Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.

Berbagi Cinta. AKU ISTRIMU BUKAN TUMBAL.
46. Sebuah Perasaan.


__ADS_3

***Rumah Sakit Golden Healthy***


Nitami terdiam dengan posisi ponsel yang masih menempel pada telinganya, dia masih setia mendengarkan apa yang di ucapkan oleh sang sahabat dari seberang telepon?


"apa kamu bisa mengerti apa yang aku katakan?" tanya sang sahabat dari seberang telepon.


"iya tentu saja, aku bisa mengerti." ucapnya terdiam sejenak.


"aku juga tidak tahu ke depannya akan seperti apa?" ucap Nitami terus memikirkan apa yang di katakan oleh sahabatnya tersebut?


"aku juga berharap ada kebahagiaan di dalam hidupku di masa depan. Aku juga ingin merasakan perasaan cinta dan kasih sayang dari seseorang. Aku adalah wanita biasa yang juga menginginkan semua itu." ucap Nitami sembari menatap kosong pada meja yang ada di hadapannya.


"kamu berhak untuk bahagia Nitami. Aku ingin kamu juga memiliki seorang pria yang bisa memberikan cinta, kasih sayang, perhatian, tanggung jawab, dan juga menjadi pelindung serta teman hidup bagimu di hari tuamu kelak." balas sang sahabat dengan suara yang terdengar tulus.


"terima kasih atas semua doa, dukungan, nasehat dan pengertian yang selama ini kamu berikan padaku. Terima kasih sudah mau menjadi sahabat yang selalu setia dan ada untukku." balas Nitami dengan suara yang sama tulusnya.


"aku yang sangat beruntung dan berterima kasih, karena kamu mau menjadi sahabatku. Di saat semua orang menjauh dariku dan aku seorang diri, hanya kamu yang mau datang mendekat, menerima serta membantuku selama aku berada di dalam masa terpuruk. Aku sangat beruntung bertemu dan menjadi sahabatmu Nitami. Terima kasih." ucapnya tulus dengan nada suara yang sedikit bergetar karena menahan rasa harunya.


"akupun sama. Mari kita selalu saling mendukung."


"tentu saja." balasnya.


"oiya Nitami, aku mengirimimu sesuatu pada alamat emailmu. Informasi yang kamu inginkan sudah aku dapatkan, dan semua yang aku kirimkan adalah kebenarannya. Aku harap kamu melihatnya sekarang, ada kejutan yang tidak pernah akan ada pada bayanganmu selama ini." ungkapnya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Nitami segera membuka email yang ada pada komputernya. Dia yang menginginkan sebuah penyelidikan dan informasinya segera mengenai keluarga Angel, putri cantik yang sekarang ada di bawah pengawasannya.


Matanya membulat sempurna karena terkejut akan apa yang dia baca saat ini? Nitami membaca sebuah laporan yang tidak pernah ada pada pikirannya selama ini. Hasil penyelidikan tersebut adalah sebuah kejutan baginya. Mulutnya masih menganga karena tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat dan baca saat ini?


"apa kamu yakin dengan informasi dari penyelidikan ini?" tanya Nitami tidak percaya.


"tentu saja, kamu bisa membuktikannya sekarang. Bukankah kebetulan orang tersebut kini berada dekat denganmu?" balas sang sahabat.


"apa maksudmu? dia bukan sedang dekat denganku. Aku hanya dokternya, tidak lebih dari itu."


"aku tahu, sedikit tidaknya kamu akan menjadi dekat dengannya, jika tidak bagaimana kamu bisa membuktikan semua itu benar atau tidak?"


Nitami menelan salivanya, dia tidak tahu apakah dirinya bisa mendekati seseorang? yang bahkan sangat susah untuk di dekati oleh orang lain. Di dalam pikiran Nitami, dia sebenarnya tidak ingin mempercayai akan hasil penyelidikan tersebut. Namun ini penting bagi masa depan Angel, bertemu dan bisa bersama keluarganya adalah hal yang lebih baik untuk Angel.


"Nitami, apa kamu masih di sana?" tanya sang sahabat, karena Nitami masih diam dengan pikirannya sendiri.


"iya aku masih di sini."


"bagaimana? apa kamu sudah memiliki rencana tentang semua ini?"


"tidak, aku tidak punya rencana apapun dan belum tahu harus berbuat apa?"


