
"Kenapa tuh wajah lecek." tanya Mario melihat wajah adiknya yang terlihat masam.
Aslan yang baru pulang sekolah dan berjalan menuju kamarnya seketika menghentikan langkahnya begitu mendengar suara kakaknya menegurnya, dan bukannya menjawab pertanyaan Mario, dia malah balik nanya, "Tumben lo jam segini ada dirumah." maklum saja Aslan bertanya begitu mengingat bagaimana sibuknya seorang Dokter.
"Gue gak enak badan, makanya gue pulang cepat.".
"Oh ya, tapi lo kelihatan sehat wal'afiat tuh." Aslan mendudukkan bokongnya disofa yang tersisa.
"Terlihat sehat bukan berarti sehat." balas Mario.
Karna pertanyaan pertamanya belum mendapat jawaban, Mario kembali mengulangi pertanyaannya, "Lo belum jawab pertanyaan gue, tuh kenapa wajah lecek kayak pakaian belum disetrika, lo ada masalah."
"Bukan hal yang penting." jawabnya acuh.
Mario gak mendesak Aslan untuk menceritakan masalahnya, fikirnya adiknya itu udah gede, jadi kalau Aslan mau cerita pasti dia bakalan cerita.
Gak lama, Gibran datang dari arah dapur membawa nampan yang diatasnya terdapat dua mangkuk mi rebus, "Mi instan buatan chef Gibran sudah siap disantap." hebohnya meletakkan nampan tersebut dimeja.
Mario mendekat, meraih mangkok mie dan menghirup aroma mi instan, "Tumben lo berguna, biasanya lo jadi beban keluarga." lirihnya.
"Lo kalau ngomong suka gak disortir kak."
Mario mengabaikan ucapan Gibran, dia menyeruput kuah mi instan sambil memejamkan matanya, "Nikmatnya."
"Uang jajan tambah ya kak."
"Uang jajan dengkul lo, lo fikir gue ATM berjalan apa."
Gibran mendengus, "Tahu begini nyesel gue buatin lo."
Mata Gibran tertuju pada Aslan, "Kapan lo pulang."
"Tadi." karna lapar Aslan mengambil mangkuk mi yang tersisa dimeja.
Hal tersebut jelas saja membuat Gibran protes, pasalnya tuh mie untuknya, "Heh, main embat saja, itu bagian gue." sambil menunjuk mangkuk mie yang sudah siap disantap Aslan, "Kalau mau bikin sana, jangan punya gue diembat."
"Pelit amet sieh lo jadi kakak, cuma mi instan gini doank."
"Lo bikin yang baru aja gieh sana, biarin Aslan yang makan yang itu, siapa tahu setelah perutnya terisi moodnya membaik." tukas Mario.
Mendengar ucapan Mario, Gibran bertanya, "Emang lo kenapa Nyuk."
"Gue gak kenapa-napa."
"Jawaban lo sudah seperti cewek aja."
****
Aslan sudah rapi, dia kelihatan tampan malam ini, setelah mengenakan jam tangannya dia berjalan keluar, diruang tengah keluarganya tengah pada berkumpul sambil bercengkrama, ketika Aslan melewati ruang tengah dia langsung disetop oleh mamanya.
"Lho sayang, mau kemana kamu rapi begini."
"Aslan mau keluar ma bentar." jawabnya.
Karna jawaban yang diberikan tidak membuatnya puas, mama Dina kembali bertanya, "Tujuan kamu kemana, tumben banget kamu keluar, tidak seperti biasanya." mama Dina bilang begitu karna sangat tahu kalau putra bungsunya itu lebih betah dirumah dari pergi keluar.
"Mmm." Aslan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Cuma cari angin saja ma."
"Angin dicari, tuh kipas angin masih kuat berputar." timbrung Gibran yang fokus main game diponselnya.
"Nyambung aja lo."
Mama Dina akan membuka bibirnya lagi karna tidak puas dengan jawaban Aslan, namun sebelum suaranya keluar, papa Mendahuluinya, "Udahlah ma, jangan cecar Aslan kayak anak kecil, diakan udah dewasa, wajar kalau dia pergi jalan-jalan, apalagi ini malam minggu."
"Ohh iya ya, malam minggu lho ini." ingat mama Dina, "Maklum saja sieh pa, sejak menikah sama papa, semua malam terasa sama saja, sama-sama indah."
__ADS_1
"Apaan sieh ma, udah tua juga kelakuannya masih saja kayak remaja alay." cibir Gibran.
"Enak saja kamu, papa dan mama masih muda begini dibilang tua." begitu realitanya, kebanyakan orang selalu menyangkal kalau dikatakan tua, "Iyakan pa kita masih muda."
Papa hanya mengangguk agar tidak menimbulkan masalah, pasalnya nanti kalau dibilang tua bisa ngambek lagi.
"Kamu pergilah, tapi jangan pulang terlalu malam, nanti Dea marah kalau Icha pulangnya telat." ujar papa.
"Kok papa tahu Aslan bakalan pergi sama Icha."
"Sama siapa lagi memangnya, Ichakan calon tunangan kamu, gak mungkin kamu punya pacarkan"
Aslan tersenyum masam mendengar kalimat terakhir papanya, kalau mama dan papanya tahu kalau dia dan Icha sepakat membatalkan perjodohan yang telah orang tua mereka rencanakan, mereka pasti kecewa dan sedih.
"Ya udah sana jemput Icha, ntar dia kelamaan nunggu lagi."
