
Icha dan Lea cukup lama berada dirumah Laskar, bahkan mereka atas perintah Laskar disuguhi berbagai macam cemilan oleh para pelayan Laskar, dan mereka tidak diizinkan pulang sebelum makan siang terlebih dahulu, sehingga ketika mereka memutuskan untuk pulang, perut mereka bener-bener buncit akibat kepenuhan.
"Anjirrr sik Laskar, dia mau bikin gue gendut apa, dia terus maksa gue makan, malah gue gak bisa nolak lagi karna makanan yang disuguhkan enak-enak semua." cloteh Lea dalam perjalanan menuju mobil.
"Syukurin aja kali, kapan lagi coba kita makan gratis dan enak." timpal Icha.
Icha menoleh kerumah besar Laskar yang berdiri kokoh sebelum keluar dari gerbang, "Gue gak pernah menyangka kalau Laskar sekaya ini, kalau tahu dia sekaya ini udah gue gebet dia sejak dulu." ujarnya asal.
"Belum terlambat." respon Lea mendengar kalimat Icha, "Mulai sekarang dekatin aja dia, siapa tahu nasib lo kayak cinderela, disukai oleh laki-laki ganteng dan kaya."
"Akan gue pertimbangkan." ucapnya terkekeh geli.
"Astagaaa." Icha menepuk keningnya.
"Kenapa Cha."
"Ponsel gue, ketinggalan dikamar Laskar."
Icha menaruh ponselnya dinakas samping tempat tidur Laskar, karna Aslan terus-terusan menelponnya, dan dia lupa mengambilnya kembali.
"Lo tungguin gue ya, gue ambil dulu."
"Jangan lama-lama ya Cha."
"Iya."
Icha kembali masuk kerumah besar Laskar dan langsung menuju lift untuk ke kamar Laskar.
Tok tok tok
Icha mengetuk pintu kamar Laskar, namun karna gak ada sahutan Icha mendorong kenop pintu, Icha mengedarkan pandangannya dan tidak melihar Laskar ada dikamarnya.
"Laskar kemana." batinnya melangkah masuk.
Icha mendengar suara gemerisik air dari kamar mandi yang menandakan kalau Laskar saat ini berada disana.
"Laskaaarrr." panggil Icha, "Gue mau ambil ponsel gue yang ketinggalan." gak ada sahutan.
__ADS_1
"Itu dia." gumam Icha melihat ponselnya tergeletak dinakas.
"Laskar gue balik ya." pamitnya, namun tetap tidak ada sahutan karna suaranya teredam oleh suara air dari kamar mandi.
Icha meraih ponselnya, ketika akan berbalik kearah pintu, matanya tertuju pada album foto yang tergeletak diatas tempat tidur, dugaan Icha Laskar baru saja melihat-lihat kenangan yang tersimpan di album foto tersebut.
Entah karna dorongan apa, sehingga membuat Icha kepo, dia meraih album foto tersebut, berharap menemukan hal-hal lucu pada masa kecil Laskar yang akan dijadikan sebagai bahan untuk meledeknya, dia membuka lembaran pertama album foto tersebut, tapi bukan foto Laskar yang terpampang dihalaman pertama melainkan foto dirinya yang tengah berkeringat dibawah sinar matahari, tangannya membawa bola basket berwarna orange, lengkap dengan tanggal foto tersebut diambil dan keterangan dibawah foto tersebut yang berbunyi.
Gadis aneh, disaat gadis gadis lainnya takut matahari, dia malah panas-panasan.
"Inikan...." Icha ingat saat itu ketika dirinya tengah main basket dan Laskar tiba-tiba nyamperin dia.
Dengan rasa penasaran Icha membalik halaman berikutnya, disana juga terdapat fotonya, fotonya yang tengah menyangga dagu ketika dikelas saat pura-pura fokus menyimak materi yang disampaikan oleh bu Yuni, dibawah foto tersebut juga terdapatat tulisan yang berbunyi.
Pura-pura fokus mendengarkan, padahalkan fikirannya entah berkelana kemana.
Dihalaman berikutnya, Icha menemukan foto sebuah bunga yang diletakkan dibangkunya.
"Inikan, astagaa." Icha membekap mulutnya, menolak untuk percaya, untuk memastikan dia kembali membalik halaman berikutnya dengan tidak sabar, foto-foto bunga, coklat dan boneka besar yang didapatkan selama ini dari pengagum rahasianya semuanya ada dialbum foto tersebut, bahkan gambar tato kupu-kupu dipunggungnya ada disana.
"Apa, apa jangan-jangan Laskar orang yang selalu ngirimin gue bunga." lirih Icha menolak untuk percaya, "Tapi gak mungkin, atas dasar apa dia ngelakuin hal itu."
Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, reflek Icha mengarahkan matanya kearah pintu, dia sana Laskar berdiri kaget melihat Icha kembali, Laskar bertambah kaget melihat album foto yang ada ditangan Icha.
