Cinderela Modern

Cinderela Modern
UNDANGAN


__ADS_3

"Nah, nieh Cha." Lea kembali memberikan setumpuk undangan untuk Icha.


"Ya Allah Lea, ini aja udah banyak, belum disebar lagi, lo malah ngasih setumpuk undangan lagi, akhh capek tahu."


"Tenang saja, entar gue kasih bonus deh, lagian undangan susulan yang gue kasih itukan undangan untuk geng biang rusuh lo itu."


"Seriusan lo mau ngasih bonus." perkara bonus saja Lea langsung semangat.


"Seriuslah."


"Nahh itu baru oke, bikin semangat gue kalau gini, satu sekolahan juga lo undang gue sanggup nyebarin undangannya."


"Dasar lo itu ya, gak pernah mau rugi."


"Bay the way, makasih ya Le, lo juga ngundang Ari dan temen-temen yang lainnya."


"Asal lo kasih tahu aja sama sahabat-sahabat lo itu ya Cha, jangan bikin masalah dipesta ultah gue."


"Beres itu, lagian anak-anak itu bakalan kalem kalau banyak makan."


"Mirip sama lo."


"Biarin aja."


"Cha, sekalian ya gue titip undangan untuk kak Gibran." Lea kembali menyerahkan sebuah undangan.


"Lo ngundang kak Gibran juga."


"Iya, biar bagaimanapunkan dia calon kakak ipar gue."


"Lo aja yang kasih deh Le, soalnya hubungan gue sama kak Gibran saat ini lagi gak baik." tolak Icha.


Setelah mengetahui Aslan dan Lea pacaran, Icha malah kena imbasnya dicuekin Gibran.


"Dia selalu nyuekin gue, disapa malah diem." curhat Icha, "Dan itu gara-gara lo Le." sambung Icha dalam hati.


"Kak Gibran juga nyuekin lo Cha, gue juga dicuekin gitu sama dia, tiap gue chat hanya diread doank, pas waktu itu gue jenguk Aslan dan ketemu dia, gue sapa malah dicuekin, heran gue, seingat guekan, gue gak pernah ngelakuin salah sama dia."


"Kira-kira kak Gibran kenapa ya." Lea bertanya-tanya.


"Kenapa gak lo tanya aja langsung." Icha menyarankan, siapa tahu aja kak Gibran jujur sama perasaanya dan Lea jadi tahu penyebab Gibran berubah.


"Gue pernah tanya lewat chat."


"Dia bilang gak apa-apa, kayak cewek kan jawabannya."


"Ya udahlah Le, gak usah difikirin, saat ini lo fokus aja mempersiapkan pesta ulang tahun lo."


"Benar juga, tapi undangannya gimana."


"Menurut gue sieh lo gak usah ngundang kak Gibran Le, gue yakin dia gak mau datang." Lisan Icha, dalam hati berkata, "Udah pasti kak Gibran gak mau datang, bisa sakit hatinya ngelihat lo sama Aslan."


"Meskipun dia gak mau datang, tapi gue tetap bakalan ngasih undangan ini ke dia." kukuh Lea.


"Terserah lo deh Le."


"Oke deh Le kalau gitu gue cabut."


"Lo mau kemana." tanya Lea melihat Icha pergi meninggalkannya.


Icha mengangkat kartu undangan yang ada ditangannya, "Menjalankan misi."


***


"Baby gue mana ya." Lea mencari-cari keberadaan Aslan dikelas namun orang yang dicari gak ada disana.


"Kayaknya diperpustakaan deh, itukan tempat paforitnya."


Namun setibanya diperpus, ternyata orang yang dicari gak ada ditempat, "Kalau gak ada disini, Aslan kemana."


"Cari siapa Le." tegur bu Ela yang tengah merapikan buku-buku dirak, kebiasan anak-anak kalau udah baca asal naruh saja.

__ADS_1


"Ehh ibu, kelihatan banget ya saya seperti nyari seseorang."


"Iya, Leakan gak pernah ke perpus untuk baca."


