Cinderela Modern

Cinderela Modern
SURAT UNTUK TUHAN


__ADS_3

"Lihat nieh." Laskar mengarahkan layar ponselnya didepan wajah Icha untuk menunjukkan walfaper ponselnya, "Kita sudah kayak keluarga kecil bahagia ya." tutunya. Ternyata yang jadi gambar latar ponsel Laskar adalah foto dirinya dan Icha yang tengah menggendong Riri, bayi kecil yang dijumpainya diangkot.


"Jadi ingin cepat-cepat nikah."


Dukk


Icha memukul kening Laskar, "Kita masih kecil, sekolah dulu aja yang benar, jangan mikirin yang aneh-aneh."


"Gak ada salahnya ngerencanain masa depan mulai dari sekarang."


"Terserah deh, tapi jangan ngajak-ngajak."


"Ya jelas aku ngajak kamulah, kamukan calon istri masa depan aku."


"Hmmm, tapi untuk saat ini fokus saja dulu sekolah, kuliah dan lulus, cari kerja, baru deh mikirin nikah."


"Iya iya."


Ketika tengah asyik menikmati waktu berdua, ponsel Icha berdering, Icha meraih ponselnya melihat siapa yang menghubunginya.


"Aslann." gumamnya melihat nama yang tertera.


Ketika Icha akan menggeser simbol hijau untuk menjawab panggilan, tangan Laskar lebih dulu menyambar ponsel tersebut dari tangan Icha dan Laskar langsung merijek panggilan tersebut, kelakuan Laskar itu tentu saja membuat Icha gusar.


"Laskarrr." protes Icha, "Kok dimatiin sieh."


"Habisnya ganggu." jawab Laskar tanpa merasa bersalah.


"Tapi itu Aslan yang nelpon."


"Iya aku tahu, Aslan sahabat kamu tercinta itukan, aku tidak lupa ingatan Cha."


Ponsel Icha kembali berdering, dan panggilan itu masih dari orang yang sama, Icha memanjangkan tangannya utuk menjangkau ponselnya yang ada ditangan Laskar, "Sini Hp ku Laskarrr."


Laskar malah semakin mengangkat tangannya tinggi-tinggi supaya Icha tidak bisa menjangkaunya, "Ambil kalau bisa."


"Laskarrr, menyebalkan sekali sieh kamu."


Laskar berdiri supaya Icha tidak bisa mengambil ponselnya yang kini berada ditangannya.


"Siniin Laskarrr." Icha sampai melompat-lompat untuk meraih benda multifungsi yang masih betah berdering.


"Dasar pendek." ledek Laskar karna Icha tidak berhasil mengambil ponsel tersebut dari tangannya.

__ADS_1


"Ishhh, menyebalkan." saking keselnya Icha mendorong tubuh Laskar, Laskar yang tidak menyangka kalau akan didorong tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya, alhasil tubuhnya oleng, namun sebelum itu, tangannya reflek meraih pinggang Icha sehingga tak pelak membuat mereka berdua jatuh dipasir dengan posisi Laskar dibawah sedangkan Icha berada diatas.


Icha berusaha berontak karna pinggangnya dikunci oleh Laskar, "Lepasinnn."


Bukannya melepaskan Icha, Laskar malah makin mengeratkan pelukannya, "Gak mau, aku suka seperti ini."


Icha melotot, "Gak enak dilihat orang."


"Siapa yang melihat, gak ada orang tuh." mata Laskar melirik sekelilingnya yang ternyata untuk saat ini sepi.


Meskipun saat ini tidak ada satupun orang disekitar mereka, tetap saja Icha merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini, namun Laskar sepertinya gak akan mau melepas kuncian tangannya pada pinggang Icha, oleh karna itu Icha mengarahkan tangannya untuk menggelitik pinggang Laskar, Laskar yang kegelian mengendurkan pelukannya.


"Ha haha, berhenti Cha, aku gak tahan." pintanya sembari cekikikan.


"Gak akan, siapa suruh peluk-peluk."


Namun kemudian Laskar berhasil membalikkan keadaan, karna tenaganya lebih besar ketimbang Icha, kini dia berhasil menahan tangan Icha dan dia berbalik menggelitik Icha.


"Duhh, hahaha, lepasin, aku gak kuat." pinta Icha saking gelinya.


"Minta ampunn gak."


"Ampunn Las, aku nyerah, berhenti aku mohon."


Setelah tawa mereka mereda, Laskar kembali meraih pinggang Icha, tapi kali ini bukan untuk menggelitiknya, tapi merengkuhnya dan membawanya kedalam pelukannya, Icha juga melingkarkan tangannya untuk membalas pelukan Laskar, Laskar meletakkan dagunya dipuncak kepala Icha.


"Cha." Laskar bicara serius.


"Hmmm."


Mereka masih saling memeluk satu sama lain.


"Boleh gak untuk saat ini saja kita menikmati waktu kita berdua tanpa gangguan dari siapapun."


Icha mengangguk menyetujui, dan bahkan ketika Laskar menonaktifkan ponselnyapun dia tidak protes sama sekali.


