Cinderela Modern

Cinderela Modern
PANGLING


__ADS_3

"Hei up...." Loli menghentikan kalimatnya begitu melihat penampilan saudara tirinya yang terlihat berbeda dari biasanya, bisa dibilang Loli takjub dengan penampilan Icha, itu terlihat dari bibirnya yang menganga.


Icha yang baru turun dari lantai dua menghentikan langkahnya begitu mendengar suara Loli.


Loli memperhatikan penampilan Icha dari ujung kaki ke ujung rambut."Ini bukan lo kan pill, kok lo kelihatan beda."


Icha jadi jengah dipandang begitu, "Ada perlu apa sieh lo sama gue, buruan ngomong." bentak Icha gak sabar.


"Benaran ternyata ini sik upill, casingnya boleh beda, tapi dalamnya tetap sik upill." hina Loli.


"Gak jelas." desah Icha kembali berjalan meninggalkan Loli.


Loli buru-buru menahan lengan Icha, "Eh eh, tunggu dulu donk."


Icha menepis tangan Loli, "Apa lagi sieh, belum puas lo menghina gue."


"Sebenarnya sieh belum, tapi berhubung lo ada manfaatnya kali ini, gue pending dulu deh menghina lo."


Icha mendengus kasar mendengar ucapan Loli, ingin rasanya dia menonjok bibir Loli.


"Lo mau kepesta ultah Leakan pill."


"Hmmm."


"Lo perginya sama Laskar."


"Gue perginya sama Aslan."


"Gue dan Lola ikut nebeng dimobilnya Asla donk pliss, biar irit ongkos." kebetulan mereka juga akan kepestanya Lea.


"Gak." jawab Icha tanpa berfikir, "Dasar cewek gratisan." setelah itu Icha langsung meninggalkan Loli yang ingin mengacak-ngacak rambut Icha.


"Dasar pelit."


****


Didepan, mobil Aslan sudah menunggu, Aslan tidak menyadari kehadiran Icha karna fokus dengan ponselnya, bahkan ketika Icha membuka pintu mobil sekalipun dia tidak dengar.


"Ekhemmm." Icha berdehem untuk menarik perhatian Aslan.


"Lo lama amet sieh, habis ngapain aja." Aslan langsung menghentikan omelannya melihat penampilan Icha, untuk beberapa saat dia hanya melihat Icha dengan pandangan takjub.


"Busett, cantik amet." pujinya dalam hati, hal tersebut membuatnya gugup sehingga dia reflek bertanya, "Lo siapa."


Icha memberengut mendengar pertanyaan Aslan, "Bercanda lo gak lucu."


"Ini beneran lo Icha." Aslan memastikan setelah berhasil mengendalikan rasa gugup yang tiba-tiba menyerangnya.


"Menurut lo." jawab Icha ketus.


"Yaa..sepertinya lo benaran Icha, meskipun wajah lo sedikit berbeda sieh, gue sampai gak ngenalin lo sumpah."


"Berbeda dalam artian bagus atau jelek."


"Bagus."


Icha menarik kedua sudut bibirnya.


"Lo dandan ya."


"Iya, jelek ya, apa gue hapus aja."


"Ngapain dihapus, udah cantik kok itu, gue aja pangling." puji Aslan tulus, "Tapi sayang sudah ada yang punya." canda Aslan.


"Ihhh, kok gue seneng sieh denger Aslan muji gue." ujar Icha membatin, gak sadar dia tersenyum.

__ADS_1


"Siapa yang dandanin, Loli ya."


"Dandan sendirilah, mana mungkin rubah itu mau ngedandanin gue."


"Benar juga, tapi untuk cewek yang gak pernah dandan kayak lo, hasilnya oke, belajar dimana, Lea yang ngajarin." Aslan mengambil kesimpulan tersebut mengingat Lea hobi dandan.


"Ini kita mau berangkat atau lo mau wawancara soal make up gue sieh." tandas Icha malas menjawab rentetan pertanyaan Aslan.


"Iya iya, gak usah ngegas juga kali."


Sepanjang perjalanan, Aslan beberapa kali melirik ke arah Icha, dia masih belum percaya kalau gadis yang duduk disampingnya ini adalah Icha.


"Gue gak pernah nyangka, kalau dia bisa jadi secantik ini."


***


Ketika mereka tiba dirumah Lea, suasananya sudah ramai, banyak dari teman-teman kelas ataupun teman satu sekolah mereka yang sudah pada datang.


"Lo mau tetap disini atau keluar." tanya Aslan karna Icha belum juga beranjak keluar dari mobil.


"Gue malu Lan."


"Malu,? tumben amet, biasanya lo adalah orang yang gak pernah tahu malu yang gue kenal." ledek Aslan.


Icha memukul lengan Aslan, "Gue serius Aslann, lo malah ngeledek."


"Lo malu sama siapa sieh."


"Gue gak percaya diri dengan penampilan gue." ya maklumlah, selama inikan Icha dikenal cuek akan penampilannya, dan dandannya yang feminim layaknya cewek seperti ini pasti akan membuatnya jadi pusat perhatian.


"Lo cantik, jadi, apa yang membuat lo gak percaya diri."


"Gue hanya malu, pasti anak-anak akan ngebuly gue."