Aslan mengangguk, setelah menyalami papa dan mamanya dia pamit pergi ke rumah Icha.
"Bawain martabak ya ntar waktu lo pulang." pesan Gibran.
****
Saat ini Icha tengah melayani keluarga tirinya makan malam, karna maklum ketiga mahluk ini pada manja, padahal semua hidangan bisa dijangkau oleh tangan mereka mengingat meja makan bundar itu ukurannya sederhana, tapi mereka menyuruh-nyuruh Icha ngambilin ini itu, Icha benar-benar menguatkan hatinya untuk bersabar.
"Pilll, lo gak kencan sama Laskar." Loli bertanya.
Icha menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban singkat padat dan jelas, "Gak."
"Kasihan banget sieh lo, punya pacar tapi gak diajakin keluar."
"Biarin aja, daripada elo, gak laku-laku." balas Icha telak membungkam Loli.
"Jaga mulut kamu upilll." ketus mama Dea gak terima anaknya dikatakan tidak laku, padahalkan itu fakta, "Loli dan Lola bukannya gak laku, tapi pemilih kayak mamanya."
"Denger tuh, kami itu pemilih, gak mau pacaran dengan sembarang orang." sambung Lola.
"Serah lo deh pada mau bilang apa." gumam Icha tanpa suara.
"Pilll, ambilin tuh tumis kangkung." perintah mama Dea.
Icha mengambil piring berisi tumis kangkung dan menyendokkan kepiring ibu tirinya.
Ketika pada tengah asyik menyantap makan malam mereka, terdengar salam dari luar.
"Assalamulaikum." jelas itu suara Aslan.
"Aslan." gumam Icha, "Mau ngapain dia kerumah gue."
Icha bangun dari duduknya berniat membuka pintu, namun sebelum dia berdiri dengan sempurna Loli berkata, "Biar gue yang buka." dengan penuh semangat Loli berjalan menuju pintu.
Gak lama, Loli kembali ke meja makan, wajahnya terlihat bete, "Aslan ingin ketemu lo."
Icha langsung berdiri untuk menemui Aslan.
"Lannn, ada apaan lo nyariin gue malam-malam begini." tanyaya begitu melihat Aslan berdiri diteras rumahnya.
"Gue mau ngajak lo jalan."
"Ehhh." heran Icha, dia kini memperhatikan penampilan Aslan yang sudah rapi, "kencan maksud lo."
Aslan terkekeh, "Kencan." ulangnya, "Ya gaklah, cuma sekedar jalan-jalan aja, refresing."
"Sama keluarga lo jugakan."
"Berdua aja."
__ADS_1
"Ohh, tapi lo yang ngajak jalan, nanti kalau gue minta ini itu lo beliin ya."
"Hmmm."
"Hmmm doank, kayak gak ikhlas."
"Siapa yang gak ikhlas."
"Ya elo lah."
"Ikhlas Ichaa." Aslan jadi gregetan, "Udah sana ganti baju lo gue tunggu disini, jangan lama."
" 10 menit oke."
Icha tidak seperti kebanyakan cewek pada umumnya, kalau kebanyakan cewek bilang, "Tunggu sebentar." itu sudah bisa dipastikan paling sebentar setengah jam, tapi kalau Icha, kurang dari 10 menit yang dijanjikan dia sudah kembali dihadapan Aslan.
"Itukan baju...." Aslan menunjuk kaos warna hitam yang dikenakan Icha.
"Kaos yang lo berikan ke gue." potong Icha.
"Cocok gak."
"Cocoklah, orang itu kaos mahal."
"Yuk berangkat." Icha menarik lengan Aslan.
Baru saja mobil akan dijalankan, sebuah mobil berhenti tepat didepan mobil Aslan.
"Siapa sieh tu orang, ngehalangin jalan aja." rutuk Aslan kesel.
Ketika Aslan akan meminta tuh pengendara minggir dari hadapan mobilnya, pintu mobil itu terbuka yang menyebabkan Icha mengenali sosok yang baru keluar dari mobil tersebut.
"Laskarr." Icha keluar untuk menghampiri Laskar.
Icha heran, kenapa Laskar tiba-tiba datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu, "Laskar, kamu ngapain disini."
Laskar menoleh kebelakang dimana Aslan masih duduk dikursi pengemudi.
"Ngajakin kamu jalan, inikan malam minggu, tapi sepertinya kamu akan pergi dengan Aslan."
Icha menoleh ke arah Aslan, "Oh itu, iya, Aslan ngajakin gue jalan-jalan, refresing otak katanya."
"Yahh, batal donk, aku gak bisa ngajakin kamu kencan, kamu udah diboking duluan sama Aslan, padahal ini malam minggu lho." Laskar terlihat kecewa.
"Boking boking, lo fikir gue cewek apaan."
"Sorry sorry, bercanda."
"Atau gini aja, Lo ikut aja sama kami."
Laskar terlihat ragu menerima tawaran Icha, "Memang boleh."
"Boleh donk.".
"Aslan ngasih memang."
"Gak tahu juga sieh, bentar ya gue bujuk dia dulu." Icha kembali ke mobil untuk berbicara dengan Aslan.
Laskar tidak bisa mendengar pembicaraan Icha dan Aslan, dan lima menit kemudian Icha kembali keluar dan menghampiri Laskar dengan senyum dibibirnya yang menandakan ini adalah pertanda baik, "Lo boleh ikut."
"Kita pakai mobil gue aja." Laskar menyarankan.
"Oke."
****
__ADS_1