
***Mansion Keluarga Fardhan***
Genggaman tangan Nitami pada tubuh belakang nyonya Nadin berangsur-angsur melemah, Nitami melepaskan tubuh rapuh nyonya tua keluarga Fardhan begitu saja jatuh tersungkur di atas lantai halaman depan rumah putih.
Tertatih nyonya Nadin berusaha untuk bangkit dari jatuhnya, ia ingin mendekati kursi roda elektriknya untuk meraih ponsel yang tersimpan di sana.
Nitami melihatnya dingin tanpa rasa iba sama sekali, wanita tua yang menjadi sumber dari penderitanya selama 5 tahun ini, sekaligus wanita yang tega berbohong dan mengarang sebuah kisah bohong untuk keserakahan balas dendamnya, serta wanita yang tega membunuh beberapa nyawa wanita lainnya yang di jadikan sebagai tumbal untuk keluarga Fardhan atas ide darinya selama puluhan tahun.
Wanita pembunuh berdarah dingin, itulah sebutan yang cocok untuk nyonya tua
Nadin Atalla Fardhan, atau dulu sering di kenal dengan Nadin Wijaya Kim.
Dengan tertatih dan usaha yang cukup sulit, nyonya Nadin berhasil duduk ke atas kursi roda elektriknya. Dengan nafas yang terengah-engah, nyonya Nadin memandang marah dan tajam ke arah Nitami yang berdiri tidak jauh di hadapannya.
"Kau wanita brengsek, apa yang sudah kau lakukan padaku? Akan aku balas dengan dua kali lipat." Ucap murka nyonya Nadin dengan nada yang sedikit tinggi.
Tangan nyonya Nadin meraih ponselnya yang tersimpan pada saku samping kursi roda elektriknya. Sedangkan Nitami tahu apa yang ingin di lakukan oleh nyonya tua tersebut? Hanya diam saja. Dengan pandangan dan senyum yang meremehkan, Nitami berdiri menantang sembari melipat kedua lengannya di depan dada.
"Kau harus mati di tanganku sekarang juga." Ucap murka mulut keriput nyonya Nadin sembari berusaha mencari sesuatu pada layar ponselnya.
"Apa yang bisa kau lakukan dengan tubuh yang begitu gemetar hebat, bahkan tangan keriput mu itu tidak mampu mencari sesuatu dengan mudah pada layar ponselmu, nyonya Nadin…!!" Balas Nitami dengan sikap santainya, namun pandangan matanya meremehkan ke arah nyonya Nadin yang masih berusaha sibuk pada ponselnya.
"Wanita setan…Wanita tumbal…kau harus mati sekarang juga." Umpat gemetar sang nyonya merasa sakit hati akan penghinaan yang di lontarkan oleh Nitami.
"Bahkan suaramu saja terdengar gemeteran seperti itu. Apa kau masih bisa berbuat sesuatu padaku?" Tantang Nitami masih meremehkan.
Dia begitu suka memprovokasi nyonya Nadin, tidak ada kesabaran sama sekali pada diri Nitami saat ini, ia sangat menikmati detik-detik ketakutan dan penderitaan sang nyonya tua yang bahkan tidak tahu ingin melakukan apa?
"Hallo Tom…Cepat datang ke rumah belakang, tolong aku…!" Ucap nyonya Nadin setelah sambungan telepon yang di lakukan tersambung pada seseorang.
Nitami tahu jika nyonya Nadin sedang meminta pertolongan, namun ia biarkan begitu saja. Ia ingin tahu pertolongan seperti apa yang akan datang? Nitami sudah sangat siap untuk menghadapinya.
"Aaaakkk…!" Rintihan nyonya Nadin sembari memegangi lengan atas kanannya yang tadi di suntik oleh Nitami menggunakan racun.
"Apa yang sudah kau suntikan padaku, sakit sekali…"Teriak nyonya Nadin sekuat yang ia bisa.
Kini nyonya Nadin sedang merasakan rasa sakit yang teramat sakit pada lengannya akibat racun yang masuk ke dalam tubuhnya.
"Rasakan nikmat rasa sakitnya, agar kau tahu bagaimana penderitaan semua wanita yang sudah kau racuni selama ini." Balas Nitami dengan santai, ia melangkah mendekati sebuah pedang yang tadi di jatuhkan oleh nyonya tua.
