Cinderela Modern

Cinderela Modern
Membalas Lola Dan Loli


__ADS_3

Biasanya sepuluh menit sebelum pelajaran berikutnya dimulai, pak Tirmizi alias yang biasa disingkat Ptir itu mengakhiri kegiatan olahraga dan memberikan kesempatan pada anak didiknya untuk ganti pakaian atau gak mengisi tenaga sebelum memulai pelajaran selanjutnya, karna satu-satunya pelajaran yang menguras tenaga adalah pelajaran olahraga, sedangkan kebanyakan mata pelajaran lainnya lebih banyak menguras otak yang berpotensi membuat siswa yang memiliki kemampuan otak pas-pasan mengalami serangan stres.


Setelah pada mengganti pakaian olahraga dengan seragam putih abu-abu, anak-anak akan pergi kekantin hanya untuk mengisi energi hanya untuk menghilangkan dahaga atau membeli gorengan untuk mengganjal perut, begitu juga dengan kelas XI IPS 5, sebelum bel pergantian jam mereka pada nongkrong dikantin supaya mereka punya tenaga menyambut pelajaran selanjutnya.


Icha datang sambil ngos-ngosan parah plus disertai mandi keringet setelah menyelsaikan hukuman berat yang telah diberikan Ptir.


"Hoss hoss, Mbak Ijah, pesan es teh lima."


"Lima neng." mbak Ijah bertanya heran, "Neng Icha habis nyangkul aspal ya sampai kehausan gini."


"Bukan mbak, Icha habis nguras air laut." Icha menjawab ngaco.


"Neng Icha nieh, mbak kan nanya baik-baik, dijawabnya ngasal."


"Ah, udahlah mbak jangan banyak tanyalah, saat ini saya dalam mode no coment, mending buruan bikinin gue es teh sebelum gue pingsan."


"Iya neng, tunggu, bikin lima es teh sekaliguskan butuh waktu."


"Ini neng es tehnya."


Icha langsung menandaskan isi gelas es teh pertama yang diberikan oleh mbak Ijah.


Dalam hati mbak Ijah bertanya-tanya, "Apa sieh yang dilakukan oleh neng Icha sampai kehausan begini."


Gelas kedua juga begitu langsung tandas.


"Busett, lo kayak sapi kehausan aja Cha, gak takut kembung tuh perut." komen Marhun yang juga berniat membeli es teh.


"Tutup mulut deh lo kalau gak mau tuh bibir jontor, saat ini gue dalam kondisi ingin gebukin orang."


Marhun langsung tutup mulut, gak mau jadi korban pelecehan, eh maksudnya jadi samsak hidup Icha yang saat ini tengah dalam kondisi kehausan dan kelaparan, memang ya, dua hal itu mampu membuat orang kalap dan bisa melakukan kejahatan apapun.


"Mas Marhun, neng Icha habis ngapain sieh sampai kehausan gitu." mbak Ijah bertanya.


"Habis lari keliling lapangan sepuluh putaran mbak, kena hukum sama Ptir karna telat."


"Pantes kehausan." mbak Ijah maklum mengingat luasnya lapangan SMA PERTIWI.


****


Pelajaran olahraga yang menguras tenaga, setelah itu pelajaran selanjutnya adalah matematika yang menguras otak sampai ke akar-akarnya, bener-bener neraka banget gak sieh buat mahluk bernama siswa.


"Heh." mata Icha melebar melihat bunga yang ada dibangkunya begitu masuk, tadi pagi karna buru-buru dia hanya menaruh tasnya diatas meja dan tidak melihat bunga tersebut, "Kerjaan siapa sieh ini."


"Pengagum rahasia lo lah, siapa lagi coba." jawab Lea.


Icha mengambil bunga tersebut, gak hanya bunga, sik pengirim rahasia juga mengirimi Icha coklat, "Nah, ini baru gue suka." Icha langsung membuka bungkus coklat dan melahapnya dan menyodorkan bunga tersebut pada Lea, "Nieh bagian lo Le, gue gak doyan bunga soalnya."


"Aneh lo Cha, semua wanitakan suka sama bunga."


