Cinderela Modern

Cinderela Modern
LO ORANG TERPENTING DALAM HIDUP GUE


__ADS_3

Aslan meringis menahan sakit, karna Icha mengguncang lengannya yang terluka, "Bisa gak lo biasa aja, kelakuan bar-bar lo kayak gini bikin gue tambah sakit." keluhnya.


Ketika Aslan mendengar suara Icha dan membuka matanya dan menemukan Icha dihadapannya, dia begitu sangat lega melihat sahabatnya itu terlihat baik-baik saja dan tidak kurang satu apapun.


Sadar dirinya berlebihan Icha buru-buru berkata, "Maaf Lan." ujarnya, namun kemudian dia kembali membrondong Aslan dengan pertanyaan yang belum sempat dijawab Aslan, "Tapi lo baik-baik sajakan Lan, gak ada luka yang seriuskan." Icha kemudian mengalihkan matanya pada kepala Aslan yang diperban, "Oh astagaaa." Icha menyentuh kepala Aslan yang diperban, "Kepala lo, lo gak lupa ingatankan kayak disinetron-sinetron alay itu, lo masih inget guekan." crocos Icha tanpa rem.


"Astagaaa, sejak kapan sieh dia kayak radio rusak begini, nyerocos mulu, setahu gue dia gak pernah selebay ini." Aslan bergumam dalam hati melihat kelakuan Icha yang menurutnya berlebihan.


"Lann, kok diem sieh, jawab gue, lo gak divonis ilang ingatankan oleh dokter, lo masih inget guekan sahabat lo."


Aslan langsung menyentil kening Icha saking gemesnya.


"Aslaaann, sakit tahu." memegang keningnya.


"Habisnya, lo nyerocos kayak radio rusak, omongan lo jadi ngaco lagi pakai bawa-bawa hilang ingatan segala, dasar korban sinetron."


"Jadi lo gak hilang ingatan." raut wajah Icha terlihat lega, namun untuk menyakinkan dirinya dia bertanya pada Aslan, "Kalau gitu, nama gue siapa."


Aslan mendengus, dia bergumam, "Gak penting."


"Ishhh, lo tinggal jawab apa susahnya sieh, supaya gue yakin lo gak hilang ingatan, secarakan tuh kepala lo yang luka."


"Gue gak hilang ingatan sedikitpun Alissa Ramadhani, kepala gue masih sehat wal'afiat meskipun terbentur cukup keras."


"Syukur kalau gitu." gumam Icha lega, buliran kristal bening lolos dari pelupuk matanya tanpa bisa dicegah, dia buru-buru menghapusnya.


"Lo nangis." Aslan bertanya heran, karna dia tahu Icha adalah tipe gadis tangguh yang jarang menangis.


"Gak." tepisnya, "Siapa yang nangis, orang gue cuma kelilipan doank."


"Udah kelihatan jelas gitu masih aja ngeles, lagian nangisin sahabat sendiri adalah hal yang wajar."


"Hiks hiks." oke sekarang Icha tidak menyembunyikan suara isakannya lagi.


"Sudahh, jangan nangis lagi." bujuk Aslan.


"Habisnya lo bikin gue khawatir."

__ADS_1


"Jadi terharu gue lo nangis gara-gara gue, berarti gue orang yang penting donk buat lo."


"Hmmmm, jelas lo orang terpenting dalam hidup gue."


"Wahhh, gue jadi tersanjung nieh."


"Makanya, jangan kecelakaan lagi, jangan bikin orang khawatir, lo gak tahu apa, gue kayak mau mati saat denger kalau lo kecelakaan."


"Gue beginikan gara-gara lo, ngilang tanpa kabar, ponsel dimatiin lagi, bikin orang khawatir aja."


"Ya maaf, lain kali gue akan ngabarin lo." air mata Icha masih mengalir.


"Jangan nangis lagi, mata lo jadi bengkak, lubang hidung lo jadi gede, jelek tahu." ledek Aslan.


"Ishhh." reflek Icha memukul lengan Aslan.


"Akhhhh."


"Astagaa, maaf maaf." Icha langsung mengelus lengan Aslan yang kena tabok.


"Sakit begini masih saja gue kena tabok."


"Tapi kalau seandainya gue mati gimana, lo sedih gak." Aslan iseng nanya untuk mengetahui respon Icha.


Icha malah nangis sesenggukan menanggapi ucapan Aslan, Aslan jelas tidak menyangka pertanyaan isengnya akan membuat Icha menangis begini, dengan susah payah dia mencoba untuk duduk dan mencoba untuk meredakan tangis Icha, "Heyyy, kok malah nangis sieh." Aslan gak habis fikir, kenapa gadis kuat dan tengil ini jadi baperan begini


Icha menubruk tubuh Aslan dan memeluknya, Aslan terjengkang, tapi masih bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, "Astagaa, bisa gak dia pelan, gak tahu apa kena gesekan sedikit saja tubuh gue bakalan sakit." ujarnya Aslan dalam hati.


