
"Hahaha."
Tiga cewek jahat itu tertawa bahagia setelah berhasil mengerjai Icha.
"Mampus, basah basah deh lo."
"Puas banget deh gue berhasil ngebalasin dendam gue." lirih Athena.
"Tapi gimana kalau Icha tahu kita yang ngerjain dia dan nyari kita, habislah kita ." khawatir Andin akan Icha yang balas dendam atas perbuatan mereka barusan.
"Elahhh gitu aja lo fikirin, ya lawanlah kalau dia macam-macam." timpal Kiara.
"Kayak lo berani aja sama dia, diakan preman, jago taekondo lagi, emang bisa lo lawan."
"Sudahlah Ndin, lo gak perlu pusingin masalah itu sekarang, yang penting saat ini kita telah berhasil membalas sik bar-bar itu, hahaha, puas banget gue"
Namun, kebahagian ketiga gadis itu karna berhasil mengerjai Icha hanya berlangsung sementara, karna malapetaka telah menunggu mereka didepan.
"Wah wah, apa gerangan yang membuat gadis-gadis cantik kelas XI keluyuran disaat jam pelajaran seperti ini." bu Dewi dengan mata setajam silet dan menyilanykan tangannya berdiri didepan mereka.
"Astagaa, Dewi kematian, tamatlah riwayat kita." desis Andin gemetaran.
"Kenapa tadi kita tidak lewat jalan memutar aja sieh." gumam Kiara telat ngasih solusinya.
"Buat alasan apa kita kalau sudah kepergok begini Na." bisik Andin.
"Kalian bertiga." tunjuk bu Dewi garang, "Ikut saya ke keruangan saya, sepertinya kalian harus diajarkan bagaimana caranya menghargai guru kalian."
Dengan patuh mereka mengukuti bu Dewi dibelakang.
Tiga gadis itu saling lirik satu sama lain.
"Gimana nieh Na."
"Hadapin ajalah, segalak-galaknya bu Dewi gak mungkin doyan daging manusiakan." sahut Athena berbisik
Mereka berbisik dibelakang yang membuat bu Dewi memutar tubuhnya.
"Apa yang kalian bisikkan, kalian ngomongin saya." bu Dewi membentak.
"Ehh, bukan kok bu." Athena buru-buru membantah, "Hanya membicarakan cuaca yang cerah kok."
__ADS_1
Bu Dewi mendengus tidak percaya, namun dia kembali melanjutkan perjalanan.
****
Sementara itu didalam toilet.
"Akhhh." Air yang tiba-tiba mengguyur tubuhnya membuat Icha kaget, 90 % anggota tubuhnya basah, dan berbarengan dengan itu terdengar suara cekikikan dari luar.
Icha mencoba menarik gagang pintu, namun jelas terkunci dari luar, ternyata memang ada yang berniat mengerjainya.
"Woeee." Icha menggendor pintu, "Siapa lo berani-beraninya ngerjain gue."
"Buka gak."
Icha bisa mendengar dengan jelas beberapa langkah kaki menjauh dari sana dan menggumamkan kata "Mampus."
Icha makin gencar menggendor pintu tersebut, "Bukain, jangan tinggalin gue." Icha mulai panik .
"Apa yang harus gue lakuin." Icha mulai berfikir, "Apa gue dobrak saja." Icha mempertimbangkan, "Iya gue dobrak saja." putusnya.
Dengan tenaga yang dimiliki, Icha berusaha mendobrak pintu, namun sayang, ini bukanlah difilm-film yang sekali dobrak pintu langsung menjeblak terbuka, Icha sudah berusaha dengan mengerahkan kemampuannya namun tuh pintu tidak ada tanda-tandanya akan terbuka sedikitpun, yang ada malah lengannya yang sakit karna digunakan untuk mendobrak pintu.
"Tolongggg." suara Icha menggema, sayangnya area belakang sekolah sangat jarang dikunjungi oleh mahluk bernama siswa mengingat bagaimana reputasi tempat tersebut yang terkenal seram dan angker, belum lagi rumor yang mengatakan kalau Markunah sik hantu legendaris SMA PERTIWI bunuh diri toilet rusak dimana Icha berada sekarang, hanya geng biang rusuh yang menjadikan area belakang sekolah sebagai markas untuk menyusun strategi tauran atau hanya untuk merokok, meskipun begitu, para anggota geng yang digawangi oleh Ari tersebut sangat jarang kesana, seperti yang dibilang diatas mereka kebelakang sekolah kalau ada hal penting, dan sekarang Icha sangat berharap seenggaknya salah satu dari anggota gengnya kebelakang sekolah dan mendengar permintaan tolongnya.
