
Sepulang sekolah, bertepatan dengan berbunyi bel pulang, sebuah pesan masuk keponsel Icha.
Gue udah nunggu didepan gerbang ya Cha, jangan lupa ajak Leanya sekalian.
Pesan tersebut dikirim oleh Gibran.
"Eh, kak Gibran serius ingin PDKT sama Lea." batin Icha, dia memandang Lea yang tengah membereskan perlengkapan tulis menulisnya.
Sadar dirinya tengah menjadi objek perhatian Icha, Lea bertanya, "Kenapa lo mandang gue kayak gitu Cha, gue cantik banget ya."
"Huh, geer."
"Terus, gak mungkin elo suka guekan."
"Anjirr ya makin ngaur lo."
"Terus apaan, gak mungkin lo mandang gue tanpa sebab gitu kan."
Gak mungkin Icha mengatakan secara gamblang kalau Gibran suka sama Lea, jadi Icha mengatakan, "Le, seandainya kalau ada cowok yang suka sama lo gimana."
"Ganteng gak orangnya."
"Emang dasar lo ya, orang yang ditanya baik gak orangnya, malah yang ditanya ganteng gak orangnya."
"Itu hal pertama yang perlu ditanyakan Cha, kalau orangnya gantengkan gak malu-maluin gitu dibawa keacara keluarga." cloteh Lea, "Emang siapa yang suka sama gue Cha."
"Gak ada."
"Lho, tadi lo bilang..."
"Seandainya, kan gue bilang seandainya."
"Baguslah, kalaupun ada gue gak bakalan mau, orang gue cinta matinya sama..." Lea memandang kearah punggung Aslan dengan penuh cinta dan melanjutkan kalimatnya yang terhenti, "Aslan." dengan suara kecil sambil senyum-senyum gaje.
"Sejak mos lho Le, lo sukanya sama Aslan, sampai kelas XI gini lo masih saja beraninya cuma mandang punggungnya doank, datangin kek dia nyatain perasaan lo."
"Lo fikir semudah itu, apalagi saat ini Aslan tengah pacaran sama Athena."
__ADS_1
"Kalau gitu lo move on ajalah Le, buka hati lo buat orang lain, masih banyak tuh yang suka sama lo."
"Kok lo nyuruh gue move on sieh Cha, kemarin-marin lo dengan semangat 45 ngedukung gue dengan Aslan."
Ya itu dulu, sekarangkan setelah tahu Gibran suka sama Lea, mending Lea sama Gibran aja, daripada Aslan yang belum tentu cinta sama Lea meskipun suatu saat nanti bakalan putus sama Athena, itu fikir Icha.
"Ya gimana yah Lea, gue nyarani lo move on karna lihat lo jalan ditempat tanpa melakukan usaha untuk mendapatkan Aslan."
"Ya inikan masih dalam proses Cha."
"Mandangin punggungnya doank, itu kali yang dinamakan proses." gumam Icha dalam hati, namun tidak disuarakan karna gak mau Lea tersinggung.
****
Icha dan Lea berjalan beriringan sampai depan gerbang, Gibran melambai untuk menarik perhatian Icha.
"Le, kesana yuk." ajak Icha, kan niatnya memang supaya bisa bikin Lea dekat dengan Gibran, tapi tentu saja ini tidak gratis, Icha tentu mau jadi mak comblang buat Gibran tapi Gibran harus memenuhi beberapa syarat.
"Itu kak Gibrankan Cha, kakaknya Aslan, calon kakak ipar gue."
"Hmmm."
"Anjirr kak Gibran, sampai masang senyum seratus wat gini, bisa gak dia senyumnya biasa aja." komentar Icha dalam hati karna Gibran terus tersenyum lebar melihat Lea.
"Hai kak Gibran." sapa Lea.
"Ha hai Lea." jawabnya gagap.
"Heh." heran Icha, "Sik bawel ini gagap, jangan bilang Lea adalah gadis pertama yang ditaksir." itu pertanyaan dalam hati Icha.
"Kak Gibran kakaknya Aslan."
"Aslan." ulang Gibran kayak orang amnesia saja, adik sendiri gak diinget.
"Iya kak, Aslan, dia teman kelasku."
"Oh iya, dia adikku."
__ADS_1
Icha mendengus, "Sialan, gue kok kayak kambing congek gini, diajak kek gue ngobrol, kok jadi dikacangin gini sieh." Icha bergantian memandang kearah Lea dan Gibran, dua orang ini ngobrol akrab tanpa mempedulikan Icha, Gibranpun sudah tidak gagap lagi.
"Lea pulangnya sama siapa."
"Dijemput supir kak."
"Oh, supirnya udah datang belum."
"Belum kak, sepertinya sieh masih dalam perjalanan."
Bertepatan dengan itu, bunyi nyaring ponsel Lea mengintrupsi obrolan mereka.
"Sebentar ya kak, Lea angkat telpon dulu dari mama."
"Iya Lea, silahkan."
Lea sedikit menjauh supaya pembicaraannya tidak menjadi konsumsi publik.
Begitu Lea menjauh, Icha membuat suaranya dibuat-buat untuk menirukan gaya bicara Gibran, "Iya Lea silahkan." Icha mengulangi kalimat Aslan, "Lemah lembut banget yang lagi PDKT, biasanya juga bahasanya naujubillah gak pernah disortir."
Gibran meletakkan jari telunjukknya dibibir sebagai sebuah kode meminta Icha tutup mulut, "Diem ah, gini Cha, pokoknya didepan Lea lo kudu nyanjung-nyanjung gue oke."
Icha memang sengaja gak memberitahu Gibran kalau Lea sukanya sama Aslan, karna menurutnya Aslan belum tentu suka sama Lea, jadi gak ada salahnya Lea sama Gibran, dan Icha berharap Lea juga suatu saat bakalan suka sama Gibrankan, Gibran lumayan ganteng kalau dilihat dari samping, (Hehe bercanda Gibran.)
Gak lama Lea kembali, dia membawa kabar gembira buat Gibran, "Sopir gue gak bisa jemput Cha, kata mama Ucup lagi sakit, jadi mama nyuruh aku naik taksi." seenggaknya itu sieh berita buruk untuk Lea.
"Pucuk dicinta ulampun tiba." lirih Gibran dalam hati, "Kalau gitu kamu bareng kami aja Le." Gibran menawarkan dengan harapan Lea mau menerima ajakannya.
"Gak usah kak, Lea ntar merepotkan lag, lagian rumah kitakan gak searah."
"Gak ngerepotin kok Le, yakan Cha." Gibran menekan kalimatnya, berharap Icha mau membantunya membujuk Lea.
"Icha yang terlambat menyadari kode dari Gibran langsung berkata, "Iya Le, diantar kak Gibran saja, dijamin aman lho Le, daripada lo naik taksi, banyak sopir taksi yang jahat soalnya."
Mendengar penuturan Icha, Lea bergidik ngeri, dia akhirnya mau dianter Gibran.
"Yess." desis Gibran tanpa suara.
__ADS_1
****