Cinderela Modern

Cinderela Modern
SALAH PAHAM


__ADS_3

"Makasih Cha karna lo membantu gue." ungkap Laskar begitu Diana pergi.


Jelas banget Diana terlihat shock mendengar kalau Laskar sudah punya pacar, dia pergi dengan membawa luka.


"Gak masalah, tapi kata terimakasih gak cukup, lo ngertikan." Icha menaik turunkan alisnya.


"Oke oke, apa yang lo inginkan."


"Gak mahal kok, gue cuma mau nambah es krim lagi."


Gak mahal kok kalau mau nyogok Icha, dia gak minta tas hermes, sepatu gucci atau benda-benda mahal seperti cewek pada umumnya, cukup sogok dia dengan makanan, dia pasti sudah kegirangan.


"Lagi, gak kembung tuh perut kebanyakan makan es krim." ujar Laskar heran.


Bukan tanpa alasan Laskar bilang begitu, Ichakan tadi memesan es krim ukuran jumbo, sekarang mau nambah lagi, dia saja belum habis es krimnya.


"Percaya sama gue, perut gue bisa menampung lebih banyak dari yang lo difikirkan, lagiankan mumpung gratis ya gue manfaatin sebaik mungkinlah."


"Dasar lo cewek gratisan."


"Bodo amet yang penting kenyang."


Setelah menghabiskan dua es krim ukuran jumbo, Icha mengelus perutnya yang kekenyangan atau gak kekembungan, entahlah.


"Mau nambah lagi." Laskar bertanya.


Icha menggeleng.


"Yakin."


Kali ini Icha mengangguk.


Melihat anggukan Icha, Laskar menyarankan, "Kalau gitu kita pulang sekarang."


"Iya, gue juga capek banget butuh istirahat."


Laskar sudah berdiri, sedangkan Icha masih duduk tidak bergerak dari tempatnya, hal ini mendorong Laskar bertanya, "Katanya mau pulang, kenapa masih duduk."


"Gendong."


"Gendong." Laskar mengulangi, "Bukannya tadi kaki lo udah gak apa-apa."


"Ya itu tadi, saking senengnya karna akan makan es krim, sekarang sakit lagi."


"Ah elo, bikin repot gue aja." Aslan berjongkok supaya Icha mudah menaiki punggungnya.


****


Ditempat berbeda, saat ini Aslan tengah menunggu dengan gelisah kepulangan Icha, dia duduk diteras depan, setumpuk buku tebal tergeletak dimeja, harapan Aslan, dengan buku-buku itu bisa mengalihkannya dari kekhawatirannya terhadap Icha, namun nyatanya gak bisa, matanya memang terarah pada tiap baris kalimat dikertas putih, namun fikirannya menerawang entah kemana.


"Hai Aslan, boleh gabung gak." suara Lola atau gak Loli memberi sapaan, pasalnya Aslan gak tahu yang mana Lola dan Loli saking miripnya mereka, sikap mereka sama lagi, sama-sama ganjen.

__ADS_1


"Gak boleh." jawab Aslan, saat ini dia dalam mode gak mau beramah tamah.


Tapi dengan tidak tahu malunya Loli berkata, "Tidak boleh, berarti boleh, yakan."


Lola dan Loli duduk mengapit Aslan sambil senyum-senyum gaje.


"Kok lo makin ganteng sieh Lan, wajah lo makin kinclong, rajin perawatannya, mentang-mentang jomblo." puji Loli mengedipkan matanya.


Aslan mendengus kasar, "Apa-apaan sieh mereka, udah dibilang gak boleh duduk juga." suara hati Aslan.


"Lo berdua mau ngapain kesini, kalau gak penting mending lo pergi sana." usir Aslan tanpa perasaan.


Namun dua cewek ini rupanya berkulit badak, gak tersinggung tuh dengan kalimat pedas Aslan yang nyata-nyata tidak menerima kehadiran mereka.


"Aslan ih suka gitu, jangan galak-galak donk, ntar gantengnya hilang lagi."


