Cinderela Modern

Cinderela Modern
ICHA VS LOLA


__ADS_3

Konsekwensi menjadi seorang anak tiri adalah, tidak dibiarkan bahagia meski sedikitpun oleh yang namanya ibu tiri, begitu juga dengan Icha, hari-harinya yang menyandang status sebagai anak tiri tidaklah berjalan bahagia sebagaimana layaknya remaja seusianya, dia dibiarkan tinggal dirumah peninggalan almarhum ayahnya hanya karna untuk dimanfaatkan sebagai pembantu gratis, melakukan pekerjaan semua pekerjaan rumah, sedikit saja melakukan kesalahan pasti kena hukum, seperti saat ini ketika Icha pulang terlambat, ketika kakinya memasuki rumah dengan terpincang-pincang langsung disambut oleh suara manis namun penuh racun dari Dea sik ibu tiri.


"Wah wah wah, tuan putri baru pulang jalan-jalan rupanya, pasti asyik sekali ya jalan-jalannya sampai pulangnya sore begini." dibarengi dengan senyum sinis.


"Isshhh." Icha mendesis "Gue lupa kalau harus menghadapi rubah itu." serunya tanpa suara, Icha sudah yakin pasti bakalan dihukum, baik dia pulang telat karna ada kegiatan sekolah atau gak, dia sudah pasti kena hukum, jadi apapun alasan yang akan diberikan pasti tidak akan menyelamatkannya dari hukuman, meskipun tahu tentang fakta itu, Icha memilih berbohong juga.


"Icha habis ngerjain tugas kelompok ma."


"Sejak kapan kamu rajin ngerjain tugas, yang ada kamu paling rajin tauran kayak anak berandal."


"Semua orangkan bisa berubah ma, kecuali Upin dan Upin, heran deh, Icha sudah segede gini, tuh bocah masih saja kecil dan botak." Icha berkilah.


"Mama lagi gak bercanda ya Icha." jelas mama Dea kesal.


"Siapa yang bercanda, orang ini fakta, animasi Upin dan Upinkan sudah tayang sejak Icha TK, Icha sudah SMA mereka masih saja tidak naik tingkatan."


"Ichaaa." raung mama Dea marah.


"Iya iya maaf ma, habisnya mama gak percayaan gitu kalau Icha sudah berubah, Ichakan sekarang sudah menjadi anak rajin dan berbakti pada ibu tiri."


"Anak seperti kamu mana bisa berubah, yang ada kerjaannya bikin repot saya saja."


Rubah kembar yaitu saudara tiri Icha berlarian masuk dan memberi laporan, mending kalau sesuai fakta, ini pakai ada tambahan fitnahnya segala lagi.


"Ma ma, sik upil itu habis seneng-seneng dengan pacarnya, Loli lihat sendiri." Loli memberi laporan palsu.


"Anjirr, kenapa mereka pada masuk disaat seperti ini sieh, saat gue melancarkan aksi bohong gue." Icha membatin.


"Oh, bagus ya, berani bohongin mama."


Icha tidak membantah kalau dia memang pergi, dan tujuan awalnya memang untuk bersenang-senang, tapi gak jadi karna bertemu dengan Sueb and the genk yang membuatnya dan Aslan harus berlari demi menyelamatkan diri, apakah itu yang namanya senang-senang, dan lagipula, Laskarkan bukan pacarnya.


Lola semakin mengompori, "Bayangkan ma, dia pergi dengan pacarnya, anak ingusan dan jelek kayak dia pacaran, tunggu aja satu mingguan ma, dia pasti ingin makan mangga muda." hamil maksudnya.


"Heh iblis, jaga ya bibir lo." Icha gak bisa ngontrol emosinya, jelas saja dia mendidih mendengar penuturan saudara tirinya, lagian pacar apaan, masak Laskar dianggap pacarnya.

__ADS_1


"Lo ya yang harus jaga bibir lo, lebih-lebih kelakuan lo, lo kan ganjen, dekat cowok sana sini, gue yakin lo pasti sudah digrepe *****."


Ini sieh sudah parah namanya, Icha memang punya banyak teman cowok, catat, cuma sekedar teman, teman dalam arti yang sesungguhnya, bukan teman ketemu gede, jangankan digrepe-*****, pegangan tangan saja gak pernah, yang ada palingan tos antar geng doank. Gak heran, Icha yang dari tadi mendidih kini menggelegak, wajahnya memerah persis kayak udang rebus, sehingga berbarengan dengan hal tersebut, kakinya tidak bisa direm melangkah dan tangannya menjambak rambut Lola.


"Awww." Lola mengerang kesakitan, dia kemudian membalas dengan menarik rambut Icha.


Suasananya berubah seru, terjadi jambak-jambakan, Loli malah histeris, bukan histeris ketakutan, tapi histeris kegirangan bertepuk tangan dan memberikan semangat sama Lola.


"Ayok Lol, hajar dia"


Sementara Dea berusaha melerai, langsung memberikan plototan mendengar Loli bukannya malah membantunya melerai malah menjadikan hal tersebut tontonan gratis.


"Dasar anak nakal, bukannya bantuin mama misahin, malah memberi semangat."


