
Oke, seperti yang dibilang, kalau malam ini Icha gak dapat jatah makan malam sebagai hukuman telah membuat gosong lauk yang seharusnya jadi hidangan makan malam.
"Bay Upil."
Lola dan Loli meledek dengan melambaikan tangan ketika mereka sudah berada didalam mobil, mereka akan pergi makan malam diluar karna lauk untuk makan malam gosong akibat ulah Icha, Icha di tinggal sendiri deh tuh dirumah tanpa makan malam.
"Sialan." umpat Icha, "Semoga aja mobil lo ketabrak odong-odong, biar koit." doanya.
"Duh, laper lagi gue." Icha memegang perutnya.
"Aha, gue tahu." Icha berlari kedalam dan meraih ponselnya, dia mendial nomer seseorang.
Tawaran lo masih berlakukan.
Hanya butuh waktu lima belas menit, orang yang barusan Icha hubungi sudah sampai dirumah Icha, Icha sudah menunggu didepan.
"Buset, cepat amet lo sampainya."
Cowok yang memakai pakaian serba hitam itu membuka helmnya, "Gue lagi berada disekitar sini." ternyata cowok itu adalah Laskar, penyelamat hidup dan mati Icha untuk saat ini.
"Ngapain."
"Mmm, ada keperluan gue."
Icha mengangguk tanda mengerti, "Jadi, lo mau makan dimana."
"Boleh nieh gue milih mau makan dimana."
"Oh, tentu saja."
"Ntar lo nyesel lagi, soalnya gue ingin makan direstoran mahal gitu."
"Gak jadi masalah, kekayaan gue gak akan habis hanya untuk nraktir lo direstoran paling mewah sekalipun."
"Wiehhh, mulai sombong lo ya."
"Bukannya sombong Cha, tapi kenyataan."
"Oke, oke, lo anak orang kaya, tapi jangan berfikiran gue temenan sama lo untuk manfaatin lo ya."
"Lo manfaatin juga gak apa-apa, gue anggap sedekah ngasih anak yatim piatu makan."
Icha memukul lengan Laskar, "Sialan bener lo."
Laskar terkekeh, "Oh ya, ngomong-ngomong, saudara tiri lo dan ibu tiri lo pada kemana, kelihatannya sepi."
"Pergi makan diluar mereka, ninggalin gue sendirian yang kelaparan."
"Ya udah. Lo gak usah bersedih hati, karna apa, karna abang Laskar yang tampan akan ngajak lo makan direstoran mewah dan mahal dan pasti lo bakalan kenyang sampai tuh perut lo membuncit." kelakar Laskar.
__ADS_1
"Dasar lo narsis."
Laskar membawa Icha ke restoran eropa, kata Icha dia ingin seperti orang-orang barat gitu.
"Wah, restoran mahal nieh, lo yakin ngajakin gue makan dimari."
"Emang kenapa, guekan udah bilang gue kaya, jadi semahal apapun gak ada apa-apanya buat gue."
"Sombong lo ya."
"Wajarlah gue sombong, gue kan kaya, kalau miskin somong, itu yang gak wajar." canda Laskar.
"Songong lo ya.
Dua remaja itu terkekeh.
Sebelum memasuki restoran, Laskar menyodorkan lengannya untuk di gandeng oleh Icha, layaknya pasangan dewasa gitu. Icha tertawa ngakak sebelum melingkarkan tangannya untuk dilengan Laskar.
"Are you ready miss." bicara formal.
"Im ready mister."
Karna itu restoran mewah, masuk saja mereka dibukakan pintu oleh pelayan pria yang berpakain super rapi.
"Selamat datang Tu...." sik pelayan menghentikan kalimatnya, gak tahu deh menyapa dengan kalimat apa, pasalnya yang sering berkunjung adalah orang kaya dengan usia dewasa, lha ini, dua anak remaja yang masih sekolah, masak manggilnya nyonya dan tuan pada remaja tersebut.
"Gak apa-apa, panggil kami nyonya dan tuan." sambung Laskar melihat keraguan pelayan itu.
"Baiklah, nyonya dan tuan, selamat datang di restoran kami." terpaksa banget deh tuh pelayan mengatakan hal tersebut, dalam hati mungkin dia berkata, "Mampu bayar gak nieh bocah, gayanya sok kaya banget."
