
Dua detik kemudian, Laskar merubah panggilan suara yang dilakukan menjadi panggilan vidio, wajah Laskar terpampang dilayar ponsel Icha,
"Ya Tuhan." kaget Laskar.
"Kenapa lo."
"Wajah lo mengerikan."
"Kalau lo cuma mau ngejek gue, mending gue tutup aja." ancam Icha.
"Hehe sorry Cha, bercanda gue."
"Mana Leo."
"Tunggu sebentar."
"Pus pus pus." itu merupakan bahasa untuk memanggil kucing, sadar dirinya dipanggil Leo mendekat.
"Mama kamu kangen katanya sama kamu Leo." Laskar memberitahu.
"Hai Leo, kamu apa kabar, udah makan belum." sapa Icha begitu dia melihat Leo.
"Ngeong ngeong." sik kucing hanya mengeong.
"Udah mama, Leo udah maem dan minum cucu, biar Leo cepat gendut." Laskar yang menjawab dengan suara diimut-imutkan.
"Sok imut lo."
"Emang gue imut."
"Isshhh, narsis."
"Mending lo istirahat saja Cha, biar cepat sembuh agar besok lo bisa masuk sekolah."
"Oke, Leo, kamu juga tidur, mimpi indah."
"Mama juga mimpi indah, dan cepat sembuh, dadah mama." itu Laskar lagi yang menjawab.
"Ada ada saja." gumam Icha begitu sambungan terputus.
****
"Lho, mana sarapannya." Loli bertanya pada diri sendiri karna melihat meja makan kosong melompong, biasanyakan pagi-pagi begini sarapan sudah siap sedia, ya iyalah kosong, orang yang setiap hari nyiapin sarapan tengah terbaring sakit.
Lola datang menyusul, responnya sama seperti saudara kembarnya, "Mana sarapannya, lo habisin ya." tuduhnya.
"Kok nuduh, salahin sik upil tuh, masih asyik tidur kayaknya tuh tuan putri."
Mama Dea datang mendengar suara ribut, "Ada apa sieh kalian ini, pagi-pagi sudah bikin ribut."
"Lihat tuh ma." Lola menunjuk meja makan, "Sik upil belum nyiapin sarapan untuk kita."
"Cepat tarik dia kemari."
"Siapa bu bosss."
Loli langsung berlari menuju kamar Icha.
Sebagai pemberitahuan supaya dirinya tidak mendapat gangguan saat sakit begini, Icha memiliki ide kreatif, yaitu menempelkan tulisan dipintu kamarnya yang berbunyi LAGI SAKIT PARAH, TIDAK BISA DIGANGGU GUGAT.
__ADS_1
"Emang cewek bar-bar kayak dia bisa sakit." desis Loli.
Dan tanpa mempedulikan pengumuman yang ditempelkan Icha, Loli kemudian menggendor pintu kamar Icha dengan penuh nafsu, "Upillll, bangun lo, jangan enak-enakan tidur lo ya, jangan pakai alasan bilang sakit ya." teriaknya dengan suara cemprengnya.
Icha terlonjak dari tidurnya, gimana tidak kalau suara Loli sudah ngalah-ngalahin suara toa masjid, "Astagfirullah, bener-bener gak punya prikemanusian dia ya, gak kasihan apa lihat gue yang tengah sakit gini."
"Upillll, buka gak, kalau gak gue dobrak nieh."
Icha diem, malas ngeladenin, selama pintu kamarnya terkunci dia aman.
"Gue dobrak nieh."
"Tenaga kayak domba aja sok-sok' an mau ngedobrak." gumam Icha.
Terdengar suara gedebug yang cukup keras dari luar yang menandakan Loli melaksanakan niatnya, terdengar suara erangan juga, "Awww, sakit siku gue."
"Upilll sialan, gue aduin ke mama lo ya."
Icha mendengar langkah kaki menjauh, "Syukur deh, gue bisa istirahat dengan tenang."
Karna sakitnya lumayan, Icha memutuskan untuk tidak masuk sekolah hari ini, makanya Icha bersiap memejamkan matanya kembali, namun baru saja dia melakukan hal itu, ponselnya berdering, Icha mendengus kesal, "Siapa lagi sieh ini yang ganggu."
Yang nelpon adalah Aslan.
"Cha, dimana lo, kenapa lo belum nongol juga, gue udah jamuran nungguin lo diluar."
Karna mereka sudah baikan, sekarang mereka berangkat bareng lagi.
"Lan, gue gak masuk hari ini demam gue tinggi, izinin ya."
Namun gak ada sahutan dari seberang, Icha melihat ponselnya, ternyata panggilannya sudah terputus.
"Ihh, main putusin aja, bilang iya dulu kek."
Icha berteriak saking dongkolnya, "Woeee, lo gak lihat apa tulisan yang gue tempelin dipintu, gue sakit, gak bisa kerja, dasar hitler."