"Cha itu...." Laskar berjalan menghampiri Icha, hal yang selama ini dia sembunyikan kini telah terbongkar, dia berusaha untuk menjelaskan dibawah tatapan menuntut Icha yang meminta penjelasan dari Laskar maksud dari apa yang terdapat di album foto tersebut.
"Gue...gue." Laskar terdiam, dia menarik nafas, menguatkan diri untuk mengatakan kebenarannya, "Iya, gue yang selalu ngirimin lo bunga dan coklat."
"Lo yang ngirim, tapi...tapi kenapa lo ngelakuin hal itu, dan kenapa dalam satu album foto itu terdapat foto-foto gue."
"Karna gue menyukai lo."
"Hahaha." Icha tertawa mendengar pengakuan Laskar, ya jelaslah dia tertawa, Icha tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Laskar, dia berfikir Laskar tengah mengerjainya, "Gak lucu Laskar." wajah Icha berubah serius.
"Apa gue terlihat bercanda."
Wajah Laskar terlihat serius, tidak ada sedikitpun tanda yang mengindikasikan kalau saat ini dia tengah mengerjai Icha, namun Icha menolak untuk percaya, "Ini bukan aprilmoob Laskar, jadi stop jangan jailin gue, mungkin ini karna pengaruh kepala lo yang dihantam oleh anak-anak SMA Tunas Harapan makanya lo bicaranya ngaur, sebaiknya lo istirahat deh untuk memulihkan kewarasan elo, gue balik dulu."
__ADS_1
Icha berjalan meninggalkan Laskar, dia merasa tidak nyaman, dia bener-bener berharap kalau apa yang dikatakan Laskar barusan hanya cuma bercanda.
"Cha, gue bener-bener menyukai lo, bahkan sejak pertama gue melihat lo." teriak Laskar.
Kalimat itu membuat Icha menghentikan langkahnya, dan Laskar kembali mengungkapkan segala hal yang selama ini dipendamnya, "Gue rela menjadi teman lo hanya karna agar gue bisa terus dekat dengan lo, lo gak tahu bagaimana galaunya gue saat lo mengatakan kalau lo dijodohin dengan Aslan, tapi gue lega setelah mengetahui kalau lo dan Aslan hanya sahabat dan tidak pernah menginginkan perjodohan yang ditelah rencanakan oleh orang tua kalian." untuk sesaar Laskar terdiam, mencoba menyusun kata-katanya, Icha masih tidak bergeming dari tempatnya, dia shock mendengar kebenaran yang disampaikan oleh Laskar, sekarang dia percaya kalau Laskar menyukainya, seseorang yang selama ini dianggapnya sebagai sahabat ternyata menyukainya.
"Asal lo tahu, gue ikut gabung dalam geng elit sekolah hanya karna gue ingin ngelindungin lo, gue gak ingin siapaun menyakiti lo, gue gak ingin lihat lo terluka saat ikut dalam tauran, gue gak tahu bagaimana cara meluluhkan hati lo, karna lo berbeda dengan wanita kebanyakan, lo terlalu cuek sama laki-laki, sehingga gue punya ide untuk mengirimi lo bunga dan coklat, gue tahu gue pengecut, tapi gue berharap dengan melakukan hal itu lo bakalan luluh, dan membuka hati lo untuk laki-laki, gue...."
"Cukup Laskar." potong Icha, "Jangan ngarang cerita lagi, gue anggap apa yang lo katakan tidak pernah gue dengar, jadi kita bisa berteman seperti biasanya." tandas Icha.
Icha kembali melangkahkan kakinya, dia ingin cepat-cepat keluar dari rumah Laskar dan tiba dirumahnya dan langsung tidur untuk melupakan hal-hal mustahil yang dikatakan oleh Laskar, dia berjalan terburu-buru sampai gak sadar dia menabrak seseorang.
"Lihat-lihat donk kalau jalan." bentak orang yang ditabrak oleh Icha.
"Maafkan gue."
"Lo." cewek itu menunjuk Icha.
Icha merasa pernah melihat gadis yang ada dihadapannya saat ini, tapi dia lupa dimana.
"Lo gak beneran pacaran dengan Laskar guekan, waktu itu kalian cuma bersandiwarakan."
Icha baru inget kalau gadis yang kini dihadapannya adalah Diana, mantan pacarnya Laskar.
"Iya lo benar, gue bukan pacarnya, gue hanya temannya." jawab Icha jujur.
"Sudah gue duga, mana mau Laskar sama cewek kayak lo, gue emang menduga sejak awal kalau dia ngelakuin hal itu hanya untuk membuat gue sakit hati." Diana terlihat bahagia mengerahui kenyataan tersebut.
"Dan sekarang kalau lo berbaik hati, silahkan menyingkir, karna gue ingin lewat."
"Tunggu dulu donk, main pergi saja."
"Apa yang lo inginkan."
"Lo ngapain dirumah Laskar."
"Bukan urusan lo." tandas Icha berjalan dan menabrak bahu Diana yang memblokir jalannya.
__ADS_1
Diana mengusap bahunya yang terasa sakit, "Gadis bar-bar."
****