
"Gue tahu."
"Lo tahu."
"Begitulah." Diana dengan santainya menebalkan bedaknya.
"Terus, kalau lo tahu Laskar punya pacar, kenapa lo masih mau jalan sama Laskar."
"Karna Laskar adalah milik gue dan akan selalu jadi milik gue." jawab Diana dengan percaya diri, "Gue jauh lebih cantik di bandingkan gadis yang saat ini berstatus sebagai pacarnya Laskar, gue yakin jauh dilubuk hatinya Laskar masih cinta sama gue, dan dengan sedikit usaha gue pasti bisa kembali mendapatkan Laskar dan mendepak gadis itu dari hati Laskar, karna dia gak pantas untuk Laskar "
"Lo sebenarnya siapa sieh." tanya Athena heran, "Selingkuhannya."
"Gue adalah mantannya Laskar."
"Mantan." gumam Athena tanpa suara, dan sebuah ide jahat melintas cepat diotaknya, "Kalau lo mau merebut Laskar kembali, gue bisa bantu lo."
Diana langsung menghentikan aktifitas memperbaiki riasan matanya dan kini sepenuhnya memberikan perhatian pada Athena, gadis yang mengaku sebagai teman sekolah Laskar dan tiba-tiba saja dia ingin membantunya, dia memperhatikan Athena dengan sedemikian rupa menilai apakah gadis ini punya maksud tersembunyi.
"Oke oke, gue akui, gue gak suka dengan gadis bernama Icha, bisa dibilang, dia adalah musuh gue." ujar Athena melihat tatapan menyelidik Diana.
Penjelasan tersebut sedikit tidaknya membuat Diana mengerti kenapa gadis ini mau membantunya.
"Gue ingin menghancurkan dia." tambah Athena.
"Tapi kenapa, apa yang dilakuin gadis itu ke elo sampai lo sebegitu bencinya ke dia, kalau guekan jelas karna dia telah merebut Laskar dari gue." padahalkan Diana sendiri yang dulu meninggalkan Laskar.
"Dialah penyebab hubungan gue dan pacar gue kandas ditengah jalan."
"Hahh." Diana tersenyum meremehkan, "Gak gue sangka, gadis dengan wajah dibawah standar itu punya bakat alam merusakan hubungan orang, apa sieh hebatnya dia." Diana bertanya pada Athena, mengingat mereka satu sekolah, dia fikir Athena pasti tahu apa kelebihan Icha yang membuat Laskar jatuh cinta padanya.
"Cihhhh." Athena berdecih, "Gadis bar-bar itu sedikitpun tidak memiliki kelebihan apapun, entahlah apa yang menyebabkan banyak cowok tertarik padanya, mungkin dia mamasang susuk dibadannya."
"Jadi gimana, lo setuju bekerjasama dengan gue untuk menghancurkan Icha."
"Oke, penjelasan lo masuk akal, gue rasa memang tidak ada ruginya gue bekerjasama dengan lo."
Athena tersenyum jahat, "Gue Athena." Athena kemudian memperkenalkan dirinya setelah mereka membuat kesepakatan.
"Gue Diana."
Dua gadis itu bersalaman sebagai pengikat kesepakatan mereka.
****
"Mau kemana Lan." tanya Icha saat berpapasan dengan Aslan yang baru keluar dari rumahnya, kebetulan Icha juga berniat main kerumah Aslan.
"Gue mau ke rumah Lea."
"Hahh."
"Yahh, walaupun gue merasa gak pernah melakukan kesalahan, tapi dimata cewek, cowok itu selalu salah, jadi yah menurut gue gak ada salahnyakan gue minta maaf atas kesalahan yang tidak pernah gue buat."
"Ohh." hanya itu respon Icha.
__ADS_1
"Tadi siang gue hubungin dia sieh mengikuti saran lo, eh panggilan gue malah dirijek." curhat Aslan.
"Mungkin beneran lo melakukan kesalahan."
Aslan membuka bibirnya untuk membantah ucapan Icha, tapi Icha mendahului dengan berkata, "Tapi gak lo sadarin, mungkin ada kata-kata lo yang nyinggung perasaanya dia, ya mungkin menurut lo kalimat lo biasa saja, tapi siapa tahu itu menyakiti Lea, lo tahu sendirikan Lea peka anaknya, gampang baperan."
"Lo ada benarnya juga."
"Oke kalau gitu Cha, gue berangkat dulu, doain deh semoga gue sukses meluluhkan hati Lea dan Lea gak marah lagi, gak enakkan di diemin mulu."
