Cinderela Modern

Cinderela Modern
AKU BENCI SAMA KAMU


__ADS_3

Laskar menangkap amplop yang dilempar Icha, menatap Icha bingung sebelum kemudian membuka amplop tersebut untuk melihat isinya.


Sama seperti Icha, Laskar juga terkejut melihat foto-foto dirinya yang tengah bersama Diana yang terlihat sangat mesra difoto.


"Itu yang kamu bilang kemarin nemenin mama kamu hah, mama kamu ternyata berubah jadi sangat muda dan cantik ya." sindir Icha pedas.


"Cha ini...."


"Kamu benar-benar tega ya Las ngebohongin aku." Icha langsung berbalik pergi.


Dengan cepat Laskar menahan tangan Icha, "Cha aku bisa jelasin semuanya, ini tidak seperti yang kamu bayangkan."


Icha menepis tangan Laskar dengan kasar, "Jangan sentuh aku, dasar cowok brengsek." Icha mendorong bahu Laskar yang membuat Laskar hampir terjatuh.


"Aku benci sama kamu." jerit Icha langsung berlari.


"Ichaaa." teriak Laskar, dia berusaha mengejar Icha, "Dengerin aku dulu."


****


Icha kembali ke kelas, wajahnya merah padam menahan amarah, dia langsung menyambar tasnya dan cabut.


"Ichaa, lo mau kemana." teriak Gita bertanya melihat Icha membawa tasnya.


"Bukan urusan lo." tandas Icha berlalu.


"Ihhh." dengus Gita kesal, "Gue nanyaya baik-baik juga, jawabnya ketus gitu."


"Tapi tuh anak kenapa terlihat marah gitu, ya." Gita bertanya-tanya, "Akhh sudahlah, ngapain gue peduli."


Gak lama setelah Icha pergi, Laskar tiba dikelas, langsung mengarahkan matanya kebangku Icha dan tidak menemukan tas Icha disana.


Melihat raut wajah Laskar yang terlihat khawatir, Gita mengambil kesimpulan, "Pasti Laskar penyebab Icha badmood deh kayaknya, sepertinya mereka tengah berantem."


Gita bertanya, "Lo nyari Icha Las."


"Iya."


"Icha baru saja pergi, lo ada..."


Gita belum menyelsaikan kalimatnya, karna setelah mendapatkan informasi yang ingin diketahuinya Laskar langsung keluar.


"Main pergi aja, padahalkan gue belum selesai ngomong." Gita merutuk, "Gak Icha, Laskar, mereka sama saja."


Laskar berusaha menghubungi Icha, namun panggilannya diabaikan.


Chaa, kamu dimana.


Karna panggilannya tidak diangkat, Laskar mengirim pesan, namun tidak dibalas.


Cha, jangan kayak gini, kita perlu bicara.


Icha.


Jangan buat aku khawatir.

__ADS_1


***


"Na na na." Andin ngos-ngosan, dia berusaha untuk mengontrol nafasnya begitu mendaratkan bokongnya dikursi kantin, dia menyambar gelas es tehnya yang sempat dia tinggalkan karna kebelet.


"Kenapa lo Ndin, kayak habis lihat setan saja." komen Kiara melihat sahabatnya.


"Bukan setan Ki, tapi gue membawa berita gembira."


"Oh ya, berita apaan tuh." tanya Athena tidak terlihat antusias.


"Rencana lo berhasil Na, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri Laskar dan Icha berantem dibelakang sekolah karna foto-foto yang lo kirim."


"Seriusan lo." kompak Athena dan Kiara.


Andin mengangguk, "Waktu gue mau balik ke kantin sehabis dari toilet, gue lihat Laskar berjalan terburu-buru ke belakang sekolah, karna penasaran, gue ikutin tuh meskipun takut juga gue kebelakang sekolah, dan ternyata, Icha ngamuk melihat foto-foto mesra Laskar bersama mantan pacarnya yang lo ambil kemarin Na."


"Masak sieh."


"Iya, masak gue bohong sieh."


"Gue yakin saat ini gadis bar-bar itu tengah menangis karna patah hati, karna gue lihat wajahnya merah padam." tambah Andin.


Athena tersenyum puas karna rencananya berhasil, "Bagus, gue berharap hubungan mereka hancur berantakan."


Lea yang kebetulan tengah memesan mi ayam yang terletak tidak jauh dimana Athena and genk duduk sedikit bisa mendengar percakapan ketiga gadis itu, Lea gak bisa menangkap semua apa yang mereka bicarakan, tapi ada beberapa poin penting yang Lea tangkap seperti mereka tengah membicarakan Icha, foto, dan berantem.


Lea memandang ketiga gadis yang tengah tertawa bahagia tersebut, "Apa yang telah mereka lakukan, kenapa mereka tertawa bahagia begitu, gue berharap bukan sesuatu yang buruk mengingat mereka menyebut nama Icha."


****


Icha yang terganggu dengan bunyi ponselnya langsung menon aktifkannya, untuk saat ini dia ingin sendiri, dia merasa sangat kecewa dengan Laskar, laki-laki yang dia fikir mencintainya dan menyayanginya ternyata menghianatinya, seenggaknya itu yang Icha fikirkan setelah melihat foto-foto yang entah siapa pengirimnya.


