
***Mansion Keluarga Fardhan***
Kemarahan Fransisca tidak dapat di bendung lagi melihat Davin suaminya, sedang berduaan bersama Nitami istri pertamanya. Posisi mereka yang terlihat akrab dan mesra, membuat Fransisca marah kerena cemburu. Dirinya yang baru saja pulang dari luar negeri, setelah beberapa minggu pergi melihat pemandangan yang tidak ia inginkan.
Posisi Nitami yang tengah duduk di sofa dan Davin dengan kedua tangannya mengurung Nitami. Tubuh mereka hanya berjarak beberapa senti saja, sehingga terlihat seperti sepasang kekasih yang akan mulai bercumbu. Fransisca yang awalnya ingin memberikan kejutan kepada sang suami, malah dirinya yang di kejutkan akan pemandangan yang dia lihat.
Fransisca tidak bisa menahan amarahnya, begitu cepat langkahnya dan langsung melayangkan dua tamparan keras ke arah pipi putih Nitami, hingga kedua pipi itu memerah dan sudut bibir Nitami mengeluarkan darah segar.
"dasar wanita kurang ajar, wanita sial, wanita ular, jal**g kurang ajar, pela**r gatal. Kau gembel yang ingin naik kasta. Jangan harap kau bisa gembel miskin." hina dan makian yang Fransisca lontarkan.
"cukup Fransisca…!" ucap dan hardik keras Davin kepada Fransisca.
Fransisca tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi? Davin yang selalu bersikap lembut dan tidak pernah membentaknya, kini membentak dirinya. Tatapan tajam tidak percaya dia layangkan menatap Davin, suaminya sendiri.
"kau membelanya Davin?" ucap Fransisca dengan nada suara yang sedikit tinggi. Menatap tajam tidak percaya pada sikap Davin padanya.
"kau terlalu kasar dalam berbicara Fransisca, dan apa yang kau lihat tadi hanyalah salah paham. Tidak seperti yang kau pikirkan." ungkap Davin mencoba memberi penjelasan.
"salah paham katamu." ucap Fransisca dengan pandangan yang masih sama.
"kau pikir aku wanita bodoh yang tidak bisa melihat dengan jelas. Begitu…?"
"aku tidak pernah mengatakan itu. Kau sendiri yang mengatakannya." balas Davin dengan tatapan datarnya.
Davin tahu jika Fransisca saat ini, tidak akan bisa di ajak untuk berbicara secara baik. Fransisca sudah tersulut akan emosinya.
"Davin…kau benar-benar membela wanita itu." tunjuk Fransisca geram ke arah Nitami yang masih berdiri di tempatnya. Tidak jauh berada di belakang Davin.
"sudahlah Fransisca, aku tidak membela siapapun di sini? Lagi pula untuk apa kau marah melihat aku bersama dengannya. Ingat Fransisca, Nitami juga istriku." jawab Davin dengan tenang, dia mencoba untuk mengingatkan Fransisca. Jika apa yang ia lakukan bersama Nitami? tidaklah salah.
Davin berkata seperti itu bukan untuk membela Nitami. Setidaknya dia harus bersikap adil untuk kedua istrinya, apalagi beberapa tahun ini Davin tidak pernah sekalipun melakukan apapun untuk membela dan melindungi Nitami? Padahal Nitami adalah istri pertamanya.
Keributan yang terjadi di ruang kerja mengundang perhatian dari penghuni mansion. Tuan Markus, nyonya Sandra, Diana dan asisten Max masuk untuk melihat apa yang sudah terjadi? Mereka mendengar dengan jelas suara teriakkan histeris dari Fransisca.
"ada apa ini?" tanya tuan Markus saat mereka masuk ke dalam.
Fransisca tidak terima Davin membela Nitami, diapun ingin meminta perlindungan dan pembelaan dari papa mertuanya. Fransisca mendekati tuan Markus ingin mengadu.
"papa…lihat Davin lebih membela wanita sialan itu dari pada aku istrinya." ucap Fransisca mengadu pada tuan Markus, sembari menunjuk ke arah Nitami dan Davin yang ada tidak jauh di hadapannya.
Markus seketika menatap tajam Nitami dan juga Davin. Dia yang memang sangat membenci dan tidak menyukai Nitami, dengan mudah termakan akan ucapan Fransisca.
"Davin…ulah apa lagi yang kau lakukan…? pertama adikmu yang kau salahkan demi wanita itu, sekarang istrimu yang kau salahkan demi wanita itu juga." tunjuk tuan Markus ke arah Nitami dengan suara yang cukup keras.
"pa…tolong jangan ikut campur, ini urusan rumah tanggaku." jawab tegas Davin, dia tidak ingin papanya ikut campur akan urusan rumah tangganya.
"lihat pa…Davin sudah mulai melawan papa. Itu tandanya Davin benar-benar membela wanita itu." ucap Fransisca ingin memprovokasi papa mertuanya.
