Cinderela Modern

Cinderela Modern
GUE GAK MAU PULANG


__ADS_3

"Cerita donk cerita bagaimana kronologinya lo bisa jadian sama Aslan." antusias Icha menarik Lea untuk duduk disofa yang tersedia dikamar inap Aslan.


Laskar juga ikut duduk, dia juga penasaran ingin mendengar cerita Lea.


"Itu bukan sesuatu yang harus diceritakan Cha." gumam Aslan.


"Diem lo, gue gak nanya lo." tukas Icha, dia kembali merongrong Lea untuk bercerita, "Jadi gimana Le, ayok ceritakan ke gue, sumpah gue penasaran banget."


Lea memandang kearah Aslan, tersenyum malu dan menunduk, Lea persis seperti gadis yang pertama kali jatuh cinta saja, emang pertamakali sieh, Aslankan cinta pertama Lea.


"Hehh, malah senyum-senyum lagi, ayok cerita." desak Icha gak sabaran.


"Gue malu Cha."


"Aish aish, sejak kapan sieh lo jadi pemalu gini, biasanya juga lo nyerocos tanpa titik dan koma cerita ke gue tentang bagaimana perasaan lo sama Aslan."


Lea langsung membungkam bibir Icha dengan telapak tangannya, malukan dia kalau ketahuan kalau dirinya cinta mati sama Aslan sejak zaman dahulu kala.


"Sik Icha nieh, gak ngerti kondisi dan keadaan, masak iya gue cerita didepan Laskar juga, kan malu gue." sebagai sahabat tentu saja baik Icha dan Lea sering curhat satu sama lain, tapikan tidak didepan Laskar juga, bisa diledek dia sama Laskar kalau Laskar tahu kalau dia yang nembak Aslan duluan.


Ponsel Icha tiba-tiba berdering, Lea bersyukur karna hal tersebut mengalihkan perhatian Icha untuk sementara.


Dan sebelum menjawab panggilan, Icha mengarahkan pandangannya pada Laskar, "Laskarr, mama Bella nieh yang nelpon." beritahunya.


"Mama." heran Laskar, "Angkat Cha."


Lea menggoda Icha, "Ciee yang ditelpon sama calon mertua, kayaknya udah dapat lampu ijo nieh."


"Ishhh, apaan sieh lo." desis Icha.


"Iya tan." sapa Icha begitu panggilan sudah terhubung.


Dari seberang suara mama Bella terdengar khawatir, "Ichaa sayang, apa saat ini kamu sama Laskar, anak itu sejak tadi pagi tidak bisa dihubungi, dan sampai saat ini dia belum pulang juga, tante khawatir terjadi apa-apa sama dia."


"Ohh ya ampun, gara-gara Laskar nyuruh menonaktifkan ponsel, semua orang jadi khawatir." gumam Icha dalam hati.


Karna ingin menikmati waktu berdua dan tidak ingin diganggu, atas usulan Laskar mereka berdua mematikan ponsel mereka, memang mereka bisa menikmati waktu tanpa adanya gangguan, tapi mereka melupakan fakta kalau orang yang menyayangi mereka mengkhawatirkan mereka karna menghilang sejak tadi pagi, bahkan Aslan sampai kecelakaan saking khawatirnya sama Icha, dan tentu saja orang tua Laskar juga khawatir sama putra mereka.


"Ichaa, kenapa kamu diam sayang."


"Iya tan maaf maaf, Icha saat ini lagi sama Laskar kok." Icha memberitahu untuk meredakan kekhawatiran mama Bella.


"Syukurlah, tante sangat lega."


Suara diseberang berganti menjadi suara laki-laki, Icha yakin itu adalah suara om Abi papanya Laskar, "Halo calon mantu." sapa papa Abi santai.


"Ukhuk ukhuk." Icha langsung terbatuk-batuk mendengar sapaan papa Abi.


"Kamu baik-baik saja Cha." Laskar terlihat khawatir.


Icha mengangkat tangannya sebagai kode kalau dia baik-baik saja.


"Sayang, apa kamu sakit." suara papa abi terdengar khawatir.


"Gak om, Icha baik-baik saja kok."


"Syukurlah kalau begitu."

__ADS_1


"Icha, bener Laskar saat ini tengah sama kamu." papa Abi bertanya.


"Bener om."


Terdengar suara papa Abi yang bicara dengan mama Bella, "Tuhkan ma, papa bilang juga apa, anak kita tengah berkencan dengan calon mantu kita, mama ini dibilangin gak percaya, malah bikin seisi rumah panik."


"Ya wajar donk pa mama panik, habisnya anak papa itu kalau kencan suka lupa waktu, nomernya gak aktif lagi, mamakan jadi berfikir macam-macam."


"Ichaa." papa Abi kembali menyapa Icha.


"Iya om."


"Kasihin Laskar ponselnya, om mau ngomong."


Icha menyodorkan ponselnya sama Laskar, "Om Abi mau bicara."


