
Sama seperti Icha, Aslan juga gak mau berdansa, namun apa dayanya ketika Lea memaksa dan merengek, akhirnya dengan terpaksa dia menuruti keinginan Lea.
Dilantai dansa, Lea dengan semangat memberi intruksi pada Aslan, "Taruh tangan kamu dipinggang aku Lan."
Lagi lagi tanpa bisa membantah Aslan melakukannya, Lea kemudian meletakkan tangannya dibahu Aslan, berada diposisi sedekat ini membuat Lea bahagia, "Beruntungnya gue mendapatkan Aslan." gumamnya dalam hati.
Musik mengalun diiringi oleh suara merdu penyanyi papan atas yang tengah naik daun.
Disisi lain, Icha dan Laskar juga mulai mengikuti irama lagu yang mengalun, sejak turun ke lantai dansa, Icha tidak mau menatap Laskar, matanya terus dialihkan kearah lain.
"Cha, jangan kayak gini donk." Laskar berusaha untuk mengajak Icha bicara.
Karna memang gak bisa berdansa Icha entah disengaja atau tidak berulangkali menginjak kaki Laskar yang berhasil membuat Laskar meringis.
"Kayak gini gimana maksud kamu." ketus Icha masih tidak mau menatap mata Laskar.
Laskar menghela nafas, "Jangan kayak anak kecil Cha, semua yang kamu lihat hanya salah paham, aku bisa jelasin."
"Salah paham gimana, udah jelas-jelas kamu bermesraan dengan mantan kamu, itu yang kamu sebut salah paham."
Suara musik membuat perdebatan mereka tidak bisa didengar oleh orang lain.
"Itu tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Ohh, terus yang seperti apa yang seharusnya aku bayangkan." ucap Icha menyebalkan.
"Cha, aku dan Diana gak ada apa-apa, dia hanya mantan gak lebih, aku hanya cinta sama kamu." Laskar berusaha menyakinkan.
"Cinta, makan tuh cinta." desis Icha.
Laskar terlihat putus asa, gak tahu harus menjelaskan seperti apa lagi mengingat sifat Icha yang sama sekali tidak mau mendengarkan pembelaannya.
Sayangnya, sebelum masalah kedua insan yang tengah berselisih paham tersebut bisa diselsaikan, musik berganti yang membuat pasangan dansa harus berganti, dan kebetulan pasangan yang ada didekat mereka saat ini adalah Aslan dan Lea sehingga mereka saling menukar pasangan masing-masing.
Begitu berhadapan, Icha dan Aslan saling mentertawakan diri satu sama lain, mentertawakan diri mereka yang tidak bisa berdansa, tapi untuk menyenangkan Lea mereka terpaksa melakukannya.
Aslan meletakkan tangannya dipinggang Icha dan menarik pinggangnya membuat tubuh Icha merapat pada tubuh Aslan, mata mereka saling beradu satu sama lain, dengan posisi seintim ini membuat jantung Icha berdetak tidak terkendali, tubuhnyapun gemetar dengan sikap mesra Aslan, apalagi manik mata Aslan memandangnya dengan lembut membuatnya gemetar dan meleleh disaat bersamaan.
"Kok gue jadi gemetar gini sieh."
"Rilek Cha, jangan tegang begitu." bisik Aslan karna merasakan getaran tubuh Icha.
Icha berusaha membuat tubuhnya serilek mungkin dalam dekapan Aslan.
"Letakkan tangan lo dibahu gue." Aslan memberi intruksi, Icha hanya menurut dengan patuh.
"Oke, Alissa Ramadhani mari kita lakukan." ujar Aslan begitu musik kembali mengalun.
Karna tidak bisa berkata-kata, Icha hanya mengangguk.
Mereka berdansa mengikuti irama musik melow yang mengalun diseantero ruangan, beberapa kali Icha juga menginjak kaki Aslan, "Untung lo gak pakai sepatu hak, kalau iya, bisa dipastikan kaki gue bakalan lecet."
"Maaf." gumam Icha menunduk malu.
"Kalau lo malu kayak gini, lo seperti cewek pada umumnya." bisik Aslan yang membuat Icha mendongak dan menemukan Aslan tersenyum jail, namun tatapan matanya begitu sangat lembut membuat Icha terbuai sehingga dia reflek menyandarkan kepalanya didada bidang Aslan.
__ADS_1
"Nyaman sekali." gumam Icha dalam hati, "Seandainya gue tidak telat menyadari perasaan gue, mungkin saat ini gue bisa bersama dengan Aslan, sayangnya, gue harus mengubur perasaan gue karna Aslan sekarang milik Lea."
Dan entah menghayati atau bagaimana, dan sampai ketika musik berhenti, mereka masih saling belum melepaskan satu sama lain sampai Lea datang memisahkan mereka.
"Untungnya kalian sahabatan, kalau gak, bisa dipastikan gue cemburu buta melihat kalian yang terlihat begitu mesra." ujar Lea bercanda sekaligus menyadarkan kedua insan tersebut.
Icha langsung melepas rangkulannya, dan tersenyum canggung, begitupun dengan Aslan.
****
Gue bosan, balik yuk.
