Cinderela Modern

Cinderela Modern
MINTA DOA


__ADS_3

Masih pagi, tapi Laskar sudah rapi jali dengan mengenakan seragam sekolahnya, dan dia bergegas kekamar orang tuanya, mama dan papanya baru tiba di Indonesia semalam setelah pulang dari Inggris mengurus bisnis mereka yang ada disana, dan tentu mereka masih capek ketika anak semata wayangnya nyelonong masuk begitu saja mengganggu tidur nyenyak mereka.


Laskar menyalakan lampu kamar, "Pagi mama dan papaku sayang." sapanya mendekati tempat tidur orang tuanya.


Mama Bela dan papa Abi silau oleh sinar lampu, mereka memicingkan matanya.


"Ma, pa, bangun donk, udah pagi ini." Laskar nyelip anatara mama dan papanya, kelakuannya persis seperti anak kecil.


"Sayaangggg, apa-apaan sieh kamu, pagi-pagi gangguin mama dan papa." protes mama Bella.


"Kangen donkk, udah dua minggu mama dan papa ninggalin anak kesayangannya ini, dan sekarang kalian malah tidur dengan nyenyak tanpa melihat bagaimana keadaan anak semata wayang kalian."


Papa Abi terpaksa bangun, bagaimana mau melanjutkan tidur kalau putra satu-satunya ini mengganggu ketenangannya, dia menyesal tidak mengunci pintu kamarnya.


Papa Abi meraih kacamatanya dinakas samping tempat tidur, memasangnya dan menjewer telinga Laskar.


Laskar mengaduh kesakitan, "Aduh aduh papa, lepasin sakit."


"Rasakan kamu, ini hukuman karna menggagu mama dan papa pagi-pagi begini, untung mama dan papa tidak dalam rangka membuatkan kamu adik." papa Abi melepaskan telinga anaknya.


Laskar mengelus telinganya yang memerah, "Bikin adek buat Laskarr, lihat umur donk pa, emang papa masih kuat."


"Anak ini." papa Abi yang kesal karna kemampuannya diranjang dipertanyakan kembali menjewer telinga Laskar, kali ini lebih keras.


Makin heboh dah tuh sik Laskar mengaduhnya, "Aw aw aw, papa sakit pa."


Mama Bella jadinya ikutan bangun karna kegaduhan suami dan anaknya.


"Papa, bisa gak jewer anak papa yang nakal ini diluar saja, mama masih ingin melanjutkan tidur, mama capek banget."


Mama Bella bersiap kembali menjatuhkan kepalanya di bantal, namun Laskar langsung menarik tangan mamanya, "Apa-apaan sieh mama, orang Laskar sengaja nyambangin kamar mama dan papa buat bangunin kalian, ini malah mama mau tidur lagi, ayok bangun ma." entah ada maksud apa sehingga Laskar memaksa kedua orang tuanya yang masih kelelahan untuk menuruti keinginannya.


"Aduhhh sayangg...apa sieh yang kamu inginkan."


"Mama bangun dulu donk, cuci muka dulu kek, wudhu dulu kek sholat shubuh sana, kalau mama masih setengah sadar begini, mana bisa mama nangkap apa yang akan Laskar katakan."


"Sudahlah ma, turutin saja keinginan anakmu ini, diakan kalau punya keinginan mesti diturutin."


"Nahh, gitu donk pa, bekerjasama."


Mama Bella dengan menggerutu berjalan kearah kamar mandi.


"Kalau gitu, Laskar tunggu dimeja makan, jangan lama-lama ma pa, jangan biarkan anakmu yang ganteng ini menunggu lama."

__ADS_1


Papa Abi menggeleng melihat kelakuan putranya itu, dia bergumam, "Ini gara-gara Bela yang selalu memanjakannya."


Lima belas menit kemudian barulah kedua orang tua Laskar menyusul kemeja makan, disana Laskar sudah duduk dilayani oleh salah satu pelayannya, dan dua pelayan lainnya juga menunggu kedatangan tuan dan nyonya besar rumah besar tersebut untuk dilayani, memang dasar orang kaya, apa-apa dilayani.


"Pagi tuan, nyonya." sapa pelayan-pelayan itu begitu melihat majikannya.


Papa Abi hanya memberi anggukan sebagai balasan, dua pelayan itu langsung menarik kursi untuk masing-masing majikannya.


Sebelum baik papa dan mamanya sempat bertanya apa yang diinginkan Laskar, Laskar lebih dulu menyodorkan botol air mineral berukuran tanggung pada mama Bella.


Mama Bella yang salah mengira maksud anaknya itu mengambilnya dengan terharu, "Makasih lho sayang, kamu memang tahu kalau mama lebih suka minum air putih, bagus untuk kesehatan dan yang paling penting untuk kecantikan kulit mama."


