Cinderela Modern

Cinderela Modern
MAMA DAN PAPA KUCING


__ADS_3

Sebelum Laskar pergi, Icha berpesan padanya, "Jaga tuh kucing baik-baik, jangan sampai kenapa-kenapa, jangan biarkan dia kelaparan, gue mau ditumbuh sehat dan gendut."


"Siap nyonya, perintah dilaksanakan." balas Laskar dengan pose hormat.


"Bay sayang, baik-baik sama Laskar ya, jangan nakal-nakal, nanti mama akan ngunjungin kamu." pesan Icha pada sik kucing, seolah-olah berpesan pada anaknya.


"Kalau lo mamanya, gue jadi papanya donk." timpal Laskar otomatis.


"Lo cocoknya jadi pengasuhnya saja."


"Oke, jadi pengasuhnya juga gak apa-apa, tapi gajinya ciuman dari lo ya." goda Laskar.


Icha mengepalkan tangannya, "Nieh ciuman buat lo."


"Pelukan deh kalau gitu."


"Ihh, najis."


"Pelit amet sieh lo."


"Udah sana balik." usir Icha.


"Gue gak disuruh mampir dulu nieh."


"Udah sore banget, kapan-kapan deh lo mampirnya, mending cepat balik, sik kucing udah laper tuh, dari tadi ngeong-ngeong mulu, sampai rumah lo langsung kasih makan ya."


"Dia kayaknya haus Cha, mending lo kasih mimik dulu deh sebelum gue bawa pulang."


Wajah Icha seketika berubah menjadi merah kuning hijau kelabu mendengar ucapan ngasal Laskar, Laskar yang merasa berada dalam bahaya buru-buru berkata, "Eh, gue salah, dia lapar sepertinya ini, kalau gitu gue balik dulu ya, dahhh." pamitnya langsung ngacir, pasalnya Icha sudah siap memberikannya bogeman.


"Mama kamu pelit, minta cium gak boleh, minta peluk gak boleh."


Ngeong ngeong.


Sik kucing hanya mengeong untuk membalas kata-kata Laskar.


****


Ngeong ngeong.


Kucing yang dipungut oleh Icha dan Laskar terus mengeong dalam gendongan Laskar, dia kini sudah tiba dirumah setelah terlebih dahulu mengantar Icha pulang kerumah.


"Laskarrr, anak mama...." mama Bella yang dari tadi menyambut kepulangan anak kesayangannya langsung berhenti, mama Bella yang tadinya ingin memeluk putra semata wayangnya itu mengurungkan niatnya, dia melotot melihat penampilan putra semata wayangnya yang terlihat begitu kotor, apalagi Laskar membawa kucing kampung masuk kerumah mewah mereka.


"Mama, kapan pulang ma." ujar Laskar mendekati mamanya.


Ya maklum saja, mama Bella adalah perancang busana terkenal, yang membuka butik dibeberapa negara, dia lebih sangat jarang berada dirumah, makanya Laskar kaget melihat mamanya kini berada dirumah.


"Iuhhh, jauh jauh dari mama, kamu begitu sangat kotor." mama Bella mengibaskan tangannya.


"Itu juga." mama Bella menunjuk kucing yang berada dalam gendongan Laskar, "Kenapa kucing kampung dibawa-bawa masuk rumah sayang, ntar rumah kita jadi kotor lagi."


"Mama lebay banget, lagian nieh kucing udah dimandiin ma, udah bersih kok."


"Meskipun begitu Laskar, tetap saja itu kucing kampung, mama gak suka, kalau kamu mau melihara kucing, kamu bisa beli kucing imporkan, kamu beli satu kandangpun uang kita tidak akan berkurang."


"Ini lebih berharga dari kucing impor ma, pokoknya mama tenang saja deh, nieh kucing gak bakalan ngusik mama." Laskar mengelus kucing itu dengan sayang sedangkan mama Bella menatapnya jijik.


"Mbak Sriii, mbak Sriiiii." Laskar berteriak memanggil ARTnya.

__ADS_1


"Iya tuan muda." seorang wanita berumur tigapuluhan tergopoh-gopoh mendatangi Laskar.


"Kasih makan nieh kucing gue, dia lapar kayaknya dari tadi ngeong-ngeong melulu."


"Kucing tuan, tuan dapat kucing darimana." Sri bertanya.


"Gue pungut digot." jawab Laskar tanpa beban.


"Apa." respon mama Bella, "Kamu mungut itu digot, astaga anakku, kamu tidak mikirin kesehatan orang satu rumah, pasti itu kucing membawa banyak bibit penyakit."


"Mama berlebihan." tandas Laskar, "Nieh mbak, kasih makan dulu." Laskar menyerahkan kucing tersebut beserta plastik berisi makanan kucing yang belinya bersama Icha sebelum pulang, "Tugas mbak selama Laskar disekolah adalah mengurus kucing itu, rawat dia seperti anak sendiri oke, kasih dia makan yang banyak dan bergizi agar gendut kayak mbak."


"Sri bukannya gendut tuan, Sri cuma berisi." kilah Sri.


"Sayang, kamu serius merawat kucing kampung itu." tanya mama Bella gak rela.


