
Difikirnya pintu kamar Icha masih terkunci seperti pagi tadi sehingga Loli dengan menggunakan kekuatan penuh mendobrak pintu kamar Icha, alhasil dia jatuh terjerembab kelantai, dan Icha dan Aslan yang tengah tertidur otomatis terbangun karna suara berisik yang disebabkan oleh ulah Loli, (Jangan berfikiran macam-macam, mereka memang tidur bareng, tapi tempatnya terpisah, Icha tidur ditempat tidur, sedangkan Aslan tidur dimeja belajar Icha, Aslan gak tega meninggalkan Icha, takutnya ntar Icha butuh-butuh apa-apa lagi, makanya dia nungguin Icha dikamarnya."
"Loli." desah Icha jengkel karna merasa terganggu, "Ngapain sieh lo, ganggu aja."
Loli mengabaikan kekesalan Icha, dia fokus sama Aslan yang mengucek-ngucek matanya untuk menjernihkan pandangannya.
"Aslan, kamu masih disini." tanyaya.
"Hai Lol." sapa Aslan bukannya menjawab pertanyaan Loli, "Udah pulang sekolah ya, gue terpaksa bolos untuk nemenin Icha, kasihan dia gak ada yang ngurus."
"Ohh." dalam hati Loli bergumam, "Nieh cowok keren banget, sama sahabatnya sik upil jelek ini aja dia sangat perhatian, bagaimana nanti kalau gue jadi istrinya ya." ngarep.
"Lol, lo mau ngapain ke kamar gue, kalau lo mau nyuruh gue nyiapin lo makan siang, sorry deh gue gak bisa." ujar Icha memutus khayalan Loli.
"Temen-temen tuh datang mau jengukin lo."
"Temen-temen, maksud lo, temen-temen kelas gitu."
"Siapa lagi, masak kelas tetangga."
"Kok bisa, padahal gue baru sakit sehari lho, kalau gue sakitnya udah satu minggu sieh wajar dijengukin."
"Tahu deh, emang mereka pada gak punya kerjaan, bikin repot mama aja, pasti persedian gula mama habis untuk bikin minum untuk mereka."
"Pelit banget sieh lo."
"Ya udah deh lo temuin mereka sana biar mereka cepat pulang, makin cepat mereka pulang makin baik."
"Kondisi gue lemah, mana bisa gue jalan sampai ruang tengah."
"Lebay amet lo jadi orang, sakit begini doank gak bisa jalan."
"Sudah sudah." Aslan melerai, "Masalah sepele begini gak perlu adu mulut segala, kalian memang udah kebiasaan, apa apa berdebat."
Aslan mendekat ke arah Icha, dia kemudian meletakkan satu tangannya dipunggung Icha, dan satunya lagi disurukkan bagian bawah lutut Icha.
__ADS_1
"Eh, mau ngapain Lan."
Dengan entengnya Aslan mengangkat tubuh Icha, "Mau gendong lo lah, katanya lo gak sanggup jalan nemuin temen-temen."
"Merekanya aja yang disuruh kemarikan bisa, duh gak perlu pakai digendong segala, ntar diledekin lagi."
"Udah diem, gak usah banyak bacot, mending lo aja yang keluar nemuin mereka, kamar merupakan tempat pribadi, gak bisa donk semua orang lo izinin masuk dikamar lo." Aslan kemudian melangkah keluar.
"Seneng banget sieh jadi sik upill, diperhatiin cowok ganteng kayak Aslan." desis Loli yang iri melihat Icha diperlakukan dengan manis oleh Aslan, "Jadi ingin cepet-cepet dihalalin Aslan deh." gumamnya menghayal.
Loli kemudian berjalan menyusul Aslan dibelakang.
Semuanya pada heboh diruang tamu, ada yang ngobrol dan ada juga yang pada bercanda gitu, tapi semuanya langsung pada diem begitu melihat kedatangan Icha yang berada dalam gendongan Aslan. Dan tentu saja Lea tidak mengedipkan matanya sedikitpun melihat hal tersebut, rasa iri pasti ada melihat Icha diperlakukan dengan begitu manis oleh laki-laki yang dia cintai, tapi dia buru-buru menepisnya, karna dia yakin baik Icha dan Aslan tidak ada perasaan suka sedikitpun, lagipula dia jengukin Ichakan niatnya mau berbaikan.
Masih belum ada yang bersuara, sampai Aslan berkata, "Minggir dikit donk, gue mau dudukin Icha nieh." pintanya pada temen-temennya yang mendominasi sofa.