"kamu harus segera mendekatinya, mencari tahu apakah penyelidikanku benar atau tidak? Hanya kamu yang mempunyai kesempatan itu."


"aku tahu. Tetapi kamu tahu sendiri, tidak mudah bagiku untuk mendekatinya. Apalagi harus bertanya masalah keluarganya? aku bukanlah siapa-siapa bagi dia? bagaimana mungkin aku bisa dengan lancang bertanya mengenai keluarganya?" ucap Nitami meragu.

__ADS_1


"jika kamu bukan siapa-siapanya? jadikan dulu kamu orang yang penting baginya." ucap sang sahabat dengan nada yang terdengar riang.


"kamu memberikan aku sebuah saran atau mau aku masuk ke sebuah jebakkan?"


"tentu saja saran, sepertinya ada sesuatu yang sudah terjadi. Aku melihat jelas semalam saat kejadian yang tidak terduga di dalam pesta. Dia tidak seperti biasanya, bisa menerima kehadiran seseorang yang mendekatinya begitu saja."


"eeehhhh…aku tidak mendekatinya lo…jangan sembarang menuduh dan bicara kamu." protes cepat Nitami akan tuduhan dan dugaan sang sahabat terhadapnya.


"hahaha…ayolah Nitami, aku tahu kamu tidak sedang mendekatinya. Ini adalah sebuah kesempatan bagus bagimu, kehadiranmu dengan mudah di terima olehnya. Jadi manfaat kesempatan itu sebaik mungkin, demi Angel bisa bertemu keluarganya kembali."


Nitami terdiam dan menghela nafasnya perlahan, apa yang di ucapkan oleh sahabatnya tersebut? adalah kebenarannya. Tugasnya kali ini sungguh berat. Ini semua dia lakukan demi Angel. Satu yang kini mengganjal hati dan pikirannya.


"jika keluarga Angel dapat di temukan, bagaimana nasib Davin ke depannya? apakah keluarga Angel bisa memaafkan Davin karena kecelakaan yang tidak sengaja terjadi itu?" ucap Nitami mengeluarkan apa yang mengganjal di dalam pikirannya saat ini.


"aku tidak tahu Nitami, itu tergantung kepada keluarga Angel sendiri. Apakah mereka bisa menerima semua ini dengan lapang dada karena ini hanya sebuah kecelakaan yang murni terjadi karena takdir? atau mereka akan menuntut Davin, aku juga tidak tahu itu."


Nitami lagi lagi menghela nafasnya. Itu terdengar jelas oleh sahabatnya yang masih berada di seberang telepon.


"kamu mengkhawatirkan Davin, Nitami…!!" ucapnya curiga akan helaan nafas Nitami.


Nitami terdiam, dia tidak mengerti akan hatinya sendiri. Saat ini jika dia harus jujur, Nitami benar benar khawatir akan nasib Davin dengan kasus kecelakaan yang menimpanya.


Walaupun Davin sudah menunjukkan rasa tanggung jawabnya kepada Angel, tetap saja kecelakaan yang terjadi pada Davin bersama kedua orang tua Angel yang meninggal. Sangat merugikan dan membuat sebuah keluarga kehilangan salah satu dari anggota keluarga mereka.


Apa yang akan terjadi kepada Davin? jika orang tersebut tidak menerima kenyataan dan takdir yang sudah terjadi pada salah satu anggota keluarganya. Davin dalam masalah besar saat ini, dan Nitami khawatir akan nasib Davin selanjutnya.


"baiklah Nitami, sepertinya masalah ini hanya kamu yang bisa mengatasinya. Aku hanya bisa membantu dan akan selalu mendukungmu dari belakang."


"terima kasih, My Love."


"I Love You sayangku." balas sang sahabat dengan nada tulus dan bahagianya. Dia akan sangat senang jika Nitami memanggilnya dengan sebutan My Love. Itu adalah panggilan sayang untuknya dari Nitami.


"baiklah, aku tutup dulu ya. Sampai jumpa di lain waktu." balas sang sahabat.


"Aku ingin meminta bantuanmu sekali lagi, bisa…!"


"tentu saja, katakan apa itu?"


"tidak baik aku ucapkan di telepon, nanti akan aku kirim lewat email mu."


"baiklah, akan aku tunggu. Sebisa mungkin akan aku bantu, dan semoga aku bisa membantu menyelesaikan masalah yang sedang kamu pikirkan."