Mendengar pesan masuk, Icha melihat ponselnya untuk mengetahui siapa sik pengirim pesan yang tidak lain adalah Aslan, gak heran Aslan bosan mengingat Aslan tidak suka keramaian.
Lea bisa ngambek kalau kita pulang duluan, tahu sendirikan pacar lo itu gimana.
Lo cari alasan yang membuat kita diizinkan pulang, sumpah pusing pala gue ditempat ramai seperti ini.
Alasan apaan
Pura-pura sakit atau gimana deh terserah. Aslan menyarankan.
Icha terlihat berfikir sesaat dan menemukan ide untuk segera pergi dari pesta Lea.
Dengan akting yang cukup meyakinkan Icha mendatangi Lea sambil memegang perutnya.
"Lo kenapa Cha." Lea bertanya, khawatir dia melihat sahabatnya itu yang kelihatan menahan sakit.
"Kayak gue lagi dapet deh Le, perut gue rasanya keram."
"Gue balik aja Le, gue istirahat dirumah saja." jelas dia gak maulah istirahat dikamar Lea, dia pura-pura sakitkan untuk mengelabui Lea agar dia bisa pulang cepat.
Aslan terlihat mendekat melihat intraksi Icha dan Lea.
"Lo kenapa Cha."
Lea yang menjawab, "Perut Icha keram, dapet dia."
Icha mengedipkan matanya sebagai sebuah kode, berharap Aslan mengerti kode yang diberikan, dan jelas saja Aslan mengerti karna dia yang memberi saran.
"Kasihan sekali, biar gue antar Icha pulang Le, agar dia istirahat dirumah."
"Tapi...."
"Akhh, sakit." ringis Icha pura-pura.
Jelas Lea enggan membiarkan Aslan pulang, diakan ingin Aslan menemaninya sampai pesta usia, tapi memang Lea bukan wanita egois, dia lebih mementingkan sahabatnya sendiri ketimbang dirinya sendiri.
"Ya sudah kalau gitu." ujarnya dengan tidak rela, "Mending lo istirahat dirumah saja Cha."
"Iya Le, maaf ya gue dan Aslan harus pulang duluan."
"Lan, tolong anterin Icha dengan selamat ya."
"Pasti."
__ADS_1
Aslan berjalan keluar dengan memapah Icha.
****
"Lann, gue merasa bersalah karna telah membohongi Lea." ujar Icha begitu mereka sudah duduk nyaman dimobil.
"Lo fikir gue gak, tapi mau gimana lagi, pala gue pusing, gue ingin cepat-cepat istirahat."
Aslan menjakankan mobilnya meninggalkan rumah besar Lea.
Gerimis turun perlahan menyapa bumi, dan gak butuh waktu lama, gerimis perlahan berubah menjadi bulir deras air hujan yang membasahi bumi, dan saat tidak menguntungkan seperti itu, tiba-tiba mobil Aslan mogok ditengah jalan.
"Akhh, brengsek, pakai mogok lagi." umpat Aslan memukul stir.
"Kok bisa mogok Lan."
"Mana gue tahu."
"Lo tunggu disini, biar gue periksa."
"Tapi diluar hujan Lan, lo bisa basah."
"Habis mau gimana, masak iya kita tetap disini sampai nunggu huja reda." Aslan keluar berjalan kedepan dan membuka kap mobil untuk mencari tahu penyebab mobilnya bisa mogok.
"Gue rasa ini karma karna telah membohongi Lea." gumam Icha melihat Aslan yang kini basah kuyup.
Gak tega membiarkan Aslan sendirian diluar, Ichapun keluar dengan membawa jaket Aslan yang tadi dilepasnya, Icha berniat menaungi Aslan dengan jaket tersebut.
Aslan mendongak menyadari kepalanya tidak lagi merasakan air hujan mendarat dikepalanya.
"Apa yang lo lakukan." tanya Aslan gusar melihat itu adalah perbuatan Icha, dia hanya gak mau Icha nantinya sakit kalau kehujanan.
"Naungin lo supaya gak basah."
"Gak perlu, mending lo masuk gieh, sebelum lo basah kuyup."
"Gak mau, gue mau disini nemenin lo." Icha ngotot.
"Ntar lo sakit."
"Gak akan."
Karna keras kepala membuat Aslan membiarkan Icha melakukan apa yang dia inginkan, sampai beberapa saat kemudian Icha menurunkan tangannya yang dari tadi membawa jaket yang menaungi dirinya dan Aslan. Dia mendongak membiarkan air hujan membasahi wajahnya.
"Apa yang lo lakukan." heran Aslan melihat tingkah Icha.
Icha meraih tangan Aslan dan menariknya sedikit menjauh dari mobil, "Bukannya ini seru, main hujan-hujanan, jadi inget waktu kecil dulu deh."
"Akhh, benar juga, sudah sangat lama ternyata, sekarang kita sudah besar." Aslan mengikuti apa yang dilakukan oleh Icha, memejamkan matanya menikmati guyuran air hujan membasahi kulit putihnya.
"Aslann." panggil Icha.
Aslan tidak menyahut.
"Gue suka sama lo." ujar Icha tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya, entah dari mana keberaniannya, yang jelas dia tidak ingin memendam perasaanya karna itu membuatnya merasa tersiksa.
__ADS_1
***