Cinderela Modern

Cinderela Modern
KUE UNTUK ASLAN


__ADS_3

Tringggg


Bunyi bel yang menandakan waktu istirahat di SMA PERTIWI.


Lea terlihat melihat sebuah kotak berwarna pink yang baru di keluarkan dari dalam tasnya, dia memandang kotak tersebut sembari tersenyum dan kemudian memandang ke arah dimana Aslan duduk.


"Apa tuh Le." Icha bertanya melihat Lea yang memegang kotak tersebut.


"Ini kue buat Aslan."


"Aslann."


"Iya."


"Gue fikir buat gue." lirih Icha pura-pura terlihat kecewa.


"Ini spesial, gue bener-bener berjuang sendiri untuk membuatnya sampai titik darah penghabisan, ini gue lakuin karna Aslan adalah orang yang spesial." jelas Lea lebay.


"Gue gak spesial gitu maksud lo."


"Ya tentu saja lo spesial, lo dan Aslan adalah dua orang yang berarti buat hidup gue, tapi sorry ya Cha kali ini gak bisa dibagi-bagi, ini khusus buat Aslan seorang."


"Ya gue mengerti deh." ujar Icha, "Apalagi yang lo tungguin, sana gieh samperin Aslan."


"Gue malu Cha, nieh." Lea menyodorkan kotak berwarna pink tersebut ke Icha.


"Lho, kenapa lo berubah fikiran secepat ini, katanya ini untuk Aslan."


Lea jadi gregetan, "Ihhh, siapa juga yang ngasih elo."


"Lha terus ini." menunjuk kotak yang disodorkan Lea padanya.


"Ichaaa, tolong donk kasihin ini Aslan." Lea memperjelas maksudnya.


Icha langsung menolak mentah-mentah, "Gaklah, lo yang PDKT, ya lo sendiri sana yang kasih, siapa tahu setelah menerima kue pemberian lo Aslan jadi langsung naksir." guyon Icha.


Namun Lea tidak terpengaruh oleh guyonan Lea, dia masih kukuh menyuruh Icha memberi kotak berisi kue itu pada Aslan, "Tolong donk Cha, lo tahu sendirikan gue grogian orangnya, takutnya kalau gue nyamperin Aslan dan ngasih ini kedia ntar gue malah malu-maluin diri gue sendiri lagi."


Icha kembali menolak, "Gak Le, lo harus berubah kalau mau dapetin Aslan, lo harus bisa ngedekatin Aslan, dan cara pertama yang harus lo lakuin adalah samperin dia dan kasih nieh kue ke dia."


"Tapi Cha gue....."


"Udahh, gak usah tapi-tapian, samperin Aslan sana." Icha memaksa Lea berdiri dan mendorong punggung Lea kearah Aslan.


Dengan ragu-ragu Lea berjalan ke arah Aslan yang masih betah duduk dikursinya.

__ADS_1


Lea menoleh kebelakang ke arah Icha, Icha mengibas-ngibaskan tangannya, "Udah sana." ujarnya tanpa suara.


Lea tambah grogi begitu tiba didepan Aslan, "L a lan."


Aslan yang tadi menunduk mengangkat wajahnya mendengar ada yang memanggilnya, dia tersenyum tipis menyadari Lea kini ada dihadapannya, "Kenapa Le."


"Mmmm, i i ni ini." Lea tergagap.


Aslan masih menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan oleh Lea.


"Ini buat lo, dimakan ya." menaruh kotak kue itu dimeja Aslan dan tanpa menunggu apa yang akan dikatakan oleh Aslan Lea langsung nyelonong pergi dengan terburu-buru, setengah berlari malah ingin cepat-cepat keluar kelas agar dia berada dalam radius yang jauh dari hawa-hawa berbau Aslan.


Aslan hanya menatap punggung Lea yang menghilang dan matanya memandang kotak yang ada dimejanya.


"Makasih Lea." ujarnya dengan suara pelan yang hanya dia sendiri yang mendengar.


Sedangkan Icha yang melihat Lea yang langsung ngacir begitu hanya menggeleng, "Dasarr payah sik Lea."


Icha kemudian berjalan mendekati Aslan dan tanpa persetujuan membuka kotak pemberian Lea untuk Aslan.


"Ini untuk gue bukan untuk elo." protes Aslan melihat ulah sahabatnya tersebut.


"Elahhh, gue cuma mau bantu lo bukain doank, tenang aja gue cuma penasaran doank kok, gak bakalan ngembat." itu katanya sebelum melihat isinya, setelah melihat isi kotak makanan tersebut mata Icha langsung berbinar terang bak matahari, "Anjirr kue coklat, sumpah sieh ini pasti enak banget kalau dilihat dari tampilannya." Icha yang kebetulan lapar menelan air liurnya.


