Cinderela Modern

Cinderela Modern
RENCANA MENJENGUK ICHA


__ADS_3

Meskipun beberapa hari ini saling diem-dieman dengan Icha, nyatanya Lea khawatir begitu melihat bangku Icha kosong ketika sudah hampir bel masuk, dilihatnya juga bangku Aslan masih kosong, dia masih positif tingking dengan berfikiran, "Mungkin mereka telat, kadang-kadangkan mereka suka terlambat."


Namun Lea kembali dilanda rasa khawatir karna setengah jalan dijam pertama baik Aslan dan Icha belum juga menampakkan diri, hal ini membuatnya bertanya-tanya apakah gerangan yang terjadi dengan Icha, dan begitu pelajaran dijam pertama berakhir dan sebelum guru berikutnya masuk, Lea yang sebenarnya paling malas berurusan dengan Lola dan Loli terpaksa harus bertanya pada mereka, karna mereka serumah, Lea yakin mereka tahu apa yang terjadi dengan Icha.


Lea mendekati meja yang ditempati oleh Lola dan Loli, saat Lea menghampiri mereka, Loli tengah sibuk bercermin sambil memonyongkan bibirnya, "Cantik banget sieh gue, mirip Angelina Jolli." pujinya pada diri sendiri.


Gumam Lea dalam hati, "Mirip angelina Jolli katanya, apanya yang mirip coba, bahkan dari belakangpun sama sekali tidak terlihat mirip, kalau mirip pembantunya sieh iya."


"Mau apa lo." tanya Lola jutek begitu melihat Lea.


"Icha kenapa gak masuk."


"Mana ktehek."


Lea merutuk dalam hati, "Menyebalkan sekali sieh, kalau gue gak khawatir dengan kondisi Icha ya gak mungkinlah gue mau bicara sama rubah-rubah ini."


Loli yang dari tadi sibuk mengagumi pantulan dirinya dicermin menurunkan cerminnya dan beralih memandang Lea, "Eh, sahabatnya sik upil, kenapa lo nyari-nyari sik upil jelek itu." pertanyaan yang dijawab sendiri olehnya, "Oooo." dengan bibir monyong, "Gue tahu, lo kesepiankan, secara gitu sik upil satu-satunya sahabat lo dimuka bumi, ya maklumlah, gadis cupu kayak lo gak ada yang mau temenan sama lo."


Lea gregetan, "Kok bisa sieh Icha tahan tinggal serumah dengan mahluk-mahluk menyebalkan ini, kalau gue, mungkin udah gue racun agar tidak pernah lihat wajah menyebalkan mereka"


Lea sudah akan kembali kemejanya, karna percuma saja bertanya pada Lola dan Loli, bukannya mendapatkan jawaban yang ada malah bikin dia sakit hati doank, namun dia mengurungkan niatnya ketika ada suara lainnya yang juga bertanya tentang kenapa Icha sampai gak masuk sekolah.


"Tentunya kalau gue yang bertanya lo bakalan ngasih tahu doank." yang bertanya itu adalah Laskar, Laskar mengeluarkan pesonanya dan mengedipkan matanya untuk meluluhlantahkan perasaan Lola dan Loli, dan itu super barhasil karna Loli langsung berkata begini, "Kalau cowok ganteng kayak lo yang bertanya sieh gak mungkin untuk diabaikan."


"Ganjen." batin Lea mendengar kalimat Loli.


"Jadi Loli, apa yang terjadi dengan Icha sampai dia gak masuk."


Sebenarnya Laskar punya dugaan, karna semalam Icha bilang dia sakit, fikirnya mungkin penyakitnya lumayan parah sampai dia tidak bisa masuk sekolah, tapi memang gak ada salahnya bertanya pada saudari tiri Icha untuk memastikan.


Loli ingin menjawab, namun Lola lebih dulu bersuara,


"Kenapa lo nanya-naya tentang sik upil itu."


"Ya karna kita temen sekelas, kalau salah satu dari kalian yang gak masuk, pasti gue akan bertanya kenapa lo gak masuk pada Icha."


"Laskar perhatian banget, jadi ingin sakit deh biar dijengukin."

__ADS_1


Laskar tersenyum tipis dan kembali mengulangi pertanyaannya, "Jadi, kenapa Icha gak masuk."


"Sik Upil jelek itu nempelin kertas gitu dipintu kamarnya, tulisan dikertas itu berbunyi kalau dia lagi sakit keras dan gak bisa diganggu gugat, gue gak percaya, dia palingan hanya ingin malas-malasan doank."


Yahh, hanya itu sieh yang ingin Laskar tahu, makanya dia ingin langsung pergi setelah mendapatkan informasi, "Makasih Loli infonya, makin hari lo makin cantik aja gue lihat." gombalnya.


