
Disinilah Icha dan Aslan berada, dikolam renang sekolah disaat semua siswa dan siswi lainnya sudah pada pulang, mereka dikolam renang bukan untuk berenang, tapi untuk memberisihkan kolam renang, ini adalah hukuman yang diberikan oleh bu Yuni kepada mereka, sebelum memutuskan hukuman apa yang akan diberikan, tentu saja bu Yuni memarahi mereka habis-habisan, yang mendapat omelan paling parah adalah Aslan, karna Aslan yang selama ini dianggap murid teladan dan merupakan anak emas hampir semua guru, nyatanya, Aslan malah ngasih contekan jawaban pada Icha, bener-bener tidak mencerminkan keteladanan. Bu Yuni yang selalu mengagung-agungkan Aslan lupa kalau Aslan tetaplah manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.
Icha sengaja berada jauh dengan Aslan, karna dia malas melakukan pembicaraan dengan Aslan, Aslan berjalan kearah Icha, tentu saja Aslan berusaha mendekati Icha untuk mengajaknya bicara, ini adalah kesempatannya karna Icha gak bisa kabur darinya lagi, Namun Icha yang melihat Aslan mendekat berjalan menjauh.
"Cha, gue mau ngomong sama lo." teriak Aslan yang melihat Icha sengaja menjauh.
"Gue gak bakalan mau ngomong sama lo kalau lo belum berhasil membujuk mama dan papa membatalkan perjodohan kita." gumam Icha dalam hati.
"Cha, lo denger gue gak sieh." Aslan jengkel, dia menganggap sikap Icha kekanak kanakan.
Masih saja Icha gak mempedulikan Aslan.
Aslan yang batas kesabarannya sudah habis, mengambil ancang-ancang dan berlari mengejar Icha, melihat hal tersebut Icha berlari demi menghindari Aslan, bukannya malah membersihkan kolam renang, mereka malah olahraga siang muterin kolam renang. Mereka pada gak takut jatuh apa, tuh lantai kolam renangkan licin, dan benar saja, Aslan tergelincir terjatuh kedalam kolam membuat air dikolam berkecipak kena hantaman berat tubuhnya.
"Rasain." gumam Icha.
"Cha." Aslan terlihat timbul tenggelam, "Tolongin gue."
Icha panik, dia langsung berlari kearah dimana Aslan terjatuh, "Aslannn, pegang tangan gue." dia menjulurkan tangannya supaya Aslan bisa menjangkaunya, Aslan memegang tangan Icha, namun yang dia lakukan malah menarik Icha sehingga Icha juga ikutan jatuh ke kelom renang bergabung dengan dirinya.
"Hahaha." Aslan yang pura-pura tenggelam tertawa puas karna berhasil mengerjai Icha.
Icha sangat dongkol, "Apa sieh lo, gak lucu tahu gak." Icha memercikkan air ke arah Aslan.
Icha berenang ke pinggir untuk naik, tapi ketika tangannya menyentuh pinggir kolam renang dan akan mengangkat tubuhnya kepermukaan, pinggangnya ditarik oleh Aslan dari belakang dan Icha didorong ketengah kolam renang oleh Aslan.
"Ihh, setan lo ya." umpat Icha makin heboh memercikkan air ke arah Aslan.
"Itu hukuman buat lo karna diemin gue tanpa sebab." Aslan membalas dengan memercikkan air ke Icha.
"Siapa suruh lo gak bujuk mama dan papa buat ngebatalin perjodohan kita."
"Ohhh, jadi ini semua gara-gara itu, sumpah sakit hati gue ditolak cewek jelek kayak lo, disaat banyak cewek ngantri mau jadi pacar gue." Aslan meledek.
Icha berenang kearah Aslan, meraih kepala Aslan dan menekannya kebawah air, "Rasain lo ya, itu pembalasan dari gue karna lo ngatain gue jelek." Icha tertawa puas.
"Uhukk uhukk." Aslan terbatuk-batuk setelah berhasil melepaskan diri dari Icha, air masuk keparu-parunya membuatnya kesulitan bernafas, "Sialan, lo mau bunuh gue, jahat banget, calon suami lo mau lo bunuh."
"Biarin aja lo mati."
"Ntar lo nangis."
"Ya gaklah, air mata gue begitu berharga buat nangisan cowok gak berguna kayak lo."
"Calon istri laknat, belum apa-apa udah nyumpahin calon suaminya mati, durhaka."
"Ihhh, Aslannnn, menyebalkan banget sieh lo."
Disaat seperti itu, bu Yuni datang untuk melakukan inspeksi, begitu terkejutnya dia begitu melihat apa yang terjadi dikolam renang, "Astagfirullah, apa-apaan kalian ini, disuruh membersihkan kolam renang malah asyik berenang, naik kalian." bentak bu Yuni melihat kelakuan muridnya.
"Aslan nieh bu."
__ADS_1
"Lho, kok nyalahin gue."
"Ya iyalah elo, lokan pura-pura jatuh dan narik gu...."
"Sudah-sudah, astagaaa, kenapa malah berdebat begini sieh, cepetan naik, kalau tidak hukuman kalian akan ibu tambah."
Ancaman itu cukup ampuh membuat Aslan dan Icha bergegas menaiki kolam renang.
