Cinderela Modern

Cinderela Modern
NYUEKIN ASLAN


__ADS_3

"Icha pulangnya sama kak Gibran saja." ujar Icha begitu acara makan malam itu berakhir, karna dia gak mau berduaan didalam mobil dengan Aslan.


Karna mereka berlima gak muat dalam satu mobil, makanya Aslan membawa mobil sendiri, selain gak mau berduaan dengan Aslan, (Sebenarnya sieh Icha sudah sangat sering berduaan dengan Aslan, bahkan dia sering nginep dikamar Aslan, tapi begitu mengetahui kalau mereka dijodohkan Icha merasa canggung berduaan dengan Aslan.) Icha juga ingin memberi penjelasan pada Lea kalau dia tidak tahu menahu tentang perjodohan ini, karna dari tadi wajah Lea jutek begitu mendengar kalau dia dan Aslan dijodohkan.


"Kalau kamu ikut mobilnya Gibran, ntar Aslan sendirian lagi gak punya teman ngobrol."


"Gak apa-apa ma, mungkin Icha ada keperluan dengan Lea." jawab Aslan mengerti.


"Iya ma, Icha mau pinjam catatan sama Lea."


"Oh ya udah, Gibran, antar Lea pulang dengan selamat sampai kerumahnya." pesan mama Dina pada Gibran, "Dan setelah itu langsung pulang bersama Icha, jangan keluyuran." pesan mama Dina.


"Sip itu ma." lisan Gibran, "Dan pastinya Gibran bakalan nganterin calon mantu mama selamat sampai rumah." tambahnya dalam hati.


Dalam mobil, Icha ingin ngajak Lea bicara, tapi gak mungkin juga ketika Gibran ada bersama mereka, akhirnya untuk sementara Icha bungkam, Lea juga gak berusaha untuk mengajaknya bicara, sejak mendengar kalau Icha dan Aslan dijodohkan, seperti ada dementor disekelilingnya yang menyedot kebahagiannya.


"Sepi amet kayak di kuburan." komen Laskar karna Icha yang paling rajin nyerocos diam saja dari tadi.


Namun gak ada yang menggubris kalimat Gibran, membuat Gibran kembali bersuara, "Pada kenapa sieh, pada sakit gigi ya, mau gue bawa kedokter gigi gak." ujar Gibran mencoba bercanda.


Lagi-lagi Icha dan Lea diam, bibir mereka seperti dilem saja.


"Gue tahu, pasti lo masih gak menyangkakan Cha kalau lo dijodohin sama Aslan, secara gitu adek gue yang satu itu ganteng punya, lo pasti beranggapan hal ini cuma mimpi saking gak menyangkanya karna lo bakalan dijodohin dengan cowok ganteng dan kaya, lo pasti berasa kayak Cinderala dalam dunia nyatakan."


Sebagai jawaban atas ucapan Gibran yang tidak berdasar, Icha menendang belakang kursi yang diduduki oleh Gibran, "Bisa tutup mulut gak sebelum gue berubah jadi kompor gas dan meledak."


Gibran rupanya masih sayang sama nyawanya, karna dia tidak lagi mengatakan apa-apa sampai dia menghentikan mobilnya didepan rumah Lea.


Lea membuka pintu mobil, diikuit oleh Icha dan Gibran, kalau Icha mengikuti Lea keluar, jelas, dia ingin bicara empat mata dengan Lea, nah Gibran kenapa pakai keluar segala, gak mungkinkan dia akan memberikan ciuman selamat malam.


"Lo ngapain keluar juga kak." desis Icha.


"Sebagai laki-laki setia dan bertanggung jawab gue mau nganterin Lea sampai depan orang tuanyalah."


"Bilang aja lo mau cari muka."


"Iya itu juga sieh maksudnya, hehe" kekeh Gibran.


"Lo mending tunggu dimobil saja deh, biar gue yang nganterin Lea masuk."


"Gak bisa, gue yang jemput dia gue juga yang bakalan nganterin dia." Gibran ngotot.


Icha mendengus sambil mengikuti Lea sampai depan pintu, Gibran berjalan dibelakang, Lea memencet bel, gak lama pintu terbuka yang menampakkan wajah mamanya Lea.


"Malam tan, saya kembali untuk nganterin Lea" ujar Gibran sopan.

__ADS_1


"Oh iya makasih ya Gibran, kamu bener-bener anak baik dan bertanggung jawab, kamu mengantar Lea tepat waktu."


"Iya tan, karna kepercayaan itu penting buat saya, apalagi ketika saya harus menjaga anak gadis orang."


