
Ini sudah kesepuluh kalinya Aslan menghubungi Icha, namun Icha tidak menjawab panggilannya, iyalah gak diangkat, orang Icha lagi tepar karna kelelahan.
"Kebiasaan banget sieh kalau tidur kayak orang mati." Aslan mendumel.
Merasa bahkan sampai seratuskali menelpon Icha pasti tidak akan diangkat, membuat Aslan punya inisiatif membangunkannya secara langsung, tapi terlebih dahulu dia melangkahkan kakinya menuju dapur dan menghampiri kulkas, membukanya dan mengambil kue tar yang dibelinya tadi sore, iya, tepat jam dua belas nanti, mereka berumur 18 tahun, dia dan Icha karna mereka lahir ditanggal yang sama, mereka selalu merayakannya bersama, dengan membawa kue yang sudah ditancapkan lilin dengan angka 18 diatasnya, satu tangannya menentang kado yang akan diberikan pada Icha sebagai hadiah.
Suasana diluar temaram karna hanya diterangi oleh bulan sabit dan lampu jalan yang bersinar redup, kamar Icha yang berada dilantai dua gelap gulita yang menandakan punghuninya tengah terlelap. Aslan memungut kerikil-kerikil kecil untuk membangunkan Icha dengan cara melemparkan kerikil tersebut pada jendela kamarnya.
Terdengar bunyi nyaring dari jendela yang dilempari kerikil, sayangnya Icha tidak mempan sama sekali dibangunkan hanya dengan satu kerikil, sampai semua kerikil ditangan Aslan habis, Icha tidak ada tanda-tandanya bangun, Aslan menjambak rambutnya frustasi, dia mengoceh, "Dia pasti lupa lagi kalau ini adalah hari ulang tahun kami."
Dengan memantapkan hati, Aslan meraih batu yang cukup besar, mungkin lebih dari cukup untuk memecahkan kaca jendela kamar Icha, saat ini dia gak peduli, yang dia inginkan hanya satu, yaitu Icha bangun dan merayakan ulang tahun mereka bersama, masalah kaca, itu bisa dia ganti, dengan mengambil ancang-ancang, Aslan melempar batu tersebut, dan detik berikutnya terdengar bunyi pecahan yang cukup keras.
"Kalau lo gak bangun juga, berarti lo bener-bener kebo."
****
Saat ini Icha tengah bermimpi, mimpinya aneh, dia tengah berada di lapangan disekolah bersama siswa lainnya melihat asteroid yang meluncur ke bumi, ketika suara keras mengejutkannya.
"Asteroid jatuh astaga." Icha memeriksa tubuhnya, dan tidak ada yang luka, dia berujar, "Syukurlah gue cuma mimpi."
Ketika akan kembali melanjutkan tidurnya, matanya tidak sengaja mengarah pada kaca jendela yang pacah, matanya turun ke lantai kamarnya melihat batu yang tergeletak disana.
"Ehh, apa itu asteroid ya, kok bentuknya kayak batu bumi biasa." Icha memungut batu itu, masih heran dan bertanya-tanya, "Tapi kalau ini asteroid, kenapa jatuhnya dari jendela, kenapa tidak dari atas genteng."
Keingintahuannya membuatnya berjalan kearah jendela untuk memeriksa, dan disana, dibawah, dia melihat Aslan melambaikan tangannya sambil menjunjung tinggi kue yang dibawanya.
"Oh astaga, kok gue bisa lupa sieh." menepuk keningnya dan langsung berlari keluar.
Yang patut Icha syukuri adalah mama dan dua saudari tirinya tidak bangun meskipun tuh kaca pecah dengan suara keras kena lemparan batu, ternyata dia lebih kebo daripada Icha.
"Dasar kebo, dari tadi gue bangunin lo gak bangun-bangun." Icha disambut omelan dari Aslan yang sudah bete.
"Ya sorry, habisnya capek banget gue dipaksa kerja rodi gara-gara pulang terlambat."
"Tante Dea."
"Siapa lagi."
"Terus kaki lo."
"Udah gak sakit lagi."
"Baguslah kalau gitu."
Aslan melihat arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, arloji itu menunjukkan angka 11.55 menit.
"Lima menit lagi Cha, mending kita nyalain lilinnya sekarang."
Icha mengangguk, dan tepat ketika tiga detik lagi menuju jam dua belas, mereka menghitung mundur.
__ADS_1
"Tiga, dua, satu."
Jam dua belas tepat yang artinya mereka sudah resmi berumur delapan belas tahun.
"Selamat ulang tahun Alissa Ramadhani." ucap Aslan.
"Selamat ulang tahun juga Aslan."
"Gak sangka ya, kita sekarang sudah berumur delapan belas tahun."
