Cinderela Modern

Cinderela Modern
Secret Admir


__ADS_3

"Stop stop stop." Icha memblokir jalan Gibran yang tengah mengendarai sepeda motornya dengan merentangkan kedua tangannya.


Gibran yang kaget dengan kehadiran Icha yang tiba-tiba dihadapannya mengerem motornya sehingga menciptakan bunyi berdecit yang memekakkan telinga.


"Mau mati lo." bentak Gibran saking keselnya.


"Gaklah, amal ibadah gue masih kurang kali gak bisa nyelamatin gue dari siksa kubur." jawab Icha.


"Terus, kenapa memblokir jalan gue, untung gue berhenti tepat waktu, kalau gak kelindes deh lo."


Icha mengabaikan kekesalan Gibran, yang dia lakukan malah menghampiri Gibran, "Gue numpang ya kak."


"Lo fikir gue ojek, lagiankan lo biasa berangkat sama Aslan."


"Gue lagi berantem sama dia, makanya minta tumpangan sama kakak."


"Elahh, jangan berantem-berantemlah sama dia, lo sendirikan yang rugi gak dapat tumpangan."


"Salahinlah adik lo itu, dia ngajak berantem duluan." Icha membela diri.


Icha menaiki motor Gibran meskipun belum mendapat izin.


"E e, lo mau ngapain."


"Anterin kak."


"Gak bisa Icha, gue juga mau berangkat kuliah ini."


"Elahh, kan sekalian."


"Sekalian gimana, orang sekolah elo sama kampus gue berlawanan arah."


"Iya ya, tapi bodo ametlah, kak Gibran harus anterin gue dulu, nyari pahala kak nganterin anak yatim piatu, jangan nyari dosa melulu."


Gibran mendengus kesel, apa yang bisa dia lakukan kalau Icha sudah menyebut tentang pahala, toh Icha juga sudah duduk diboncengan motornya.


Tiba disekolah.


Tuk


Tuk


Tuk


Icha memukul kaca helm fullface Gibran yang masih berada dikepalanya, Gibran menaikkan kaca helmnya untuk mencari tahu apa lagi yang diinginkan Icha.


Yang dilakukan Icha adalah membuka telapak tangannya dan menyodorkannya kedepan mata Gibran.


"Apaan."


"Minta uang jajan kak, hehe, kakakkan banyak uang." dengan mata dibuat sok imut persis kayak anak kucing minta makan.


"Ah elo, bikin susah hidup gue aja." meskipun berkata begitu, namun Gibran merogoh saku celananya untuk mengeluarkan dompet, Gibran mengambil uang dengan nominal 20.000, namun Icha menolak.


"Jangan yang itu kak, yang merah bikin mata lebih seger."


"Udah minta, pemilih lagi." Lagi-lagi Gibran tidak bisa menolak keinginan Icha, dia meraih uang kertas berwarna merah tersebut dan memberikannya pada Icha. Dengan mata berbinar Icha menerima uang tersebut.


"Makasih kak Gibran tersayang, kakak yang terbaik."


"Lo berkata begitu kalau ada maunya."


"Hehe, bener juga."


"Ichaaa." ujar Lea dengan suara melengking.


Lea tiba-tiba datang dan merangkul bahu Icha dari belakang.


"Anjirr lo Le, bikin kaget aja."


"Dasar lebay, gitu aja kaget."


"Kagetlah, lo datangnya tiba-tiba."


"Maaf deh."


"Cha, siapa." Gibran bertanya, kini dia sudah melepas helmnya.


"Ini Lea kak, sahabat gue." Icha memberitahu.


Gibran tersenyum dulu baru menyapa Lea, "Hai Lea, aku Gibran."


"Heh, kak Gibran kok pakai aku kamu, wah, kayaknya dia suka nieh sama Lea." heran Icha dalam hati.

__ADS_1


"Hai kak Gibran, gue Lea." Lea membalas singkat dan sambil tersenyum tipis.