Loli tersenyum malu-malu, "Laskarr bikin Loli berbunga-bunga aja, udah banyak kok yang bilang kalau Loli cantik."


Lea membuat gerakan ingin muntah, setelah mendapatkan informasi yang ingin didengarnya diburu-buru kembali kebangkunya.


"Icha sakit, apa Aslan juga sakit ya, sampai gak masuk juga, kalau Aslan beneran sakit, kok mereka kompakan ya sakitnya." tanya Lea dalam hati.


Laskar duduk dikursi kosong disamping Lea yang merupakan kursi Icha, "Le."


Lea yang tengah sibuk dengan fikirannya kaget mendengar sapaan Laskar, "Astagfirullah, kaget gue." mengelus dadanya.


"Makanya jangan ngelamun neng, ntar malah kesambet lagi." Laskar meledek.


Lea mendengus.


"Le, pulang sekolah jengukin Icha yuk."


"Hmmm, Ichakan lagi sakit, jadi sebagai temannya kita udah seharusnya donk jengukin dia."


"Tapi...gue." Icha menghentikan kalimatnya, Lea ingin bilang kalau dia dan Icha masih belum berbaikan, takutnya kalau dia datang ntar malah dicuekin lagi sama Icha.


"Udah gak usah pakai tapi tapi segala, pokoknya sepulang sekolah kita jengukin Icha oke." tanpa menunggu jawaban Lea, Laskar kembali kebelakang.


****


"Jangan jauhin gue gara-gara apa yang gue lakuin barusan." peringat Aslan melihat Icha yang tidak mau memandangnya setelah dia barusan memaksa Icha minum obat dengan menggunakan bibirnya, "Gue lakuin itu supaya lo cepat sembuh, lagian siapa suruh lo rewel disuruh minum obat, jadi terpaksakan gue ambil jalan pintas."


"Siapa yang akan jauhin lo juga sieh."


"Kalau gak berniat jauhin gue, lihat ke arah gue donk kalau ngomong, jangan nunduk gitu, atau lo malu ya karna...."


Sebelum Aslan merampungkan kalimatnya Icha mendongak dengan mata menantang, "Siapa yang malu sieh, biasa aja kali." padahal kalau mau jujur, dia agak gugup juga sieh.

__ADS_1


"Oke, gue percaya."


"Tapi lain kali jangan begitu lagi."


"Hmmmm."


"Aslan masih disini." teguran dari mama Dea yang tiba-tiba sudah berada dikamar Icha, suaranya dimanis-maniskan.


"Iya tante, kasihan Icha gak ada yang ngurus."


Mama Dea berlagak seperti ibu tiri yang baik hati dan perhatian dengan mengatakan, "Kamu seharusnya pergi ke sekolah lho Aslan, kan ada mama disini yang akan senantiasa merawat Icha, Icha sudah mama anggap seperti anak sendiri." mama Dea mengelus puncak kepala Icha.


Icha ingin sekali menepis tangan itu, "Dasar rubah, paling bisa dia berlagak jadi ibu tiri paling baik sedunia kalau didepan orang lain." Icha membatin.


"Iya tan, Aslan tau tante menyayangi Icha." bohong Aslan, padahal dia tahu bagaimana kelakuan mama Dea pada Icha, mungkin kalau dia gak kesini, pasti Icha akan dipaksa bersih-bersih rumah meskipun kondisi Icha tengah sakit, "Tapi gak apa-apakan tan, kalau Aslan bantuin tante jagain Icha, Ichakan sahabat Aslan."


"Ya gak apa-apa donk Aslan, tapi gak enak juga tante karna jadi ngerepotin Aslan."


"Gak ngerepotin kok tan."


"Aslan memang anak yang baik, gak salah Lola dan Loli menyukai Aslan."


Aslan tidak tahu bagaimana menanggapinya, makanya dia hanya diem saja.


****


Emang rencanya cuma Laskar dan Lea doank yang bakalan jengukin Icha, tapi eh kok pas mau berangkat, seisi kelas pada kompakan gitu ingin menjenguk Icha, jadinya mereka akan datang ramai-ramai kerumah Icha.


"Lola, telpon mama donk kalau temen-temen kelas pada mau datang menjenguk sik upil, biar gak kaget ntar mama lihat orang sebanyak ini mengunjungi rumah." desis Loli.


Lola mengeluarkan ponselnya dan mendial nomer mama Dea, "Gak diangkat sama mama."


"Coba lagi." pinta Loli, "Mamakan juga harus mempersiapkan diri menjadi ibu tiri yang baik dan peduli didepan temen-temen."


"Kenapa lo hobi nyuruh-nyuruh gue, lo aja yang telpon sana, malas gue." jengkel Lola.


"Ihhh, dasar pemalas, disuruh nelpon aja malas, apalagi kalau disuruh nyangkul aspal."

__ADS_1


****


__ADS_2