Cinderela Modern

Cinderela Modern
FOTO


__ADS_3

Tiba disekolah.


Lea langsung nyamperin mobil Aslan diparkiran begitu dilihatnya mobil sang pacar disana.


Lea tersenyum sumringah melihat Aslan keluar dari mobil, hatinya berbunga-bunga, "Aslanku." gumamnya tidak melepaskan senyum dari bibirnya, "Kenapa bisa sieh makin hari dia makin terlihat tampan." pujinya melihat penampilan Aslan.


"Pagi sa..eh Aslan." Lea ingin bilang sayang, namun dia ingat, Aslan paling gak suka ngumbar-ngumbar kemesraan ditempat umum, makanya dia langsung mengurungkan niatnya untuk memanggil sayang.


Aslan tersenyum tipis melihat Lea yang nyamperin dirinya, "Pagi Lea."


"Aihhh, suara Aslan merdu banget, bikin gue merinding."


Namun ketika ingat semalam Aslan tidak menghubunginya, wajah Lea yang tadi dipenuhi senyum cantiknya kini seketika berubah manyun.


"Kok manyun."


"Habisnya kamu, semalamkan kamu gak ngehubungin aku ketika sampai rumah, padahalkan aku nungguin, malah pesan aku gak dibalas lagi."


"Astagaa, sorry, gue langsung tepar begitu sampai rumah, gak sempat buka HP." bohong banget, padahalkan semalam dia dan Ichakan makan mi instan terlebih dahulu sebelum tidur, tapi dia gak mungkin jujur juga sieh, soalnya Lea pasti bakalan ngambek.


Lea yang mendengar penjelasan Aslan kembali menormalkan wajahnya, "Maafin aku ya, kamu pasti capek ya semalam karna jauh-jauh datang kerumah aku, sehingga langsung tepar begitu." merasa bersalah juga sik Lea, apalagi dia nahan Aslan cukup lama dirumahnya.


"Masak ngapel ke rumah pacar sendiri capek, gak kok, emang sudah seharusnya gue kerumah lo, lagian rumah lo gak jauh-jauh amet."


Lea tambah berbunga-bunga mendengar kalimat Aslan.


Icha yang masih belum keluar dari dalam mobil melihat intraksi sepasang kekasih tersebut membuatnya menjadi tambah bete, dengan kasar dia membuka pintu mobil.


"Pagi Ichaaa." sapa Lea begitu melihat sahabat kesayangannya keluar.


"Cerah nieh langit, gak mendung kayak kemarin." ledek Icha melihat senyum bahagia sahabatnya yang tengah berbunga-bunga.


"Ihhh lo tu Cha, suka meledek." respon Lea.


"Habisnya, lo ngambeknya sama Aslan, gue ikut kena getahnya."


"Hehehe." Lea cengengesan, "Maaf deh, sekarang kami udah baikan kok."


"Oh ya, aku bikinin bekal lho untuk kamu." Lea menarik resleting tasnya dan menyerahkan kotak makanan pada Aslan.


"Dimakan ya."


"Pasti gue makan."


Lea kemudian mengampiri Icha yang masih setia berdiri disamping mobil, "Tenang Cha jangan memberengut gitu." melihat wajah Icha yang cembrut, Lea jadi berfikir kalau Icha pasti kesel karna berfikir dia melupakannya, padahalkan Icha cembrut melihat kemesraannya dengan Aslan.

__ADS_1


"Niehh, gue juga bikinin buat lo."


"Makasih Le, tapi lo gak perlu repot-repot bikinin bekal buat gue." meskipun bilang begitu, Icha tetap mengambil kotak makanan tersebut, dia gak mau kejadian waktu lalu terulang kembali.


"Ya perlulah Cha, karna lo itu sahabat sejati gue." ujar Lea tulus, dia merangkul Icha.


Hal ini tentu saja membuat rasa bersalah Icha makin besar, karna dirinya menyukai Aslan, meskipun Lea tidak tahu akan perasaanya terhadap Aslan, tapi Icha merasa telah menghianati Lea.


Icha memeluk Lea, sumpah dia merasa sangat bersalah, "Le, maafin gue ya." air mata Icha menetes, dia yakin Lea pasti akan sangat kecewa kalau mengetahui kalau dirinya menyukai Aslan.


"Lhaa, ini kok malah minta maaf sieh, minta maaf untuk apa neng, orang lo gak pernah punya salah sama gue."


"Salah gue karna menyukai pacar lo, kalau lo tahu, apa mungkin lo masih mau bersahabat dengan gue, pasti gakkan, yang ada lo pasti bakalan membenci gue, sahabat macam apa gue menyukai pacar sahabatnya sendiri." kalimat yang hanya bisa diucapkan Icha dalam hati, "Nyesek gue."


Aslan yang melihat adegan drama itu hanya menggeleng sebelum pergi meninggalkan dua gadis labil itu tanpa berpamitan.


"Dasar cewek, penuh dengan drama." gumamnya menjauh dari parkiram menuju kelas.


"Mending kita masuk yuk, bentar lagi bel nieh." saran Lea yang membuat Icha mengurai pelukannya.


"Lan ayok kita ma...." Lea langsung menghentikan kalimatnya dan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Aslan, "Lhaa, dimana pacar gue Cha, masak digondol sik Markunah sieh."


"Ke kelas kali, mending kita susul dia yuk."


Icha terkekeh, "Udah ah yuk masuk." dia menarik tangan Lea.


