Cinderela Modern

Cinderela Modern
DIKEJAR MUSUH


__ADS_3

Icha dan Laskar baru tiba dipantai asuhan, Aslan dan Lea sudah sejak tadi menunggu mereka.


"Kemana aja, lama amet." Lea langsung mengajukan pertanyaan begitu Icha menghampirinya.


"Mampir dulu ditoko beli oleh-oleh buat anak-anak panti."


Icha mengangkat dua plastik besar yang dijinjing oleh masing-masing tangannya yang berisi permen, kue, coklat dan masih banyak yang lainnya sebagai oleh-oleh untuk anak-anak panti, Mereka mampir ditoko dalam perjalanan menuju panti, tentunya yang membeli itu semua adalah Laskar.


"Sorry ya, lama." seru Laskar minta maaf.


"Gak apa-apa, anak-anak panti pasti seneng jika lihat apa yang lo bawain untuk mereka." ucap Lea setelah tahu penyebab mereka baru nyampai dipanti.


Sedangkan Aslan, tanpa mengatakan sepatah katapun langsung mengambil alih beban yang dibawa oleh Icha.


"Makasih Aslan." Icha mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa pegal.


Laskar meraih telapak tangan Icha dan memijit-mijitnya, "Tangan lo pegal ya, sini gue pijitin, sorry ya gue suruh lo bawa beban seberat itu, lain kali gue bawa mobil deh kalau ada acara kayak gini."


Aslan memandang tajam ke arah tangan Icha yang di pegang oleh Laskar.


"Pegal sieh sedikit, tapi gak apa-apa demi anak panti gue ikhlas." Icha tersenyum tulus.


Lea yang melihat perlakuan Laskar terhadap Icha menduga-duga, "Laskar perhatian banget sama Icha, apa Laskar suka ya sama Icha." bertanya dalam hati, "Tatapannya juga lembut banget, gue jadi ingin deh ditatap begitu oleh Aslan."


"Mau sampai kapan disini, tangan gue juga udah pegal nieh." terdengar suara dingin Aslan protes.


"Ayok masuk." ajak Lea.


Icha menarik tangannya dari tangan Laskar, " Kalau masih pegal ntar gue pijitin lagi deh, atau ntar gue suruh tukang pijit langganan gue buat mijitin."


"Apaan sieh lo, lebay, cuma begini doank pakai panggil tukang pijit."


"Benar juga, lokan wanita tangguh." ledek Laskar.


Icha mencibir.


Laskar tersenyum manis kepada Icha sebelum berjalan menyongsong Aslan, "Sini gue bawa satu, gue malas kalau harus mijit tangan lo juga, ntar orang jadi salah paham lagi dikiranya gue suka sama lo." Laskar berusaha mengajak Aslan bercanda, tapi Aslan sepertinya tidak tertarik tuh untuk bercanda, buktinya wajahnya masam mendengar guyonan Laskar.


"Gak lucu." ujarnya ketus.


"Sorry Lan, gue bercanda, habisnya muka lo masem amet, senyum dikit kek."


"Bukan urusan lo." berjalan mendahului Laskar.


Laskar menggeleng, heran dia, kok Icha betah gitu temenan sama cowok datar, kaku dan gak punya selera humor sama sekali seperti Laskar, yang tambah bikin Laskar heran, meskipun Aslan bentukannya begitu, banyak banget cewek yang suka sama dia, kalau dia jadi cewek sieh ogah, apa serunya pacaran sama kanebo kering kayak Aslan.


****


Anak-anak panti begitu gembira menerima oleh-oleh yang dibawa oleh Laskar, mereka pada berebut untuk mengambil permen, coklat dan kue-kue, untungnya, bu Fatimah pengurus panti datang dan meminta anak-anak itu untuk tertib sementara dia membagikannya.


Icha permisi ketoilet, Lea juga ikut-ikutan, kalau Icha ketoilet karna murni kebelet pipis, kalau Lea karna ingin berbicara dengan Icha.


"Gimana tadi, ada kemajuan gak." Icha bertanya sepanjang perjalanan menuju toilet.