Setelah diceramahi panjang kali lebar oleh bu Yuni, mereka kini mulai membersihkan kolam renang, bener-bener membersihkan dalam arti yang sesungguhnya.
Ketika tugas mereka selesai, pakain seragam mereka sudah setengah kering, Aslan meraih jaketnya dan melemparnya tepat mengenai wajah Icha, "Pakai tuh biar lo gak kedinginan."
"Bisa gak lo ngasihnya baik-baik, kayak orang gak ikhlas aja."
"Udah gak usah banyak protes, ntar gue ambil lagi."
Icha memasangkan jaket itu ditubuhnya, rasanya nyaman dan hangat, aroma farpum Aslan menguar dari jaket itu, Aslan duduk didekat Icha dan memulai pembicaraan serius.
"Cha."
"Apa."
"Mengenai perjodohan itu."
Mendengar Aslan menyebut-nyebut kata perjodohan, Icha langsung memutar lehernya dan memperhatikan Aslan sepenuhnya, "Lo gak perlu pusingin masalah itu, lagian juga gak mungkin bangetkan papa dan mama nikahin kita setelah lulus, minimal setelah gue dapat pekerjaan dululah, dan itu masih sangat lama, dan dalam waktu selama itu, gue yakin mereka bisa berubah fikiran, siapa tahu mereka sadar kalau kita gak cocok dan membatalkan perjodohan tersebut."
Icha terlihat berfikir, "Lo ada benernya juga sieh, mereka gak mungkin seperti orang tua dinovel-novelkan yang menikahkan anaknya ketika masih SMA, inikan dunia nyata, bukan fiktif."
"Iya, sorry ya."
"Bisa dimaklumin, mungkin lo kaget dijodohin sama orang ganteng kayak gue, saking kagetnya lo malah menjauh mencoba bertanya-tanya dalam hati apa yang elo alami apakah cuma mimpi atau kenyataan."
"Asllaaan, sejak kapan sieh cowok bewajah datar kayak lo narsis, biasanya tuh bibir dilem pakai lem super."
Aslan terkekeh, dia berdiri dan menyodorkan telapak tangannya, "Balik yuk, udah sore, ntar mama mertua lo nyariin gue lagi."
Icha menepis tangan Aslan, bibirnya manyun, "Gue cuma bercanda, yuk pulang." entahlah, tapi saat ini Aslan kok seneng menggoda Icha.
Icha meraih telapak tangan Aslan dan kemudian berdiri, berjalan bersama sambil bergandengan tangan.
"Oh ya, siapa yang ngrimin lo boneka sebesar beruang itu." Aslan teringat akan boneka yang didapatlan Icha sebagai hadiah ulang tahunnya yang entah dari siapa.
"Pengagum rahasia gue."
"Gue heran."
"Kenapa."
"Kok ada gitu yang kagum sama lo, jelek iya, bodoh iya, dekil iya, dimana sieh letak kelebihan elo."
Icha langsung menjambak rambut Aslan, "Aslaan menyebalkan."
__ADS_1
*****
"Halo Cha." Laskar menyapa Icha dari seberang.
"Ya Laskar, kenapa." suara Icha terdengar sengau.
"Suara lo kenapa, lo sakit ya." tebak Aslan.
"Hachiii." Sebagai jawaban dari pertanyaan Laskar.
Icha membersit ingusnya, hidungnya terlihat memerah.
"Yahh, gue agak sedikit demam gitu sieh, gak parah-parah amet kok."
"Demam." ulang Laskar, "Pas disekolah lo baik-baik saja, gak ada tanda-tanda lo bakalan sakit." heran Laskar.
"Iya, pas waktu itu gue sehat wal'afiat, tapi ketika gue dihukum sama bu Yuni disuruh membersihkan kolam renang, eh gue malah jatuh dikolan renang." Icha tidak menjelaskan penyebab kenapa dia sampai terjatuh.
"Astagaaa, kasihan banget sieh lo, lo udah makan dan minum obat belum."
"Udah tadi dibawain bubur dan obat penurun demam sama Aslan."
"Aslan, lo udah baikan sama dia."
"Yah begitulah."
"Syukurlah, ada lagi yang mau lo makan gak, gue bisa bawain kerumah lo."
"Akhh, saat gue sakit aja banyak banget yang perhatian sama gue, nawarin ini, nawarin itu, coba kalau kondisi gue dalam keadaan sehat, mana ada yang nawarin makan, padahalkan kalau orang sakit gak nafsu makan apa-apa, semuanya terasa gak enak."
"Hahaha." Laskar tertawa mendengar Icha merajuk, "Iya deh, kalau lo sehat, tiap hari kalau lo mau makan apa saja gue beliin."
"Awas ya kalau lo bohong."
"Kapan sieh gue pernah bohong."
"Begitu gue sehat gue tagih janji lo."
"Cha."
"Hmmm."
"Gue boleh melakukan panggilan vidio gak, Leo katanya kangen ingin lihat lo."
"Elahh, pakai bawa-bawa Leo segala, bilang aja lo yang kangen." canda Icha.
"Iya deh kalau gitu, gue yang kangen, puas lo."
"Hmmm."
****
__ADS_1