"Iya, waktu cepat banget berlalu, perasaan baru kemarin kita ngejar layangan putus."
Mereka berdua tertawa mengingat kelakuan mereka ketika masih kecil dulu.
"Oke, jadi sebelum meniup lilinnya, buat permohonan dulu."
Dan mereka memejamkan mata dan mengucapkan harapan mereka dalam hati, dan mereka meniup lilin bersama-sama dan bertepuk tangan untuk diri masing masing.
"Makasih ya Aslan, lo sahabat terbaik gue." lisan Icha, "Eh, lo mau tahu harapan gue gak."
"Yang namanya harapan ya jangan dikasih tahulah Cha." Aslan menolak secara halus, namun seperti tahun-tahun sebelumnya, Icha selalu memberitahu akan harapannya, tahu begitu ngapain diucapkan dalam hati barusan.
"Harapan gue adalah, Semoga lo dan gue akan tetap bersahabat, dan tidak ada yang bisa memisahkan persahabatan kita." ujarnya, "Kalau lo, harapan lo apa." Icha balik nanya, sesuatu yang sering ditanyakan meskipun dia tahu Aslan tidak akan memberitahunya.
Seperti sebelum-belumnya juga, Aslan pasti akan menjawab, "Rahasia donk."
"Lo itu gak cocok manyun, emang lo imut."
"Bodo amet."
"Daripada lo manyun begitu, mendingan kuenya kita makan."
"Soal makan saja tuh manyunnya ilang."
"Biarin." jawab Icha cuek.
Aslan memandang Icha yang tersenyum lebar, dengan antusias memotong kue.
"Gue sayang lo Cha, harapan gue adalah, gue ingin selalu lihat senyum itu, senyum manis yang selalu menghiasi bibir lo, gue gak ingin lihat lo nangis meskipun cuma sekali." itulah harapan Aslan setiap tahunnya.
"Nieh buat lo." Icha menyodorkan potongan kue pada Aslan.
"Kok lo curang sieh, bagian lo besar, sedangkan gue lecil."
"Masak sieh." ujarnya pura-pura, "Mungkin karna gelap, makanya gue motongnya gak rata gitu."
"Alasan saja lo."
Setelah beberapa menit, Aslan menyodorkan kado yang dibawanya pada Icha, "Nieh buat lo."
__ADS_1
"Wah, repot-repot segala, makasih ya." Icha merobek bungkus kado tersebut dengan antusias, melihat isinya dengan takjub, sepasang sepatu baru berwarna hitam, warna yang disukai Icha, Icha memandang Aslan penuh haru.
"Gue beliin lo sepatu karna sepatu lo udah butut."
"Makasih ya Lan, lo emang baik banget."
"Hadiah gue mana."
Nah lho, ulang tahun saja gak inget apalagi harus nyiapin hadiah buat Aslan, Icha gelagapan.
"Pasti lo lupa lagikan." desis Aslan melihat gelagat Icha.
"Gak donk, kali ini gue gak lupa, bentar gue ambilin." dia kembali masuk kerumah dan menuju kamarnya.
Icha membuka lemarinya, mencari sesuatu yang bisa dijadikan hadiah.
"Yang mana yang mana." Icha mencari-cari, pokoknya dia harus kasih sesuatu buat Aslan meskipun itu bekas,
"Nah, ini dia." gumamnya ceria menemukan apa yang dicari.
Tangannya menyambar baju berukuran XL yang di belikan Lea untuknya, baju itu tidak pernah dipakainya karna dia tidak suka warnanya.
"Nieh hadiah lo." memberikan baju tersebut pada Aslan, "Tapi sorry ya gak dibungkus, gue lupa beli kertas kado." bohongnya.
Aslan meraih baju pemberian Icha, "Begini juga lebih baik, daripada tahun kemarin lo gak ngasih apa-apa."
Mereka duduk saling membelakangi dengan punggung menempel satu sama lain sambil memandang langit menikmati indahnya malam yang bertabur bintang dan rembulan temaram.
"Indah banget ya." komentar Laskar.
"Biasa aja."
"Dasar lo, gak pernah bisa melihat keindahan ciptaan Tuhan."
"Eh eh." tangan Icha menunjuk kearah langit, "Bintang jatuh tuh." ujarnya heboh.
"Terus kenapa kalau bintang jatuh."
"Katanya kalau bintang jatuh dan kita membuat permohonan bakalan dikabulin."
"Lo percaya hal begituan."
"Gak tahu, soalnya gak pernah gue coba."
"Itu mitos, berdoa itu sama Tuhan, bukan sama bintang jatuh."
"Iya pak Ustadz, gue gak percaya deh sama hal begituan."
****
__ADS_1