"Memang benar, murid normal gak mungkin membuly gue, anggota genk gue yang gue maksud, pasti mereka akan meledek gue habis-habisan melihat penampilan gue."


Aslan turun dari mobil, memutar ke arah dimana Icha duduk dan membuka pintu, Aslan menyodorkan telapak tangannya kedepan Icha.


Icha hanya memandang tangan Aslan bingung, "Tetap bersama dengan gue, gue jamin gak bakalan ada yang berani ngeledek lo."


Icha memandang Aslan dengan ragu, namun anggukan Aslan membuatnya akhirnya dengan yakin menyambut uluran tangan Aslan, Aslan menggenggam tangan Icha dengan erat.


"Lo percayakan sama gue."


Tanpa berfikir, Icha mengangguk.


Aslan tersenyum manis, senyum yang untuk pertama kalinya mampu menghipnotis Icha.


"Jantung gue, apa yang terjadi dengan jantung gue, kenapa detakannya menjadi tidak normal seperti ini."


"Ayok."


Lagi lagi Icha hanya mengangguk, dengan berpegangan mereka memasuki rumah Lea, tempat pesta ultah Lea berlangsung.


Tak ayal disepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian, betapa tidak mereka layaknya sepasang kekasih yang romantis.


"Aslan sama siapa tuh."


"Pacarnya mungkin."


"Cantik ya, serasi banget mereka."


"Elahh, patah hati gue."


"Tapi sepertinya tuh cewek bukan dari sekolah kita deh."

__ADS_1


"Benar, gue gak pernah lihat tuh cewek disekolah."


Terdengar bisik-bisik dibelakang mereka.


"Hai Aslann, makin cakep aja lo." sapa Nana yang juga baru datang.


Aslan hanya tersenyum tipis menanggapi pujian Nana.


Nana yang tidak mengenali Icha memperhatikan Icha dengan seksama sebelum berkata, "Lo dengan siapa nieh, pacar lo ya, wiehh ternyata lo punya gandengan baru sekarang, patah hati gue." Nana membuat mimik wajah seperti cewek nelangsa yang patah hati.


"Apa-apaan sieh Nana." batin Icha sewot, difikirnya Nana tengah meledeknya.


Sementara itu Aslan terkekeh mendengar clotehan Nana, "Kayaknya lo butuh kacamata deh Na."


"Maksud lo."


"Masak lo gak ngenalin Icha."


"Icha." Nana mendekat dan memperhatikan Icha lebih dekat, "Maksud lo, cewek cantik yang lo gandeng ini adalah Icha teman kelas kita."


"Emang berapa banyak Icha yang lo kenal."


Setelah memperhatikan untuk beberapa saat, Nana baru yakin kalau yang saat ini tengah bersama Aslan memanglah Icha, Nana memandang Icha dengan takjub dan melontarkan pujian, "Ya Tuhan Ichaaa, kok lo berubah jadi cantik begini sieh, kemana aja lo selama ini."


Sumpah Icha jadi malu mendapatkan pujian yang menurutnya sangat berlebihan, "Apa sieh lo Na, lebay deh."


"Ini bukannya lebay, tapi kenyataan, gak gue sangka cewek galak dan tomboy ini berubah 180 derajat ketika dandan, gue sampai pangling."


"Anjirr, pujian lo membuat kepala gue segede gajah tahu gak." respon Icha yang membuat Nana terkikik.


"Mending kita masuk deh, ntar Lea nyariin kita lagi." saran Icha risih karna dia menjadi pusat perhatian.


Aslan mengangguk, "Kami duluan Na." pamitnya masih menggenggam tangan Icha.


"Lo gak masuk Na." tanya Icha.


"Gue nunggu sahabat sejati gue dulu." yang dimaksud adalah Lola dan Loli.


Setibanya didalam.


"Aslannn." itu adalah suara Lea yang berlari menyongsong kedatangan Aslan.


Lea tersenyum bahagia begitu melihat sang pujaan hatinya, Lea terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna soft pink yang membalut tubuh rampingnya dengan rambut dicatok bergelombang dengan tiara kecil dikepalanya membuatnya seperti princess.


Lea terpaku untuk sesaat melihat tangan sang kekasih menggenggan mesra tangan Icha, kalau mau jujur sebenarnya ada rasa tidak suka melihat hal itu, tapi dia berusaha menepisnya.


"Le, selamat ulang tahun ya." ujar Icha melepas tangannya dari genggaman Aslan, dan memeluk Lea.


Lea tersenyum membalas pelukan sang sahabat, "Semoga lo panjang umur, semakin cantik, disayang keluarga, mendapatkan segala yang lo impikan." doa Icha tulus.


"Amiennn."


Icha mengurai pelukannya, "Satu lagi yang lo lupakan."


"Apa."


"Lo lupa menyebut semoga hubungan gue dan Aslan langgeng sampai kakek nenek."


"Ah iya." ujar Icha setengah hati, tapi dilubuk hatinya dia tidak ingin melihat Aslan dan Lea bersama, dia tahu dia jahat, tapi itulah kenyataannya.


"Selamat ulang tahun ya Le." ujar Aslan seadanya.


"Makasih Lan."


***

__ADS_1


__ADS_2