"Tapi gue gak."


Lea mengambil bunga tersebut dan memberikannya pada Marhun yang kebetulan lewat didekatnya.


"Nieh buat lo."


"Gue udah punya pacar lho Le, tapi kalau lo mau jadi kekasih gelap gue sieh, gue mau." sambil celingak-celingak melihat kalau-kalau Gita pacarnya ada dikelas, kalau Gita tahukan habis dia, dan dia merasa aman karna Gita belum masuk kelas.


Plakkk

__ADS_1


Sebagai jawabannya Lea langsung mengeplak kepala Marhun, "Jangan ngaco lo kalau ngomong, gue ngasih bunga bukan karna gue suka lo ya, hanya karna gue tahu lo cowok gak modal, suka maling bunga sekolah terus dikasih ke Gita, heran gue, kok Gita mau sieh sama lo."


Marhun mendengus, "Ye elah Lea, jangan buka rahasia ditempat umum juga donk."


Icha terkekeh, "Gita dipelet kali sama dia."


Marhun yang tidak terima dengan kata-kata Icha meradang, "Sekate-kate amet lo Cha, gini-gini iman gue kuat, gue gak level pakai cara musrik begitu."


"Percaya gak ya." ledek Icha.


"Pagi anak-anak." sapa pak Top guru matematika sekaligus mengintrupsi obrolan anak-anak didiknya


Anak-anak itu pada kocar-kocar kebangku masing-masing, tanpa basa-basi, pak Top langsung nyuruh anak didiknya untuk mengumpulkan PR.


"Kumpulkan PR kalian."


Semuanya pada patuh menuruti perintah sang Hitler, yah begitulah julukan yang diberikan pada pak Taopik saking galaknya dia.


Sebelum memulai pembelajaran, pak Top memeriksa hasil pekerjaan anak-anak didiknya, matanya melotot ketika menemukan jawaban ngaur dari salah dua siswanya.


"Lola, Loli, kemari kalian."


Icha tertawa dalam hati, "Ha ha ha, mati lo berdua gue kerjain, gue dilawan."


Lola dan Loli dengan takut-takut maju kedepan, "Jawaban apa ini hah, tidak pernah saya lihat jawaban sengaur ini, bahkan sebegok-begoknya Icha tidak pernah jawabannya ngarang bebas seperti kalian ini."


"Ihh, bisa gak sieh nama gue gak usah dibawa-bawa,." protes Icha, tentunya protes hanya dalam hati.


Sedangkan baik itu Lola dan Loli mengutuk Icha dalam hati karna ngerjain mereka.


"Dasarrr sik upil itu, awas saja dia nanti." geram Lola.


"Kalian berdua, selama pelajaran saya berlangsung berdiri didepan, angkat sebelah kaki kalian dengan tangan dikuping."


"Hah." ujar Lola dan Loli samaan.


"Ih, bapak kok hukumannya kayak anak SD gitu sieh, yang kreatif dikit kek, kan kami udah gede." Loli protes.


"Siapa kamu ngatur-ngatur saya, saya guru, terserah saya mau ngasih kalian hukuman apa." tandas pak Top membuat yang lainnya cekikikan, "Ayok cepat, lakukan perintah saya."


Dengan terpaksa Lola dan Loli melakukan apa yang disuruh oleh pak Top.


"Awas lo." Lola menggerakkan bibirnya tanpa suara mengancam Icha.


Icha membalas tanpa suara juga, "Tatut." ledeknya pura-pura menampakkan wajah ketakutan.


Melihat senyum lebar Icha, Lea bertanya dengan suara berbisik, "Ini kerjaan lo Cha."


"Ya begitulah."


Lea mengacungkan kedua jempolnya, "Gue suka gaya lo."


****


Saat ini, Icha tengah duduk santai sambil menikmati mi rebus dengan segelas es jeruk, ini sudah jam pulang sekolah sebenarnya, namun kantin tetap buka karna memang banyak siswa yang masih disekolah karna kegiatan eskul, pertanyaannya apakah hari ini Icha mengikuti ekskul, jawabannya tidak, dia dikantin karna tengah menunggu Lea yang saat ini ada urusan dengan pamannya alias kepala sekolah yaitu pak Firman, Icha sieh malas nunguin Lea, tapi dengan iming-iming akan diantar pulang dan ditraktir, Icha mau deh, karna saat ini Gibran tidak bisa menjemputnya karna tengah ujian.


