Cinderela Modern

Cinderela Modern
MEMBUAT TATO


__ADS_3

Laskar asyik membidik setiap objek yang dianggapnya menarik perhatiannya, sementara Icha dibelakangnya mengikutinya dengan wajah cembrut, es krim sogokan dari Laskar tidak mampu membuatnya tersenyum.


Dia berulangkali menanyakan pertanyaan yang sama, pertanyaannya seperti ini, "Lo masih lama gak sieh, capek nieh, betis gue udah segede talas ngikutin elo kesana kemari."


Dan jawaban Laskar selalu sama ketika Icha menanyakan pertanyaan tersebut, "Iya, bentar lagi." selalu begitu.


"Bentar-bentar terus, tapi gak kelar-kelar." sungut Icha.


Laskar menghentikan langkahnya disebuah bangunan yang gak terlalu besar, dibagian atasnya terpasang papan yang bertulis, JASA PEMBUATAN TATO,


Icha mengikuti arah pandang Laskar, yaitu mengamati bangunan yang ternyata tempat pembuatan tato, sebelum Icha sempat buka suara, Laskar berkata, "Masuk yuk." dia menarik tangan Icha memasuki bangunan tersebut.


"Selamat datang adik-adik, apa ada yang bisa gue dibantu." seorang wanita tinggi berkulit putih pucat menyambut kedatangan mereka.


Wanita itu mengenakan tanktop yang menampakkan pusarnya yang ditindik dipadukan dengan jeans pendek berwarna abu-abu yang sengaja disobek dibeberapa bagian, di masing-masing telinganya terdapat lebih dari lima tindikan dengan anting yang berbeda, sedangkan dibagian lengannya yang terekspos tergambar tato entah itu gambar apa yang jelas Icha gak tahu.


"Kami mau bikin tato." ujar Laskar.


"Kami, maksud lo kita."


"Iya, lo dan gue."


"Gak ah, gue gak mau, meskipun terlihat keren memiliki tato, tapi gue ogah, sakit."


"Gak bakalan sakit, percaya deh sama gue, gue yang bayarin."


"Iya gak sakit." wanita yang menyapa mereka itu mendukung, "Rasanya kurang lebih seperti digigit lebah."


"Gimana, lo maukan."


"Gimana ya." Icha ragu.


"Ayoklah, kapan lagi coba lo bisa bikin tato gratis."


"Iya deh." ujar Icha pada akhirnya.


"Baiklah kalian tunggu sebentar, gue akan mempersiapkan peralatan dan bahannya." ujar sik wanita berlalu, "Oh ya, nama gue Iren." ujar wanita itu berbalik untuk memperkenalkan dirinya.


"Gue Laskar, ini Icha." balas Laskar memperkenalkan dirinya.


"Kalian pasangan yang serasi." komen Iren tersenyum jail menggoda mereka.


Sebelum Icha sempat membantah, Iren sudah melenggang pergi menyiapkan peralatan yang dibutuhkan.


"Heran deh, kenapa sieh orang-orang berfikir kalau kita itu pasangan kekasih." gumamnya.


Namun gumaman Icha diabaikan oleh Laskar karna Laskar kini sibuk melepas seragamnya, dia ingin mentato lengannya, tadinya sieh inginnya leher, tapi pasti dia bakalan dihukum oleh guru kalau kelihatan.


Karna Laskar memunggungi Icha, Icha bisa melihat punggung Laskar yang ternyata juga sudah ditato begitu seragamnya sudah terlepas, punggung Laskar ditato dengan bentuk sepasang sayap malaikat, Icha takjub melihat tato dipunggung Laskar, menurutnya itu keren, diluar kesadarannya Icha mendekat dan meraba punggung Laskar, "Keren, lo bikin ini dimana."


Laskar bukannya menjawab pertanyaan Icha dia malah berkata, "Anjirr, jangan elus-elus, geli gue." Laskar menjauhkan tubuhnya karna kegelian.


Icha mendengus, "Jadi lo bikin tuh tato dimana."


"Diamrik waktu gue jalan-jalan."


"Lo pernah ke Amrik."


"Bukan pernah lagi, tapi sering, guekan orang kaya."

__ADS_1


"Kapan-kapan ajak gue donk, guekan ingin lihat salju."


"Kalau gue ngajakin lo pergi kebenua yang jauh, gue yakin sogokan untuk mama tiri lo bakalan membengkak." canda Laskar.


Icha tertawa mendengar kelakar Laskar, "Bener juga sieh, besaran sogokannya daripada biaya kesananya."


"Sekarang lo mau ditato diarea mana." mereka kembali ke topik awal.


"Lengan bagian atas gue, mau bikin tato kembaran gak sama gue."


"Jelas gaklah." jawab Icha cepat, emang mereka anak alay bikin tato kembaran segala.


"Lo sendiri mau bikin dimana."


"Gue ma..."


"Didada lo aja Cha, pasti keren, bikin cowok nafsu kalau lihat."


Icha langsung menendang tulang kering Laskar, "Babi sialan, omongan lo ngaco melulu."


Laskar mengaduh kesakitan, "Sakit Cha."


Iren yang sudah kembali terkekeh melihat tingkah dua pelanggannya tersebut, dia sudah mempersiapkan bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk membuat tato.


"Sweet banget sieh kalian." komennya.


****


Mereka keluar satu jam kemudian dari tempat pembuatan tato, Icha membuat tato dibahunya dengan gambar kupu-kupu, sedangkan Laskar membuat gambar tengkorak dilengannya.


