max. Apa yang di katakan asisten Max? adalah benar. Nitami sangat keras kepala dan kokoh pada pendiriannya, dia juga tipe orang yang tidak ingin lepas dari tanggung jawab. Nitami sangat profesional, tidak akan pernah setuju akan ide Davin yang ingin memecatnya tanpa alasan.
Davin menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, sebelum akhirnya diapun mengeluarkan pendapatnya kembali.
"kau benar Max…dia sangat keras kepala dan kokoh pada pendiriannya. Jika itu aku lakukan, aku pastikan dia akan bertindak tegas padaku. Bisa bisa dia akan menghajarku seperti yang dia lakukan kepada 5 bodyguard yang ada di mansion." ungkap Davin masih lekat pada ingatannya, pertarungan Nitami yang melawan 5 bodyguard di mansionnya beberapa minggu yang lalu.
'akhirnya tuan mendapatkan juga pawangnya. Semoga nyonya bisa membimbing tuan ke jalan yang selalu baik.' doa asisten Max di dalam hatinya.
"anda benar tuan." hanya itu yang dapat asisten Max ucapkan, dia sangat berharap tuannya ini akan melupakan ide gilanya itu. Idenya untuk memecat Nitami hanya akan memperburuk keadaan dan hubungan mereka yang sudah mulai membaik.
"kau cari tahu, berapa bulan lagi kontrak kerjanya di rumah sakit Max?
__ADS_1
"baik tuan."
"oya Max, bagaimana perkembangan penyelidikanmu yang aku minta?" tanya Davin. Dia memerintahkan asisten Max untuk menyelidiki jati diri keluarga Nitami.
Saat dirinya melihat pertarungan Nitami, Davin sangat yakin jika semua gerakan bela diri Nitami bukan sekedar hanya untuk menjaga diri. Dia teringat akan satu hal yaitu, almarhum papa dan mama Nitami adalah anak buah sekaligus sabahat dekat mamanya. Dari yang ia ketahui dulu, papa Nitami adalah bodyguard mama yang paling kuat. Sehingga nyonya Sandra selalu aman dari para musuh keluarga Fardhan yang ingin menyerang dan mencelakai nyonya Sandra.
"tidak ada yang special tuan, jati diri mereka murni hanya orang biasa. Tidak dari golongan bawah atau golongan dari organisasi manapun? nyonya dan kedua orang tuanya, rakyat biasa." ungkap asisten Max memberitahukan apa yang menjadi penyelidikannya.
"apa kau yakin Max, mengapa firasat ku mengatakan jika Nitami bukanlah dari golongan atau orang biasa. Ada sesuatu yang tidak kita ketahui tentang dia, aku rasa ada yang membantunya."
"tuan…kenapa tidak anda tanyakan langsung kepada nyonya Sandra, beliau lebih mengenal baik kedua orang tua nyonya." usul asisten Max.
"kau benar Max, mengapa aku tidak berpikir sampai ke arah sana."
'bagaimana anda bisa berpikir jernih ke arah sana, tuan? jika di pikiran Anda hanya ada rasa penasaran terhadap nyonya Nitami, otak anda bahkan sudah di penuhi dengan cara untuk menaklukkan hati nyonya, anda saja yang tidak sadar tuan.' gumam asisten Max di dalam hatinya. Dia merasa jika tuannya sedikit menjadi bodoh jika sudah berurusan dengan istri pertamanya itu.
"baiklah tuan, sudah waktunya kita berangkat. Asisten nyonya Fransisca mengatakan, jika nyonya sudah selesai bersiap. Nyonya Sandra, tuan Markus dan juga nona Diana sudah menunggu anda di ruang tengah." lapor asisten Max sembari melihat ponsel yang ada di tangannya.
Davin menghela nafasnya, sebenarnya dia sangat malas pergi ke pesta itu bersama dengan Fransisca, Davin yakin di dalam pesta itu akan sangat membosankan yang membuat dirinya akan menahan rasa kesal akan sesuatu yang dia lihat nanti.
Itu semua harus Davin lakukan dan harus bertahan, bagaimana juga Fransisca adalah istri Davin yang di kenal oleh semua masyarakat? tidak mungkin dia akan tiba-tiba mengajak wanita lain yang tidak di ketahui oleh publik, walaupun dia berharap membawa serta Nitami ke dalam pesta. Nitami tidak kalah cantik dari Fransisca, dia juga pantas untuk di banggakan dan di pamerkan ke hadapan publik.
Tanpa banyak bicara Davin bangkit dari duduknya, dia melangkah untuk keluar dari ruang kerjanya yang di susul oleh asisten Max. Davin bertemu dengan semua orang yang sudah menunggunya. Davin hanya melihat Fransisca sekilas yang tampil glamor dengan gaun panjang hitamnya yang gemerlap.
Dia hanya tersenyum dan segera menggandeng tangan Fransisca untuk masuk ke dalam mobil. Mereka harus berangkat sekarang juga, jika tidak ingin terlambat untuk datang ke dalam pesta Akbar yang khusus di selenggarakan, untuk para pengusaha di beberapa kota dan negara luar. Sebuah pesta Akbar yang akan menyenangkan sekaligus menguras emosi bagi yang hadir di sana.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1