"Hehehe iya sieh bu."


"Saya nyari Aslan bu, tapi kok gak ada ya."


"Ohh Aslan, dia mungkin dilab fisika."


"Ngapain bu."


"Kurang tahu, tapi sepertinya tengah dikasih pelatihan sama pak Taopik mengingat sebentar lagi sekolah kita mengikuti lomba olimpiade sains tingkat nasional."


"Oh, makasih ya bu atas infonya, mari bu saya permisi."


Lea melangkahkan kakinya kearah Lab fisika, pintu lab fisika tertutup, tapi dari luar Lea bisa mendengar suara pak Taopik seperti tengah memberi intruksi.


Lea kemudian duduk memutuskan untuk menunggu Aslan selesai.


Sepuluh menit menunggu, pintu terbuka, Lea langsung berdiri menyambut Aslan, namun yang keluar pertama kali adalah pak Taopik.


"Siang pak." sapa Lea sopan.


"Lea, kamu ngapain disini."


"Nunggu pacar saya pak, Aslan, sudah selesaikan pak."


"Hmmm."


"Boleh saya masuk nemuin Aslan."


"Ada apa pak." terdengar suara Aslan dibelakang pak Taopik.


"Nahh ini dia Aslannya."


Lea tersenyum melihat sang pacar.


"Aslan saya duluan, inget persiapkan dirimu, jangan sibuk pacaran membuat kemampuan otakmu menurun." pesan pak Taopik.


"Tenang pak, saya pacar yang baik dan pengertian, saya tidak akan mengganggu konsentrasi belajar Aslan." sahut Lea.


"Bagus itu, kamu pacar yang pengertian ternyata." sahut pak Taopik berlalu meninggalkan Lea dan Aslan.


Dari dalam kemudan menyusul dua orang keluar, satu laki-laki dan satu perempuan, Lea kenal mereka, hanya sebatas kenal saja sieh mengingat mereka satu angkatan.


Yang cewek namanya Lidya anak XI IPA 1, dan yang cowok namanya Juna anak XI IPA 3.


"Lan duluan." tegur Juna menepuk punggung Aslan yang diikuit oleh Lidya.


Aslan hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.


"Ada apa Lea, sampai nyari kesini." tanya Aslan begitu teman seteamnya berlalu.


"Niehhh." Lea menyerahkan undangan yang dari tadi pegangnya.


"Pokoknya kamu itu wajib datang, kalau gak aku marah lho."


Aslan mengambil undangan yang disodorkan oleh Lea, "Iya gue usahin." jawab Aslan kalem.


"Ihh, kok diusahiin sieh, harus datang." Lea merengek manja.


"Iya iya gue pasti datang."


"Nahh, gitu donk, sebagai pacar kamu memang wajib datang." Lea tersenyum bahagia mendengar janji Aslan.


"Lann."


"Hmmm."


Mereka ngobrol sambil berjalan kearah kelas.

__ADS_1


"Olimpiadenya kapan."


"Dua minggu lagi."


"Ohhh, pasti untuk saat-sat ini kamu tengah sibuk belajar ya."


"Begitulah."


"Akhh, tapi kamu kan tiap hari kerjanya belajar terus meskipun tidak dalam masa mengikuti olimpiade."


"Belajar itukan penting, supaya sukses dimasa depan."


"Benar juga."


"Makanya lo juga belajar, agar jangan ketularan kayak Icha bodoh."


Lea terkekeh mendengar kata-kata Laskar, "Gitu-gitukan Icha sahabat kamu juga Lan, sahabat kesayangan kamu lagi."


"Kalau seandainya aku dan Icha sama-sama tenggelam, kamu mau nolongin siapa duluan." pertanyaan menguji.


"Icha." jawab Aslan tanpa berfikir.


Jawaban Aslan membuat Lea langsung menghentikan langkahnya, meskipun apa yang dia katakan tidak mungkin terjadi, tapi jelas saja Lea kecewa mendengar jawaban yang tanpa fikir dilontarkan oleh Aslan, Lea ngerti, Icha jauh lebih lama bersahabat dengan Aslan, tapikan saat ini Lea adalah pacarnya, Lea tentunya ingin lebih diutamakan ketimbang Icha.


