Cinderela Modern

Cinderela Modern
ROOFTOP


__ADS_3

Temuin gue dirooftop


Begitu membaca pesan yang dikirim oleh Aslan tersebut, Icha bergegas membereskan alat tulisnya, dan langsung berjalan keluar.


"Mau kemana, buru-buru amet." Lea bertanya.


"Mmm, toilet Le, gue kebelet bohongnya, kembali ngacir, takut kaLau Lea mengekorinya.


Diroftop, Icha menemukan Aslan tengah berdiri dipinggir roftop sambil berpegangan pada besi pembatas.


"Ekhemm."


Deheman itu membuat Aslan melirik kearah sumber suara.


"Ada apa." tanya Icha ketus, masih kesel dia mengingat adegan tadi pagi saat Lea nemplok-nemplok sama Aslan.


"Kenapa masih ketus."


"Siapa yang ketus coba."


"Ya kamulah, gak ngerasa ya."


"Gak kok, aku biasa aja."


"Hmmm."


Mereka diam sesaat menikmati hembusan angin yang menerpa wajah mereka.


"Jadi gimana."


"Gimana apa."


"Masalah kamu dengan Laskar udah clear, udah clear pastinya mengingat tadi pagi sampai peluk-pelukan segala ditempat umum, serasa dunia milik berdua yang lain cuma dianggap batu." Aslan mengungkit kejadian tadi pagi, disinikan bukan hanya Icha yang cemburu, dia juga keles.


"Hanya salah paham doank." jawab Icha santai tidak peka dia kalau Aslan tengah cemburu.


"Kamu seneng ya dipeluk-peluk begitu." Aslan tidak melepaskan topik awal.


Icha dengan cepat memutar lehernya kearah Aslan, "Ini maksudnya apa."


"Bisa gak jangan mesra-mesraan gitu ditempat umum, gak tahu malu banget."


"Gak jelas deh, kamu sendiri apa namanya, nempel-nempel kayak perangko sama Lea."


Aslan diem dia gak punya kata-kata untuk membalas kalimat Icha.


Mereka kembali saling diem-dieman.


Kebisuan tersebut terpecahkan oleh suara deringan ponsel milik Aslan.


Aslan terlihat ragu menjawab panggilan.


"Dari siapa, Lea ya." tanya Icha.

__ADS_1


Aslan mengangguk, "Kenapa gak diangkat, ntar dia ngambek lagi kalau diabaikan."


"Biarin aja, palingan juga Lea mau nanyain aku dimana."


"Angkat Aslan." paksa Icha.


Aslan kemudian menggeser simbol telpon untuk menjawab panggilan, dari seberang terdengar suara manja Lea.


"Aslann, kamu dimana, aku cariin diperpus gak ada."


Aslan menoleh ke arah Icha sebelum menjawab pertanyaan Lea, "Emang ada apa Le."


"Aku ingin makan sama kamu."


"Aku lagi sama anak-anak lainnya tengah pembekalan menghadapi lomba sains." bohongnya.


"Ohh, ya udah deh." suara Lea terdengar tidak bersemangat.


"Ya udah yah Le gue tutup, gak enak sama yang lain."


"Semangat ya Lan."


"Iya."


Sambunganpun terputus.


"Sampai kapan kita terus kayak gini Lan, aku gak tega sama Lea dan juga Laskar, mereka adalah dua orang yang sama-sama menyayangi kita, tapi kita malah menghianati mereka." lirih Icha begitu Aslan memutus sambungan.


"Salahin diri kamu Cha, kenapa kamu telat menyadari perasaan kamu ke aku, kalau sejak dulu kamu mengakuinya, mungkin kita tidak perlu menghadapi situasi seperti ini."


Aslan meraih tangan Icha, mereka saling menatap satu sama lain, "Kita akan cari waktu yang pas untuk memberitahu mereka, dan aku yakin mereka pasti akan mengerti kalau kita saling mencintai."


Icha menubrukkan tubuhnya memeluk Aslan, tempat yang paling nyaman saat dirinya dipenuhi beban fikiran seperti ini, "Aku merasa sangat bersalah Lan."


"Kamu fikir aku gak."


"Lea pasti akan membenci aku kalau tahu sahabatnya sendiri selingkuh dengan pacar yang sangat dia cintai."