"Ih mama, biarin aja napa, kan seru."


"Kalau kamu terus berdiri disitu, mama tidak akan memberikan kamu uang jajan selama satu minggu." Dea mengancam.


"Ihh mama, gak asyik banget." karna ancaman itu Loli membantu sang mama melerai dua saudaranya.


Mama Dea berusaha menenangkan deru nafasnya yang memburu, memandang Icha dengan amarah yang meluap, "Kamu, berani ya kamu mukulin anak saya didepan mata saya, sudah bosan tinggal disini kamu."


Dengan berani Icha menjawab, "Semut sekalipun kalau difitnah pasti akan ngelawan, apalagi saya yang manusia yang memiliki perasaan."


Lola membalas, "Fitnah apaan, emang itu kenyataan, disekolah lo ngintilin cowok melulu, dasar gak tahu malu, jadi cewek ganjen banget."


"Lo berdua yang gak tahu malu, ngejar-ngejar Aslan, padahal sudah terpampang nyata dijidat Aslan kalau Aslan enek sama lo berdua." perdebatan kembali memanas.


Sadar semua ini akan menciptakan pergulatan yang lebih hebat, Dea buru-buru melerai, "Sudah cukup, hentikan, Lola Loli kalian sebaiknya naik ke kamar kalian, dan kamu Icha." Dea memandang Icha tajam, "Sediakan makan malam, dan setelah itu kamu ngepel, bersihkan kamar mandi, mencuci, nyetrika." Dea mengabsen.


Lantai sudah kinclong bahkan pantulan bayangan sendiri terlihat jelas saking kinclongnya, karna pagi-pagi sekali Icha bangun dan ngepel lantai, dan mencuci dan nyetrika, Icha rasa semua pakaian kotor sudah dicuci dan disetrika,


"Semuanya sudah Icha kerjain ma."


"Jangan membantah kamu, kerjakan apa yang saya perintahkan, kalau gak, hukuman kamu akan tambah berat."

__ADS_1


Apa yang bisa Icha lakukan selain mematuhi perintah sik ibu tiri, dia sudah terbiasa melakukan hal tersebut, namun dalam keadaan lututnya yang masih sakit seperti saat ini pasti akan terasa susah untuk bergerak dengan gesit.


"Sabarkan dan kuatkan hamba ya Allah." doanya sebelum mengganti seragamnya dengan baju sehari-hari dan melakukan apa yang diperintahkan oleh mama tirinya.


Jam sembilan malam semua pekerjaan itu baru diselsaikan oleh Icha, karna kelelahan membuatnya langsung tepar ditempat tidur, gak butuh sampai satu menit untuk membuatnya terbang ke alam mimpi.


****


Cha.


Itu adalah chat yang dikirim oleh Aslan, namun tidak ada balasan, fikirnya mungkin Icha marah karna kejadian tadi sore, Aslan kembali mengirim chat.


Cha sorry, gue khawatir sama lo, makanya gue lepas kendali dan nyalahin Laskar.


Ditunggunya sampai beberapa menit, namun masih tidak ada jawaban, matanya dialihkan kejam dinding yang menunjukkan angka 09.10, "Gak mungkin dia sudah tidurkan, atau jangan-jangan dia gak punya pulsa lagi, atau dia masih marah sama gue karna kejadian tadi sore, gimana mau ngasih kejutan kalau gini, ntar kejutannya gak bikin dia terharu lagi." Aslan menduga-duga.


"TV dinyalain tapi gak ditonton, mubazir pulsa listrik woe." komen Gibran yang duduk bergabung disofa ruang tengah setelah membuat segelas kopi.


"Resek amet sieh lo, apa-apa lo komentarin, kayak cewek, gue yakin lo awalnya tercipta sebagai perempuan, tapi begitu mau lahir Tuhan berubah fikiran dengan mengganti kelamin lo."


"Ngaur lo." Gibran menyeruput kopi susunya, kembali melirik kearah Aslan yang wajahnya tampak kusut kayak rambut yang tidak pernah disisir, "Lo lagi galau ya karna diputusin pacar cantik lo itu."


"Gak." Aslan menjawab cepat.


"Gak dibibir, iya dihati."


"Beneran gak, kenapa lo nyolot sieh." jengkel Aslan.


"Jangan ngegas gitu donk, sensitif amet lo jadi cewek." ujar Gibran, "Aha, gue yakin ketika lo masih dalam kandungan lo itu sebenarnya cewek, tapi ketika bakalan dilahirkan, Tuhan berubah fikiran dengan mengganti jenis kelamin." Gibran membalikkan kata-kata Aslan.


Aslan langsung melempar remote TV yang ada ditangannya, itu berhasil mengenai bibir Gibran, Gibran memegang bibirnya dan merintih kesakitan, "Auhh, bibir gue, kalau bibir gue tidak seksi gara-gara lo, gue potong kelamin lo."


"Sebelum lo melakukan hal itu, gue yang bakalan motong punya lo." lisan Aslan dan berlalu dari sana.


"Dasar adik durhaka." dumel Gibran mengelus bibirnya yang mungkin saat ini jontor.

__ADS_1


****


__ADS_2