****


Disepanjang perjalanan menuju kelas, Lea dengan antusiasnya bercerita tentang kedatangan Aslan semalam dirumahnya, Icha menimpali dengan setengah hati karna gak mau membuat Lea sakit hati bila dia hanya diam dan mengabaikan curhatannya.


Dan benar saja, begitu mereka tiba dikelas, Aslan sudah duduk dibangkunya, membaca buku tebal yang telah menjadi makanan sehari-harinya.


Icha langsung berjalan ke arah bangkunya, sedangkan Lea berhenti hanya untuk memperhatikan Aslan, "Pacar gue rajin banget, wajar banget kalau dia pinter, ntar kalau kami punya anak pasti pinter kayak bapaknya." cloteh Lea dalam hati sambil membayangkan dirinya menjadi istri Aslan, dengan membayangkannya saja Lea jadi tersenyum bahagia.


Begitu tiba didepan tempat duduknya, Icha mengerutkan keningnya melihat sebuah kotak yang tidak terlalu besar diletakkan ditempat duduknya.


"Hadiah." gumamnya meraih kotak tersebut dan duduk, dia memperhatikan kotak mungil tersebut yang diatasnya diikatkan pita, "Apa ini dari Laskar ya." duga Icha, namun dia segera menepis dugaannya tersebut, "Gak mungkin, diakan bisa memberikannya secara langsung, tapi kalau bukan dari dia, dari siapa lagi coba." Icha mencoba menerka-nerka, siapa orang yang paling berpotensi memberikannya hadiah, tapi setelah dia berfikir keras, memang selain Aslan, Lea dan Laskar, tidak ada orang lain yang pernah memberikannya sesuatu, "Iya, ini pasti dari Laskar."


Icha memandang kotak tersebut tanpa berniat membukanya, "Laskar begitu sangat perhatian dan sayang sama gue, tapi apa yang gue lakukan, gue malah menyukai Aslan." dia kembali merasa bersalah, "Maafin gue Laskar, gue berjanji akan memberikan cinta gue sepenuhnya untuk lo." janji Icha dalam hati.


Lea yang menyusul Icha kebangkunya bertanya melihat kotak imut yang kini ada ditangan sang sahabat, "Hadiah dari Laskar ya Cha."


"Kayaknya." jawab Icha sekedarnya.


"Laskar romantis banget, selalu ngasih hadiah buat lo."

__ADS_1


Icha tidak menanggapi ucapan Lea, dia memilih membuka kotak tersebut, didalam kotak tersebut terdapat amplop berwarna coklat dan selembar kertas putih yang terlipat, Icha meraih kertas tersebut dan membuka lipatannya untuk membaca apa yang tertulis disana.


Bunyi tulisannya adalah.


Lo pasti kaget melihat isi yang terdapat di ampop coklat itu.


Didorong oleh rasa penasaran setelah membaca tulisan tersebut, Icha langsung meraih amplop coklat tersebut dan membukanya dengan tidak sabar, dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah beberapa lembar foto.


Mata Icha langsung membelalak melihat hampir semua foto-foto itu memperlihatkan kemesraan Aslan dengan seorang gadis yang dia kenal sebagai mantan Laskar, yaitu Diana.


"Lo oke Cha." Lea bertanya melihat ekpresi wajah Icha yang merah padam.


Icha buru-buru memasukkan foto-foto tersebut kembali ke dalam amplop, dia gak ingin Lea melihat foto-foto tersebut,


Icha berusaha menormalkan ekpresi wajahnya supaya tidak membuat Lea curiga, "Gue oke kok."


Lea percaya, buktinya dia gak bertanya-tanya lagi, fokus dia saat ini adalah memandang punggung Aslan.


****


Laskar datang terlambat, tapi untungnya bu yang baik hati mengizinkan untuk masuk mengikuti kegiatan pembelajaran.


Ketika melewati Icha, dia tersenyum, namun Icha langsung membuang muka.


"Icha kenapa, kayak marah gitu sama gue, tapi salah gue apa." Laskat kembali melangkah ke arah tempat duduknya.


Dan begitu bel istirahat berbunyi, tanpa menunggu guru keluar terlebih dahulu, Icha langsung ngacir.


"Apaan sieh Icha, main pergi aja, kebelat banget apa dia." komen Lea.


Sementara itu Laskar yang masih membereskan alat tulisnya langsung merogoh kantongnya begitu mendengar bunyi pesan masuk yang dikirim oleh Icha.


Temuin aku dibelakang sekolah.


"Icha ngapain nyuruh gue nemuin dia dibelakang sekolah." Laskar bertanya-tanya pada diri sendiri, "Apa anak-anak lainnya juga pada tengah disana, apa akan ada tauran." karna dia gak mau menduga-duga, begitu semua peralatan tulisnya telah bersemayam kembali ditasnya dia langsung kebelakang sekolah untuk menemui Icha.


Setibanya dibelakang sekolah, dia sana Icha berdiri membelakanginya, Aslan melihat sekelilingnya, sepi gak terlihat satupun dari anggota geng lainnya tengah berada disana, fikirnya, mungkin Icha memang ada perlu saja dengannya sampai memintanya kebelakang sekolah.


"Ekhemm." Laskar berdehem untuk menarik perhatian Icha.


Icha otomatis berbalik mendengar orang yang dia tunggu telah tiba.


"Chaa, ada apa, kenapa ngajak ketemuan disini, kalau ada yang mau diomonginkan bisa dikelas atau dikantin." ujar Laskar tidak memiliki firasat buruk sama sekali sampai ketika Icha melemparkan amplop coklat yang sejak tadi dipegangnya yang tepat mengenai dada Laskar.


****

__ADS_1


__ADS_2