
***Mansion Keluarga Larzo***
Nitami melakukan sebuah sambungan telepon kepada seseorang yang akan membantunya, untuk mengatasi masalahnya dengan Davin yang baru saja membuatnya kesal.
Davin mengiriminya sebuah pesan yang mengatakan, jika dia tidak ingin menceraikan Nitami dengan ada ataupun tidaknya surat perjanjian di antara mereka. Davin mengatakan jika pernikahan yang mereka jalani sah di mata hukum dan agama.
Nitami tidak dapat melakukan apapun, jika Davin menolak untuk bercerai. Nitami marah akan hal itu, Davin berusaha menghambat jalan perpisahan mereka yang Nitami inginkan.
"Hallo nona, selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang pria dari seberang telepon.
Pria yang Nitami hubungi adalah salah satu anak buah Alesha, yaitu Raka Wijaya.
"Selamat sore Raka, segera lakukan apa yang aku inginkan. Bagaimana pun caranya aku ingin semua berjalan seperti yang aku inginkan." Balas Nitami langsung pada intinya, dan Raka tahu itu.
Nicolas yang awalnya geram melihat Nitami sedang menghubungi seseorang, kini terlihat melunak. Sebab dia tahu Nitami tidak sedang menghubungi Davin, pria yang menjadi rival terkuatnya untuk mendapatkan sang pujaan hati. Dari pembicaraan Nitami, dia tahu jika Nitami sedang memiliki masalah bersama Davin.
Sedangkan Alesha kini mengerti permasalahan yang membuat Nitami begitu fokus terhadap pesan di ponselnya. Raka Wijaya adalah salah satu anak buahnya yang cukup cerdas dalam menangani masalah ini. Alesha tahu masalah apa yang ingin Nitami selesaikan, perceraiannya dengan Davin. Raka Wijaya adalah pengacara hebat yang ia miliki di dalam organisasinya.
Tidak ada permasalahan hukum yang tidak bisa di tangani oleh seorang Raka Wijaya. Alesha masih mengamati dan siap membantu jika di perlukan.
"Baik nona. Semua akan segera saya kerjakan. Anda hanya perlu mengikuti aturan dan menunggu hasilnya." Balas Raka dengan suara tegas dan kepercayaan diri yang tinggi.
"Baik. Terima kasih, selamat sore." Balas Nitami mengerti, dan tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan.
"Sama-sama nona, selamat sore." Sambungan telepon mereka pun terputus.
Nitami segera meletakkan ponselnya di atas meja kaca yang ada di hadapannya. Kini dia dapat fokus kembali dalam pembicaraannya bersama Alesha dan juga Nicolas. Tanpa ia ketahui jika dirinya menjadi pusat perhatian dari kedua orang yang sekarang melihatnya intens.
Nitami melihat heran ke arah Nicolas dan Alesha secara bergantian.
"Ada apa? Mengapa kalian melihat ku seperti itu?" Tanya Nitami tidak suka di tatap intens seperti itu.
"Apa Davin menolak gugatan perceraian kalian?" Kini Alesha yang mulai bertanya. Nicolas hanya diam karena dia memang tidak tahu permasalahan yang sedang di hadapi oleh Nitami.
Tidak ada yang perlu di sembunyikan lagi, lambat laun permasalahannya akan di ketahui juga oleh Alesha dan Nicolas.
"Iya." Balas singkat Nitami sembari menyandarkan punggungnya.
"Dasar pria tidak tahu diri. Sekian lama kalian bersama, mengapa baru sekarang ia menolak untuk berpisah. Setelah istri tercintanya telah mengkhianatinya dia menolak untuk berpisah denganmu, dasar pria brengsek. Apa dia anggap kamu hanya wanita cadangan saja untuknya?" Ucap marah Alesha mengingat tingkah laku Davin terhadap sahabatnya tersebut.
Nitami diam, namun lirikkan matanya melihat ke arah Nicolas yang menatapnya dengan datar dan intens. Dia masih ingat, jika beberapa hari yang lalu Nicolas mengajukan lamaran pernikahan dan berharap perceraian dirinya bersama Davin. Ingatan itu membuat Nitami sedikit risih akan situasi mereka saat ini.
Namun Nicolas masih bersikap tenang dan sedatar air. Tanpa ingin ikut bertanya masalah yang sedang ia alami.
"Dari pada ia harus sibuk mengurusi perceraiannya denganmu, lebih baik dia mengurus dulu perusahaannya yang sedang bermasalah." Ucap Alesha masih terdengar kesal.