Karna sudah sore, mereka memutuskan untuk pulang, karna Laskar menitipkan motornya cukup jauh dari tempat dimana kini mereka berada, jadinya mereka harus berjalan kaki ketempat dimana Laskar menitipkan motor dan sekaligus boneka Icha.


"Ada apaan."


"Lo denger suara kucing gak."


Ngeong ngeong


"Iya, suaranya doank, kucingnya gak ada." Laskar mengedarkan matanya untuk mencari keberadaan sik kucing.


"Kayaknya suaranya berasal dari selokan itu deh."


Icha menunjuk selokan yang ditutupi oleh penutup besi, "Kalau iya tuh kucing ada disana, terus kenapa, biarin ajalah, lagian itu cuma kucing."


"Jahat banget sieh lo, kucing itu juga mahluk hidup tahu." Icha melangkah keselokan, dan bener saja, dari jeruji penutup selokan tersebut, dia bisa melihat anak kucing kotor mengeong.


"Kasihan sekali." gumam Icha, "Laskar, lo keluarin kucing itu donk."


Laskar berjongkok untuk melihat kucing yang dimaksud oleh Icha, "Bakalan susah kayaknya buka nieh besi."


"Lo coba dululah, cemen amet sieh lo jadi cowok."


"Iya iya, nieh pegang kamera gue." Laskar menyerahkan kameranya pada Icha, berikut juga dia melepas jam tangannya.


"Lo bukannya nyemplung ke kolam renang, kenapa pakai lepas jam tangan segala, sekalian aja sepatu juga lo lepas."


"Ye elah, itu selokan kotor Icha, jam tangan gue tuh mahal, ntar kotor lagi."


"Bisa gak sieh lo sekali aja gak sombong."

__ADS_1


"Biarin aja sombong, gue kaya, ya wajarlah sombong."


"Ihhh, menyebalkan sekali sieh dia, kok mau ya gue berteman dengan dia." gumam Icha.


Laskar mulai meletakkan tangannya dijeruji besi untuk mengangkat penutup selokan tersebut, "Uhhh." dia mengerahkan tenaga dalamnya, tapi tuh penutup tidak ada tanda-tandanya bakalan terbuka.


"Lo cowok atau banci sieh, gitu aja gak bisa."


"Ini susah Icha."


Laskar mencobanya sekali lagi, tapi tetap saja dia gak bisa membukanya, "Gak bisa dibuka Cha, udahlah mending lupain aja tuh kucing, kita balik aja sekarang."


"Mana bisa kita ninggalin kucing malang itu kedinginan dibawah selokan."


"Terus gimana, nieh tutupnyakan gak bisa dibuka."


"Awas lo, biar gue saja." Icha mendorong Laskar, "Nieh kamera lo."


Icha meletakkan kedua tangannya dibesi penutup selokan dan dia mulai menariknya, dan dalam satu tarikan tuh penutup terbuka.


"Kuat banget dia, dia beneran cewek gak sieh." lirih Laskar dalam hati, "Satu, dua, tiga." Laskar menghitung dalam hati, dan tepat pada hitungan ketiga, Icha meledeknya.


"Dasar lembek, gitu aja gak bisa." ledek Icha.


"Benerkan dugaan gue, dia pasti meledek gue." gumamnya.


Icha menjulurkan tangannya untuk meraih kucing malang tersebut yang semakin heboh mengeong karna menyadari dirinya berhasil diselamatkan, tanpa jijik Icha meraih kucing yang sebagian badannya terkena lumpur.


"Kasihan banget kamu, mama dan papa kamu dimana."


Jelaslah sik kucing mengeong untuk menjawab pertanyaan Icha, "Kasihan, kamu yatim piatu ya, sama aku juga, papa dan mamaku sudah meninggal." Icha seolah mengajak manusia untuk bicara. Laskar mengabadikan momen tersebut dengan kameranya.


"Cha, lo mau apain tuh kucing."


Icha terlihat berfikir, jelas dia gak mungkin membawa kucing tersebut pulang kerumah mengingat pasti ibu tirinya akan mengamuk, "Laskar." suara Icha terdengar lembut, suara yang jarang dikeluarkan oleh Icha kecuali jika ada maunya.


Mendengar nada kalimat Icha yang tidak seperti biasanya, Laskar berkata, "Perasaan gue jadi gak enak."


"Lo tolong ya pelihara kucing ini."


"Tuhkan bener." desis Laskar karna dugaannya benar.


"Gue, lo udah gila, ngurus diri gue aja susah apalagi ngurus itu kucing."


"Ayoklah, gue gak mungkin bawa dia kerumah, yang ada mama tiri gue pasti nyuruh gue membuangnya pada pandangan pertama dia melihatnya, gue juga gak tega melepas dia dijalanan, kasihankan, dia yatim piatu lho."


"Tapi gue....."


"Laskar, ayoklah, katanya lo bakalan ngabulin apapun keinginan gue." Icha mendesak.


"Ya udah deh." ujarnya bener-bener terpaksa, dalam hati dia berkata, "Ntar bi Sri yang gue suruh rawat."


"Lo bener-bener baik."


"Tapi pertama-tama bersihin dulu tuh kucing, masak gue bawa kucing kotor begitu kerumah."


"Oh iya, kita cari air terlebih dahulu."


****

__ADS_1


__ADS_2