Ternyata kue coklat toh yang dibuat oleh Lea secara khusus untuk Aslan.


Aslan hanya menggeleng, tidak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya itu, "Dasar Icha." gumamnya dan mencomot kue pemberian Lea.


****


Ternyata Lea menunggu diluar sambil menenangkan debaran jantungnya dengan meletakkan tangannya tepat dibagian jantung dan mengelus-ngelusnya, saking sibuknya menenangkan debaran jantungnya sehingga dia tidak menyadari kedatangan Icha.


Icha yang jail mengagetkan Lea, "Doorrr."


"Astagfirullah." kaget Lea berjengit.


Icha tertawa ngakak melihat reaksi sahabatnya tersebut.


Mengetahui Icha yang menjailinya membuat Lea kesal, dia memukul lengan Icha, "Chaaa, jail banget sieh lo."


"Sorry."


"Itu." Lea menunjuk kue yang tersisa setengah ditangan Icha, "Itukan kue yang gue buat khusus untuk Aslan Cha, kenapa lo embat juga." rutuknya jengkel.


Icha memberi jawaban bohong, "Aslan kan sahabat gue Le, jadi begitu melihat gue akan keluar kelas, dia manggil dan nawarin nieh kue ke gue, katanya dia gak bisa ngabisin sendiri, dan gue yang doyan makan, ya gak bisa nolaklah."

__ADS_1


"Tapi Aslan juga makan kan."


Icha menengok kedalam dan setelah mencari informasi yang ingin di ketahui oleh Lea dia berkata, "Iya, Aslan makan."


Maka bahagialah hati Lea, kekesalannya karna Lea mengambil sebagian tuh kue yang secara khusus dibuatkan untuk Aslan menguap begitu saja.


"Dan sepertinya dia suka kue buatan lo, makannya lahap banget, sering-sering donk buat kue seenak ini."


"Ya kalau Aslan yang minta."


"Yeelah, masak kalau cuma Aslan yang minta, buatin gue juga donkk, katanya gue sama spesial seperti Aslan."


"Iya Ichaaa, besok-besok gue buatin khusus deh buat lo."


"Nahhh, itu baru sahabat sejati gue." Icha merangkul bahu Lea.


"Gue laper nieh, temenin gue kekantin donk."


"Oky doky."


Dalam perjalanan menuju kantin, Icha melihat banyak anak-anak cewek berkerumun dipinggir lapangan.


Icha mempunyai dugaan, "Jangan-jangan...." dan Icha langsung berlari kelapangan untuk memastikan dugaannya.


"Chaaa." teriak Lea, "Katanya mau ke kantin kenapa malah ke lapangan."


Namun Icha mengabaikan teriakan Lea dan tetap berjalan ke lapangan, terpaksa deh Lea menyusul Icha.


"Sudah gue duga." desis Icha melihat kerumunan anak-anak cewek yang heboh dipinggir lapangan yang matanya terpaku disatu titik, disana, dilapangan basket, anak-anak cowok kelas sebelas pada tanding basket tidak resmi, bukan masalah anak kelas sebelasnya sehingga anak-anak cewek SMA PERTIWI berkumpul dipinggir lapangan, tapi karna salah satu yang ada dilapangan itu adalah Ari, cowok tertampan SMA PERTIWI, yang kemunculannya itu jarang bisa dilihat ditempat umum seperti lapangan atau kantin karna biasanya Ari lebih senang berada dibelakang sekolah dan menjalin pertemanan dengan mahluk-mahluk astral, (Bercanda Ri, jangan marah donk, Ari ganteng deh.)


"Kak Ariiiii, kakak ganteng banget." teriak salah satu cewek yang ada didekat Icha.


"Busett, itu mulut atau toa masjid, kenceng banget suara lo." komen Icha menutup kupingnya.


Sik cewek terlihat malu, apalagi setelah mengetahui kalau yang mengomentarinya adalah Icha, "Ehhh kak Icha, maaf kak, gak tahan untuk tidak teriak, habisnya kak Ari ganteng banget, dan bisa melihat dia seperti ini adalah hal yang langka." jelas sik cewek panjang lebar.


Icha terkekeh mendengar ucapan cewek tersebut, "Anjirr lo ya, Ari lo sama-samain dengan hewan langka, bisa meradang dia kalau dia sampai denger."


"Ehh, emang kak Ari marah ya kalau aku bilang begitu." sik cewek terlihat panik, "Kak Icha plisss, jangan kasih tahu kak Ari." sik cewek memohon.


"Elahhh, santai aja kali, lo fikir gue pengadu."


"Cha." Lea yang baru tiba didekat Icha menggamit lengan Icha, "Ayook ke kantin."


"Lo aja deh Le, gue mau bergabung sama mereka." Icha berjalan kelapangan untuk ambil bagian dalam permainan basket tersebut.

__ADS_1


*****


__ADS_2