Aslan menoleh dan tidak menemukan Lea disampingnya, dia kemudian menoleh ke belakang dan melihat Lea berdiri disana, "Le, kenapa malah berhenti, ayok." ujarnya tanpa beban, seolah jawabannya barusan adalah sesuatu hal yang tidak penting.


Dengan wajah ditekuk Lea berjalan kearah Aslan yang menunggunya.


"Kamu kenapa." Aslan bertanya melihat wajah masam Lea.


Dan memang dasar cewek jawabannya adalah, "Tidak apa-apa." sambil mempercepat langkahnya meninggalkan Aslan dibelakang.


Aslan hanya menghela nafas, "Gak apa-apa, tapi wajahnya kayak asam jawa begitu, apa gue tadi salah ngomong ya." Aslan jelas heran dengan perubahan Lea yang tiba-tiba, padahal satu menit yang lalu kondisi wajah Lea masih dalam kategori normal.


****


"Athena mana." tanya Icha pada anak XI IPA 2 yang baru keluar kelas.


"Toilet kayaknya." menjawab sambil lalu.


Setelah mendapat informasi tersebut, Icha bergegas ke toilet mencari Athena and the genk.


Begitu membuka pintu toilet, Athena dan dua temannya itu tengah pada sibuk merapikan riasan mereka dikaca panjang yang terdapat ditoilet.


"Dempul aja yang tebelin, otak juga tuh perlu dikasih nutrisi biar gak kosong." komen Icha melihat tiga gadis yang tengah pada sibuk memperbaiki riasan wajahnya, Icha mah suka gitu orangnya, gak suka ngaca kalau ngomong.


Ketiga gadis yang tengah pada khusuk melakukan ritual sakral mereka kaget mendengar suara Icha, pasalnya mereka tidak mendengar suara pintu terbuka.


Andin yang tengah memakai aylainer sampai belepotan dikelopak matanya saking kagetnya melihat kedatangan Icha, "Ichaa, astaga jangan bilang dia mau nuntut balas." Andin panik, fikirnya Icha berniat balas dendam atas perlakuan mereka kemarin.


Dan untung sampai saat ini Icha belum tahu siapa yang ngerjain dia, kalau dia tahu, sudah bisa dipastikan dia akan ngasih pelajaran.


Kiara agak was-was juga sieh, pasalnya dia tahu Icha sadis kalau balas dendam.


Hanya Athena mungkin yang berusaha untuk bersikap tenang, meskipun agak khawatir juga sieh sebenarnya, dia berusaha berfikir positif dengan mengatakan dalam hati, "Sik bar-bar ini pasti hanya mau makai toilet, gak mungkinkan dia tahu siapa yang ngerjain dia kemarin."


Dengan pemikiran itu Athena berkata, "Lo kalau mau ke toilet ke toilet aja, gak usah pakai acara ngagetin orang segala."


"Siapa yang mau ke toilet, orang gue mau ketemu sama lo."


Udah gemetaran aja tuh sik Andin dan Kiara.


"Lo mau apa, lo mau bal...." hampir saja Athena keceplosan membuka aibnya didepan Icha, kalau itu terjadi, bisa habis ditempat mereka.


Kalimat Athena terpotong karna Icha melemparkan undangan yang diberikan Lea tepat mengenai wajah Athena.


"Tuhhh, undangan buat lo dari Lea, awas saja kalau lo bikin keributan dipesta ultahnya Lea, habis lo sama gue."


Setelah memberi ancaman, Icha langsung pergi.


"Ihhh, iblis memang dia, tidak bisakah dia memberikannya dengan baik-baik." geram Athena, "Awas saja lo Ichha, gue balas lo."

__ADS_1


Andin dan Kiara berusaha menenangkan, mereka jelas bersyukur ternyata Icha datang untuk memberi undangan, bukan untuk balas dendam.


****


__ADS_2