"cukup Fransisca…!" bentak Davin keras dan tegas. "aku tidak suka sikapmu seperti ini. Kita selesaikan urusan kita tanpa ada campur tangan dari orang tuaku." ungkap Davin tidak suka sikap Fransisca yang terus memprovokasi papanya.
"cukup Davin, tidak seharusnya kau membentak istrimu. Fransisca baru saja pulang, jadi tidak mungkin dia yang salah." bela tuan Markus.
"cukup pa…ini urusan rumah tanggaku. Tolong jangan ikut campur. Papa tidak tahu apa masalahnya. Jadi tolong tinggalkan ruangan ini." ungkap Davin mencoba untuk menekan nada suaranya dan amarah yang mulai naik.
"kau berani mengusir papa." ucap tuan Markus menekan setiap kata-katanya. Kemudian ia menatap tajam dan benci ke arah Nitami yang ada tepat di belakang Davin.
__ADS_1
"tolong pa…jangan memperkeruh masalah ini. Aku bisa menyelesaikan masalah ku sendiri. Jika papa tetap ingin di ruangan ini, biar aku yang keluar." ungkap tegas Davin dengan terus menahan diri.
"kau sudah tidak bisa menghargai papa."
"tindakan ku bukan berarti tidak bisa menghargai papa, aku tetap menghormati papa sebagai orang tuaku. Tapi ingat satu hal pa…aku sudah dewasa dan bisa menentukan segalanya sendiri. Papa lebih mengenalku dengan baik seperti apa? Jadi papa juga tahu, tindakan yang aku ambil hari ini tidak akan merubah semuanya." ungkap Davin dengan masih bersikap tenang.
Tuan Markus mengepalkan tangannya kuat, dia tahu maksud dari sang putra. Tidak biasanya Davin akan banyak mengucapkan peringatan untuk dirinya. Tuan Markus hanya bisa diam, dengan tatapan tajam dan bencinya melihat ke arah Nitami yang diam tanpa ekspresi.
Tuan Markus maupun Davin tidak ada yang mau mengalah. Mereka kokoh pada pendirian mereka masing-masing. Davin yakin jika papanya akan tetap pada pendiriannya. Diapun menghela nafasnya, Davin berbalik badan dan mendekati Nitami. Davin meraih tangan Nitami, lalu menariknya ikut keluar dari ruang itu.
"Davin…Davin…!" panggil Fransisca menghalangi langkah Davin dan Nitami.
"menyingkir…!" ucap Davin dengan tatapan tajam dan dinginnya kepada Fransisca.
Fransisca melepaskan pegangan tangannya pada lengan Davin. Dia cukup tahu Davin saat ini sedang marah, dan benar-benar marah padanya. Begitu Fransisca melepaskan tangannya, Davin segera menarik Nitami ikut keluar bersamanya, dengan tatapan benci dan marah semua orang melihat kepergian mereka berdua.
Davin terus melangkah menarik Nitami ikut bersamanya, Nitami hanya diam mengikuti ke mana Davin melangkah. Tanpa dia sadari Davin membawa Nitami pulang ke rumah sederhana tempat tinggalnya. Mereka kini sudah ada di depan rumah sederhana Nitami.
"Nitami…!" panggil Davin melihat Nitami hanya diam menunduk saja.
"Nitami…!" panggil Davin lagi sembari menghentakkan lembut tangan Nitami yang dia pegang.
Nitami sadar dan melihat ke arah Davin yang masih ada di hadapannya.
"apa kau baik-baik saja?" tanya Davin melihat intens wajah Nitami yang masih memerah karena tamparan dari Fransisca.
"saya baik tuan." balasnya sembari menarik tangannya yang di genggam oleh Davin.
"sebaiknya anda kembali. Jangan sampai mereka bertambah marah dan tidak suka kepada saya." ungkap Nitami sembari melangkah untuk menjauh dari posisi berdiri mereka.
Davin tahu Nitami merasa sakit hati akan hinaan dan makian Fransisca padanya. Davin tahu Nitami butuh waktu untuk sendiri. Diapun menarik dan menghembuskan nafasnya perlahan, lalu pergi dari tempat itu.
Nitami luruh ke atas lantai ruang tamunya. Dia menangis sejadi-jadinya sembari menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak karena sakit hati yang dia tahan. Tangisnya mengundang Angel yang ada di dalam kamar untuk keluar dan segera mendekatinya.
"tante cantik…!" panggil pelan Angel yang sudah ada di hadapan Nitami.
Nitami butuh tempat untuk menenangkan diri, dia langsung memeluk erat Angel. Angel yang begitu kecil tidak mengerti apa yang terjadi pada Nitami? Angel hanya bisa membalas pelukan Nitami dengan tangan mungilnya. Nitami terus menangis sembari memeluk tubuh mungil Angel.
"Tante ada apa? kenapa tante cantik menangis?" tanya Angel di sela sela pelukan mereka.
"tidak ada sayang, tante sedang kangen padamu. Tante takut kehilangan Angel." bohongnya.
