Cinderela Modern

Cinderela Modern
MERASA BERSALAH


__ADS_3

Ngeong ngeong.


Saat Icha asyik makan ditemani oleh Laskar, Leo kucingnya tiba-tiba datang menghampirinya dimeja makan.


"Leo, kesayanganku." langsung deh Icha menyongsong kedatangan Leo dengan antusias, Icha kemudian menggendong kucing tersebut, kucing kampung itu sekarang gemukan karna Laskar begitu sangat memperhatikan makanan sik kucing, bulunya juga lebat dan halus karna rajin dimandiin oleh Sri, tampilannya membuatny semakin lucu dan imut.


"Lucunya." Icha mencium sik Leo gemes.


Namun Leo malah memalingkan wajahnya, risih dia dicium penuh nafsu begitu.


Icha malah makin gemes dibuat oleh kalakuan sik kucing, "Gemes gemes gemes." makin ditolak makin heboh sik Icha mencium Leo.


"Chaa, jangan dicium gitu kucingnya, ntar bulunya masuk lagi ke mulut." Laskar menegur.


"Habisnya aku kangen banget sama Leo Las, udah lama gak ketemu."


"Kamunya saja yang gak mau sering-sering mengunjunginya kemari."


"Maaf ya sayang karna mama jarang mengunjungi kamu, akhir-akhir mama sibuk, kamu ngertikan."


Laskar hanya memperhatikan intraksi Icha dan Leo sambil geleng-geleng, "Difikirnya tuh kucing ngerti apa." gumam Laskar.


"Las."


"Hmm."


Icha kembali duduk dan memangku Leo.


"Makasih ya karna telah merawat Leo."


Laskar meraih tangan Icha, Laskar memandang Icha dengan tatapan lembut, Icha bisa merasakan tatapan itu penuh akan cinta, "Jangan berterimakasih, karna aku senang melakukan apapun yang membuat kamu bahagia."


Icha jadi terharu mendengar ucapan Laskar, Laskar begitu sangat baik padanya.


"Kalau perlu, aku akan mencarikan Leo pasangan biar dia bisa punya keturunan supaya dia tidak kesepian."


"Ada ada saja kamu, Leo masih kecil begini belum waktunya punya pasangan, apalagi anak."


Laskar tertawa menyadari kalau apa yang dikatakan oleh Icha memang benar, Leokan masih kecil, belum cukup umur untuk melakukan pembuahan.


Icha ikut tertawa melihat Laskar tertawa, Icha merasa lucu aja, kenapa tiba-tiba Laskar punya niatan untuk mencari pasangan untuk Leo.


Sik Leo yang ditertawakan malah hanya mengeong-ngeong.


"Tuhh, sik Leo saja gak setuju."

__ADS_1


****


Setelah selesai mengisi perut, dan berpamitan terlebih dahulu sama Leo dan dengan janji Icha bakalan sering-sering menjenguk Leo, Laskar kemudian mengantar Icha pulang.


Aslan dan Lea yang tengah duduk dikursi diteras depan rumah sore itu langsung menghampiri kedatangan Laskar dan Icha.


Icha mengerutkan keningnya, heran dia melihat Lea dirumah Aslan,


"Lea ngapain sieh, jangan bilang dia ngapelin Aslan." ucap Icha dalam hati.


Sebenarnya itu sesuatu yang wajar mengingat Aslan dan Lea sudah pacaran, dia sendirikan beberapa kali dibawa oleh Laskar kerumahnya.


Entahlah, tapi kok semenjak Lea dan Aslan mengatakan kalau mereka resmi pacaran, Icha sering kesal melihat Lea dekat-dekat sama Aslan, Icha merasa aneh dengan dirinya sendiri, padahalkan dulu dia sangat mendukung Lea untuk mendapatkan Aslan, dan seharusnya dia senang donk setelah Lea berhasil menaklukkan Aslan.


"Apa sieh yang sebenarnya terjadi dengan gue, kenapa gue gak suka gitu melihat Lea yang sering nempel sama Aslan." Icha bertanya-tanya dalam hati, dia merasa gak nyaman juga dengan perasaan aneh yang sering dirasakannya akhir-akhir ini akibat hubungan Aslan dan Lea.


Sikap Aslan sekarang sama Laskar tidak seperti dulu cuek dan datar, dia lebih ramah dan bersahabat.


"Hai bro." sapa Laskar begitu melihat Aslan mendekat.


Aslan hanya menjawab dengan tersenyum tipis, "Makasih karna telah menjaga Icha, pilihan yang tepat lo membawanya kerumah lo, mengingat bagaimana perlakuan mama Dea pada Icha, bisa dipastikan Icha tidak akan bisa istirahat dengan tenang kalau lo bawa dia kerumah ."


"Lo gak perlu berterimakasih bro, udah tugas gue untuk menjaga Icha dan membuatnya nyaman."


