
Dengan langkah lebar Aslan berjalan menuju UKS, fikir Aslan mungkin Icha bersembunyi disana, dan ketika dia tidak menemukan Icha disana, dia langsung memutar langkahnya.
"Lo dimana Cha." sambil jalan Aslan berfikir dimana kiranya Icha bersembunyi jika bad mood, dan satu tempat langsung terlintas dibenaknya, "Belakang sekolah." gumamnya, "Iya mungkin Icha disana." Aslan langsung melangkah menuju belakang sekolah, melewati toilet rusak yang letaknya persis dibelakang sekolah.
Area belakang sekolah merupakan tempat yang terisolasi, tempat yang tidak mungkin dikunjungi oleh murid normal seperti Aslan, namun saat ini kondisinya lain, dia terpaksa kesana untuk mencari keberadaan Icha. Belakang sekolah merupakan tempat menyeramkan, banyak pohon-pohon besar disana yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya mahluk astral, yang tambah memperparah keadaan, tepat didepannya ada toilet rusak tempat yang menurut gosip sebagai tempat Markunah bunuh diri, ini untuk pertama kalinya Aslan berada disana, Aslan heran, dari semua tempat diarea sekolah, kenapa area belakang sekolah yang dijadikan sebagai markas oleh geng biang rusuh yang menyebut dirinya sebagai geng elit, menurut Aslan, belakang sekolah tidak layak didatangi apalagi dijadikan sebagai markas.
Aslan mengedarkan pandangannya segala dipenjuru tempat tersebut, berharap menemukan Icha disana, "Chaaa." teriak Aslan, namun gak ada sahutan, "Ichaaa, apa lo ada disini, jawab gue." suara teriakan Aslan menggema.
Wusshhh wushhh
Hanya suara ******* angin yang menyahut.
"Sepertinya Icha gak ada disini."
"Dimana dia."
Aslan melangkahkan kakinya menjauhi area belakang sekolah, ketika melewati toilet rusak, sayup-sayup dia mendengar suara isakan, meskipun Aslan tidak percaya dengan hantu, tapi merinding juga bulu kuduknya mendengar suara isakan tersebut.
"Kok gue jadi merinding gini." lirihnya melewati tempat tersebut tanpa berniat untuk memeriksanya, tapi langkahnya terhenti ketika sayup-sayup gendang telinganya mendengar kalimat minta tolong, Aslan kembali berbalik memandang toilet yang dindingnya kusam dan berlumut dibeberapa bagian.
"Suara minta tolong, apa asalnya dari toilet." Aslan menajamkan pendengarannya.
"Tolongggg."
Meskipun suara tersebut tidak terlalu jelas, tapi Aslan yakin suara minta tolong itu bersumber dari toilet.
Dengan ragu, Aslan melangkah mendekati toilet, membuka pintunya secara perlahan, ketika sudah masuk, suara isakan makin jelas terdengar dari salah satu bilik yang ada didalam.
"Halooo, apa ada orang." Aslan was-was.
"Aslannn." suara Icha dibarengi dengan isakan.
"Icha." Aslan memastikan.
Icha menggedor-gedor pintu, "Aslann, ini gue, tolongin gue, ada yang ngerjain gue dengan ngunci gue disini."
Aslan menarik grendel pintu, dan benar saja tuh pintu terkunci.
"Tunggu sebentar Cha."
Aslan tidak sebodoh Icha yang terpengaruh oleh film-film yang pemainnya mendobrak pintu dan pintunya langsung terbuka begitu saja, sehingga mengetahui pintu itu terkunci otaknya langsung berfikir untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membuka pintu tersebut, Aslan melihat sekelilingnya mencari-cari benda yang bisa membantunya untuk membuka pintu tersebut, dan pandangannya jatuh pada kawat yang tergeletak tidak jauh darinya, Aslan memungutnya, dan dengan kemampuannya yang diatas rata-rata, setelah berjuang mengutak-atik lubang pintu dengan kawat yang ditemukan, tuh pintu akhirnya bisa terbuka.
"Aslannn." jerit Icha ketika pintu berhasil terbuka, dia langsung menubruk tubuh Aslan, kelakuan Icha tersebut hampir saja membuat Aslan terjengkang, namun Aslan mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Chaa."
"Gue takut Lan." Icha sesenggukan, tubuhnya gemetar.
__ADS_1
"Apa yang terjadi."
"Gue gak tahu, yang gue tahu gue dikunciin dari luar." lapor Icha, dia makin erat memeluk Aslan, "Gue takut Lan."
"Tenang Cha, gue ada disini sekarang." Aslan mencoba menenangkan Icha yang sepertinya terguncang, dalam hati merutuk, "Brengsek, siapa yang tega ngerjain Icha sampai segininya, kalau ketahuan, habis dia."
Merasakan sensasi dingin akibat memeluk Icha, Aslan mendorong bahu Icha pelan, matanya melebar melihat kondisi Icha yang basah kuyup, "Kenapa lo bisa basah begini."
"Gue diguyur dari atas Lan."