Namun yang menjawab bukan mama atau saudara tirinya, melainkan suara familiar yang sudah sangat dikenalnya, "Ini gue Cha, buka pintunya donk."
"Aslan." heran Icha, "Kok bisa dia diizinin masuk."
"Ichaa, bukain pintunya."
"Iya tunggu Lan."
Pintu terbuka, Aslan berdiri dengan penuh kekhawatiran dengan seragam sekolahnya, "Ngapain lo, kenapa gak ke sekolah."
"Gimana mau kesekolah kalau lo lagi sakit begini."
"Lo khawatir nieh ceritanya."
"Jangan banyak bicara, mending lo istirahat ditempat tidur." setelah mengucapkan kalimat tersebut, Aslan mengangkat tubuh Icha dan menggendongnya.
"Aaaa." Icha menjerit karna terkejut, "Apa yang lo lakuin, turunin gak."
"Yeelah, gue cuma mau bawa lo ketempat tidur." Aslan membaringkan tubuh Icha ditempat tidur.
"Lo gak perlu gendong gue, meskipun gue sakit, gue bisa jalan sendiri."
Aslan mengabaikan protes Icha, dia meletakkan tangannya dikening Icha, "Panas banget."
__ADS_1
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Aslan keluar dari kamar Icha gak lama dia kembali dengan membawa baskom berisi air dingin, Aslan memasukkan handuk kecil di air dingin yang dibawanya, memerasnya dan meletakkannya dikening Icha, "Apa yang lo lakuin."
"Ngompres kening lo, supaya demam lo turun."
"Lo mending kesekolah aja deh, udah siang, ntar lo terlambat."
"Mana tenang gue belajar kalau kondisi lo kayak gini." Aslan gak mau meninggalkan Icha.
"Gue baik-baik saja, satu jam lagi juga pasti sembuh."
"Tutup mulut, jangan banyak bicara."
"Hmmm, ya udah deh kalau lo memaksa mau nemenin gue, gue sieh seneng-seneng aja."
Beberapa detik berlalu, Icha kembali bertanya, "Kenapa lo bisa masuk kekamar gue."
"Karna lo yang bukain pintu."
"Maksud gue, kenapa lo diizinin masuk gitu sama mama tiri gue."
"Gue jampi-jampi."
"Apaan sieh lo, bercanda lo gak lucu."
"Gue gak berniat ngelawak."
"Hmmm."
"Gue keluar sebentar, gak lama kok."
"Mau kemana, katanya mau nemenin."
"Sebentar doank gue keluarnya."
"Ya udah jangan lama, soalnya gak ada yang bisa gue suruh-suruh kalau gue butuh sesuatu."
"Dasar lo ya, memanfaatkan kebaikan orang."
"Biarin aja."
Aslan berjalan meninggalkan Icha, dan lima belas menit kemudian Aslan kembali muncul, namun tangannya memegang plastik, dia duduk ditepi tempat tidur, "Bangun Cha, sarapan dulu, gue baru beliin lo bubur, setelah itu baru minum obat." Aslan membantu Icha untuk duduk dengan terlebih dahulu melepas kompresan didahinya.
"Lan, bisa gak gue gak usah minum obat, pahit soalnya."
"Sejak kapan lo jadi manja begini."
"Siapa yang manja, gue cuma gak mau minum obat pahit itu."
"Dimana-mana yang namanya obat ya pahit icha, kalau manis itu namanya gula."
Aslan membuka penutup bubur, dia menyendoknya dan mengarahkannya ke mulut Icha, Icha membuka mulutnya menerima suapan dari Aslan.
"Pokoknya, gue gak mau minum obat." kukuh Icha.
Aslan gak merespon, dia kembali menyuapkan bubur tersebut sampai tandas gak bersisa.
Aslan kemudian meraih obat penurun panas yang dibelinya untuk Icha, memasukkanya kemulutnya lalu kemudian meraih gelas dan mengarahkannya ke bibirnya, dan tanpa disangka-sangka Aslan meraih tengkuk Icha, dan dengan bibirnya Aslan membantu Icha minum obat, Icha terlalu kaget untuk bereaksi, dia membeku, iya memang, Aslan melakukan itu untuk memasukkan obat ke mulutnya, karna dia rewel tidak mau minum obat, tapi tetap saja seharusnya Aslan tidak melakukan hal itu, karna walaupun niatnya baik, tetap saja Aslan telah merenggut ciuman pertama Icha.
"Nah, begitu lebih baik, sekarang lo bisa istirahat." ujar Aslan santai seolah apa yang dilakukan barusan hal yang biasa-biasa saja.
__ADS_1
Icha membaringkan tubuhnya, dia masih mencerna apa yang barusan terjadi, ciuman pertamanya direbut oleh sahabatnya sendiri.
****