Pedang yang tersembunyi di dalam sebuah tongkat penopang milik nyonya tua, pedang yang telah menusuk lehernya. Rasa sakit yang di timbulkan oleh pedang itu pada leher Nitami masih terasa, namun dapat Nitami tahan. Rasa sakit di dalam hatinya, lebih sakit dari luka pada lehernya.
Nitami menggunakan sarung tangan pada kedua tangannya, lalu meraih pedang yang tergeletak di atas lantai halaman depan rumah putih.
Nitami memainkan pedang tersebut, sedangkan nyonya tua yang melihatnya mulai merasa takut. Nyonya tua takut dan gemetar jika Nitami akan melakukan sesuatu padanya dengan menggunakan pedang tersebut.
__ADS_1
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya takut nyonya tua sembari mulai menekan tombol mundur pada kursi roda elektriknya.
Nitami melihat ke arah nyonya tua, ia pun tersenyum mengejek akan ketakutan yang kini di perlihatkan oleh sang nyonya tua.
"Apa yang ingin aku lakukan?" Ucap tanya Nitami dengan melihat ke arah pedang di tangannya, lalu beralih melihat ke arah nyonya tua.
"Aku tidak ingin melakukan apapun? Aku hanya akan melakukan ini." Ucapnya sembari melangkah mendekati sarung pedang tersebut.
Nitami meraih sarung pedang yang berbentuk sebuah tongkat. Dia pun melihat detail dari kedua benda yang ada di tangannya secara bergantian.
"Anda sungguh pandai dan licik, nyonya. Anda bahkan memiliki dan menyembunyikan benda seperti ini sebagai sebuah tongkat penopang. " Ungkap Nitami sembari menunjukkan apa yang ia kini pegang kepada nyonya tua yang terus berusaha mundur.
"Mengapa kau mundur nyonya? Ada apa? Aku tidak akan melakukan apapun padamu? Apalagi ingin membunuhmu?" Ungkap Nitami sembari melangkah maju seirama dengan mundurnya kursi roda elektrik nyonya tua.
Nitami terus memainkan pedang yang ada di tangannya, seakan ia sedang menggertak dan menakuti sang nyonya tua di hadapannya.
"Membunuhmu dengan pedang ini hanya akan mengotori tanganku. Aku hanya cukup melakukan ini saja." Ucap Nitami sembari menyayat lengan kanannya dengan menggunakan pedang yang ada di tangannya.
Darah segar mengalir dari luka sayatan pada lengan yang di lakukan oleh Nitami. Namun bukannya rasa sakit atau raut kesakitan yang ada pada wajah cantik Nitami, tetapi senyum puas dan tatapan membunuh Nitami yang ada pada raut wajah cantiknya.
"Kau sudah gila, kau wanita gila." Ucap nyonya tua, dia tidak pernah menyangka jika Nitami akan berani menyayat dirinya sendiri.
Tindakan yang cukup berani menurut sang nyonya, namun sayangnya ia tidak mengetahui apa maksud dari tindakan Nitami tersebut?
"Hahahaha…!!" Tawa jahat Nitami menggelegar akan ucapan nyonya tua yang mengatakan, jika dirinya adalah wanita gila.
"Jika aku wanita gila yang menyayat tubuhku sendiri, lalu kau wanita seperti apa yang sudah membunuh tiga wanita yang tidak bersalah? Nyonya Nadin Wijaya Kim?" Ucap Nitami dengan penekanan pada setiap kata-katanya.
"Kau wanita iblis, pembunuh berdarah dingin." Ucap Nitami kembali dengan tatapan yang sedingin es.
"Kau…!!" Ucap nyonya tua terputus saat merasakan rasa sakit pada lengannya yang ia coba angkat untuk menunjuk ke arah Nitami.
"Aaaakkkk…Sakitnya…A…apa yang sebenarnya telah kau suntikan padaku?" Tanya nyonya tua, namun kali ini suaranya terdengar merintih dan terbata-bata.
Nitami tersenyum jahat, diapun menjawab.
"Racun pelumpuh dengan dosis yang cukup membuat nyonya merasakan rasanya sakit pada kelumpuhan setiap persendian di tubuh mu itu, nyonya tua." Balas Nitami terlihat puas akan perbuatannya kepada nyonya tua.
Sikap Nitami saat ini telah di selimuti oleh balas dendam dan amarah yang cukup menggelap. Hingga jiwanya sebagai seorang dokter seketika menghilang dari tubuhnya saat ini. Nitami menjelma menjadi wanita dari dunia hitam atau dunia mafia.