Dan sampai menjelang sore mereka menikmati keindahan pantai dengan deburan ombak yang semakin memperindah suasana, mereka duduk dihamparan pasir putih dengan jemari bertaut satu sama lain, Icha merebahkan kepalanya dibahu kokoh Laskar.


Pandangan Icha tidak lepas pada beberapa anak laki-laki yang tengah bermain layangan tidak jauh dari posisi mereka berada, Laskar mengikuti arah pandang Icha dan berkata, "Tunggu sebentar Cha."


Sebelum Icha sempat bertanya, Laskar sudah berdiri dan langsung melesat pergi, Icha bisa melihat dengan jelas ternyata Icha nyamperin salah satu anak yang tengah bermain layangan.


"Laskar mau ngapain tuh." Icha bertanya melihat intraksi antara Laskar dengan satu dari anak-anak yang tengah bermain layangan itu, dan kemudian Icha bisa melihat anak tersebut menyerahkan layangan yang sudah dia turunkan kepada Laskar.

__ADS_1


Laskar kemudian menoleh kearah Icha, tersenyum dan mengangkat layangan yang ada ditangannya untuk memberitahu kalau dia mendapatkan layangan tersebut, Laskar terlihat berlari kembali mendekati Icha.


"Mau bermain." tanyaya pada Icha sambil menunjukkan layangan yang dibawanya.


Icha mengangguk menyetujui.


Namun sebelum itu Laskar berkata, "Pegang dulu." perintahnya dan membuka tasnya, dari sana dia mengeluarkan buku kecil dan polpen.


"Itu untuk apa." Icha bertanya.


Laskar merobek dua lembar kertas dan menyerah satu pada Icha sebelum menjawab pertanyaan Icha, "Disini, dikertas ini." tunjuk Laskar, "Kita tulis harapan kita, biarkan dia terbang bersama dengan layangan ini supaya Tuhan bisa membacanya, yah anggaplah layangan tersebut membawa pesan kita pada Tuhan." Laskar menjelaskan maksudnya.


"Ha ha ha." Icha jelas tertawa mendengar ide konyol Laskar, "Apaan sieh Laskar, kayak anak kecil saja."


Dan meskipun bilang begitu, toh Icha mengikuti keinganan konyol Laskar, dan menulis harapannya dikertas yang diberikan Laskar.


Tuhan, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan Aslan, aku ingin dia tetap bahagia, seperti yang aku rasakan saat ini.


Itu harapan yang ditulis Icha, dia kemudian melipat kertas tersebut sebelum menyerahkannya pada Laskar.


Laskar memandang Icha dengan penuh arti sebelum menarikan jemarinya untuk menulis apa yang dia harapkan.


Tuhann, jangan pernah biarkan senyum itu hilang dari bibir gadis yang aku cintai, dan izinkanlah aku yang menjadi sumber kebahagiannya.


Harapan Laskar.


Icha memberikan kertas yang ditulisnya pada Laskar, Laskar kemudian menyelipkannya dua kertas yang berisi harapan mereka dirangka layangan tersebut. Mereka menerbangkan layangan itu bersama, bermain sesaat sebelum memutus tali layangan dengan harapan membawa pesan yang mereka tulis pada Tuhan.


"Terimakasih karna telah membuatku bahagia." bisik Icha


Laskar memandang Icha dengan penuh cinta dan berkata, "Itu adalah tugasku."


****


Sementara sepasang kekasih tersebut tengah bahagia menikmati kebersamaan mereka, beratus-ratus kilo meter jauhnya dari tempat mereka berada, Aslan tengah panik luar biasa, gimana tidak panik, Icha menghilang, tidak ada satupun yang tahu dimana keberadaannya, tidak dengan keluarga tirinya, karna Icha jelas tidak pamit sama satupun dari keluarga tirinyan, dan bahkan Lea pun tidak tahu dimana keberadaan Icha, bahkan panggilannya pun dirijek, dan ketika dia kembali menghubungi nomer Icha, nomer Icha sudah tidak aktif.


Kekhawatiran Aslan berawal ketika dirinya mencari Icha kerumahnya karna Aslan akan mengajak Icha bermain basket dilapangan komplek, dan dia diberitahu oleh mama Dea kalau Icha tidak ada dirumah, jelas heranlah Aslan, Icha tidak seperti biasanya pergi dihari minggu seperti ini, dan bahkan kalau pergi itupun biasanya bersamanya atau gak Icha pergi bersama Lea, Aslan melupakan fakta kalau saat ini sahabatnya itu sudah memiliki kekasih sehingga dia tidak kefikiran sedikit untuk bertanya pada Laskar, dan kalaupun bertanya bagaimana caranya, diakan tidak punya kontak Laskar. Aslan sampai mencari Icha dibeberapa tempat yang sering didatangi Icha, tapi hasilnya nihil, dia tidak menemukan Icha, disaat Aslan dan keluarga Atmaja khawatir setengah mati pada Icha, orang yang dikhawatirin malah tengah berbahagia.


"Gimana Lan, lo nemuin Icha." tanya Mario begitu melihat Aslan kembali kerumah, dia melongok kebelakang berharap menemukan Icha yang cengar-cengir.


Aslan hanya menggeleng sebagai pemberitahuan kalau pencariannya tidak membawa hasil.


****

__ADS_1


__ADS_2