Sorot tajam mata Aslan membuat mereka langsung menghentikan ocehan mereka, sebagai gantinya Loli berkata, "Ekhemm, maaf Aslan, mau Aslan ngamuk kek, wajahnya merah kuning hijau kek, pokoknya Aslan tetap ganteng gak ada duanya." Loli mengacungkan dua jempolnya.


"Cihhh." Aslan berdecih, "Gue gak punya receh ya." tandas Aslan menanggapi kalimat Loli.


"Lo lagi belajar ya Lan." seru Lola melihat buku-buku bertebaran dimeja, "Kebetulan banget nieh, bantuin gue donk Lan, gue gak bisa ngerjain tugas matimatika yang diberikan oleh pak Top, susah banget ini, pak Top itu bener-bener ya mau bikin rambut gue rontok sebelum masanya." curhat Lola membuka buku PRnya menyodorkannya didepan hidung Aslan.


"Gue juga Aslan, penjelasan lo kan lebih mudah dimengerti daripada pak Top." Loli menyokong pendapat saudara kembarnya.


Meskipun datar dan cuek, tapi kalau masalah bantu membantu, Aslan sangat bisa diandalkan, dia gak pelit berbagi ilmu, makanya ketika Lola dan Loli mengatakan kalau mereka nyamperin dirinya karna PR dia bersedia membantu.


"Gue bantu, tapi bisa gak lo berdua duduknya jauhan, tuh masih banyak tempat tersisa."


Jawab Loli, "Gimana ya Lan, rasanya didekat Aslan itu nyaman, jadi gak mau gitu jauh-jauhan."


"Bisa gak lo berdua diam, kalau gak gue gak mau bantuin lo." ancam Aslan.


"Gara-gara lo, jadi marahkan Aslan."


"Gara-gara lo lah, malah nyalahin gue."


Aslan sudah akan meninggalkan dua rubah ini, ketika suara Gibran kakaknya yang baru keluar menggodanya, "Wah wah, adek kecil gue direbutin dua cewek cantik nieh."


"Kak Gibran." sapa Lola dan Loli kompak, mungkin karna kembar, kadang-kadang mereka kompak gitu nyapanya.


"Hai tetangga." balas Gibran, "Kalau gak salah, nama lo berdua adalah anak rubahkan, rubah satu dan rubah dua." Gibran adalah tipe orang yang malas mengingat nama orang, apalagi kalau menurutnya orang itu gak penting, sehingga tidak heran dia tidak tahu nama Lola dan Loli meskipun telah bertahun-tahun bertetangga, dia hanya inget kalau Icha sering memanggil dua saudara tirinya dengan rubah.


"Uhukk uhuk." Aslan yang mendengar kalimat ngaco saudara laki-lakinya terbatuk-batuk untuk menyamarkan tawanya, Aslan gak habis fikir, kakaknya yang pelupa ini memiliki ingatan yang kuat dalam hal begini.


Loli dan Loli tentu dongkol, karna mereka tahu Ichalah penyebab mereka dipanggil anak rubah oleh Gibran, rasanya saat ini kalau Icha ada disini mereka ingin **********. Mereka memaksakan senyum untuk membalas ucapan Gibran, dan Loli berujar, "Oh Icha ya, hahaha." tawa palsu, "memang dia sering meledek kami dengan memanggil kami anak rubah." ujarnya seolah mereka adalah saudara yang sering bercanda, "Kami saja memanggilnya upil."


"Oh gitu ya, gue juga gitu, sering manggil adek gue ini dengan kunyuk."


Gibran kemudian ikut bergabung bersama mereka dikursi yang tersisa, "Lo berdua mau ngapelin adek gue ya." crocos Gibran tanpa filter, sebelum Aslan ataupun si kembar sempat membantah, Gibran kembali nyerocos, "Dunia sudah kebalik sekarang ya, zaman papa dan mama masih alay cowok yang ngapel, sekarang cewek yang ngapel." Gibran geleng-geleng.


"Apaan sieh lo, mereka cuma minta diajarin matimatika doank, jangan ngaco lo kalau ngomong." Aslan menyela.

__ADS_1


"Oh gitu ya, kok menurut penerawangan gue beda ya." Gibran memang suka asal ngomong, tapi kadang omongannya benar, seperti kali ini, Lola dan Loli meminta Aslan membantu mereka mengerjakan PR cuma alasan doank, padahal niat awalnya kan buat ngedekatin Aslan, kan saat ini Aslan jomblo.


