
"Makasih ya Aslan karna udah anterin aku." lirih Lea begitu Aslan sudah mengantarnya sampai rumah.
"Gak masalah Le, kalau gitu gue dan Athena pamit dulu."
"Kamu gak mau mampir dulu Lan." ajak Lea.
Athena yang menjawab, "Heh Lea, gue peringatkan ya sama lo, Aslan itu pacar gue, jadi lo jangan coba-coba ya ngegoda dia." ketus Athena.
Lea menunduk, diakan murni ngajakin Aslan mampir, bukan punya niatan menggoda Aslan meskipun dia suka sama Aslan.
"Na, jaga sikapmu." peringat Aslan tidak suka membuat Athena jadi cembrut.
Aslan tersenyum ke arah Lea, "Le, maaf ya atas sikap Athena barusan."
"Ya Lan, gak apa-apa."
"Kalau gitu gue pergi dulu." pamit Aslan kedua kalinya
"Oh, ya udah kalau gitu, hati-hati ya Aslan."
Aslan hanya memberi senyuman sebagai balasan sebelum menjalankan mobilnya menjauh dari rumah Lea, sejak Icha memberitahunya kalau Icha bakalan ikut ambil bagian sebagai pahlawan tidak pada tempatnya alias tauran yang katanya demi menjaga nama baik sekolah, Aslan terus kepikiran Icha selama mengemudi, dia takut kalau Icha terluka, Athena yang berusaha mengajaknya bicara dicuekin, hal tersebut membuat Athena ngambek.
Setelah mengantarkan Athena sampai rumah, tanpa basa-basi Aslan langsung memacu mobilnya dengan kencang.
"Babyyy." teriak Athena, "Ihhh, menyebalkan banget sieh, ditinggalin gitu aja, pacar apaan dia." Athena menghentak-hentakkan kakinya, sumpah Athena kesel tingkat tinggi, sudah Aslan nyuekin dia habis-habisan, malah sekarang Aslan langsung pergi tanpa mengucapkan satu hurufpun, bener-bener bikin Athena darah tinggi.
"Kalau gak ganteng, keren, tinggi, pinter, kaya, udah gue putusin dia." geramnya.
****
Yahh, tujuan Aslan mana lagi kalau bukan untuk mencari tahu keadaan Icha dengan kembali ketempat terjadinya tauran, dia hanya berharap semoga Icha baik-baik saja.
Karna Aslan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga tidak butuh waktu lama untuk sampai di TKP, namun sayangnya tempat terjadinya tauran sudah sepi hanya menyisakan sisa bekas tauran.
Aslan bertambah khawatir, dia kembali memasuki mobil dan kembali memacu mobilnya, tujuannya kali ini adalah rumah sakit terdekat dari sekolahnya, fikirnya kalau ada yang terluka pasti dilarikan kesana. Dia berlari dilobi rumah sakit dan langsung mengajukan pertanyaan pada resepsionis.
"Mbak, apa ada korban tauran yang dibawa kerumah sakit ini."
Sik resepsionis terlihat bingung sebelum menjawab, "Korban tauran, gak ada mas."
"Masak gak ada sieh mbak, makanya cek dulu, jangan mengatakan tidak ada sebelum dicek donk." Aslan ngotot.
"Maaf mas, saya sejak tiga jam yang lalu disini, jadi tidak ada satupun korban tauran yang dibawa kerumah sakit ini, kalau orang akan melahirkan sieh ada."
Aslan menarik nafas lega, "Syukur deh, makasih ya mbak, maaf karna telah menggangu mbak."
"Emang ganggu tapi untung ganteng." dumel sik mbak resepsionis dalam hati.
__ADS_1
"Ichaa, lo dimana sekarang, apa lo sekarang sudah pulang."
****
Sementara itu, dirumah besarnya Lea tidak bisa tenang, dari tadi dia mondar mandir dikamarnya kayak setrikaan, dia khawatir dengan Icha, sejak tadi dia menghubungi nomer sahabatnya itu tapi tidak aktif.
"Apa Icha baik-baik saja gak ya, kok nomernya gak aktif gini, jadi khawatir gue" lirihnya, "Apa gue telpon Aslan saja kali ya, untuk nyari tahu keadaan Icha, iya gue telpon Aslan saja." putusnya.
Lea udah sering nelpon Aslan tapi pakai privite nomor hanya untuk mendengar Aslan bilang "Halo." doank dan kemudian dimatiin olehnya, katanya hanya mendengar suara Aslan saja bikin hatinya deg-degan, tapi kali ini dia nelpon Aslan untuk mengetahui keadaan Icha dan tidak menggunkan private nomor untuk menghubungi Aslan.
Pada deringan pertama panggilannya diangkat, kalau dalam keadaan normal Lea sudah pasti grogi, tapi kali ini rasa itu tertutupi oleh rasa khawatirnya.
"Halo, siapa ini." terdengar suara Aslan dari seberang.
"Ini aku Lan, Lea."
"Oh lo Le, ada apa." Aslan terdengar kecewa karna fikirnya Icha yang nelpon.
"Apa Icha...."
Lea belum menyelsaikan kalimatnya, Aslan memotong, "Ini gue lagi dirumah sakit, nyari Icha, tapi..."
