
"Halo kak Mario, lagi sibuk ya." tegur Icha begitu membuka pintu ruangan kerja Mario, karna gak tahu harus kemana, akhirnya Icha memilih kerumah sakit milik keluarga Atmaja, keluarga yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri.
Mario yang saat itu tengah memeriksa data pasiennya terkejut melihat kedatangan Icha dirumah sakit.
"Lho Icha, kamu ngapain disini, kamu sakit."
Icha menggeleng, dia berjalan kearah meja kerja Mario dan duduk dikursi yang berhadapan dengan Mario, "Kangen sama kak Mario."
Mario mendengus mendengar jawaban Icha yang menurutnya mengada-ngada.
"Kak Mario ini gak percaya banget sieh, Icha beneran kangen sama kak Mario."
"Iya iya percaya." jawab Mario biar cepat.
"Kak Mario kok disini, gak meriksa pasiennya." tanya Icha.
"Lagi istirahat Cha."
"Ohhhh."
"Kak Mario gak lapar." tanya Icha sebagai sebuah kode.
"Kamu laper." tanya Mario balik nanya, mengerti akan maksud pertanyaan Icha.
"Hehhe." Icha cengengesan, "Iya, Icha belum makan."
"Aduhhh kasihannya adik kakak, ya udah yuk, kebetulan juga kakak belum makan." Mario meletakkan dokumen yang dari tadi periksanya, dia berdiri untuk mengajak Icha makan siang.
"Asyikkk." antusias Icha langsung melilitkan tangannya dilengan Mario dengan manja.
Sepanjang koridor rumah sakit, kedua manusia berbeda generasi tersebut menjadi perhatian, terutama oleh dokter wanita dan perawat dirumah sakit yang notabennya mengagumi Mario.
"Gadis yang menggandeng Dokter Mario itu adiknya ya." tanya salah satu perawat karna melihat Icha masih mengenakan seragam sekolahnya.
"Bukan, Dokter Mario adiknya laki-laki semua." jawab perawat lainnya.
"Lha terus bocah itu siapa."
"Sepupunya mungkin, atau gak pacarnya."
"Sepupunya masih mungkin, kalau pacar kayaknya gak mungkin deh, tuh anakkan masih bocah, masak Dokter Mario suka sama anak kecil sieh."
"Tidak ada yang tidak mungkin."
Sedangkan Icha yang heran karna sepanjang perjalanan menuju kantin menjadi pusat perhatian bertanya pada Mario, "Kak, kenapa para perawat dan dokter wanita itu pada merhatiin kita ya."
"Itu karna mereka berfikir kamu itu adalah pacar kakak."
"Akhh masak sieh, kakak mengada-ngada."
"Terserah deh kalau gak percaya." ujar Mario gak ambil pusing.
Setibanya dikantin rumah sakit.
"Kamu mau makan apa, biar kakak yang pesenin." tawar Mario.
"Apa saja deh kak, yang penting enak dan mengenyangkan."
"Oke, tunggu disini."
Gak lama Mario membawa dua porsi nasi gereng seafood dengan dua gelas air putih.
"Kok air putih sieh kak, kenapa gak jus melon." protes Icha melihat air putih.
"Air putih lebih sehat Cha."
"Tapi lebih enak jus melon."
"Udah jangan protes, makan sekarang."
"Oh iya astaga, lupa." Icha menarik resleting tasnya dan mengeluarkan kotak makanan yang tadi pagi dikasih oleh Lea.
__ADS_1
"Apa itu."
"Bekal makanan."
"Lha terus, itu nasi goreng yang kakak pesenin gimana."
"Ya Icha makan juga, kakak kayak gak tahu Icha saja, nieh makanan kalau gak dimakan mubazir."
Mario menggeleng mengingat nafsu makan Icha yang seperti kuli panggul.
Icha membuka tutup kotak makanan tersebut.
"Itu bekal makanan dari siapa Cha."
"Lea."
"Pacarnya Aslan itu."
Mendengar hal itu, Icha menghentikan aktifitasnya, entah kenapa mendengar kalimat Mario membuat Icha gak memiliki semangat untuk memakan bekal yang diberikan oleh Lea, dia ingin membuangnya kalau bisa.
"Kenapa hanya dilihat doank."
Icha mendorongnya kehadapan Mario, "Kakak saja deh yang makan."
"Lho, kenapa malah diserahin ke kakak."
"Gak apa-apa, Icha makan nasi goreng saja, gak doyan makan sandwich." kebetulan isinya adalah sandwich berbagai rasa.
"Kenapa sieh nieh anak."
****
Karna kesepian ditinggal Mario yang harus mengurus pasiennya, Icha akhirnya memutuskan untuk pulang saja.
"Chaaa."
Ketika melewati area parkiran rumah sakit, sebuah suara memanggilnya.
"Aslan." Icha heran melihat Aslan tiba-tiba dirumah sakit, "Lo mau..."
Aslan memotong, "Jemput lo."
Tangan Aslan terangkat dan menjewer telinga Icha, "Aww, Aslann sakit."
"Itu hukuman buat anak nakal kayak lo, bukannya belajar malah bolos, ditambah HP dimatiin lagi, bikin orang khawatir saja" Aslan ngomel.
"Lepasin Aslan sakit aduhhh."