"Kemajuan apaan sieh Cha, yang ada gue grogi parah sampai ingin pipis didekat Aslan."


Icha malah tertawa, "Ya ampun Lea, lucu banget sieh lo, gitu aja grogi, udah kayak bertemu presiden aja."


"Jangan ngeledek deh kalau lo belum ngerasain yang namanya jatuh cinta, ntar lo juga bakalan kayak gue, jangan kan ngomong, bergerak aja lo gak bisa didepan orang yang lo sukai."


"Gue pastikan gak bakalan, emang gue kayak lo."


"Lihat saja nanti."


"Padahal tadi itu gue sengaja nebeng sama Laskar biar lo bisa punya kesempatan melakukan pendekatan sama Aslan, ini lo malah sibuk grogi, sia-sia deh usaha gue."


"Maka dari itu Cha, nanti balik dari sini lo barengan gue aja dimobil Aslan."


"Ya gaklah, lokan minta sama gue buat ngedekatin elo sama Aslan, ya ini telah gue lakuin, pokoknya gue gak mau tahu Le, kali ini lo harus bisa ngelawan rasa grogi lo itu." tandas Icha.


Lea menghembuskan nafas berat, fikirnya Icha benar, kalau dia ingin mendapatkan Aslan dia kudu berusaha, dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan sifat groginya jika berhadapan dengan Aslan, iya dia berjanji akan melakukan hal itu.


"Fighting Lea." menyemangati diri sendiri.


****

__ADS_1


Dan seperti yang telah direncanakan, setelah pulang dari pantai asuhan, mereka akan pergi ketempat karoeke untuk bersenang-senang, karna Laskar membawa motornya dengan kecepatan tinggi sehingga mereka sampai lebih dulu ditempat tujuan, sedangkan Aslan yang merupakan tipe warga negara yang baik dan patuh hukum yang selalu mentaati peraturan lalu lintas masih belum sampai karna lebih mementingkan keselamatan dengan membawa mobilnya dengan kecepatan sedang.


Begitu turun dari motor Laskar, Icha mengeluarkan ponselnya untuk menanyakan keberaan Lea dan Aslan.


"Le, lo dimana, kami udah sampai nieh."


"Masih dijalan Cha."


"Elaah lama amet, kalau gitu kami nunggunya didalam deh ya."


"Iya."


"Mereka dimana." Laskar bertanya ketika dilihatnya Icha menurunkan ponsel dari telinganya.


"Masih dijalan, mending kita nunggunya didalam aja."


Laskar menyetujui, mereka berjalan kegedung karoekean, namun, dalam perjalanan menuju pintu masuk, mereka berpapasan dengan musuh bebuyutan mereka, siapa lagi kalau bukan anak-anak SMA TUNAS HARAPAN yang baru keluar dari gedung itu, sepertinya mereka juga habis karokean.


Icha dan Laskar langsung menghentikan langkah kaki mereka, menyadari bahaya ada didepan mereka, "Anjirrr, kenapa bisa ketemu anak SMA TUNAS HARAPAN disini, bener-bener waktu yang tidak tepat." rutuk Icha dalam hati karna anak-anak itu memandangnya seolah pandangannya menyiratkan kalau ini waktu yang tepat untuk mereka balas dendam.


Meskipun dia dan Laskar jago dalam berkelahi, tapi mereka jelas kalah jumlah dan berpotensi membuat mereka babak belur kalau sampai mereka berkelahi, luka yang kemarin aja belum kering.


"Wah wah wah, coba lihat siapa yang kita temui, Alissa Ramadhani sang singa betina SMA PERTIWI, suatu kebetulan yang sangat menguntungkan." Sueb tersenyum sinis ke arah Icha dan Laskar, "Dan anggota barunya, kemampuan lo boleh juga ternyata, gak gue sangka lo bisa menumbangkan Rio algojo SMA TUNAS BANGSA."


Rio adalah anak Tunas Bangsa yang ditumbangkan oleh Laskar dan sekarang masih dirawat dirumah sakit karna ada beberapa tulangnya yang patah.