"Apa, Icha dirumah sakit, astaga, gimana keadaannya, gak parahkan lukanya Lan, Icha dirawat dirumah sakit mana, gue akan segera kesana." itulah kalau belum mendengar penjelasan orang sampai kelar, jadi bikin kesimpulan sendirikan Lea, pakai nangis-nangis segala lagi.
Mamanya yang kebetulan baru pulang arisan dan menemukan putri kesayangannya nangis-nangis dikamar sambil nelpon khawatir donk, dia dengan heboh bertanya, "Kenapa sayang, apa yang terjadi."
"Ada apa dengan Icha."
"Icha dirumah sakit, dia terluka parah digebukin." nah tuhkan, tambah ngaco, maklumin sajalah, orang khawatir dengar nama rumah sakit disebut-sebut fikirannya jadi negatif gitu.
Aslan ingin menjelaskan supaya tidak terjadi kesalahpahaman, tapi mana bisa kalau Lea udah heboh duluan, ditambah lagi mama Lea juga ikutan heboh.
"Astaga, siapa yang tega gebukin Icha, tega sekali, apa mama tirinya itu, mama gak bakalan tinggal diam, mama akan laporin mama tirinya kepolisi."
"Bukan ma, Icha tauran, ma mending kita kerumah sakit sekarang, kasihan Icha gak punya siapa-siapa."
"Iya sayang, ayok."
"Lea tanya dulu di rumah sakit mana Icha dirawat."
"Lan, Icha dirawat dirumah sakit mana, aku dan mama mau otw kesana."
Aslan mendesah berat, gini nieh jadinya kalau omongan orang main dipotong saja, jadi ngambil kesimpulan sendirikan, "Lea." Aslan menekankan suaranya, "Denger cerita gue sampai selesai, jangan main potong aja kayak tadi oke." perintahnya.
Lea otomatis mengangguk, meskipun anggukannya tidak terlihat oleh Aslan.
"Gue memang ke rumah sakit untuk mencari Icha, tapi Icha tidak ada dirumah sakit, gue gak tahu dia berada dimana sekarang." Aslan menjelaskan sejelas-jelasnya, dia yakin Lea bisa memahami ucapannya.
__ADS_1
"Jadi, Icha tidak dirumah sakit, Icha tidak terluka parah."
"Iya Lea."
"Syukur alhamdulillah ya Allah." memanjatakan rasa syukurnya, "Ma, Icha gak dirumah sakit, dia gak terluka parah." ngelapor sama mamanya.
"Syukurlah kalau gitu, dimana dia sekarang."
"Gak tahu ma."
"Le, gue tutup dulu ya telponnya, gue mau pulang sekalian mau lihat apa Icha sudah pulang atau belum." Aslan mengintrupsi.
"Eh, iya Lan. Lan, kabarin ya kalau Icha sudah dirumah."
"Oke."
****
Sementara itu, dikantor polisi, anak-anak badung yang terlibat tauran ditempatkan disebuah ruang khusus, Doni, polisi yang sering berurusan dengan masalah remaja kini tengah mengintrogasi anak-anak badung tersebut, bahkan saking seringnya bikin masalah, Doni jadi hafal nama anak-anak tersebut.
"Tauran lagi hah." ujar doni berjalan mondar-mandir didepan anak-anak itu sambil memperhatikan penampilan mereka yang pada babak belur.
"Apa sieh yang kalian dapatkan dari tauran, udah babak belur begini, merugikan orang lain, mau jadi apa kalian?."
"Jangan salahkan kami Don, salahin tuh sik Sueb yang hobi nyari gara-gara sama sekolah kami." itu merupakan kalimat dari Ari.
"Enak aja lo nyalahin gue." sik Sueb gak terima donk disalahkan, dia mencoba membela diri, "Ini gara-gara nenek moyang lo ya yang bikin masalah duluan." masa lalu jadi diungkit-ungkit.
"Diem kalian, tidak diluar, tidak dikantor polisi kalian hobinya berantem saja." bentak Doni, "Kamu juga Icha, kamu itu perempuan, tempat kamu dirumah, bukan malah ikutan tauran." nama Icha disebut secara khusus mengingat Icha satu-satunya perempuan.
"Emang kenapa kalau saya perempuan, Cut Nyak Dien aja perempuan, tapi ikutan perang melawan penjajah." tahu aja dia ngejawab.
"Jangan samakan dirimu dengan Cut Nyak Dien dengan kamu Icha, dia pahlawan, lha kamu berandalan."
"Ishhh, daripada lo perjakan butut, gak laku-laku." balas Icha tanpa suara.
"Saya akan nelpon guru BP kalian kemari, agar mereka tahu bagaimana kelakuan murid-murid mereka."
"Jangan donk pak." semuanya kompak.
"Gue rela bayar berapapun deh, asal jangan nelpon ibu Dewi, bisa langsung kedokter spesialis telinga gue kalau denger pidato kenegaraannya." sela Ari.
"Kecil-kecil kamu sudah main sogok-sogok segala, sayangnya saya polisi terhormat tidak menerima sogokan meskipun seratus rupiah sekalipun."
"Sok banget." dumel Ari tanpa suara.
****
__ADS_1