Suasana restoran itu begitu sangat ramai oleh pengunjung yang dilihat dari penampilannya sieh sepertinya orang kaya semua. Setelah mendapatkan meja kosong, seorang pelayan perempuan menghampiri meja mereka.
Pelayan tersebut tersenyum ramah, dan terus memandang Laskar dengan pandangan mupeng, "Mau pesan apa tuan." yang ditawarkan hanya Laskar.
Bukannya menjawab, Laskar malah nanya Icha, "Lo mesen apa Cha."
"Bingung gue, tulisannya bahasa inggris gini, kagak ngertilah gue."
Laskar tersenyum memaklumi, "Eh, ini kelihatannya enak deh, gue pesan ini aja deh." ujarnya menunjuk sebuah gambar sebuah hidangan yang menurutnya kelihatan enak dan menggiurkan, tapi begitu matanya jatuh pada harga yang dipatok untuk satu porsi makanan tersebut membuat matanya membelalak, "Buset dah, mahal banget, bisa dapat satu gerobak cilok nieh harga makanan."
Pelayan yang dari tadi bertugas mencatat pesanan mereka mendelik sebal, mungkin dalam hatinya berkata, "Kalau miskin, jangan sok-sok-an makan di sini deh mbak."
"Gak apa-apa Cha, lo borong bersama gedung beserta pelayannya juga gue sanggup beli."
Sik pelayan memandang Laskar dengan pemandangan memuja, dia jelas tahu dari penampilannya kalau cowok tampan yang datang bersama cewek katrok ini adalah cowok kaya, yang dia heran, kenapa nieh cowok mau sama nieh cewek, udah gak cantik, rambutnya berantakan, norak lagi.
"Ih, bisa gak lo gak usah pamerin harta lo itu lagi, enek gue dengernya." Icha membuat gerakan muntah.
"Habisnya lo gak percayaan gitu sama gue."
__ADS_1
"Iya gue percaya." ujarnya, "Mbak, gue pesan yang ini."
Pelayan itu mencatat pesanan Icha, dan beralih pada Laskar, "Kalau tuan mau pesan apa." Laskarpun menyebutkan pesanannya.
"Las, perasaan kita diperhatiin terus deh dari tadi." Icha memandang sekelilingnya.
"Itu karna lo cantik Cha."
Icha mendelik, "Anjayy lo ya, jangan ngeledek gue."
"Siapa yang ngeledek lo, lo beneran cantik tau."
Icha mendengus, fikirnya, "Nieh cowok, modusin cewek yang salah."
"Lo besok periksa mata lo ke dokter mata deh."
"Kenapa gue harus ke dokter mata, mata gue sehat wal'afiat kok."
"Sehat gimana, kalau lo gak bisa bedain mana yang cantik dan mana yang gak."
"Nieh cewek aneh banget deh, setau gue semua cewek seneng dibilang cantik, lha dia." Laskar membatin, "Lo gak suka ya dibilang cantik."
"Menurut lo."
"Ya menurut gue lo cantik."
"Kalau lo mau modus, lo modusin orang yang salah."
"Siapa yang modus, emang lo beneran cantik kok."
"Terserah deh."
Bukannya gak suka dibilang cantik, tapi kenyataan dia gak cantik.
Gak lama kemudian pesanan mereka datang, Icha menelan air liurnya begitu melihat makanan yang dipesannya kini sudah berada dihadapannya, tanpa baca doa terlebih dahulu Icha main serbu aja.
"Uhuk, uhuk." Icha terbatuk, "Ihh, kok rasanya gak enak sieh."
"Masak sieh, sini gue cobain." Laskar mencoba makanan yang dipesan Icha, "Enak kok Cha."
"Tapi gue gak suka Las."
"Ya udah tuker dengan punya gue." Laskar menyodorkan makanannya dan mengambil makanan yang dipesan Icha.
"Ih, ini juga kok gak enak sieh." emang dasar lidahnya Icha aja pecinta masakan lokal, pakai sok-sok-an lagi ingin makan makanan eropa.
"Ih, mahal-mahal kok makanannya gak enak, enakan juga makan ketoprak dipinggir jalan keluhnya."
"Ya udah, habis ini kita makan ketoprak." ujar Laskar mendengar keluhan Icha.
__ADS_1
Janji Laskar membuat Icha kembali bersemangat.
***********