__ADS_1
Nitami seketika melihat ke arah Alesha. Alesha tahu perusahaan Davin sedang dalam masalah. Apakah ini ulah Alesha?
"Apakah masalah itu ulah mu, Alesha?" Tanya Nitami ingin tahu.
Alesha terdiam sejenak dan melihat ke arah Nicolas yang masih intens menatap Nitami. Nitami melihat ke arah mereka berdua secara bergantian.
'Apa mereka sedang melakukan kerja sama untuk membuat beberapa perusahaan mengalami masalah?' Gumam Nitami di dalam hatinya melihat curiga kebersamaan Nicolas dan Alesha hari ini.
"Tentu, siapa lagi. Kamu tahu sendiri kan. Aku sejak dulu ingin menghancurkan mereka yang menjadi penghalang hidupmu. Lagi pula aku tidak sendiri…" Ucapnya terhenti dan melirik ke arah Nicolas.
Nitami melihat curiga ke arah keduanya.
"Berkat bantuan dari tuan Nicolas, semua usaha yang aku ingin lakukan berjalan sukses." Jawab Alesha jujur pada kerja sama mereka.
Tebakkan Nitami yang benar membuatnya tidak dapat berkata-kata. Hanya saja ia tidak dapat percaya, dengan cara apa Alesha membujuk seorang Nicolas Orlando untuk mau bekerja sama dengannya. Nitami tahu kalau Alesha tidak akan bisa menghancurkan beberapa perusahaan jika hanya seorang diri.
"Kalian bisa bekerja sama, ini sangat mengesankan." Ucap Nitami dengan senyum herannya melihat ke arah Nicolas dan juga Alesha.
"Apakah itu salah, tujuan kami sama. Mengapa tidak untuk kami bekerja sama."
Nitami terdiam, kini dia tahu. Perusahaan yang sedang mereka hancurkan akan benar-benar hancur sekarang. Kekuatan dan kekuasaan mereka berdua begitu besar, hingga mampu membuat masalah di dalam perusahaan sekelas Golden gruop. Milik dari keluarga Attala Fardhan.
"Jadi ini yang ingin kalian bahas dan bicarakan bersamaku?" Ucap Nitami menebak tujuan pembicaraan mereka.
Nitami dan Alesha diam sejenak.
'Dia terlihat kesal, sangat terlihat jelas dia sedang cemburu kepada Davin.' Gumam Alesha tersenyum tipis melihat sikap dingin dan kesal Nicolas melihat ke arah Nitami.
Nitami tahu maksud dari perkataan Nicolas, bukan masalah baginya akan kehancuran Davin dan keluarganya. Hanya dia tidak dapat percaya jika sekelas Nicolas dapat bekerja sama dan membantu Alesha dengan begitu mudah. Jika Nicolas tidak memiliki tujuan tertentu. Itulah yang Nitami curigai, Nicolas dan Davin bukanlah seorang musuh walaupun mereka adalah dua pengusaha muda yang bersaing dalam dunia bisnis.
'Tidak mungkin dia seperti itu hanya karena menyangkut kecelakaan adiknya. Tidak perlu untuknya bekerja sama dengan Alesha untuk menghancurkan Davin, apa dia memiliki motif lain?' Gumam Nitami curiga di dalam hatinya akan tujuan Nicolas.
"Tidak. Tentu saja tidak, Davin dan keluarganya hancur atau tidak aku tidak peduli. Aku hanya ingin lepas dari mereka dan pergi sejauh mungkin." Balas Nitami pada akhirnya tidak ingin menutupi masalahnya bersama Davin.
Nitami sangat yakin, jika sekelas Nicolas pasti sudah tahu dan menyelidiki tentang dirinya. Tidak menutup kemungkinan jika permasalahan rumah tangganya bersama Davin pasti ia ketahui.
'Apakah dia juga tahu, jika aku hanya di jadikan seorang istri yang di tumbalkan keluarga Fardhan?' Curiga Nitami di dalam hati dan pikirannya sekarang.
"Justru itu kami akan membantumu." Ucap Alesha.
Nitami diam dan melihat ke arah Alesha, sedangkan Alesha tahu maksud dari tatapan Nitami.
"Kami bekerja sama untuk membantu mu lepas dari keluarga Fardhan, dan menghancurkan semua yang menghalangimu selama ini." Ucap Alesha kembali.
"Menghalangiku…??!!" Ucap Nitami tidak mengerti.