Hanya saja untuk membunuh seseorang Nitami tidak akan bisa melakukan hal itu, dia hanya bisa membuat penderitaan bagi lawannya. Rasa sakit yang membuat lawan lebih baik mati daripada harus bertahan untuk hidup merasakan rasa sakit yang teramat sakit dan menyiksa mereka. Nitami suka melakukan hal itu pada setiap orang jahat di matanya.
Nyonya tua terlihat mulai terengah-engah karena berusaha menahan rasa sakit pada tubuhnya yang rapuh.
"Bagaimana bisa kau memiliki racun itu." Ucapnya terbata-bata dengan susah payah.
__ADS_1
"Aku tidak mendapatkan nya di manapun?" Balasnya tersenyum.
"Aku membuatnya sendiri, itu racun buatanku sendiri. Racun yang aman dan tidak akan terdeteksi oleh dokter forensik manapun?" Ucap Nitami dengan senyum puasnya akan ciptaan yang sangat bagus kali ini.
"Sepertinya jika racun itu berhasil padamu, nyonya. Aku pasti akan menjadi kaya raya jika menjual racun itu pada dunia hitam mafia, dunia yang sering anda datangi untuk membeli racun pelumpuh pada seseorang., dan untuk menyewa jasa pembunuh bayaran setiap ada yang ingin menghalangi mu, nyonya." Tekanan Nitami pada setiap kata-katanya.
Mata nyonya tua membulat dengan sempurna karena terkejut akan tebakkan Nitami yang selalu benar tentangnya, dan bergumam di dalam hatinya.
'Bagaimana bisa dia tahu tentang semua itu?' Gumaman nyonya tua di dalam hatinya.
"Siapa kau sebenarnya? Siapa yang telah mengutusmu?" Tanya nyonya tua dengan susah payah di antara sela nafasnya yang mulai sesak.
Nitami tersenyum devil melihat keterkejutan dan keadaan kacau serta mulai sekarat, kini sedang di perlihatkan oleh nyonya Nadin. Diapun menghela nafasnya.
"Siapa aku? Aku adalah wanita yang kau jadikan seorang tumbal di keluarga Fardhan, aku adalah wanita yang telah kau renggut kebahagiaan dan kebebasannya. Aku adalah wanita yang menjadi cicit menantu pertamamu, oooo…tidak, aku akan segera menjadi mantan cicit menantumu." Balasnya puas akan tindakan nya sekarang.
"Bagaimana nyonya, apa jawaban yang aku berikan bisa membuatmu puas? Atau kau ingin tahu siapa aku sebenarnya?" Tanya balik Nitami pada nyonya tua.
Nyonya tua hanya diam dengan nafasnya yang terlihat sesak.
"Aku adalah Nitami Adreena Saila. Atau anda mungkin mengenal nama NASA Angel dari anggota mafia Shadow World. Itu nama lain yang aku miliki, nyonya." Ucap Nitami sembari berbisik pada beberapa kalimat terakhirnya. Bisikkan yang dapat di dengar jelas oleh nyonya tua.
"Aku NASA Angel dari anggota mafia shadow world." Bisiknya ulang.
Kembali nyonya tua terkejut dengan matanya yang membulat sempurna. Dia pun masih memegangi bagian dadanya yang terasa sesak.
Sebuah nama yang cukup di kenal baik oleh nyonya tua, NASA Angel dari anggota mafia Shadow World yang dia kenal adalah pembuat racun terbaru tempatnya membeli racun selama 2 tahun ini. Seorang dokter misterius dan jenius yang sudah terkenal di dunia hitam atau mafia akan semua racun dan obat ciptaannya.
"Ti…tidak mungkin dia itu kau…!" Elak nyonya tua.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" Tanya nyonya tua ingin tahu, nafasnya semakin berat.
"Nyonya, sebaiknya kau berusaha untuk tenang, jika tidak nafas anda akan semakin sesak karena rasa gelisah dan takut anda sekarang." Saran Nitami dengan senyuman devilnya.
Namun nyonya tua tidak peduli, dia hanya ingin tahu siapa sebenarnya wanita yang ada di hadapannya tersebut? Bagaimana bisa tahu terlalu banyak yang berhubungan tentangnya? Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang ada di dalam pikiran sang nyonya tua, sembari menahan rasa sakit dan sesak nafasnya yang mulai terasa berat.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1