Dua remaja itu berada dalam dilema, terutama Icha, merelakan Aslan untuk Lea tentu saja akan membuatnya tersiksa dan tertekan, namun menjalin hubungan diam-diam seperti ini juga membuatnya merasa sangat bersalah.


***


Dikantin.


"Denger-denger, neng Lea katanya udah jadian ya sama mas Aslan." mbak Dijah bertanya ketika Lea memesan bakso padanya.


Lea tersenyum sebelum menjawab, "Iya mbak."


"Wahh, selamat ya neng Lea, semoga hubungannya langgeng." doa mbak Dijah tulus.


"Makasih mbak."


Lea berjalan membawa nampan berisi semangkuk bakso dan segelas es teh yang dipesannya mencari bangku kosong, ketika dia tengah jalan, dari arah berlawanan, Athena yang sangat kesal dengan Lea karna pacaran dengan Aslan dengan sengaja menabrak bahu Lea, hal tersebut membuat nampan yang dipegangnya oleng, gak sampai jatuh memang, tapi hal tersebut menyebabkan kuah bakso yang masih panas mengenai kulit tangannya.

__ADS_1


"Awww." Lea mendesis menahan panas.


Athena tersenyum sinis, "Upss, sorry gak sengaja." ujarnya tanpa rasa bersalah langsung pergi begitu saja.


Namun baru saja dia melangkah, lengannya ditarik oleh seseorang sehingga membuat tubuhnya kembali berputar.


"Laskar, apa-apaan sieh lo." desis Athena marah mengetahui siapa yang menarik lengannya.


Athena menepis tangan Laskar, sayangnya cengkraman tangan Laskar terlalu kuat sehingga Athena tidak bisa menyingkirkan tangan Laskar begitu saja dengan mudah.


"Tanggung jawab lo, enak saja main pergi setelah membuat tangan Lea melepuh." desis Laskar terlihat marah, sejak tadi Laskar memperhatikan apa yang terjadi, Athena secara sengaja menabrak Lea.


"Tanggung jawab apaan sieh, guekan gak sengaja, lagian juga gue udah minta maaf."


"Lo fikir semuanya bisa diselsaikan dengan minta maaf, kalau maaf berlaku, buat apa ada yang namanya penjara."


"Udah Las gak apa-apa, lagian gue baik-baik saja kok." seperti biasa, Lea yang baik hati selalu bilang gak apa-apa, padahal sejak tadi dia menahan rasa panas yang membakar kulit.


"Tuh lo dengar, Lea gak apa-apa." Athena kembali menepis tangan Laskar.


"Gak apa-apa gimana, itu tangan lo sampai memerah gitu, nieh cewek harus tanggung jawab."


"Tapi beneran ini gak apa-apa, kasih salep pasti sembuh." emang Lea dasar orangnya baik.


Karna sang korban merasa baik-baik saja, jadinya Laskar dengan berat hati melepaskan cengkramannya dilengan Athena, Athena menggosok-gosok lengannya yang memerah saking kuatnya Laskar mencengkramnnya.


"Kali ini lo gue biarin lolos, tapi lain kali kalau gue lihat lo macam-macam lagi, gue laporin lo ke bu Dewi, biar dikeluarin lo dari sekolah." ancam Laskar.


Athena mendengus kasar sebelum pergi.


"Lo beneran gak apa-apa Le." Laskar kembali bertanya.


"Hanya sedikit panas saja sieh." sambil meniup tangannya setelah meletakkan nampan dimeja terdekat.


"Mending lo UKS Le, cari salep disana."


Lea mengangguk.


"Lo mau kamana Las." tanya Lea karna dilihatnya Laskar ikut berjalan disampingnya.


"Nemenin lo."


"Ehh, gak perlu, lagiankan gue udah bilang gak apa-apa."


"Udah gak usah protes." balas Laskar mengabaik ucapan Lea, dia malah menarik tangan Lea menuju UKS.


Di UKS, Laskar membantu Lea mengolesi salep diarea tangan Lea yang memerah.


"Icha beruntung punya pacar sebaik lo." gumam Lea sambil memperhatikan tangan Laskar yang mengolesi salep ditangannya.


"Apa karna gue ngebantuin lo ngolesin nieh salep sehingga lo bilang gue baik."


"Mmm, salah satunya sieh iya

__ADS_1


"Lo itu terlalu baperan Le, baru ngolesin salep aja lo bilang baik."


***


__ADS_2