Nana Gita dan Purma sedikit menyingkir untuk memberikan ruang untuk mendudukkan Icha, setelah Icha duduk barulah tuh sik Marhun bersuara.
"Sakit lo sebegitu parahnya ya sampai harus digendong segala."
"Astagaaa, Aslan sweet banget Cha." desis Nana begitu Aslan sudah menyingkir.
"Iya, kalau gue gak tahu lo dan Aslan bersahabat sejak kecil, gue pasti berfikir kalau Aslan suka sama lo." sambung Gita.
"Aslankan emang gitu, baik orangnya." ujar Icha.
"Di elonya aja dia baik, sama kami boro-boro."
"Lo bolos gara-gara Icha Lan." tanya Marhun.
"Hmmm." jawab Aslan mengambil tempat duduk disamping Marhun.
"Wah gak gue sangka cowok pinter, teladan kayak lo bolos hanya gara-gara ngurusin Icha."
"Habisnya gimana, kalau bukan gue siapa lagi."
__ADS_1
"Bener juga, gue yakin mama tirinya itu gak mau ngurus Icha, secara gitu dimana-mana yang namanya mama tiri pasti jahat dan tukang nyiksa." bisik Marhun.
Mereka pada melakukan obrolan seputar sekolah dan guru-guru mereka, sampai setengah jam kemudian barulah mereka pada pamit pulang, Laskar dan Lea agak belakangan karna Lea ingin ngobrol dengan Icha karna gak mungkinkan melakukan pembicaraan pribadi disaat temen-temen kelasnya komplit begini.
"Oh ya Cha, gue hampir lupa." Laskar yang harus nganterin Lea otomatis pulangnya juga belakangan karna harus nungguin Lea yang harus membereskan urusannya dengan Icha. Laskar membuka tasnya, dari sana dia mengeluarkan coklat dan bunga, "Nieh, gue temuin dibangku elo."
Icha menerima coklat dan bunga tersebut dari tangan Aslan, bibirnya melengkung, sekarang dia terbiasa dengan kiriman bunga dan coklat dari orang misterius yang sampai sekarang belum mau menampakkan batang hidungnya itu.
"Makasih ya Laskar."
"Sama-sama, smoga cepat sembuh ya Cha, sekolah gak rame tanpa lo."
"Tenang aja, besok juga gue pasti udah sembuh kok, kan ada calon dokter yang selalu siap siaga disamping gue." Icha mengedikkan dagunya kearah Aslan yang terlihat ngobrol dengan Denis.
"Lo beruntungnya punya sahabat perhatian seperti Aslan."
"Iya."
"Le, katanya lo mau ngomong sama Icha." Laskar memperingatkan.
Icha memandang ke arah Lea, Lea terlihat menunduk, Laskar memandang bergantian ke arah Icha dan Lea sebelum berkata, "Oke deh, gue tunggu lo diluar kalau gitu, agar lo pada bisa ngobrol dari hati ke hati." Laskar meninggalkan Lea dan Icha.
Hening, untuk beberapa menit Lea masih bungkam.
"Cha gue minta maaf." gumam Lea pada akhirnya, "Gue tahu gue salah, gue gak seharusnya diemin lo hanya gara-gara lo dijodohkan dengan Aslan, gue tahu lo dan Aslan gak pernah menginginkan perjodohan ini, dan gue seharusnya gak merusak persahabatan kita hanya gara-gara hal ini, gue sayang lo Cha, gue gak mau kehilangan sahabat terbaik gue." setelah mengungkapkan isi hatinya Lea kembali menunduk, karna Icha belum kunjung merespon, Lea mengangkat wajahnya perlahan, takut Icha tidak menerima permintaan maafnya, namun dia salah karna senyum Ichalah yang menyambutnya begitu matanya beradu dengan mata Icha, Icha merentangkan tangannya, Lea tahu Icha sama sekali tidak pernah marah padanya, Lea kemudian menghambur kearah Icha, dia menangis haru, "Lo emang sahabat sejati gue Cha, huhuhu."
"Njirrr, lo nangis, astaga, cemen banget sieh lo." ledek Icha.
"Gue nyesel banget Cha."
"Udah deh nangisnya, udah tuwir begini juga masih aja nangis kayak anak TK."
"Habisnya gimana donk, guekan terharu."
Icha terkekeh, dia bahagia karna dia dan Lea kembali berbaikan.
__ADS_1
****