Icha juga memperhatikan raut wajah Gibran yang terus menyunggingkan senyum sambil terus memandang Lea, padahalkan sejak Icha mencegatnya meminta anter, wajahnya ketus terus, hal ini membuat Icha memastikan kalau Gibran fix menyukai Lea.


"Cha, kelas yuk." ajak Lea


"Kak, gue kekelas dulu ya." Icha pamit undur diri.


"Iya." namun Gibran masih belum menghidupkan motornya.


"Kak, udah pergi sana, katanya mau kuliah."


"Eh iya, lupa."


Icha dan Lea berbalik meninggalkan Gibran, namun Gibran kembali memanggil Icha.


"Cha."


Memang cuma Icha yang dipanggil, tapi Lea juga noleh.


"Paan."


"Ntar dijemput gak."


"Kak Gibran **Be**neran suka sama Lea, pasti dia mau ngejemput gue karna mau ketemu Lea, Njirr, padahalkan Lea sukanya sama Aslan, wah cinta segitiga nieh." batin Icha.


"Heh, dijemput gak, malah bengong."


"Oke." Icha memanfaatkan kesempatan.


****


Dalam perjalanan menuju kelas kedua sahabat tersebut ngobrol.


"Le."


"Hmmm."


"Yang tadi itu kakaknya Aslan Lho."


"Apa." kaget Lea gak menyangka, "Beneran itu kakaknya Aslan."


"Beneranlah, masak gue bohong sieh."


"Ihh, kok lo gak bilang dari tadi sieh, tahu gitukan gue cari muka gitu didepan calon kakak ipar."


"Ya biarin aja, biar direstui gitu gue sama adeknya." crocos Lea, "Oh ya, hampir lupa gue."


"Apaan."


"Kenapa lo dianterin kak Gibran, kenapa gak bareng Aslan."


"Kan gue udah bilang kemarin kalau gue sama Aslan lagi berantem."


"Berantem beneran."


"Emang ada berantem bohongan."


"Ya gue fikir elo berantem cuma sesaat doank, habis itu baikan deh, gak gue sangka ternyata lo berantemnya parah."


"Udahlah gak usah dibahas, pusing pala gue kalau denger nama Aslan."


"Jangan lama-lamalah Cha berantemnya sama Aslan, guekan jadi gak bisa PDKT sama dia kalau kalian berantem."


"PDKT gimana, deket-deket dia saja lutut lo jadi lemes gitu."


"Itukan karna gue grogi."


Mereka sampai dikelas, dan itu memutus pembahasan mereka tentang Aslan, ketika sampai dikelas, keadaan kelas sudah cukup ramai, termasuk Aslan dan juga Laskar udah datang.


Icha dan Lea berjalan kearah bangku mereka, "Lho, kok ada bunga dibangku gue."


"Bunga." heran Lea, "Dari siapa Cha."


"Gak tahu." Icha mengambil bunga tersebut, dan mengumumkan, "Woee, bunga siapa nieh."


Malah respon temen-temennya adalah, "Cieee, Icha dapat bunga tuh, sweet banget." goda Gita.


"Ekhemm ekhemm, ada juga ya secret admir lo Cha, gue fikir semua cowok takut sama lo ."


Icha malah ngamuk, "Jangan main-main, gue serius, siapa yang naruh bunga dibangku gue, gak punya kerjaan banget tuh orang."


"Cha, bener kata temen-temen, mungkin itu dari penggemar rahasia lo kali, ya kali orang iseng." lisan Lea.

__ADS_1


"Penggemar rahasia apaan sieh, pengecut, kalau suka ngomong donk, cuma banci yang menyukai seseorang diam-diam."


"Bukan pengecut atau banci Cha, tapi itu romantis namanya, disukai diam-diam dan kasih bunga, gue juga pengen kali."


"Kalau lo pengen, nieh buat lo aja." Icha menjejalkan bunga mawar tersebut ketangan Lea.


"Lho kok buat gue, yang dikasihkan elo."