Laskar tersenyum meremehkan, "Yang begitu lo angkat sebagai algojo, dasar payah, sepuluh cowok model begituan bisa gue tumbangin hanya dalam waktu satu menit." jelas ini bohong, jangankan sepuluh, tujuh orang dihadapannya saat ini saja pasti gak bisa dia hadapi, tapi itu cara yang dilakukan Laskar dengan bersikap santai didepan Sueb and genk.


Salah satu teman Sueb menimpali, "Buseett, sombong amet dia bos, sikat aja langsung."


"Bakalan diganyang kita." dumel Icha dalam hati, "Sik Laskar nieh, bisa gak sieh dia menempatkan kesombongannya ditempat yang tepat."


"Baiklah, mari kita buktikan omongan besar lo." Sueb dan teman-temannya bersiap-siap untuk melakukan penyerangan.


"Lo bisa numbangin mereka sendirian." bisik Icha.


"Gaklah, gila lo, guekan bukan Dewa."


"Anjirr, kenapa lo menyombongkan diri barusan."


"Sialan memang lo." jelas Icha dongkol, disaat menghadapi bahaya begini Laskar masih saja menyombongkan diri, "Terus gimana nieh, kita gak mungkin bisa ngalahin mereka."


"Lo tenang Cha, jangan panik, justru itu akan membuat mereka merasa diatas angin, pokoknya serahin ke gue, ikuti aba-aba gue."


"Lo mau ngapain."


"Gak usah banyak tanya, ikutin aja aba-aba dari gue."


Icha mengangguk, entah kenapa dia percaya sama Laskar, "Satu, dua." Laskar menghitung.


"Lha, kenapa dia malah menghitung, jangan-jangan dia mau...."


"Tiga." dihitungan terakhir, Laskar langsung menarik tangan Icha, "Lari Cha."


"Woee sialan, jangan lari lo."


Sueb and genk tidak tinggal diam, mereka langung mengejar Icha dan Laskar.


"Gaya gayaan, ujung-ujungnya lari juga." ditengah aktifitas lari dalam upaya menyelamatkan diri, Icha sempat-sempatnya mengeluarkan kekesalannya.


"Gak usah banyak komen, saat ini fokus saja menyelamatkan diri, gue gak mau wajah cakep gue bonyok lagi, ntar gue gak laku lagi." sempat-sempatnya narsis.


Sesekali mereka menoleh kebelakang untuk mengetahui sejauh mana jarak sang musuh, ternyata mereka tidak terlalu jauh, "Mereka dibelakang kita."


Kaki Icha yang dilapisi keds terantuk batu yang menyebabkan dia terjatuh.


"Awww." lututnya terasa perih karna tergores aspal.


"Cha, lo gak kenapa-napa."


Icha langsung berdiri mengabaikan rasa perih dikedua lututnya, "Gak apa-apa, yuk cepatan sebelum mereka nangkep kita."


Mereka kembali berlari masih dengan berpegangan tangan.


"Woee berhenti lo." Sueb berteriak.

__ADS_1


Laskar melihat sebuah pohon yang cukup besar, sebuah tempat yang cukup aman untuk sembunyi, Aslan menarik Icha kesana dan memepetnya sehingga punggung Icha menabarak pohon tersebut, Aslan berdiri didepan Icha, posisi mereka begitu sangat dekat, sementara tangannya mengunci Icha, hal ini dilakukan supaya tubuh mereka tidak kelihatan, kalau diperhatikan posisi mereka persis kayak orang yang sedang berciuman saking dekatnya, jarak mereka hanya beberapa centi saja, bahkan ujung hidung mereka bersentuhan.


Icha rasanya gak bisa bernafas, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya, hal ini dipengaruhi oleh kedekatan mereka, untuk pertama kalinya Icha bisa melihat wajah Laskar dari jarak sedekat ini, bahkan bibirnya hampir mencium pipi Laskar, Laskar berulang kali melongok untuk melihat apakah mereka sudah aman,


"Jantung gue, apa yang terjadi dengan jantung gue." Ingin rasanya Icha meletakkan tangannya didada untuk menenangkan jantungnya yang bertalu-talu, selain itu juga dia gak mau Laskar mendengar detak jantungnya.