"Ya gak salah donk kak, minta diajarin PR sekaligus ngapel, sekali mendayung dua tiga pulau terlampui, lagiankan Aslan jomblo." Loli ngaku juga.


Lola mencubit lengan Loli, sebagai kode meminta Loli tutu mulut, "Neih anak, lemes amet bibirnya, bikin malu saja."


Mendengar berita itu membuat Gibran terkejut, "Apa, lo putus dengan Athena, wah, parah lo, masak cewek secantik dan sempurna itu lo putusin."


"Dia yang mutusin gue."


"Hah." mulut Gibran menganga, dan sedetik kemudian tertawa ngakak, "Hahaha, kasihan banget sieh lo."


Aslan mendengus kesal, ingin rasanya dia menonjok Gibran, "Kalau lo gak berhenti tertawa, maka bogeman gue yang bakalan menghentikan lo."


Ancaman Aslan efektif membungkam bibir Aslan, namun pipinya menggembung karna menahan tawa, disaat seperti itulah sebuah motor berhenti tepat didepan rumah mereka yang tidak lain adalah motor Laskar dalam rangka mengantar Icha. Icha turun dari motor dibantu oleh Laskar.


"Itu Ichakan." tanya Gibran memastikan.


Sedangkan Aslan langsung berjalan menyongsong Icha, "Apa yang terjadi." tanya Aslan menurunkan Icha dari punggung Laskar.


"Icha jatuh, lututnya terluka." Laskar memberi laporan.


Aslan beralih memperhatikan lutut Icha yang memerah, bekas darah mengering terlihat jelas disana, "Heh." Aslan menarik kerah seragam Laskar, "Apa yang lo lakuin sampai Icha bisa terluka begitu."


Icha buru-buru menenangkan Aslan yang kelihatannya siap memukul Laskar, "Lan, lepasin Laskar, ini kecelakaan."


"Harusnya dia jagaain lo Cha." masih mencengkram kerah seragam Laskar.


"Aslan." Icha habis kesabaran, "Gak usah lebay deh jadi orang, cuma luka gini doank lo besar-besarin." suara Icha meninggi.


Sementara itu, Gibran, Lola dan Loli menjadi penonton.


"Wah, bakalan seru nieh." Gibran menyilangkan tangannya didada, "Sayangnya gak ada popcorn."


Sedangkan Lola dan Loli memandang iri, meskipun Icha jauh dari kata cantik, tapi gak jelek juga sieh, tapi dia selalu mendapat perhatian dari cowok, beda dengan mereka yang berusaha ngedekatin cowok mati-matian namun tuh cowok malah menjauh, iyalah, karna kebanyakan cowok lebih senang mengejar daripada dikejar.


"Aslan benar Cha, gue seharusnya ngelindungin lo, bukan buat lo luka kayak gini." lisan Laskar.


"Gue bukan cewek lemah yang harus dilindungi ya." raung Icha, " Jadi lo Aslan, stop khawatirin gue."


Kalimat Icha itu jelas membuat Aslan terluka, ya jelas lah dia khawatir, Icha adalah sahabatnya.


"Dan lo Laskar, mending lo balik gieh sana, dan makasih traktirannya." dan setelah itu Icha berjalan terpincang-pincang akibat lukanya yang terasa perih.


"Luka lo...."


Pandangan Icha sudah cukup untuk membuat Laskar tutup mulut.


"Makasih Laskar karna lo telah membawa Icha pulang dengan selamat." lirih Aslan, "Dan gue minta maaf karan sikap gue barusan." Aslan memang minta maaf tapi dengan muka kayak orang marah gitu.


Laskar menepuk lengan Aslan, "Gue ngerti, lo ngekaluin itu karna khawatir sama Icha."

__ADS_1


Ada yang kecewa melihat perdamaian yang tercipta tersebut, "Sumpret, gue sudah berharap bakalan ada adegan pertumpahan darah, ini malah adegan halal bihalal." seru Gibran.


****


__ADS_2