Cinderela Modern

Cinderela Modern
SAMBUTAN UNTUK ICHA


__ADS_3

Sesuai dengan perintah Laskar, Icha bener-bener diperlakukan dengan sangat baik oleh pelayan-pelayan dirumah besar Laskar, contohnya saja ketika dia diantar oleh satpam menuju rumah besar Laskar, disana berdiri berjejer diteras para pelayan rumah Laskar, apalagi yang mereka lakukan kalau bukan menunggu kedatangan Icha, wanita yang mereka anggap adalah wanita yang disukai oleh tuan muda mereka.


Melihat hal tersebut Lea berbisik, "Masak iya para pelayan yang membentuk tembok berlin itu mau nyambut kedatangan lo sieh."


"Jangan ngaco lo." desis Icha membantah, "Emang gue siapa pakai disambut segala."


Kata sambutan dari salah satu pelayan itu menandaskan bantahan Icha, "Selamat datang nona Icha dirumah tuan muda Laskar."


"Apa gue bilang." cibir Lea.


"Kalian berdiri disini menunggu kami." tanya Icha.


"Iya nona."


"Mari silahkan masuk nona."


"Terimakasih, gue, eh maksud saya." karna berbicara dengan orang yang lebih tua, jadinya Icha harus bersikap lebih sopan, "Kami kesini mau jengukin Laskar, katanya dia lagi sakit."


"Bener nona." pelayan tersebut menjelaskan, "Pagi tadi tuan berangkat kesekolah, tapi satu jam kemudian tuan kembali kerumah dengan wajah hancur."


"Hancur, maksudnya." Lea bertanya ngeri.


"Babak belur nona." sik pelayan meralat kalimatnya menjadi lebih bisa ditolerir.


"Sekarang Laskarnya ada dimana."


"Tuan ada dikamarnya nona, istirahat, tuan gak bisa bergerak, sejak pulang hanya berbaring saja." ini pelayan bener-bener bisa diandalkan untuk mengarang cerita bohong sesuai dengan intruksi Laskar.


"Bolehkah kami melihatnya."


"Oh tentu saja nona, mari saya antarkan kekamar tuan."


"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Sri nona."


"Saya Icha."


"Saya Lea."


Mereka berdua memperkenalkan diri mereka.


Icha dan Lea mengikuti pelayan bernama Sri itu menuju kamar Laskar, rumah Laskar sangat besar dan lantai tiga, sehingga tidak heran untuk memudahkan penghuni rumahnya supaya tidak capek naik turun tangga, pemilik rumah membuat lift.


"Buseett, nieh rumah ada lifnya." gumam Lea takjub.


"Biasa aja kali Le ekpresinya, kayak gak pernah lihat lift saja." Icha meledek.


Lea mendengus.


"Mari nona."

__ADS_1


Icha dan Lea mengikuti Sri memasuki lift, hanya butuh waktu beberapa detik untuk sampai dilantai tiga tempat dimana kamar Laskar berada, Sri menuntun Icha dan Lea menuju kamarnya Laskar, Sri berhenti disebuah pintu berwarna coklat dan mengepalkan tangannya untuk mengetuk.


Tok tok tok.


"Siapa." terdengar suara Laskar dari dalam, Laskar sengaja membuat suaranya terdengar lemah agar Icha percaya kalau dia saat ini lagi dalam keadaan kesakitan.


"Saya Sri tuan, saya kemari untuk mengantarkan nona Icha dan satu temannya yang ikut bersamanya."


"Biarkan mereka masuk."


Sri menarik kenop pintu, dan mempersilahkan Icha dan Lea masuk, "Silahkan nona."


Icha dan Lea melangkah masuk ke kamar Laskar, kamar itu luas dan didominasi oleh warna hitam dan putih, bener-bener menggambarkan kamar laki-laki tulen, disana, diranjang besarnya terlihat Laskar tengah tertidur dengan selimut menutupi kaki sampai dadanya, Icha melihat Leo duduk disebelah Laskar.


"Hai Cha." sapa Laskar melihat Icha mendekat ke arahnya.


Namun Icha mengabaikan sapaan Laskar, dia malah meraih Leo dan menggendongnya, "Hai sayang, ini mama, mama kangen banget sama kamu, kamu kangen sama mama jugakan."


