
"Masih kangen." rengek Lea manja sambil bergayut manja dilengan Aslan saat dia mengantar Aslan keluar, "Ntar dulu pulangnya Lan." pinta Lea berusaha menahan Aslan lebih lama, fikir Lea kapan lagi dia bisa bermanja-manja gini sama Aslan, karna pacarnya itu lebih menomer satukan belajar ketimbang dirinya, ini sebuah keajaiban Aslan mau meluangkan waktu untuknya, itupun karna dia ngambek, Lea jadi punya ide, "Apa gue sering-sering aja ngambek supaya Aslan perhatian kayak gini, tapi jangan ah, kasihan Aslan, saat inikan dia lagi sibuk untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi olimpiade sains, sebagai pacarkan gue harusnya mendukungnya." batinnya.
"Besokkan masih bisa ketemu." ujar Aslan supaya Lea mengikhlaskannya untuk pulang.
"Hmmm, ya udah deh kalau gitu." pasrah lega, tapi tetap gak rela, "Gak sabar nunggu waktu besok."
"Ya udah gue balik ya."
"Tunggu dulu." Lea manahan tangan Aslan yang bersiap membuka pintu mobil.
"Apa lagi."
"Itu..." Lea ingin bilang, apa gak ada ciuman perpisahan, tapi tentu saja dia malu untuk mengatakannya.
"Itu apa." tuntut Aslan.
"Duhh, gak peka lagi dia, masak mau berpisah gak ada romantis-romantisnya sieh."
"Mmm..."
Saat seperti itu ponsel Aslan berdering, Aslan langsung menjawab panggilan yang ternyata dari Icha.
"Kenapa Cha."
"Kenapa belum pulang." tanya Icha diseberang, "Apa lo baik-baik saja."
"Iya gue baik-baik saja, hanya saja, sahabat lo satu ini nahan gue terus, gak ngizinin gue pulang sejak tadi." lapor Aslan.
"Astaga anak itu, kalau digrebek warga gimana, bisa langsung dinikahkan ditempat tuh kalian."
Mendengar kalimat Aslan, Lea nimbrung, "Sahabat lo sekarang udah gue izinin pulang kok Cha, jadi jangan khawatir."
"Ehhh, sik anak mami, udah baikan ternyata, udah mau nyapa nieh ternyata, gak asam lagi tuh muka kayak asam jawa." ledek Icha.
"Ihh, lo itu Cha, sama saja dengan sahabat lo, sama-sama suka ngeledek."
"Habisnya, lo itu gak ada badai main nyuekin aja, gue dan Aslankan jadi bingung, tapi syukurlah lo udah baikan sekarang."
"Cha, gue tutup deh ya, gue mau balik nieh soalnya, takut kemalaman sampai rumah." Aslan menimpali.
"Lhaa, bilang aja lo mau ekhem ekhem dulu, pakai alasan ingin cepat pulang segala."
"Apaan sieh lo, gak paham gue dengan ekhem ekhem gak jelas lo."
"Dihh marah."
"Ya udah gue tutup."
Setelah panggilan terputus.
"Oke, gue balik ya."
"Padahal sudah dikasih kode juga sama Icha, masih saja gak paham, memang nasib pacaran sama cowok cuek." batin Lea nelangsa hanya memendam keinginannya, karna dia gak mungkin mendapatkan ciuman perpisahan, akhirnya dengan terpaksa Lea berkata, "Hmmm, hati-hati ya."
"Iya."
"Kabarin kalau udah sampai."
__ADS_1
"Insaallah kalau gue inget." jawabnya santai.
Kesel donk Lea mendengar jawaban Aslan, "Ihh suka gitu deh, menyebalkan."
"Oke oke ntar gue kabarin." ujar Aslan biar cepat supaya tidak ada drama ngambek-ngambekkan lagi.
Aslankan bukan tipe cowok yang laporan tiap menit, menurutnya itu gak penting, buang-buang waktu dan pulsa.
"Ya udah kalau gitu, awas kalau bohong."
"Hmmm." Aslan masuk ke mobilnya.
"Bye Aslann." Lea melambaikan tangan.
Aslan hanya menjawab dengan anggukan.
"Kembali lagi deh ke sifat aslinya." dumel Lea.
****
Sampai dirumah, ketika melewati ruang tengah menuju kamarnya, gak sengaja Aslan melihat Icha tengah tidur disofa dengan menyandarkan punggungnya di badan sofa, Aslan menggeleng melihat sahabatnya itu, Aslan yakin Icha pasti tengah menunggu kepulangannya, sejak kejadian saat dirinya kecelakaan, anak itu sering khawatir berlebihan, sering menghubunginya hanya untuk menanyakan apakah dia baik-baik saja.
Aslan berjalan mendekati Icha yang tertidur lelap, dia duduk disamping Icha, "Cha, bangun." harusnya Aslan tahu kalau Icha gak bakalan mempan dibangunkan dengan cara halus begitu, "Cha." Aslan mengguncang bahu Icha cukup keras, "Bangun."
Icha yang merasakan getaran dibagian bahunya perlahan membuka kelopak matanya, dia mengucek-ngucek matanya, "Lo udah balik."