Laskar mengambil alih ponsel dari tangan Icha, "Iya pa, ini Laskar."


"Anak nakal, pacaran gak inget waktu, lihat mamamu sudah kayak cacing kepanasan karna panik mikirin kamu." papa Abi ngomel.


Mama Bella yang mendengar kalimat suaminya protes, "Dasar papa ini, istri secantik ini dibilang cacing kepanasan."


Laskar terkekeh mendengar suara mamanya.


"Laskar, kamu sebaiknya pulang sekarang, mamamu tidak bakalan tenang sampai melihat kamu dirumah, dia terus mondar-mandir kayak setrikaan, bikin papa sakit mata saja."


"Iya pa, Laskar balik sekarang."


Setelah memutus sambungan dan mengembalikan ponsel milik Icha, Laskar pamit pulang, "Cha, Le, Lan, gue balik ya."


"Oke, lo hati-hati Las, jangan sampai kecelakaan seperti gue, ntar Icha nangis kejer lagi." Aslan bercanda.


Laskar terkekeh.


"Lo sama Lea juga balik gieh sana."


"Lo ngusir nieh ceritanya."


"Bukan begitu, tapi lo sama Lea juga butuh istirahat, besokkan sekolah, sekalian tuh Laskar yang nganterin lo."


"Gak." tandas Icha, "Gue mau disini jagain lo, kalau lo perlu apa-apa gimana."


"Ada mama, papa, kak Mario dan Gibran yang bakalan jagain gue, lo mending balik."


"Kalau gue bilang gak ya gak Aslan, lo kok gak suka banget gue disini." Icha nyolot.


"Aslan benar Cha, kita sebaiknya pulang, besokkan sekolah." Laskar mencoba membujuk Icha.


"Pokoknya gue gak mau, gue mau disini titik." ujarnya tanpa bisa dibantah.


"Terserah lo aja deh." lirih Aslan akhirnya.


Lea mendekati Aslan untuk pamitan, "Lan, aku balik ya, kamu istirahat agar cepat sembuh."


Aslan tersenyum tipis menanggapi perhatian Lea yang sekarang berstatus sebagai pacarnya, "Iya Le."


"Jangan lama-lama sakitnya ya Lan, soalnya aku jadi gak punya semangat untuk sekolah kalau gak ada kamu yang aku lihat tiap hari."

__ADS_1


"Lebayy lo Le." sahut Icha.


"Biarin aja."


Aslan menanggapi, "Tenang aja, palingan dua atau tiga hari gue udah sembuh kok, lagian luka gue gak parah-parah amet."


"Aku pulang ya kalau gitu."


Aslan mengangguk.


Lea terlihat akan mencium kening Aslan, namun digagalkan oleh Icha, "Heh, bukan muhrim Le, jangan main sosor aja."


"Ishh Icha, ganggu aja." dumel Lea dalam hati, dia langsung mengurungkan niatnya.


"Ya udah deh kalau gitu, aku sama Laskar balik dulu." pamit Lea untuk kedua kalinya.


"Hati-hati." pesan Icha mengiringi kepergian Laskar dan Lea.


****


"Lo gak nganterin mereka sampai parkiran." ujar Aslan begitu Laskar dan Lea sudah menghilang dibalik pintu.


"Ngapain pakai diantar segala, orang mereka udah gede."


"Hmmmm."


"Lann." Icha mendekat ke arah Aslan dan duduk dikursi samping tempat tidur Aslan.


"Lo beneran ya jadian sama Lea." Icha mengulangi pertanyaan tersebut.


"Hmmm."


"Ishhh, jawab yang benar."


"Bukannya tadi udah gue jawab ya, kenapa cewek suka nanyain hal yang sama berulangkali sieh." rutuk Aslan.


"Yahh, gue masih gak percaya aja lo jadian sama Lea, secara gitu selama ini lo terlihat gak peduli sama Lea." Icha mengungkapkan keheranannya.


"Terlihat gak peduli bukan berarti gak pedulikan."


"Hmmm, benar juga."


"Kalau rasa penasaran lo sudah terjawab, mending lo menyingkir deh dari dekat gue, gue mau istirahat." usir Aslan.


Namun Icha tidak bergeming dari posisinya, "Lan."


Aslan terlihat jengkel, "Astagaa, apalagi sieh."


"Lo seriuskan sama Lea."


"Hmmm." Aslan memejamkan matanya, berharap dengan cara itu Icha menyingkir.


"Baguslah kalau gitu, karna kalau lo mempermainkan Lea, atau nyakitin Lea, gue orang pertama yang akan menghajar lo sampai babak belur."


"Gue cium lo kalau berani melakukan itu."


"Ishhh, dasar menyebalkan." Icha reflek memukul lengan Aslan, kesel donk dia dengan Aslan yang menanggapi ancamannya dengan candaan.

__ADS_1


Aslan terkekeh.


****


__ADS_2