"Padahal gue merasa sangat bersalah karna menyukai Aslan, dia malah berkhianat dengan selingkuh dengan mantannya, dasar brengsek, bilangnya gak akan nyakitin, bilangnya akan ngebahagiain, omong kosong." Icha terus merutuk dalam hati, "Bukan gue yang bodoh karna percaya dengan kata-kata manisnya, tapi memang dia yang brengsek, ternyata, semua cowok sama saja."


"Gue sakit hati sieh, tapi kok gue gak nangis ya, tidak kayak wanita patah hati kebanyakan." Icha heran dengan dirinya sendiri, "Tapi bodo ametlah, cowok brengsek begitu gak pantas untuk gue tangisin."


"Neng, mau turun dimana." teguran sopir angkot itu memutus lamunan Icha.


Icha gak punya tujuan, makanya saat mendapat pertanyaan tersebut dia berkata, "Gue turun disini saja bang."


Begitu turun dari angkot, Icha hanya berjalan menyusuri trotoar, dia gak punya tujuan, ingin pulang juga malas, pasti mama tirinya akan marah-marah melihatnya dirumah dijam sekolah seperti ini.


Sampai Icha menghentikan kakinya didepan sebuah bangunan yang pernah didatanginya bersama dengan Laskar.


"Tempat ini." gumamnya tidak menyangka kalau langkah kakinya membawanya ketempat dimana dia membuat tato bersama dengan Laskar.


Dia kemudian melangkah masuk, tempat itu sepi sama seperti saat dia datang dulu, Icha memperhatikan sekelilingnya.


"Haloo, permisi."


"Hai, ada yang bisa gue bantu." sebuah suara menyapa Icha dari belakang.


Icha berbalik dan menemukan gadis yang waktu itu menggambar tato dipunggungnya.


"Lo yang pernah datang waktu itukan." gadis itu ternyata masih mengingatnya.

__ADS_1


"Iya."


"Lo mau bikin tato lagi, mana pacar lo."


"Gue sendirian dan gue mau menghapus tato dibadan gue bukan mau bikin tato." jelas Icha.


"Ohh, gue fikir lo mau bikin tato lagi."


"Oke, lo ikut gue."


Icha mengekor dibelakang sik gadis, Icha berharap proses penghapusan tidak sesakit ketika membuat tato.


****


"Icha kemana sieh, udah masuk juga." Lea bertanya karna tidak melihat tas Icha, "Masak iya dia bolos lagi, anak itu gak mempan hukuman ternyata."


Lea berusaha menghubungi Icha, namun yang menjawab malah operator.


"Icha mana Le." tanya Aslan yang menghampiri Lea karna tidak melihat Icha dibangkunya.


"Gak tahu Lan, tasnya juga gak ada."


Gita yang berjalan ke arah bangkunya berhenti karna mendengar percakapan Lea dan Aslan, "Waktu istirahat, Icha pergi dengan membawa tasnya, gue tanya mau pergi kemana, eh dia malah jawab bukan urusan gue."


Lea membuka mulutnya untuk bertanya, namun Gita terlebih dahulu berkata, "Kayaknya sieh Icha bertengkar dengan Laskar, soalnya wajahnya bete gitu, dan gak lama setelah Icha go out, Laskar muncul dengan wajah panik." Gita menceritakan apa yang diketahuinya, setelah memberi informasi, Gita kembali berjalan kebangkunya dibelakang.


"Icha dan Laskar bertengkar, perasaan tadi pagi mereka baik-baik saja deh."


Aslan yang mendengar cerita Gita langsung mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Icha, namun sebelum dia mendial nomer Icha, Lea memberitahu, "Percuma saja Lan kamu ngehubungin Icha, ponselnya dimatiin."


Aslan mengurungkan niatnya, "Anak itu, selalu saja menonaktifkan ponselnya, gak tahu orang khawatir apa."


"Lan, jangan khawatir, Icha pasti baik-baik saja." Lea menenangkan.


Aslan mengangguk, "Gue tahu." jawab Aslan berbalik menuju bangkunya.


"Astaga, jangan-jangan..." Lea baru ingat.


Bertepatan dengan itu Laskar memasuki kelas, raut mukanya terlihat keruh.


Lea langsung menyongsong kedatangan Laskar, "Las, gue mau ngomong sama lo." lirih Lea begitu didekat Laskar, dia langsung berjalan ke luar kelas.


Tanpa banyak tanya Laskar mengikuti Lea.


"Apa yang terjadi, lo bertengkar dengan Icha ya." tanyaya langsung ke intinya.


Laskar meremas rambutnya frustasi, "Icha salah paham Le, dia langsung pergi gitu saja tanpa mau mendengar penjelasan gue."


"Apa ini ada hubungannya dengan Athena."


"Athena." Laskar tentu heran, kenapa Lea menghubungkan masalahnya dengan Athena.


Melihat Laskar yang terlihat bingung, Lea menjelaskan apa yang didengarnya dikantin.


"Makasih Le atas informasinya, gue cabut dulu." Laskar kembali pergi.

__ADS_1


"Las, Laskarrr, lo mau kemana." Lea berteriak, namun diabaikan oleh Laskar.


****


__ADS_2