"Lo bisa aja Le, hal sederhana gitu lo bilang sweet, gue yakin Aslan juga akan melakukan hal yang sama ke elo."


Lea memandang Aslan dan kemudian berkata, "Aslan gak kayak lo Las, dia pemalu orangnya, dia orangnya gak bisa mengumbar kemesraan didepan umum." curhat Lea mengingat selama satu minggu pacaran Aslan sikapnya biasa-biasa aja.


"Hahaha." Icha malah tertawa, "Itu resiko yang lo tanggung Le pacaran dengan cowok cuek dan dingin kayak Aslan."


"Tapi gue suka." Lea melingkarkan tangannya dilengan Aslan, "Gue aja gak pernah digombalin sebagai pacarnya, apalagi orang lain." Lea merebahkan kepalanya dipundak Aslan, "Iyakan sayang."


"Hmmm." jawab Aslan seadanya, tapi malah membuat Lea makin berbunga-bunga.


"Ihh sik Lea, gak tahu tempat banget main peluk-peluk, inikan tempat umum." oceh Icha dalam hati melihat tingkah manja Lea.


"Cha, gimana, lo udah baikan." tanya Aslan mengalihkan topik.


"Iya, gue udah membaik." tanpa sadar Icha menjawab ketus.


"Padahal gue udah khawatir banget lho sama lo Cha, gue sampai rela nungguin lo sampai sore begini hanya untuk nungguin lo pulang dan ingin memastikan keadaan lo."


"Lea memang sahabat perhatian, selalu mengkhawatirkan gue, dan peduli sama gue, tapi kenapa saat ini gue gak suka ngelihat dia bahagia bersama Aslan, sebenarnya apa sieh yang terjadi sama gue." Icha merasa bersalah dengan Lea.


Icha memandang Lea, matanya berkaca-kaca karna rasa bersalah yang kini dia rasakan, "Cha, lo kenapa, ada kata-kata gue yang menyinggung perasaan lo."

__ADS_1


Icha menggeleng, "Gue terharu, lo baik dan perhatian banget sama gue."


Lea melepaskan lilitan tangannya dari lengan Aslan dan mendekati Icha lalu memeluknya, "Astagaaa, sejak kapan sieh sahabat gue yang kuat dan pemberani ini jadi cengeng begini, dikit-dikit nangis." ledek Lea.


"Guekan juga punya perasaan Le." Icha makin terisak disebabkan oleh rasa bersalahnya pada Lea.


Melihat adegan didepannya, Aslan dan Laskar hanya menggeleng tidak mengerti.


"Dasar cewek."


****


Dua hari lagi hari ulang tahun Lea, Icha ikut repot dibuatnya karna Lea meminta Icha menemaninya kebeberapa tempat, mulai dari ke toko kue untuk memesan kue ulang tahun, ke toko pakaian esklusif untuk membeli gaun yang akan dikenakan dihari ulang tahunnya.


Dan hari ini, Icha atas paksaan Lea memintanya untuk membagikan undangan ulang tahunnya, untuk anak kelas XI IPS 5 sieh semuanya diundang, jadi gak perlu pakai acara membagikan kartu undangan segala, dan udah pasti undangan terbuka Lea disambut gembira oleh penghuni kelas XI IPS 5, pasalnya Lea yang menyandang status sebagai anak orang kaya sudah pasti pesta ulang tahunnya meriah seperti tahun lalu dan tentunya banyak makanan enak yang bisa disantap.


"Athena, Andin, Kiara." Icha membaca nama-nama yang tertera dikartu undangan yang dipegangnya, "Lo gila Le."


"Kenapa Cha." tanya Lea gak mengerti maksud Icha.


"Kenapa lo ngundang cewek-cewek gak jelas itu juga."


"Akhhh itu." Lea malah tersenyum menanggapi kalimat Icha.


"Heh, lo masih waraskan."


"Iya Cha gue masih waras." timpal Lea, "Gak ada salahnyakan ngundang mereka."


"Ya salahlah, ngapain lo pakai ngundang gadis-gadis jahat itu, lo gak ingat perbuatannya ke elo waktu dikantin dulu." Lea yang dibully, Icha yang masih menyimpan dendam.


"Udah Cha, jangan dendam gitu, gak baik menyimpan dendam, dosa."


"Ihh nieh anak, lugu dan baik banget sik jadi orang, pantas saja dia menjadi sasaran empuk untuk dibully waktu mos." Icha membatin.


"Sekalian juga gue mau mengumumkan kalau gue dan Aslan udah jadian diacara ulang tahun gue, anak-anakkan pada belum tahu kalau kami jadian."


"Terserah lo deh Le."


"Lo datang ke rumahkan ntar Cha, bantu-bantu mempersiapkan acara ulang tahun gue."


"Iya, apa sieh yang gak buat lo."


Lea merangkul Icha, "Lo benar-benar sahabat sejati gue."


****

__ADS_1


__ADS_2