"Cihhh." Icha berdecih, fikirnya dalam hati, "Bisa juga kak Gibran cari muka, ini sieh bukannya Lea yang bakalan luluh tapi mamanya yang duluan bakalan luluh."


"Lho, ada Icha juga." sapa mama Lea begitu melihat Icha dibelakang.


"Iya tan, kan kami makan malamnya bareng."


"Kalian keluarnya bertiga."


"Bukan tan, tapi dengan semua anggota keluarga Wijaya, keluarganya kak Gibran." Icha menjelaskan.


Mama mengerling kearah putrinya yang wajahnya masih terlihat masam.


"Oh, tante fikir ini cuma acara kencan makan malam antara Lea dan Gibran saja." mama menggoda.


"Apaan sieh ma, siapa juga yang kencan dengan kak Gibran." tukas Lea sewot.


"Tentu saja tidak tan." timpal Gibran, "Untuk saat ini, tapi tunggu saja, Lea pasti bakalan jadi pacar gue." sambungnya dalam hati.


"Makasih ya kak Gibran, Lea masuk dulu mau istirahat, kak Gibran mending balik saja, udah malam" tukas Lea, Lea bener-bener nyuekin Icha, buktinya dia dianggap tidak ada.


"Iya Le, mimpi indah ya."


Lea masuk tanpa menoleh kearah Icha, Icha yang niat awalnya ingin bicara berkata, "Le, tunggu." mendengar teriakan Icha Lea berhenti, "Tan, Icha boleh masukkan."


"Boleh donk sayang." mama Lea menyingkir untuk membiarkan Icha lewat.


"Kak, lo mending tunggu gue dimobil ya."


"Jangan lama-lama Cha."


Icha gak menyahut, dia menyusul Lea.


"Ada apa." desis Lea malas, kelihatan banget moodnya memburuk karna mendengar berita perjodohan Icha dan Aslan.


"Lo kenapa sieh Le, perasaan dari tadi lo jutekin gue mulu." ujar Icha kesel dengan tingkah sahabatnya ini.


"Lo fikir aja sendiri."


"Gara-gara gue dijodohin sama Aslan ya."


Lea menyilangkan tangannya didada, dia memandang Icha dengan sinis.

__ADS_1


"Oh astaga, lo fikir gue mau dijodohin sama Aslan, Aslan itu adalah sahabat gue, dan selamanya akan tetap jadi sahabat."


"Itukan dibibir lo." tukas Lea menyebalkan, "Aslan itu ganteng, pinter, kaya pula, wanita mana sieh yang gak bakalan suka sama dia."


"Gue gak suka sama dia." jawab Icha cepat.


"Oh benarkah, tapi didepan keluarganya lo gak berusaha nolak tuh."


"Lo budek atau gimana sieh, gue berusaha membujuk mama dan papa untuk tidak melaksanakan perjodohan ini, lo fikir gue suka dijodoh-jodohin, gue gak kayak lo yang mimpinya menikah karna dijodohkan."


"Udah deh mending lo pulang sana, gue capek ingin istirahat." usir Lea.


"Kekanak-kanakan banget sieh lo." tandas Icha berlalu dari hadapan Lea, Icha gak pernah menyangka kalau Lea marah hanya gara-gara hal seperti ini.


"Lho Icha, udah selesai urusannya sama Lea."


Icha yang dongkol berusaha merubah ekspresi wajahnya, dia gak ingin mama Lea mengetahui kalau dia dan Lea saat ini tengah marahan, "Udah kok tan, Icha pamit ya tan." Icha mencium tangan mama Lea.


"Hati-hati ya sayang."


"Iya tan, assalamualaikum."


"Walaikussalam."


****


Lo udah tidur Cha


Pesan masuk dari Aslan, namun Icha memilih mengabaikannya.


Temuin gue diluar.


Pesan kedua yang dikirim oleh Aslan.


"Cihhh, ngapain sieh dia ngajak ketemuan, emang mau bahas apa." gumam Icha kembali mengabaikan pesan Aslan, seperti yang dibilang tadi, untuk saat ini Icha menghindari berdua-duaan dengan Aslan, pasti canggung sekali rasanya.


Icha mengintip dari jendelanya, dan Aslan sudah ada dibawa menunggunya.


Gue udah diluar nieh, lo dimana.


Aslan kembali mengirim pesan, namun lagi-lagi Icha memilih mengabaikannya, dia membanting tubuhnya ditempat tidur.


Lo udah tidur ya, selamat tidur dan mimpi indah.


Aslan mengirim pesan terakhir karna sadar untuk saat ini sepertinya Icha gak mau bicara dengannya.

__ADS_1


****


__ADS_2