Namun Aslan mengabaikan rengekan kesakitan Icha.
"Aslann, lepasin ihh, sakit banget telinga gue ini."
"Biar aja sakit, biar tahu rasa lo."
"Ihhh jahat lo."
"Lepasin Aslann, lo jahat banget sieh, dasar sahabat tiri."
Beberapa saat kemudian, berulah Aslan melepaskan tangannya dari telinga Icha, Icha mengelus telinganya yang memerah.
"Kok lo bisa tahu gue disini."
"Kak Mario ngasih tahu kalau lo dirumah sakit, makanya setelah nganterin Lea gue langsung kesini."
"Ngapain lo pakai jemput gue segala, gue bisa pulang sendiri."
"Gue tahu, gue mau ngajak lo nyari hadiah untuk ulang tahun Lea."
"Ohh iya, ntar malam ya acaranya, hampir lupa gue."
Aslan menggeleng, "Gak heran lo lupa, ulang tahun sendiri aja lo gak inget."
__ADS_1
"Ya udah ayok, ntar keburu sore lagi." ajak Aslan.
Mereka berdua berjalan menuju mobil Aslan yang terparkir.
Icha menghempaskan punggungnya dengan cukup keras disandaran kursi mobil, "Akhhh." ringisnya memegang punggungnya.
"Kenapa."
"Punggung gue sakit, efek dari menghapus tato."
"Sudah lo hapus ya, baguslah."
"Gimana gak gue hapus, lo marahnya kayak gue hamil diluar nikah." sungut Icha, padahalkan sebenarnya disuka sama tato kupu-kupu dipunggungnya.
"Jangan merengut gitu, ntar lo gue beliin kanvas, lo gambar deh sepuasnya disana, asal jangan ngegambar ditubuh lo aja."
"Hmmm."
Aslan menjalankan mobilnya keluar area rumah sakit.
"Aslan."
"Apa."
"Ntar malam gue numpang ya sama lo kepesta ultahnya Lea."
Aslan melirik Icha curiga, "Lo ada masalah sama Laskar."
Aslan dan Lea memang gak tahu kalau saat ini Icha dan Laskar tengah berantem, Aslan hanya mengambil kesimpulan setelah mendengar permintaan Icha.
"Gak kok." bantah Icha gak mau ngaku, "Gue sama Laskar baik-baik saja."
"Teruss." kalimat terusnya ditekan, "Kenapa lo perginya sama gue."
"Ya karna lo sahabat guelah."
"Tapikan Laskar pacar lo."
"Iya memang, tapi rumah Laskarkan jauh, hitung-hitung Laskar irit bensin ya gue nebeng sajalah sama lo." alibi Icha dan itu berhasil membuat Aslan percaya.
"Ya udah deh kalau gitu."
****
Icha memperhatikan penampilannya dicermin, kadang memutar-mutar tubuhnya untuk melihat apakah masih ada yang kurang, Icha mengenakan dress couple yang dibelikan oleh mama Dina dan papa Abi waktu ulang tahunnya bersama dengan Aslan.
"Apa penampilan gue gak berlebihan." sekali lagi Icha melihat pantulan dirinya dicermin.
Sejujurnya Icha merasa aneh dengan dandanannya, untuk tampil seperti gadis pada umumnya diacara ulang tahun seperti ini, Icha sampai belajar tutorial make up di youtube.
"Lipstik gue, apa ini gak terlalu berlebihan, apa gue pakai warna natural aja kali ya, ah, kayaknya ini sudah cocok deh." Icha bicara sendiri dicermin, "Tapi kok gue merasa aneh sieh, apa mungkin karna ini untuk pertama kalinya gue dandan, makanya gue agak merasa aneh dengan penampilan gue sendiri."
Sampai suara deringan ponselnya menghentikan ocehannya.
Pangeran Narsis calling
Tertera dilayar ponselnya, nama panggilan yang diberikan untuk Laskar diawal pertemanan mereka dan sepertinya Icha tidak berniat menggantinya meskipun mereka sudah pacaran. Icha mengabaikan panggilan dari Laskar, "Ngapain sieh dia ngehubungin gue, pergi aja sana sama selingkuhannya."
Dan untuk kedua kalinya ponsel Icha berdering, hal tersebut membuatnya terganggu, dengan emosi dia meraih ponselnya, namun melihat kalau bukan Laskar yang menghubunginya emosinya mereda, dia menggeser simbol telpon berwarna hijau untuk menjawab panggilan.
Belum juga Icha sempat buka suara, suara dari seberang terdengar tidak sabaran, "Lama amet sieh, gue udah nungguin nieh dari tadi."
"Iya tungguin."
"Lagian apa sieh yang lo kerjain, dandan gak tapi lamanya udah ngalah-ngalahin pengantin yang mau nikah." Aslan melanjutkan omelanya, dia berfikir Icha gak mungkin dandan mengingat Icha sebelumnya tidak pernah dandan, Icha biasanya selalu tampil apa adanya.
"Iya ini gue udah mau keluar, jangan ngomel-ngomel mulu."
"Iya udah cepatan, GPL."
Sekali lagi Icha melihat bayangan dirinya dicermin, "Akhh bodo amet, biar aja dibilang aneh, gue gak peduli." ujarnya langsung keluar.
__ADS_1
****