"Lo jangan bicara soal mati lagi, gue gak suka, lo tahukan gue udah kehilangan mama dan papa gue, sekarang gue gak mau kehilangan sahabat gue." Icha masih sesenggukan.


Aslan mengelus rambut Icha, "Iya maaf maaf, gue bercanda."


"Bercanda lo gak lucu."


****


Laskar berusaha mengejar Icha, tapi Icha seperti terbang karna sudah tidak terlihat, karna tidak tahu dimana kamar Aslan dirawat, dengan mengintip lewat kaca kecil ditiap pintu ruangan pasien Laskar berusaha mencari kebaradaan Icha dan Aslan, dan dia begitu senang ketika dikamar kesepuluh yang dia intip dia melihat orang yang dia cari, namun niatnya untuk masuk terhenti tatkala melihat intraksi dua orang tersebut, terlihat jelas Icha memeluk Aslan.

__ADS_1


"Jelas lo orang terpenting dalam hidup gue." kalimat itu tertangkap jelas diindra pendengarannya.


Laskar tersenyum tipis untuk menghalau rasa asing yang tiba-tiba mampir dihatinya, rasa asing yang bernama cemburu, "Mereka itu sahabat, tidak lebih, dan wajar saja Icha begitu khawatir dengan keadaan Aslan mengingat mereka sudah bersama sejak masih kecil, jadi Laskar, lo gak perlu cemburu oke." dia berusaha menyakinkan dirinya, "Lo orang terpenting dalam hidup gue, bagaimana dengan kalimat itu." ujarnya mengulangi kalimat yang diucapkan Icha, mau tidak mau Laskar memikirkan hal tersebut, lagi-lagi dia berusaha menepisnya dengan mengucapkan, "Yahh, wajar Icha berkata begitu karna Aslan segalanya bagi Icha, diakan yang selalu ada buat Icha dalam keadaan duka disaat orang tua Icha meninggal, sedangkan gue adalah orang baru dikenalnya, gue yakin, seiring dengan berjalannya waktu, gue pasti bakalan jadi orang terpenting dalam hidup Icha juga."


Disaat seperti itu, sebuah tangan menepuk pundaknya dari belakang, Laskar berbalik dan menemukan Lea yang ternyata menepuk pundaknya, "Laskarr, ngapain lo disini, kenapa lo gak masuk."


"Ehh Lea, iya nieh gue baru mau masuk, tapi gak enak, mereka sepertinya tidak ingin diganggu."


Lea melongok melewati bahu Laskar dan melihat dari kaca kecil dipintu Icha tengah memeluk Aslan, Lea tersenyum dan berkata, "Laskarr, lo gak perlu cemburu dengan intraksi mereka." ujar Lea seolah-olah mengerti isi hati Laskar, "Mereka murni sahabatan tanpa embel-embel apapun, mereka memang akrab dan saling peduli satu sama lain, gue juga dulu kadang berfikir mereka saling suka, tapi kenyataannya tidak." Lea menjelaskan karna dia mengenal Icha dan Aslan lebih lama ketimbang Laskar, "Jadi Laskar, jangan berfikiran macam-macam oke."


"Gue gak berfikiran macam-macam kok, gue tahu Icha cintanya sama gue."


Lea tersenyum, "Yuk masuk." menarik kenop pintu dan mendorongnya.


Icha melihat kedatangan Lea dan Laskar, dia melepaskan pelukannya dan mengalihkan perhatiannya pada pendatang tersebut.


"Wah wah, Alissa Ramadhani, jangan meluk pacar gue semesra itu, ntar gue salam paham lagi."


Icha memandang Aslan dan Lea bergantian begitu mendengar clotehan Lea, "Pacar." ulangnya, "Maksud lo." jari telunjuknya diarahkan pada Aslan dan kemudian Lea, "Kalian...."


Lea tersenyum, terlihat jelas kalau dia saat ini tengah bahagia, "Iya, gue dan Aslan sudah resmi pacaran." dia mengumumkan.


Informasi itu tentu saja tidak serta merta membuat Icha percaya begitu saja, "Kapan, kok tiba-tiba begini." karna setahu Icha, Lea berencana menembak Aslan ketika hari ulang tahunnya, dan itu masih satu minggu lagi, dan sekarang tahu-tahunya mereka udah jadian saja.


"Lan, beneran lo jadian sama Lea."


Aslan tersenyum tipis dan memberikan anggukan.


Karna Aslan bukan tipe orang yang suka bercanda, meskipun sulit dipercaya, tapi anggukan singkat Aslan meruntuhkan rasa tidak percaya Icha, "Kalian serius, astaga, ya ampun." hebohnya satu detik kemudian, Icha mendekati Lea dan memeluknya, "Akhirnya." gumamnya ditelinga Lea karna mengetahui bagaimana perjuangan Lea.


Laskar yang berada disamping Aslan menepuk pundak Aslan, "Selamat bro."


Dan untuk pertamakalinya Aslan bersikap bersahabat pada Laskar, "Thanks."


"Jangan lupa pajak jadiannya."


"Itu menyusul kalau gue sembuh."

__ADS_1


****


__ADS_2