Laskar mendengus, dia kan yang seharusnya mendapat perhatian, bukannya Leo, "Cha, yang sakit parah itu gue, bukannya Leo." protesnya.


"Iya gue tahu, tapi gue kangen Leo." dengan menggendong Leo Icha duduk dipinggir tempat tidur, Lea juga duduk disamping Icha, dia mengelus kepala Leo, "Lucu banget sieh, jadi pengen punya kucing deh." ujar Lea gemes, "Darimana lo pungut nieh kucing Cha."


"Dari got."


Lea langsung menjauhkan tangannya begitu mengetahui informasi tersebut, seolah-olah Leo membawa penyakit menular.


Lea terlihat lebih tenang mendengar informasi tersebut.


"Woee, orang yang lo jengukin disini nieh, kenapa malah jadi sibuk dengan Leo."


"Jadi lupa."


Baik Icha dan Lea kini memusatkan perhatiannya pada Laskar.


"Laskarr, kenapa lo bisa babak belur begini." tanya Lea yang baru memperhatikan wajah Laskar, Lea terlihat ngeri melihat lebam-lebam kebiruan hampir memenuhi wajah ganteng Laskar, padahalkan itu palsu.


"Biasa Le, cowok, berantem."


"Pasti sakit ya."


"Ya begitulah, ngomong-ngomong, makasih ya Le, karna udah jengukin gue juga, padahal gue minta cuma Icha lho yang kemari."


"Iya sama-sama Las, sebagai teman memang harus begitu."


"Lo bilang, luka lo gak terlalu parah." Icha menyela.


"Itukan gue lakukan supaya lo gak khawatir Cha, tapi emang lo gak khawatir, buktinya lo malah meluk Leo gak meluk gue."


"Lo fikir gue remaja alay apa pakai peluk-peluk segala."

__ADS_1


"Yahh, gak perlu jadi alayy hanya untuk meluk orang yang lagi sakit."


"Udah sana Cha, peluk Laskar, siapa tahu dengan lo meluk dia, Laskar jadi bisa sembuh, jangan hanya kucingnya saja yang lo peluk."


"Lo aja sana yang meluk."


"Laskar maunya elo yang meluk."


Mereka malah berdebat tentang pelukan.


"Gue gak mau, bukan muhrim, dosa."


"Udah udah." lerai Laskar, "Kenapa malah ribut begini sieh, guekan cuma bercanda."


"Babak belur begini lo masih sempat-sempatnya bercanda."


"Hidup itu harus begitu Cha, jangan serius mulu, ntar cepat tua lagi."


"Lo gak mau tahu nieh cerita kenapa gue sampai babak belur begini."


"Karna lo dikeroyok oleh anak-anak Tunas Harapankan." tandas Icha.


"Maksud gue, lo gak mau denger cerita lengkapnya."


"Sebenarnya kalau mau jujur sieh gue gak mau, tapi untuk menghormati elo, jadi gak ada salahnya deh dengerin cerita lo."


"Lo emang begitu Cha, tidak bisakah lo berbohong untuk membahagiakan gue."


"Dihh, cowok kok merajuk, ubah kelamin aja sana."


"Anjirr lo."


Icha terkekeh, "Katanya mau cerita, ayok cerita kronologis kejadiannya sebelum gue berubah fikiran."


"Le, kalau nantinya gak sanggup denger cerita gue, lo bisa tutup telinga deh." saran Laskar.


"Jangan khawatir gue gak apa-apa kok."


Dan mulailah Laskar cerita, ceritanya bener-bener ditambahkan sedemikian rupa, tapi Icha dan Lea percaya dibegoin oleh Laskar.


"Gitu ceritanya." Laskar mengakhiri ceritanya.


Respon Icha setelah mendengar cerita Laskar, "Mereka bener-bener keterlaluan, awas saja mereka, bakalan habis saat kami balas dendam nanti."


"Jangan dendam-dendam begitu, kata pak Dahar guru agama kita, dendam itu gak baik, dosa Cha, bisa masuk neraka."


"Iya ustadzah."


****

__ADS_1


__ADS_2