"kamu memang sahabat sejati ku, tahu dan bisa dengan mudah menebak apa yang aku pikirkan saat ini?"


"tentu saja."


"ok, terima kasih. Sampai jumpa di lain waktu."


Sambungan telepon mereka pun terputus. Bertepatan dengan suara ketukan dari arah luar pintu ruang kerja Nitami. Suara panggilan seseorang yang sangat dia kenal.

__ADS_1


"dokter Nita, apa aku boleh masuk?" tanya Aldi yang mengetuk dari balik pintu.


"iya masuk." balas Nitami dengan sedikit berteriak agar Aldi dapat mendengarkan suaranya.


Aldi membuka pintu dan segera masuk ke dalam. Nitami dapat menebak, apa yang membawa Aldi datang menemuinya?


Aldi duduk sembari tatapan matanya terus ke arah wajah Nitami yang sedang serius menatap layar komputernya, dan sedang mengetik sesuatu di sana. Nitami sedang menulis dan mengetik sesuatu untuk di kirim ke alamat email sang sahabat. Pertolongan yang dia minta dan bisa membantunya untuk menyelesaikan masalah yang di buat oleh Davin pagi ini.


"apa kamu akan diam saja, dokter Nita?" tanya Aldi setelah duduk pada kursi yang ada di hadapan meja kerja Nitami.


Tebakkan Nitami benar, Aldi datang karena tujuannya untuk menyelesaikan masalah yang di buat oleh Davin di rumah sakit Golden Healthy pagi ini. Nitami diam diam bertindak sebaik mungkin untuk menyelesaikan masalah ini semua, dia hanya mempunyai harapan jika sang sahabat sudi untuk membantunya kali ini.


"apa aku bisa melawan tuan Davin, dokter Aldi?" tanya balik Nitami sembari mengalihkan pandangan matanya sejenak ke arah Aldi. Lalu beralih melihat ke arah layar komputernya kembali.


"setidaknya, cobalah bujuk Davin agar membatalkan semua keputusannya." bujuk Aldi.


Aldi berharap Davin bisa menarik atau membatalkan keputusannya, jika ada bujukkan dari Nitami. Aldi masih yakin, jika Davin mulai ada perasaan terhadap Nitami saat ini. Aldi hanya ingin memperjuangkan nasib beberapa rekannya yang tidak bersalah, dan para pasien yang datang berobat menggunakan kartu kesehatan.


"apa aku bisa dokter Aldi? apakah ucapanku akan di dengarkan oleh tuan Davin?"


Aldi terdiam menatap intens wajah Nitami.


"setidaknya, kita harus mencoba segala cara."


Nitami menghentikan aktivitasnya, kini dirinya merebahkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Pandangan matanya intens menatap curiga ke arah Aldi.


"mengapa kamu menatapku seperti itu, dokter Nita." tanya Aldi yang merasa risih akan tatapan mencurigakan Nitami ke arahnya.


"apa dokter berpikir, jika tuan Davin memiliki perasaan padaku?" tanya Nitami ingin tahu pendapat Aldi yang memaksa dirinya untuk membujuk Davin agar merubah semua keputusannya. Nitami ingin tahu dari pendapat orang lain, mengenai perasaan Davin kepadanya seperti perkataan yang di ucapkan oleh sahabatnya tadi.


Aldi terdiam dengan raut wajah yang berubah pias lalu bingung. Tidak tahu harus menjawab apa? Aldi harus berhati-hati akan hal ini, karena ini sudah berurusan dengan sebuah perasaan hati dari seseorang.


"kenapa dokter Aldi diam? apa aku benar?" tanya Nitami ingin kejelasan, dan bukan sikap diam Aldi dengan raut wajah yang bingung.


Aldi bimbang dan bingung harus menjawab apa?


"seharusnya dokter Nita yang lebih tahu, bagaimana perasaan hati Davin kepada dokter Nita sendiri saat ini?" jawab Aldi dengan jawaban yang senetral mungkin.


Nitami mengerutkan keningnya heran, menatap ke arah wajah Aldi. Bukan itu jawaban yang di inginkan oleh Nitami saat ini, Aldi hanya memberikan sebuah jawaban dengan sebuah pertanyaan balik untuknya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.

__ADS_1


__ADS_2