
Inginnya Lea menyangkal apa yang dia lihat, namun hal itu tidak bisa dia lakukan mana kala Aslan mengatakan sebuah kalimat yang membuat Lea seketika itu hancur berkeping-keping.
"I Love you."
Lea memang tidak bisa mendengarnya karna jarak mereka lumayan jauh, namun kalimat tersebut sangat bisa terbaca hanya dari gerakan bibir, dan Lea bisa melihat Icha tersenyum bahagia setelah Aslan mengucapkan kalimat tersebut dan dia langsung memeluk Aslan.
Dengan sisa kekuatan yang dia miliki, Lea menghampiri Icha dan Aslan yang masih berdiri diluar hotel, Lea bisa melihat kemesraan mereka berdua dengan jelas dari balik pintu masuk hotel yang terbuat dari kaca, niatnya ingin memberi kejutan, malah dia yang mendapatkan kejutan yang tidak terduga.
Karna asyik dengan dunia mereka sendiri sehingga baik Aslan dan Icha tidak menyadari keberadaan Lea yang hanya bisa mematung dengan hati sakit melihat dua orang yang dia sayang dalam hidupnya ternyata menusuknya dari belakang.
"Cha, Lan." lirih Lea berusaha menahan air matanya.
Meskipun suara Lea tidak terlalu besar, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Aslan dan Icha menoleh.
"Lea." raut terkejut Icha jelas tergambar di wajahnya, tidak menyangka Lea ada dihotel dan memergoki mereka, "Astagaa, apa yang harus aku lakukan Tuhan." Icha merintih dalam hati, dia dan Aslan memang berniat memberitahukan hubungan mereka pada Laskar dan Lea, tapi Icha tidak ingin hubungannya dengan Aslan terbongkar dengan cara seperti ini.
Sedangkan Aslan, dia terlihat tenang, dia memang merasa bersalah dengan Lea karna telah menghianatinya, tapi semakin dia mencoba mencintai Lea, semakin dia gak bisa, hatinya tetap berlabuh pada Icha, gadis yang sejak dulu menghiasi hari-harinya. Dan Aslan telah mengambil keputusan karna berhubung Lea telah melihat secara langsung , dia akan menjelaskan semuanya kepada Lea, oleh karna itu, Aslan meraih telapak tangan Icha, Icha sempat berontak, sayangnya pegangan tangan Aslan terlalu kuat untuk dihempaskan sehingga membuat Icha terpaksa membiarkan Aslan menggenggam tangannya. Tentu saja hal tersebut tidak luput dari perhatian Lea, cara Aslan menggenggam tangan Icha seolah-olah menunjukkan kalau Icha adalah miliknya, hal tersebut semakin membuat Lea hancur, namun dia masih bisa bertahan untuk mendengar penjelasan dari Aslan dan Icha.
"Lea." Aslan memulai, "Maafin gue karna telah menyakiti lo, tapi gue gak bisa membohongi perasaan gue kalau gue mencintai Icha."
"Sejak kapan." suara Lea bergetar karna dia mati-matian menahan air matanya sejak tadi.
"Sejak sebelum gue mengenal lo, dan kami saling mencintai." Aslan memperjelas.
"Hahaha." Lea tertawa, tawa orang terluka yang berusaha untuk tidak mempercayai kenyataan yang dia dengar, "Kalian cuma ngerjain guekan, ini gak benarkan, kalian bersengkongkolkan buat ngerjain gue."
Baik Icha dan Aslan hanya diem dengan rasa bersalah.
__ADS_1
"Cha, katakan kalau semuanya bohong, jangan diem saja, lo gak mungkin nusuk gue dari belakangkan, lo gak mungkin diem-diem pacaran dengan Aslan dibelakang guekan, Cha, lo sahabat guekan, lo gak akan tegakan Cha menghianati gue." tuntut Lea dengan air mata berderai, "Jawab Cha, jangan diem saja."
Untung saja hujan, jadi suasana disekitar hotel dan di lobi sepi, hanya mbak-mbak resepsionis yang ada ada dibalik tempat kerjanya dan karna jarak yang lumayan jauh sehingga mbak resepsionis tidak bisa mendengar suara mereka.
Icha menunduk dengan air mata meleleh, dia tidak sanggup melihat mata Lea yang terlihat sangat terluka karna ulahnya, Icha sayang sama Lea, begitu juga dengan Lea yang juga menyayanginya, dan Icha yakin rasa sayang Lea terhadapnya jauh lebih besar ketimbang dirinya, Icha gak suka melihat orang menyakiti Lea, dia akan membalas orang yang akan menyakiti Lea dua kali lipat, tapi disini, dialah orang yang menyakiti Lea, bahkan menyakiti Lea dengan sangat kejam.