"Lagian dikasihnya bunga gak bisa dimakan ,mending dikasih coklat kek, kue kek, makanan kek."


"Lo itu yah Cha gak ada romantis-romantisnya." gumam Lea.


****


Waktu istirahat tiba.


Icha dan Lea sudah berada dikantin dengan masing-masing semangkuk mie ayam didepan mereka.


Berjarak beberapa meter dari mereka, Athena memandang tajam ke arah Icha, dihatinya berfikir keras bagaimana caranya balas dendam sama Icha atas perlakuannya tempo hari.


Sementara yang ditatap tidak menyadari, dia malah asyik ketawa ngakak bareng Lea, entah apa yang mereka obrolkan.


Icha melihat Aceng dan Acux, dua orang itu melambaikan tangan pada Icha, Acux sik genit memberikan ciuman jarak jauh untuk Lea sambil mengedipkan matanya.


"Iuhhh." lirih Lea, "Dasar genit." ujarnya mengomentari perbuatan Acux, "Cha, bilangin tuh temen lo itu jangan sok tebar pesona, difikir dia ganteng apa."


"Biarin aja kali yang penting gak ngerugiin." respon Icha.


Dan gak lama mereka berlalu dari kantin dengan membawa banyak makanan, ditambah lagi dua orang cowok yang gak ada genteng-gantengnya tersebut melambai sebelum meninggalkan kantin, lagaknya sudah seperti idol k-pop saja.


"Mereka pasti pada ngumpul dibelakang sekolah, pasti seru banget, tapi ya gimana, gue gak bisa ninggalin Lea sendirian, ntar sik ****** Athena membuly Lea lagi." batin Icha.


"Apa boleh gue gabung." pertanyaan yang dibarengi dengan nampan berisi segelas es teh manis dan semangkuk bakso diletakkan dimeja.


"Laskar." ujar Lea begitu mengetahui pemilik suara tersebut, "Boleh kok, duduk aja."


"Cha, boleh gue gabung." Laskar bertanya secara khusus pada Icha.


"Emang kalau gue bilang gak lo bakalan pergi."


"Gak donk." jawab Laskar duduk dikursi yang tersisa.


Icha mendengus.


"Cha, kenapa gak ikut gabung sama Ari dibelakang."


"Lo sendiri kenapa gak ikutan gabung." Icha berkata begitu karna sekarang Laskar merupakan bagian dari geng elit sekolah.


"Malaslah karna gak ada elo." menjawab santai.


"Jadi lo gabung gara-gara gue."


"Ya gaklah, geer amet sieh lo, gue gabungkan ingin terlihat keren aja, secara gitu ketua gengnya selalu dielu-elukan."


"Ya wajar sajalah dielu-elukan, Arikan memang cakep dan keren."


"Keren apaan sieh, biang rusuh gitu dibilang keren." Lea tidak setuju dengan pendapat Icha, "Gue heran deh, kok lo mau sieh gabung sama mereka Las."


"Kan tadi udah gue bilang biar gue kelihatan keren."


Suara deringan singkat dari ponsel milik Icha menandakan adanya pesan yang masuk, hal tersebut memutus obrolan mereka karna Icha sibuk membalas pesan yang bertubi-tubi masuk keponselnya.


Alissa Ramadhani yang cantik dan baik hati, lagi apa.


Pesan berbunyi manis itu datangnya dari Gibran.


Icha tahu Gibran pasti ada maunya, sampai muji-muji begitu, dan Icha punya dugaan.


Icha membalas.


Udah dari dulu kali gue cantik, kak Gibran saja yang baru sadar.


Haha, iya ya, kok aku baru sadarnya sekarang.


Baru sadar sekarang karna ada maunya.


Balas Icha telak.


Wah, lo tahu gue banget ternyata.


Langsung ke intinya saja kak, kakak maunya apa.


Comblangin gue sama Lea donk.

__ADS_1


"Udah gue duga" Icha membatin.


****


__ADS_2