"Angel di sini tante, Angel ngk kemana-mana kok." balas Angel sembari melepaskan pelukan mereka.
Nitami melihat ke arah Angel yang sedang menghapus jejak air matanya.
"jangan nangis lagi. Angel jadi ikut sedih."
"oo…sayangku." ungkap Nitami merasa lebih baik setelah mendapat hiburan dan kekuatan dari Angel. Jika biasanya dia akan menangis sendiri, kini ada Angel yang menemaninya.
"tante cantik…!" panggil Angel pelan.
"iya sayang." balas Nitami sembari menghapus sisa air matanya.
"Angel lapar tante." ungkapnya malu malu.
__ADS_1
Nitami seketika ingat, jika siang ini Angel belum makan. Dia lupa akan hal itu.
"maafkan tante sayang. Tante lupa, ayo kita masak sesuatu buat Angel." ajak Nitami, Angel hanya mengangguk setuju.
Mereka segera menuju ke dapur, melupakan sejenak kesedihan yang di alami oleh Nitami. Dia sungguh bersyukur, saat ini ada Angel bersamanya di saat saat dirinya merasa sakit dan terpuruk. Nitami dengan cepat memasak sup ayam dan daging telur cincang kesukaan Angel. Setelah itu mereka makan dengan tenang, Nitami benar benar lupa akan kesedihannya.
"tante cantik…!" panggil Angel yang baru saja menyelesaikan makannya.
"iya sayang."
"Angel boleh minta es cream tidak?"
"Angel mau es cream?"
"iya tante." angguk Angel.
"baiklah, Angel tunggu di sini dulu. Tante akan pergi sebentar untuk beli di luar, oke."
"oke tante…!" setuju Angel yang mendapat senyuman manis dari Nitami.
Nitami segera pergi untuk membeli es cream buat Angel. Angel berdiri di ambang pintu dan melihat ke arah mansion yang ada di hadapannya. Dia selalu merasa penasaran dengan mansion itu, karena Nitami selalu terlihat sedih bahkan menangis jika pulang dari tempat itu.
Dengan langkah kecilnya, Angel pergi ke arah mansion. Angel melihat pintu besar mansion terbuka, diapun mencoba untuk masuk. Begitu masuk, Angel kagum dan senang melihat isi di dalam mansion yang sangat besar dan mewah akan barang-barang mahal.
Angel terus melangkah sembari melihat dan menyentuh semua barang yang dia lalui, mata Angel tertarik akan guci besar yang menurutnya cantik, perlahan tangan mungilnya meraba guci itu dengan senyum yang merekah bahagia.
"hey anak gembel sedang apa kau di sana…!" tanya keras Diana yang melihat Angel ada di sana. Angel terkejut akan suara keras Diana, tubuhnya gemetar dengan langkah mundurnya, tubuh kecilnya yang tidak seimbang jatuh ke arah guci besar yang ia sentuh tadi.
'praaaang' guci besar itu jatuh dan pecah. Tubuh mungil Angel jatuh di dekat pecahan guci, tangan dan kakinya terkena serpihan.
Diana sungguh terkejut dan langsung marah.
"dasar anak gembel. Kau pecahkan guci harga ratusan juta." murka Diana mendekati Angel yang masih ada di lantai. Angel menangis karena merasa takut dan sakit akan luka serpihan guci di tangan dan kakinya.
Diana dengan kasar menarik tangan Angel yang berdarah. Diana tidak peduli akan darah dan tangisan Angel, Diana menyeret paksa Angel hingga keluar mansion. Diana memanggil salah satu bodyguard yang berjaga di sekitar tempat itu.
"pukul kaki dan tangan anak ini, karena dia sudah memecahkan guci seharga ratusan juta. Jika kau tidak mau, akan aku pecat." perintah Diana dengan tatapan tajam dan amarah yang sudah memuncak.
Bodyguard tersebut sebenarnya tidak tega untuk memukul Angel yang masih kecil, tetapi dia masih butuh pekerjaan itu. Dengan terpaksa diapun mengikuti perintah dari Diana. Dengan sebuah kayu rotan yang Diana berikan, bodyguard itu memberikan beberapa pukulan pada betis dan lengan Angel, Diana mengatakan 'terus dan keras'.
Diana tidak ada rasa kasihan sama sekali terhadap Angel yang menangis pilu, karena kesakitan atas pukulan yang mendarat pada betis dan lengannya.
Angel menangis kesakitan dan gemetar karena takut akan perlakukan kasar Diana padanya. Angel yang masih kecil tidak tahu apa kesalahan yang sudah dia perbuat? Angel hanya bisa mengatakan, 'ampun dan sakit'.
Hanya itu yang dapat Angel ucapkan berharap hukumannya selesai dengan cepat. Tubuhnya terlalu kecil untuk menerima banyak pukulan dari seorang bodyguard. Nasib Angel dan Nitami sungguh tragis berada di dalam mansion Keluarga Fardhan.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1