"Astagaaa, bener-bener jahat itu orang." Aslan jelas semakin emosi melihat kondisi sahabatnya, "Lo tahu siapa orangnya."
Icha menggeleng.
Tubuh Icha gemetar karna kedinginan, dengan merangkul Icha Aslan berkata, "Kita mending pergi dari sini."
Icha hanya mengangguk, dia menyembunyikan wajahnya didada Aslan.
****
Dalam kondisi seperti ini, gak mungkin Icha tetap stay disekolah, oleh karna itu, Aslan meminta izin pada guru piket untuk membawa Icha pulang, dan tanpa banyak bertanya, bu Vivi guru yang masih singgle yang punya jadwal piket hari itu, langsung memberikan izinnya setelah melihat kondisi Icha.
"Gak dibawa kerumah sakit dulu Lan." bu Vivi memberi saran, "Siapa tahu ada yang luka atau gimana.
"Gak perlu bu, Icha baik-baik saja, hanya butuh istirahat saja."
Dari arah berlawanan, Lea dan Laskar yang dari tadi mencari Icha langsung berlari menyongsong Aslan dan Icha begitu melihat mereka.
"Ya ampunn, apa yang terjadi dengan Icha Lan." Lea jelas panik melihat kondisi Icha yang berantakan.
Laskar langsung meraih Icha dari rangkulan Aslan, buru-buru dia melepas jaket yang dikenakan dan memasangkannya pada Icha, Laskar kemudian merengkuh tubuh Icha gemetaran.
Aslan terlihat tidak rela melihat Laskar mengambil alih Icha, namun dalam hati dia berkata, "Laskar lebih berhak menenangkan Icha daripada gue." ujarnya berbesar hati.
"Apa yang terjadi, kenapa Icha bisa basah kuyup begini." brondongnya Laskar.
"Ada yang ngerjain Icha." jawab Aslan, "Icha dikunci ditoilet belakang sekolah dan disiram."
"Apa." geram Laskar, "Siapa yang melakukan hal ini." jelas Laskar tidak terima pacarnya dibully, "Akan gue hajar orang itu."
Aslan yang menjawab mengingat Icha sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk buka suara, Icha kelihatan shock, "Icha gak tahu siapa yang melakukan hal itu." jawab Aslan sesuai fakta.
"Icha gak mungkin stay disekolah dengan kondisi seperti ini, makanya gue berencana membawanya pulang."
"Biar gue yang nganterin Icha."
"Lass." Lea mengintrupsi, "Apa tidak sebaiknya Icha diantar sama Aslan saja, Aslankan bawa mobil, sedangkan lo bawa motor, apa gak apa-apa tuh dengan kondisi Icha yang seperti ini."
__ADS_1
"Gue sama Laskar aja Le." tukas Icha dengan suara lemah.
"Lo tenang saja Le, gue bisa naik taksi kok, benar kata lo, dalam kondisi seperti ini gue gak mungkin bawa Icha naik motor."
"Tapi motor lo gimana."
"Gampang itu, ntar bisa gue ambil setelah nganterin Icha."
"Udah buruan bawa Icha pulang, kasihan pakaiannya basah, nanti masuk angin lagi." saran Aslan melihat bibir Icha memucat.
"Kami duluan." pamit Laskar merangkul Icha menjauh.
Aslan dan Lea hanya menatap punggung mereka untuk melepas kepergian mereka.
Aslan menghela nafas, "Icha pasti akan baik-baik saja." gumamnya.
"Lann, pulang sekolah aku ikut ya, aku ingin lihat keadaan Icha."
Aslan hanya mengangguk.
****
"Las."
"Kenapa Cha."
"Kita naik motor kamu saja."
"Tapi kamu basah begini Cha, nanti kamu masuk angin."
Icha menggeleng, "Aku gak selemah itu Las, hanya karna basah gini jadi sakit, aku hanya shock."
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan." Laskar mengalah.
Laskar menuntun Icha menuju motornya, dan membantu Icha untuk menaikinya.
Dan tanpa disuruh seperti sebelum-sebelumnya, Icha melingkarkan tangannya diperut Laskar, dia tidak sadar kalau dia mencengkram perut Aslan dengan kenceng.
"Tumben meluknya suka rela, gak perlu dipaksa dulu , tapi ini bisa membunuh gue." Laskar jelas sesak karna dipeluk dengan sekuat ini.
"Gue senang sieh dipeluk, tapi gak sekencang ini juga kali Cha."
Icha melonggarkan pelukannya, "Maaf." gumamnya lemah, Icha kemudian menyandarkan kepalanya dipunggung Laskar, melihat apa yang dilalukan Icha membuat Laskar merasa menjadi pacar seutuhnya, pacar yang menjadi tempat bersandar untuk Icha.
Laskar mengelus tangan Icha, "Aku gak akan ngebiarin kamu disakiti, aku akan cari orang yang yang telah melakukan hal ini ke kamu, dan akan kupastikan dia menyesal." janji Laskar dalam hati sebelum menjalankan motornya keluar dari parkiran.
****
__ADS_1