"Akkhh oke, semoga berhasil Lan." Icha terlihat tidak rela gitu melihat kepergian Aslan.
"Lann." panggil Icha membuat Aslan berbalik.
"Ohh, gue tahu." tebak Aslan sok tahu, "Lo pasti mau nitip dibeliin sesuatukan, tenang aja deh, ntar pas balik dari rumah Lea gue beliin martabak buat lo."
Icha tersenyum kecut, "Bukan itu."
"Terusss."
"Hati-hati dijalan, jangan ngebut, inget ada banyak orang yang menunggu kepulangan lo dengan selamat."
Aslan kembali mendekati Icha dan mengelus puncak kepala Icha, "Lo ternyata udah dewasa sekarang semenjak pacaran dengan Laskar, gue seneng, ternyata Laskar mampu merubah gadis yang diotaknya ini hanya makanan saja menjadi dewasa."
Icha hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Aslan, "Udah sana pergi agar pulangnya gak kemalaman."
"Oke."
Namun baru saja berjalan dua langkah, Aslan kembali berbalik, "Bener nieh gak mau dibawain sesuatu."
"Laskar bener-bener hebat ternyata, kalau tahu gini, kenapa gak dari dulu saja lo pacaran sama dia."
"Udah sana pergi, jangan ngoceh mulu, ntar keburu Leanya tidur."
Aslan melihat arloji yang melingkari pergelangan kirinya, "Baru jam 07.30, masak udah tidur."
"Lea itu anak mami banget, jam 08.30 udah terbang ke alam mimpi."
"Oke gue berangkat kalau gitu." Aslan melambaikan tangan.
****
Aslan memencet bel yang terdapat disamping pagar rumah Lea, gak lama, seorang laki-laki berpakain satpam menghampiri gerbang dan mengajukan pertanyaan sama Aslan, "Maaf mas, mau cari siapa ya."
"Saya temannya Lea pak, Leanya ada."
"Ohhh, temannya non Lea ya, tunggu sebentar ya mas."
"Iya pak."
Sik satpam berbalik dan berjalan ke arah rumah besar untuk memberi laporan pada majikannya, butuh waktu lima menit kemudian dia kembali dan langsung membuka gerbang.
"Silahkan masuk mas."
__ADS_1
"Mas sekalian mobilnya juga dibawa masuk."
"Oh, iya." Aslan kembali memasuki mobilnya dan memarkirnya dihalaman rumah Lea.
"Permisi, Asslamualikum." kebetulan pintu rumah utama terbuka.
"Ehh, mas temannya non Lea ya, ayok masuk mas." Art rumah Lea menghampiri Aslan.
"Makasih bik." Aslan berjalan mengikuti ART keluarga Lea.
"Silahkan duduk dulu tuan, sebentar ya tuan saya panggilkan nyonya."
Aslan hanya mengangguk.
Gak lama, mama Lea yang datang menghampiri Aslan, wajah ramahnya tidak pernah lepas menghiasi wajahnya.
Aslan langsung berdiri melihat sang nyonya rumah, "Malam tan." sapa Aslan sopan.
"Malam nak Aslan, mau ketemu Lea ya."
"Iya tan."
"Ayok duduk dulu, nanti dipanggilkan sama bik Marni."
"Makasih tante." Aslan kembali duduk.
Bi Marni kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi teh dan sepiring kue.
"Ayok nak Aslan diminum dulu."
"Maaf tante, karna kedatangan saya telah membuat tante repot."
"Gak repot, masak nyuguhin teh gini doank buat calon mantu repot sieh."
Aslan tersenyum canggung karna disebut calon mantu.
"Bi Marni, tolong panggilkan Lea ya."
"Baik nyonya."
"Ayok nak Aslan dicicipi kuenya, jangan sungkan."
"Ehh, iya tante." mengambil sepotong kue dan memakannya.
"Bagaimana enak."
"Enak tante." jujur Aslan, yah walaupun seandainya gak enak, Aslan tetap akan bilang enak.
"Itu Lea yang bikin lho, dia memang pintar bikin kue, katanya nanti dia ingin buka toko kue, makanya nanti kalau nak Aslan berjodoh dengan Lea, nak Aslan beruntung mendapatkan istri pinter bikin kue."
"Ukhuk ukhuk." Aslan terbatuk-batuk mendengar ucapan mama Lea.
"Minum dulu nak, minum." ujar mama Lea melihat Aslan terbatuk.
__ADS_1
Setelah tenggorokannya baikan Aslan berkata, "Maaf tan."
****