"Cha, jawab, gue gak butuh air mata lo." bentak Lea gak sabar melihat kebungkaman Icha.
"Maafin gue Le." hanya itu kalimat yang bisa diucapkan Icha, kalimat yang singkat yang membenarkan semua kebenaran yang disampaikan oleh Aslan.
Lea sakit hati sama Aslan, tapi dia jauh merasa sakit hati dengan Icha, dari sekian banyak wanita didunia ini, kenapa Icha yang harus jadi perusak hubungannya yang baru dia bangun, cowok yang susah payah Lea dapatkan, padahal dulu, Icha menggebu-gebu mendukung Lea untuk mendapatkan Aslan, dan kenapa setelah Lea mendapatkannya dengan susah payah Icha dengan tanpa perasaanya mengambil apa yang telah menjadi miliknya.
"Gue tahu kedepannya kisah cinta gue tidak seindah kisah cinta di novel yang sering gue baca, gue tahu akan ada rintangan dalam hubungan gue dengan Aslan, bahkan gue yakin nantinya akan ada orang ketiga diantara hubungan gue dan Aslan, tapu gue gak pernah menyangka kalau orang ketiga itu adalah lo Cha, orang yang udah gue anggap saudara sendiri."
"Maafin gue Lea." hanya kalimat itu yang bisa Icha ucapkan, Icha tahu meskipun seribu kali dia mengucapkan kata maaf, itu tidak bisa memaafkan kesalahannya.
"Lo jahat Cha, lo jahat Lan, gue benci sama lo berdua, gue benci." jerit Lea histeris dan setelah itu dia berlari menerobos hujan yang masih deras.
"Leaaa." teriak Icha mengejar Lea, Aslan menyusul dibelakang.
Lea terus berlari entah kemana tujuannya, yang penting saat ini dia ingin jauh-jauh dari Icha dan Aslan, teriakan Icha tidak dia hiraukan, air mata sekaligus air hujan yang berbaur menjadi satu menyebabkan pandangan mata Lea menjadi kabur, hal tersebut menyebabkan dia tidak bisa melihat mobil yang datang dari arah kanan melaju ke arahnya, untungnya sik pengendara yang tidak lain adalah Teguh berhasil berhenti tepat waktu tanpa mengenai kulit Lea sedikitpun.
"Shitt." umpat Teguh memukul setir saking marahnya melihat orang yang begok yang tidak lihat-lihat kalau nyebrang, "Heh, bosan hidup lo." makinya, namun kemarahannya berubah menjadi kepanikan tatkala menyadari siapa gadis yang hampir dia tabrak, dia menajamkan matanya untuk memastikan kalau gadis tersebut adalah adiknya.
"Lea." gumamnya bergegas turun tanpa membawa payung saking paniknya.
"Astaga Lea, apa yang kamu lakukan dek."
__ADS_1
"Kak Teguh." isak Lea memeluk kakaknya.
Teguh langsung tahu terjadi sesuatu hal yang buruk melihat kondisi adiknya yang terlihat menyedihkan.
"Kita masuk dulu ya." sambil merangkul Lea, Teguh membawa Lea memasuki mobil.
"Apa yang terjadi Le." cecar Teguh.
Sebelum Lea sempat menjawab pertanyaan kakaknya, pintu jendela disamping Lea diketuk oleh Aslan, sedangkan Icha berdiri disampingnya, "Le, buka jendelanya."
Tanpa mendapatkan jawaban dari adiknya, Teguh tahu penyebab adiknya menangis seperti ini tentu saja adalah Aslan, dengan kemarahan yang memuncak Teguh meraih pintu, namun sebelum pintu mobil sempat terbuka, Lea menahan lengan kakanya.
"Kak, jangan."
"Dia yang membuat kamu menangiskan."
Lea mengangguk, "Kurang ajar, berani-beraninya dia, biar kakak kasih dia pelajaran."
"Jangan kak, Lea mohon, jangan." Lea memeluk tubuh kakaknya untuk menahan sang kakak yang berniat menghajar Aslan.
Meskipun sangat ingin menghajar Aslan sampai babak belur karna telah membuat adiknya menangis seperti ini, namun Teguh terpaksa mengurungkan niatnya tersebut mendengar permohonan sang adik.
Sementara itu Aslan masih saja mengetuk-ngetuk jendela.
"Kak kita pulang."
Teguh mengangguk, dia tidak mempedulikan rasa capeknya karna perjalanan Jakarta-Malang yang lumayan jauh, dan kini Lea memintanya untuk kembali ke Jakarta tanpa sempat istirahat.
__ADS_1
****