Mama Bella akan membuka tutup botol tersebut, namun Laskar dengan tegas melarangnya, "Mama, itu bukan buat mama."


"Lhaa, terus kalau bukan buat mama, kenapa kamu kasihin ke mama."


"Itu karna...." Laskar tidak melanjutkan kalimatnya, dia terlihat malu.


Mama Bella menunggu apa yang akan dikatakan oleh Laskar.


"Karna apa." kejar mama Bella karna tidak sabar menunggu Laskar yang terlihat memikirkan kalimat yang tepat untuk menjelaskan maksudnya.


"Ekhemm, begini lho mama." Laskar memulai, "Laskar kan lagi suka sama cewek." Laskar adalah tipe cowok yang suka mencurhatkan banyak hal pada orang tuanya, sehingga tidak heran dia menceritakan niatnya untuk menembak Icha secara resmi kepada orang tuanya.


"Anak mama menyukai seorang wanita, astaga papa, anak kita akhirnya jatuh cinta lagi, ini sepertinya harus dirayakan." respon mama Bella lebay.


"Gak perlu selebay itu juga kali ma, difikir Laskar menang kompetisi sains apa pakai dirayain segala." timpal papa Abi tidak menyetujui saran istrinya.


"Gadis yang pernah datang jenguk tuan itu bukan, gadis yang bernama Icha itukan." Sri sik pelayan nimbrung.


"Astagaa, jadi gadis yang disukai Laskar pernah datang kemari."


"Iya nyonya, ketika tuan Laskar sakit."


"Sakit, kapan kamu sakit." tanya papa Abi.


Laskar melotot pada Sri sebagai sebuah kode memintanya untuk tutup mulut, kalau gak, bisa ketahuan doank kalau dia berkelahi, bisa-bisa dia ceramahi sampai magrib oleh kedua orang tuanya. Dan Sri yang sadar tidak lagi ikut nimbrung, takut salah ngomong.


"Cuma sakit kepala biasa kok pa."


Papa Abi percaya begitu saja.


"Astaga gue hampir lupa lagi." lirih Laskar, "Ma, mama bacain doa donk air yang mama pegang."

__ADS_1


"Baca doa, buat apa sayang." jelas mama Bella heran.


"Hari inikan rencananya Laskar mau nembak tuh cewek, jadi siapa tahu dengan mama membacakan doa pada air tersebut bisa melancarkan usaha Laskar untuk mendapatkan hatinya." Laskar menjelaskan, "Doa ibukan lebih makbul ketimbang doa ulama besar sekalipun, yahh meskipun mama jarang sholat sieh, tapi siapa tahu doa mama diijabah."


Mendengar penjelasan anaknya membuat papa Abi tertawa ngakak, "Hahaha, Laskar Laskar." menggeleng-gelengkan kepalanya, "Mau nembak cewek saja pakai minta doa ibu segala, seperti mau pergi kemedan perang saja."


Para pelayan juga ingin tertawa, tapi sayangnya mana berani mereka melakukan hal itu, jadinya mereka hanya puas tertawa dalam hati saja.


"Itu penting pa, masalahnya ini menyangkut masa depan Laskar."


"Ma, buruan dibacain doa airnya, Laskar sudah mau berangkat ini."


"Baiklah."


Tanpa suara mama Bella melafalkan sebuah doa dan ditiupkan keair tersebut dan memberikannya kembali ke Laskar setelah selesai.


"Papa juga donk."


"Astaga kamu itu bikin repot saja." papa Abi mengambil air mineral tersebut dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan mama Bella.


"Oke ma, pa, Laskar berangkat dulu." Laskar memasukkan botol air mineral itu ditasnya.


Laskar meraih Leo yang ada dilantai dan menciumnya, tidak hanya minta doa sama mama dan papanya, Laskar juga minta doa sama sik Leo, "Doain papa ya Leo supaya mama kamu nerima papa."


Ngeong ngeong, Leo hanya mengeong, mungkin artinya adalah iya.


"Anak pintar."


"Pa, anak kita sepertinya mulai mengalami gangguan jiwa, masak minta doa sama kucing juga." bisik Bella.


"Mama tenang saja, papa seratus persen yakin kalau anak kita tidak mengalami gangguan jiwa seperti yang mama bilang."


"Doain Laskar semoga berhasil." teriak Laskar sebelum keluar dari pintu.


Diluar, Laskar mengambil bunga mawar dari taman rumahnya, ya gak apa-apa kalau cuma bunganya saja, tapi ini dia bawa sekalian sama potnya.


"Tuan, itu bunga mau dibawa kemana." teriak tukang kebun.


"Mau gue kasih sama gadis yang gue suka." balasnya berteriak.


Karna membawa bunga beserta potnya sehingga kali ini Laskar memilih membawa mobil daripada motor.


*****

__ADS_1


__ADS_2