Ditengah asyik-asyiknya menyeruput kuah mi rebusnya, ponsel disaku rok putih abu-abunya berdering.


"Duh, siapa sieh yang nelpon, ganggu orang makan saja."

__ADS_1


"Aceng calling" tertera dilayar ponselnya.


"Mau apa sieh jerapah ini." ujarnya menggeser simbol telpon berwarna hijau diponselnya.


"Ada apa...."


"Markunah lo dimana."


"Sudah gue bilang jangan panggil gue Markunah lagi, bebal banget sieh lo."


"Anjirrr lo malah mempermasalahkan hal gak penting begitu sekarang, kasih tahu dimana lo berada, lo belum pulangkan." suara Aceng terdengar panik.


"Ada apaan sieh sebenarnya, kok lo panik gitu kayaknya." ujarnya dan meminum es jeruknya.


"Kita diserang oleh anak Tunas harapan."


Byuurrr.


Langsung deh Icha menyemburkan es teh yang tadi masih dimulutnya, "Anak Tunas Harapan nyerang kita."


"Iya, makanya buruan lo, kita mau nyegat mereka diperempatan supaya anak-anak lainnya bisa pulang supaya anak Tunas harapan tidak menyandera anak-anak Pertiwi."


"Ari, dia masuk gak hari ini."


"Sik bos gak masuk."


"Apa, wah sik Ari kampret itu, bener-bener milih hari yang tepat untuk tidak masuk."


"Tapi gue udah telpon dia, dia lagi otw."


"Oke deh gue segera meluncur kalau gitu."


Icha sudah bersiap pergi, namun sayang mie rebusnya masih tersisa banyak, "Habisin dulu deh, mubazir." dengan sangat cepat memindahkan mie dimangkuk ke mulutnya, setelah menyelsaikan misinya itu dia langsung berlari keruangan kepala sekolah, lho, kok ke ruangan kepala sekolah, bukannya keperempatan seperti yang diperintahkan Aceng, ya jelaslah Icha berlari keruang kepala sekolah terlebih dahulu dalam rangka menyelamatkan Lea, kalau Lea sudah aman tentram dan sentosa, dia bisa tenang menghadapi pertempuran.


Tanpa mempedulikan sopan santun, Icha langsung main masuk saja keruangan orang yang paling disegani di SMA PERTIWI, kedua orang yang masih berada dalam ruangan itu langsung mengalihkahkan perhatian mereka pada pendatang itu.


"Bapak Firman yang terhormat, Nama saya Alissa Ramadhani, saya sahabatnya Lea keponakan bapak, jadi saya harap saya tidak mendapat hukuman atas ketidaksopanan saya ini, soalnya ini kondisinya genting." crocos Icha panjang lebar dengan satu tarikan nafas.


Pak Firman masih mencerna kata-kata gadis yang baru masuk keruangannya.


"Cha, ada apaan sieh." tanya Lea.


Bukannya membalas pertanyaan Lea, Icha malah kembali nyrocos.


"Anak-anak Tunas Harapan dalam perjalanan nyerang sekolah kita pak, jadi saya harap untuk keselamatan bapak, bapak segera pulang dan berkumpul dengan keluarga bapak, biar masalah ini menjadi urusan kami yang masih muda."


"Maksudnya, kalian bakalan tauran gitu." Lea memperjelas maksud Icha.


"Tepat sekali Lea."


"Biar Lea saya yang antar." sela pak Firman untuk pertama kalinya buka suara.


"Gak usah om, lagian Ucup pasti udah nunggu didepan." tolak Lea.


"Untuk itu, ayok kita go out sekarang." Icha menarik tangan Lea tanpa permisi.


"Permisi om, om sebaiknya cepat pulang juga." pesan Lea pada pamannya itu.


****

__ADS_1


__ADS_2