"Serius donk ma, dan mama juga, anggap kucing itu seperti cucu mama, oke, karna sekarang Laskar adalah papanya."


"Astaga sayang, sejak kapan sieh kamu sinting begini, kucing dianggap anak."


"Laskar mama yang ganteng bin tampan bin kece ini masih waras ma, jadi jangan pernah berniat membawa Laskar ke rumah sakit jiwa." seloroh Laskar menanggapi ucapan mamanya.


Dan diakhir kalimatnya Laskar mencium pipi mamanya dan langsung berlalu dengan cepat, takut kena omelan mamanya.


"Laskaarrr, iuhh iuhhh, kan mama jadi ikutan kotor."


****


Pagi itu Laskar tengah sarapan bersama mamanya dimeja makan, mereka hanya berdua karna papanya tengah mengurus bisnis diluar negeri.


Ponsel Laskar berbunyi, dan panggilan itu merupakan panggilan dari Icha.


Laskar tersenyum begitu mengetahui siapa yang menelponnya, mama Bella yang juga terusik karna suara deringan ponsel Laskar tentunya mengarahkan pandangannya pada Laskar, dan heran melihat putra semata wayangnya itu tersenyum mendapat telpon.


"Emang gue kangen, tapi bukannya kangen sama lo, tapi gue kangennya sama Leo."


"Lo kangen sama Leo, terus kenapa gue yang lo telpon."


"Ya iyalah gue nelpon elo, Leokan sama lo sekarang."


"Leo siapa sieh maksud lo."


"Sik kucing, semalaman gue berfikir dalam keheningan, dan gue mendapat ilham, kalau nama yang cocok untuknya adalah Leo." jelas Icha.


"Jadi sik kucing namanya Leo, nama yang bagus untuk seekor kucing kampung, perlu syukuran atau motong kambing gak sieh buat ngerayain nama barunya."


"Jangan aneh-aneh deh."


"Sorry bercanda."


"Gue cuma mau bertanya, apa sik Leo udah dikasih makan."


"Lagi dimandiin sama mbak gue, selesai mandi baru dikasih makan."


"Bagus deh kalau gitu, sebelum berangkat fotoin ya, dan kirimin, biar gue tahu dia baik-baik saja."


"Sekalian mau dikirimin sama foto gue juga gak, mumpung gratis."


"Ogahhh."

__ADS_1


"Lo membuat gue kecewa." ujar Laskar terdengar seperti orang yang kecewa beneran.


"Oke kalau gitu, gue tutup."


"Tunggu, jadi, lo cuma nanya itu donk."


"Iya, emang kenapa."


"Lo gak berniat nanyain apa gue udah cinta gitu sama lo."


"Udah ah Las, gue gak mood bercanda, gue tutup dulu deh, ketemu disekolah oke."


Sambungan ditutup sepihak oleh Icha tanpa membiarkan Laskar membalas.


"pacar kamu." mama Bella bertanya begitu Laskar meletakkan ponselnya dimeja.


"Temen." Laskar kembali memakan sarapannya.


"Teman biasa atau temen spesial." tanya mama Bella kepo.


"Kepo amet sieh ma."


Jelaslah mama Bella kepo, siapa suruh Laskar nelpon didepan mamanya, sebagai orang tua apa yang dilakukan mama Bella adalah sesuatu hal yang wajar.


"Biarin aja mama kepo, kalau gak kepo gak dapat info."


"Dihh sik mama, udah tua juga ingin tahu saja urusan anak muda."


Setiap wanita, meskipun umurnya sudah lima puluh tahun sekalipun paling tidak suka dikatakan tua, "Mama belum tua, kamu gak lihat apa kulit mama yang kenceng dan mulus."


"Itu karna mama banyak uang untuk suntik putih, tanam benang, sulam-sulaman yang bisa disulam, coba kalau mama seperti mbak Sri, mana mungkin kulit mama kenceng dan mulus."


Itu adalah fakta, mana bisa mama Bella membantah, "Iya iya, mama cantik karna segala perawatan yang mama lakukan, tapi gak ada yang salah menghabiskan uang untuk memanjakan diri."


"Jadi, siapa wanita yang barusan telpon." mama Bella kembali bertanya.


"Icha."


"Kayak pernah denger."


"Emang pernah, waktu Laskar nemenin mama ke mall jalan-jalan, kita ketemu dia dan Lea, dan mama juga mentraktir mereka makankan."


"Ohhh, gadis yang itu, cantik juga, kulitnya putih dan mulus." mama Bella salah sangka, dia fikir yang dimaksud Laskar adalah Lea.


"Itu Lea ma yang putih, Icha itu yang kulitnya agak sawo matang."


"Yang rambutnya keriting."


"Hmmm." mengunyah rotinya.


"Itu pacarmu."


"Temen ma."


"Tapi kamu senyum-senyum tadi ketika dia nelpon, kamu juga menggoda dia."


"Emang salah senyum senyum kalau temen nelpon, lagiankan Laskar menggodanya untuk bercanda doank."


"Tapi awas jangan kebablasan juga kamu, ntar difikir kamu suka lagi sama dia."

__ADS_1


"Iya ma, lagian Icha bukan tipe cewek yang baperan kalau digoda."


****


__ADS_2