"Laskar gue...."


"Sstttt." Laskar langsung meletakkan jarinya dibibir Icha sebagai sebuah pertanda kalau saat ini posisi mereka belum aman, wajah Icha terasa panas, dia menunduk tidak ingin berlama-lama bertatapan dengan mata tajam Laskar.


Lima menit berlalu, ketika dirasa semuanya aman, barulah Laskar menjauh, Icha bisa menarik udara sebanyak-banyaknya untuk kesehatan paru-parunya, dia begitu lega, dia hampir mati barusan. Tubuhnya tiba-tiba ambruk, jatuh ketanah.


"Cha." panik Laskar membantu Icha berdiri, namun Icha kembali limbung, "Lutut gue." beritahunya sambil memegang lututnya yang terluka akibat jatuh tadi.


"Lutut lo sakit ya."


"Iya,tadinya gak sakit, tapi sekarang sakit."


"Kita obatin lutut lo dulu, ayok gue bantuin." Laskar akan memapah Icha, namun deringan ponsel milik Icha menghentikannya, dia mendudukkan Icha dikursi kayu pinggir trotoar, "Angkat dulu."


Yang menelpon Icha adalah Aslan, terdengar suara khawatir dari seberang ketika Icha menjawab panggilan.


"Lo dimana." brondong Aslan sebelum sempat Icha buka suara.


"Tadi gue sama Laskar ketemu sama anak-anak SMA TUNAS HARAPAN didepan tempat karoekan, dan mereka berniat nyerang kami, karna kalah jumlah makanya gue dan Laskar berlari menyelamatka diri." lapor Icha.


"Terus gimana sekarang, lo gak berantemkan sama mereka, lo selamatkan, lo baik-baik sajakan, lo dimana sekarang." berita yang Icha sampaikan sukses membuat Aslan panik level tinggi yang membuatnya membrondongnya dengan berbagai pertanyaan.


"Tenang aja kami baik-baik saja, gak perlu khwatir berlebihan gitu." Icha tidak memberitahu Aslan kalau dia jatuh, dia gak mau aja membuat Aslan semakin mengkhawatirkannya.


"Gue susulin lo ya, lo dimana sekarang."


"E e eh." Icha buru-buru menolak, "Gak perlu Lan, lagian ada Laskar ini, yang perlu lo lakuin saat ini adalah temenin Lea oke, dan anterin dia pulang, oke Lan."


"Oke deh, tapi beneran lo baik-baik sajakan." Aslan memastikan.


"Iya Aslan, gue baik-baik saja."


Dan sambunganpun terputus.


"Sebaiknya kita cari apotik terdekat dan obatin luka lo." saran Laskar begitu Icha selesai menelpon.


"Gak perlulah, gue ngobatinnya dirumah saja."


"Jangan membantah, gue gak mau disalahin Aslan gara-gara kejadian ini."


"Aslan gak bakalan nyalahin lo."


"Mau dia nyalahin gue atau gak, pokoknya saat ini lo harus ngobatin luka lo." Laskar kemudian berjongkok dengan punggung menghadap Icha.


Icha yang keheranan bertanya, "Mau ngapain lo."


"Gendong lo, lutut lokan sakit."


"Eh, gak perlu, masih bisa jalan kok gue."


"Hampir jatuh itu lo yang lo anggep bisa jalan, ayok udah naik."


"Gue berat lho."


"Gak seberat anak gajahkan."


"Ya gaklah."


"Ya udah naik."


"Gue bisa berbuat apa kalau lo maksa." Icha mengalungkan tangannya keleher Aslan.


"Ternyata lo...."


Icha memukul pundak Aslan, "Kan gue udah bilang gue berat."


"Gue mau bilang ternyata lo tidak seberat yang gue bayangkan."


****

__ADS_1


__ADS_2