__ADS_1
"Kamu terlalu naif Nitami. Tanpa kamu sadari begitu banyak jebakan yang di rencanakan oleh Fransiska, Ghani dan juga tuan Raiden. Untuk mencelakaimu." Balas Alesha, Nitami hanya diam.
"Kamu harus tahu, jika kecelakaan yang di alami oleh Davin dan juga kedua orang tua Angel adalah perbuatan Fransiska bersama Ghani untuk melenyapkan Davin." Ungkap Alesha kebenaran yang baru saja Nitami ketahui.
"Mereka berdua dalang di balik kecelakaan itu. Mereka memakai jasa mafia dari Italia untuk membunuh Davin, karena Fransiska sudah tahu jika Davin mengetahui perselingkuhannya bersama Ghani beberapa bulan sebelum kecelakaan itu terjadi."
Nitami masih diam, dia hanya melirik ke arah Nicolas.
"Jadi semua itu perbuatan Fransiska dan Ghani." Ulang Nitami.
"Iya. Davin dan kedua orang tua Angel adalah korban dalam kecelakaan itu."
'Jika Davin adalah korban pada kecelakaan tersebut, itu artinya keluarga Nicolas tidak bisa menuntut Davin atas kecelakaan yang merenggut nyawa adik dan iparnya. Lalu untuk apa Nicolas bekerja sama dengan Alesha dalam kehancuran beberapa perusahaan.' Gumam Nitami dalam hatinya.
Nicolas menangkap sebuah perubahan dari raut wajah Nitami saat mengetahui jika Davin hanyalah korban, dan bukan tersangka dalam kecelakaan tersebut.
'Apa dia senang kalau Davin hanyalah korban dan bukan tersangka dalam kecelakaan itu?' Gumam curiga Nicolas akan pemikiran Nitami saat ini.
"Apa kau senang kalau Davin hanyalah seorang korban di sini dan bukan menjadi tersangka kecelakaan itu?" Tanya Nicolas secara terus terang, ia ingin tahu apa pemikiran Nitami saat ini.
Sungguh membuatnya penasaran akan perasaan Nitami terhadap Davin, yang tidak akan bisa ia tuntut atas kecelakaan itu. Sedangkan Nitami mengerutkan alisnya melihat ke arah Nicolas.
"Apa maksud anda, tuan." Tanya Nitami tidak mengerti maksud Nicolas.
Nitami sama sekali tidak merasakan apapun tentang perubahan posisi Davin yang sejak awal menjadi tersangka sekarang berubah menjadi korban. Nitami tidak memiliki pemikiran seperti senang ataupun tidak akan perubahan itu.
'Sangat terlihat jelas, Nicolas cemburu berat saat ini. Nitami kamu sungguh tidak peka sama sekali, jika pria di hadapanmu itu sangat menyukai dan bahkan sudah mencintaimu sejak lama.' Gumam Alesha duduk bersandar dan menyaksikan pertunjukan di hadapannya.
Satu pria sedang cemburu karena rasa suka dan cintanya, dan satu wanita sangat tidak peka akan perasaan pria tersebut. Apakah keduanya akan bisa bersatu? Di saat sang wanita belum merasakan perasaan apapun terhadap pria yang sangat menyukai dan mencintainya.
Alesha sungguh kasihan melihat keduanya, takdir hidup sungguh miris mempertemukan dan mempermainkan mereka berdua. Apakah akan ada takdir cinta di antara mereka berdua? Hanya Tuhan yang tahu dan sang waktu yang akan menjawabnya.
"Kau terlihat jelas sangat senang, mendengar kabar jika Davin bukanlah tersangka pada kecelakaan itu tapi dia hanyalah korban. Itu artinya aku tidak bisa menuntut suami mu dalam kasus kecelakaan ini. Bukan begitu nyonya muda Fardhan." Ungkap Nicolas jujur pada apa yang ia pikirkan sekarang tentang Nitami.
Nitami mengerutkan keningnya akan perkataan dan tuduhan Nicolas tentang dirinya. Nicolas mengatakan jika dirinya senang akan perubahan posisi Davin, yang tidak akan bisa di tuntut oleh keluarga Orlando atas kecelakaan tersebut. Itu bukti nyata bagi Nitami, jika Nicolas tidak tahu apapun tentang dirinya dan juga perasaannya untuk Davin dan keluarga Fardhan. Nitami tidak peduli sama sekali akan hal yang menyangkut Davin dan keluarga Fardhan, apapun itu? Tidak peduli sama sekali.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1