"Kalau belum balik ngapain gue ada dihadapan lo sekarang." jawab Aslan sesuai fakta.
"Betah amet dirumah pacar, sampai jam segini baru pulang." Icha melihat jam dinding yang tergantung diruang tengah tersebut yang menunjukkan jam 10.10.
"Kan udah gue bilang, sahabat lo nahan gue, gak ngizinin gue pulang."
"Nunggu lo."
"Kayak suami aja ditunggu."
"Nunggu sahabatkan gak salah."
"Benar juga sieh, tapi jangan sering-seringlah."
"Emang kenapa."
"Ntar gue baper lagi, lo emang mau tanggung jawab." canda Aslan.
"Ihh lo itu ya." respon Icha kikuk dengan kalimat iseng yang dilontarkan Aslan.
Untuk menutupi rasa kikuknya, Icha berkata, "Gue lapar, lo beliin gue martabakkan."
"Katanya gak mau, udah cukup dengan gue pulang dengan selamat itu sudah lebih dari cukup buat lo."
"Ihhh gak peka, guekan cuma basa-basi, biar kelihatan kayak sahabat sejati gitu lho yang dianggap perhatian." jawab Icha, padahal memang benar sieh kalau Aslan pulang dengan selamat itu sudah lebih dari cukup.
"Padahal gue sempat terharu mendengar kata-kata lo untuk melepas kepergian gue, tahunya cuma basa basi donk."
"Jangan pakai acara ngambek segala deh, fikirkan gimana cara untuk menenangkan perut gue nieh, lapar banget soalnya gue, gak sempat makan malam."
"Ada mi instan tuh didapur, kayaknya itu bisa mengobati rasa lapar lo."
__ADS_1
"Masakin."
"Ogah."
"Aslann, masakin, gue ingin makan mi instan buatan lo." jadi merengek sik Icha.
"Lo yang masak atau gue yang masak, rasanya tetap sama saja, namanya juga mi instan segitu aja rasanya, lo jangan kayak Lea deh manja."
"Ishh, ya udah deh gue masak sendiri." Icha menghentakkan kakinya menuju dapur.
Aslan mengikuti dibelakang, ketika Icha akan mengambil panci untuk memasak air, Aslan mengambil alih tuh panci dari tangan Icha, "Sini gue aja."
Namun Icha mempertahankan tuh panci ditangannya, "Gak perlu." diakan udah kadung ngambek.
Aslan kukuh mengambil panci yang tergenggam erat ditangan Icha, "Sini biar gue aja."
"Gak perlu, gue bisa sendiri."
"Sini gue yang masak, katanya tadi mau masak mi instan bikinan gue."
"Tadi katanya gak mau ."
"Daripada bibir lo manyun terus sampai pagi."
Terjadilah ajang tarik menarik panci, suara mereka yang cukup berisik ternyata memancing Gibran yang baru pulang ingin mengtahui apa yang tengah terjadi didapur, "Berisik lo berdua, lo gak tahu apa ini udah malam, ganggu orang yang tengah tidur saja." sinis Gibran dan beranjak dari dapur menuju kamarnya.
Sejak Aslan pacaran dengan Lea, Gibran gak seramah dulu lagi, suka marah-marah karna hal kecil, dia juga jarang ada dirumah, Icha sieh cukup maklum dengan perubahan sikap Gibran.
"Gak jelas." gumam Aslan mengomentari kakaknya.
"Ya udah, tuh masakin, yang enakkk." Icha menyerahkan panci yang tadinya mereka perebutkan sebelum kedatangan Gibran.
"Iya bawell, mending sana lo duduk dengan tenang."
Aslan mengambil air dikeran, sedangkan Icha duduk menuruti perintah Aslan.
Hanya butuh waktu 7 menit dua mangkuk mi instan sudah terhidang dimeja.
Perut Icha yang memang sudah keroncongan meronta-ronta melihat kepulan uap mi instan yang menggugah selera.
"Hmmmm." dia memejamkan matanya menghirup aroma nikmat mi instan, "Kenikmatan yang hakiki."
"Lebay lo." komen Aslan.
"Biarin aja." balas Icha langsung memakan mi instan buatan Aslan, "Mi instan buatan lo memang gak ada duanya." Icha mengacungkan jempolnya.
"Sudah gue bilang siapapun yang masak tetap saja mi instan rasanya sama saja."
Aslan duduk disamping Icha, untuk sesaat dia hanya melihat Icha makan, "Pelan-pelan makannya, kayak gak pernah makan 3 hari aja."
Setelah menelan barulah Icha menjawab, "Lapar gue sumpah."
Aslan hanya menggeleng, diapun mulai menyantap mi instannya.
"Kayaknya gue mempertimbangkan untuk menjalin hubungan yang serius deh dengan Lea."
Icha yang tengah menyeruput kuah mi instan langsung tersedak mendengar ucapan Aslan.
__ADS_1
"Tuhkann, udah gue bilang pelan-pelan makannya, jadi tersedakkan." Aslan menyodorkan gelas berisi air putih pada Icha.
****