"Papa, mama, Icha takut." rintihnya.
****
Dikelas XI IPS 5.
"Lo dimana Cha." desah Aslan dalam hati.
Sepanjang pelajaran, Aslan bukannya berfokus memperhatikan bu Yuni yang menjelaskan didepan, namun tiap saat matanya melirik ke arah pintu, mengharapkan kedatangan Icha, dan katika pergantian jam pelajaran, Icha belum juga nampak batang hidungnya, hal tersebut membuat Aslan khawatir, didalam hatinya terbersit rasa penyesalan karna membentak Icha, sehingga tidak heran, begitu bu Yuni keluar, Aslan juga langsung beranjak pergi untuk mencari Icha.
"Aslannn, kamu mau kemana." panggil Lea melihat kepergian Aslan, namun panggilan Lea tidak dihiraukan sama sekali oleh Aslan.
Icha melirik kearah bangku Icha yang ada disampingnya, "Lo dimana sieh Cha."
"Le." tegur Laskar yang langsung duduk disamping Lea yang merupakan bangku Icha.
"Laskar."
__ADS_1
"Icha mana, tasnya ada, tapi orangnya gak ada, gue yakin, dia juga gak bawa HPnya, berulang kali gue kirim pesan tapi gak dibalas juga sama dia." karna terlambat, Laskar tidak tahu peristiwa yang terjadi tadi pagi.
Jawab Lea, "Gue gak tahu Las, Icha memang masuk, tapi karna ada insiden kecil tadi pagi, membuat Icha pergi gitu aja dan sampai sekarang belum kembali."
Laskar tidak bertanya lebih lanjut tentang insiden yang disebut oleh Lea, dia hanya berkata, "Kira-kira dia kemana, apa mungkin dia bolos." tanya Laskar mengingat Icha kalau bad mood kadang bolos tidak mau mengikuti pelajaran.
"Gue juga gak tahu Las, tapi gue khawatir dengan Icha."
Setelah mendengar penjelasan Lea, Laskar langsung berdiri dan berjalan kearah pintu.
"Laskar."
Laskar berbalik mendengar Lea memanggilnya.
"Lo mau kemana."
"Nyariin Icha."
"Gue ikut." Lea langsung berlari menyusul Laskar.
"Lo mending dikelas aja Le, kan masih ada pelajaran selanjutnya, ntar lo kena hukum lagi, kalau gue sieh udah biasa kena hukum."
"Saat ini Icha lebih penting Las daripada belajar, lagian sekalian gue mau minta maaf sama Icha." Lea baik banget ya, udah jelas Icha yang salah, malah dia yang minta maaf.
Begitu tiba dikoridor dilantai satu, mata Lea tidak sengaja mengarah ke arah lapangan, matanya disambut oleh tiga orang gadis yang sangat dikenalnya berjemur dibawah teriknya sinar matahari, ketiga gadis itu tengah mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan kosong.
"Laskar." Lea menggamit lengan Laskar yang otomatis menghentikan langkah Laskar, "Lihat deh." Lea menunjuk kearah dimana Athena dan dua orang sahabatnya kini tengah dijemur.
"Athena." gumam Laskar.
"Menurut lo, kenapa mereka dihukum."
"Mungkin ketahuan menulis surat cinta buat pak Top kali." jawab Laskar ngasal.
Jawaban ngasal Laskar membuat Lea terkekeh, "Ngaco lo."
"Lagian ngapain sieh lo ingin tahu, gak pentingkan Le, mending kita lanjut cari Icha."
"Kira-kira Icha ada dimana yah, mungkin dia bolos keluar sekolah kali Las."
"Gak mungkon Le, soalnya Icha gak bawa ponselnya, Icha lebih baik lupa punya pacar seperti gue ketimbang lupa membawa ponselnya."
__ADS_1
Lagi-lagi terkekeh mendengar kalimat Laskar, "Bener juga, ponselkan benda nomer satu yang wajib dibawa kemana-mana.
****